My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 33. Sosok Yang Akan Di Lawan



“Menurutmu bagaimana dengan anak itu Guld.” Pertanyaan seakan menggelora menjadi sentral indikasi ini.


“Entahlah Instruktur Etnest... aku Juga merasakan ada Hawa berbeda dengan anak itu tapi... aku tak tau,” jawabnya.


Di ruangan ini nampak sepuluh orang berkumpul duduk berjejer di meja bundar yang elegan di tambah ornamen unik yang terukir jelas di atas sudut-sudut kayu memenuhi sepenuhnya segaris lingkaran dari meja yang di maksud, di pusat titik bundaran meja juga terlihat pola lambang terpahat cukup dalam kebesaran dari Akademi Phyterus itu sendiri—pola gambar yang mungkin seukuran tiga hasta di meja bundar besar ini. Pencahayaan yang minim pun tak terlepas akan suasana, tak ada tool magic yang di fungsikan sebagai pencahayaan, kendati begitu pencahayaan dari luar lah yang memenuhi.


Apa yang di tanyakan oleh Instruktur Ernest selaku kepala Akademi sendiri, sangatlah benar maupun realita dari apa yang di rasakan hanya beberapa orang—hitungan jari saja, bahkan tak ada menyadari. Tapi ada yang aneh, kenapa hanya Instruktur Etnest yang merasakan hawa Sepenuhnya yang di miliki Zen. Jika di perhitungan secara kasar sembilan Instruktur Utama merasakan walau samar-samar seper dua puluh atau hanya 5% dari hawa berbeda yang di miliki Zen, entah bagaimana mereka dapat merasakan, tapi yang pasti jika semua itu tak terlewat dari pengetahuan mereka selama Ini, baik itu pengalaman mereka dengan orang kuat yang pernah mereka temui; mempunyai Hawa berbeda dari kebanyakan orang walau itu cukup ambigu.


Walau begitu, apakah Instruktur Anatia yang termaksud Instruktur muda dari sekian Instruktur utama, dapat merasakan semua itu? Jangan pernah menganggap orang yang ahli dalam Bachelor Of Magic tidak mengetahui hal rumit seperti itu, bukan karna pengalaman mereka mengenai sihir yang terbilang mumpuni maupun penggunaan magic mereka yang berpengalaman. Tapi mereka yang di berkati analisis kuat maupun cekatan dalam hal Magic Rune maupun aksara rumit, yang begitu berlomba-lomba mengembangkan hal ini, sangatlah di luar kepala mereka. Tapi kenapa hanya sebatas sekian saja, itu lah yang menjadi misteri. Tak ada yang dapat melampaui kemampuan hakiki.


“Aku benar-benar tak bisa, menarik kesimpulan yang benar mengenai Sosok Zen sendiri,” ucap Instruktuk Anatia.


“Tapi... aku mempunyai pendapat walau hanya Asumsiku belaka.”


“Apa itu Instruktur Anatia?” ujar Instruktur Lorita.


“Series Magic Angel!!!!” Menatap serius, kedua tangan menopang dagunya.


“Bukanya Hanya Orang-orang terpilih saja yang mempunya Sihir seperti itu,” balas Instruktur Kesna.


“Tapi..., jika seperti itu... Apa yang akan kami lakukan,” Istruktur Levis berucap.


...Hening sesaat...


—Memecah keheningan. “Hohoho... aku ingin melihat perkembangan anak itu,” kata instruktur Wei sambil memegang lebih tepatnya mengelus-elus janggutnya.


Mengesampingkan semua keadaan itu, kenapa sampai julukan sihir seperti ini di sebut Sihir Seri Malaikat? Sudah hal umum bahkan hal lumrah di ketahui dan tercetak dalam buku-buju sejarah, bahwa hal ini berawal ketika para Malaikat memusnahkan para Bangsa Laknat (Iblis) dengan sihir super besar dengan skala yang luas melampaui sihir skala area atau pun sihir desintegration area, bahkan hanya kotoran kuku saja jika hal itu bandingkan.


Sihir yang dapat meratakan gunung bahkan dapat menghancurkan dunia dengan beberapa serangan saja, hanya dampak kerusakan besar saja lah yang menjadi bukti menakjubkan dari semua hal di lakukan. Tak di pungkiri dengan sesuatu seperti itu, bangsa yang disebut laknat itu hanya dapat minggat dari tanah Etherna World ini, hanya menjadi sebuah peninggalan sejarah yang di ingat oleh seluruh ras yang ada.


“Bagaimana Instruktur Etnest, penetapan ujian kedua baginya,” tanya Instruktur Vena.


“Sudah!! sudah di persiapkan,” balasnya tersenyum.


Ia menatap arah pandangan secara vertikal di pintu sana, kebetulan sejajar juga dengan tempat duduk yang ia duduki saat ini. “Masuklah,” tambahnya.


Pintu terbuka memperlihatkan Sosok yang begitu di kenal, di Ibaratkan sosok satu ini seperti sebuah singa dari para singa yang terkenal dengan julukan Sang Penguasa dari semua singa. Entah itu siapa, tapi sosok ini sangatlah dekat dengan Zen dalam beberapa hari yang lalu.


Semua orang kaget, berucap dengan palan. “Bukannya Kamu...”


***


Sudah dua hari sejak acara keliling Zen di akademi, dan hari ini adalah penentuan dari ujian yang akan di selenggarakan, Zen sudah menyiapkan beberapa hal untuk mengatasi kemungkinan yang luar dari pemikirannya. Bukan berarti ia tak menyiapkan mentalnya dulu; menstabilkan semua yang ia miliki ke level yang cukup dalam tiga hari bukan hal mudah bagi Zen, tapi ia tak ingin menyia-nyiakan semua mental di balik penentuan dari semua sihir yang ia miliki–tanpa terkecuali. Tapi yang masih dalam benaknya sekarang ini, bagaimana ujian kedua ini apakah akan seperti ujian pertama atau ujian alam luar dalam survival atau yang lain, masih bayang-bayang tak jelas dengan tanda tanya yang besar. Setiap ia tidur pun, ia selalu menerka-nerka pendekatan yang mungkin saja, mungkin begini atau begitu.


Zen keluar dari pintu kamar Asramanya, mengenakan setelan baju berwarna putih senada dengan rambutnya dan persiapan katana yang sering ia pakai dalam magic storage nya, serasa hati ini lumayan bersemangat. Ia tak ingin terlalu mencolokan dirinya hingga di buat menjadi pusat perhatian, tapi tak tau bagaimana keadaan yang akan terjadi selanjutnya ketika lengah, akibat berpatokan hal ini.


“Sepertinya kamu sudah siap Zen,” Nona Sally berucap.


“Begitulah,” jawab Zen.


Nona Sally yang telah menunggu Zen keluar seperti seorang pelayan setia kepada Tuanya, hanya tersenyum hangat. Walau kelihatan rambut yang menutupi sebagian matanya, jika perhatian lebih dekat ia kelihatan lebih manis.


Kita tepis jauh-jauh masalah itu, Zen berjalan mengikuti, melangkah melewati apa yang sudah pernah ia lihat membuat ia merasa tak bingung atau harus di pertanyakan. Hingga sebuah Pintu seperti Lift terbuka dengan sendirinya, Zen juga bingung dengan kecanggihan yang ada di dunia ini, walau tak seberapa dengan kecanggihan yang ada di bumi tapi sudah di katakan melewati bentuk dari Ilmu pengetahuan bahkan sudah di sempurnakan serasa tidak normal untuk ia rasakan kamar kecil yang seukuran WC Umum adalah ukuran yang pas untuk di katakan namun sepertinya cukup lima orang memasuki dalam tempat ini juga. Kendati demikian, Zen juga tak tau bagaimana bentuk lift ini bekerja tak ada tanda-tanda sistem mekanisme sama sejali, Ia hanya di buat diam tenang sedangkan Nona Sally pun sama tak bergerak sedikit pun–saling membelakangi ini.


“Aktifkan!!!” Suara yang keluar dari Nona Sally.


Ucapan yang menggema di gendang telinga Zen, Ia terlihat memperhatikan dengan saksama yang ada dan ini buat ia bingung juga, sebuah sihir portal berwarna biru tercipta, di bawah kaki kedua empu itu, Ia bahkan menanyakan semua ini di benaknya. Asumsinya juga tak terlalu jelas untuk di jelaskan, entahlah ia juga tak tau.


“Aku tak pernah lihat hal yang beginian selama disini, kecuali magic tower saja.”


Ini adalah teknologi terbaru yang di kerjakan para Sarjana Sihir umat manusia, dengan nama projects Simple Teleportation Advice. Hingga kini baru di perkenalkan beberapa bulan saja dan itu pun di Akademi Pyhterus itu sendiri—kota Anthoinerei sekalipun terlibat. Sudah sepatutnya jika Zen sedikit bangga karna di adalah orang pertama yang merasakan kecanggihan dari teknologi ini sendiri walau bersama dengan Nona Sally.


Tapi pandangan Zen jatuh pada Core Magic hewan monster yang selalu di buru petualang yang tertempel tepat di Sebuah Ornamen sama halnya [Magic Item] atau mungkin [Tool Magic], Ia juga tak tau bagaimana cara kerjanya, beberapa menggunakan entah itu bagaimana Core Magic sendiri di gunakan. Tapi kemungkinan dari sini lah Sihir Teleportasi di aktifkan sampai mana yang tersimpan dalam core itu sendiri habis—ditandai pecah begitu saja. Zen mengetahui itu semua dari buku-buku yang ia baca, ciri-ciri dari bentuk core magic


“Cukup Canggih juga,” batin Zen.


“Tidak sia-sia aku baca buku selama ini,” tambahnya dalam benaknya.


— Sedari tadi ia monolog tak jelas di pikiran – lanjut berpikir.


Seolah-olah melewati Lubang Cacing yang sangat terkenal dalam Teori Albert Einstein, tapi yang di gunakan di sini bukan atau menitip beratkan pada Ruang dan waktu tapi pada Sihir atau Magic Controller jadi dengan mudah atau tak beresiko bagi tubuh sang pengguna. Berselang beberapa menit Portal itu tiba di tempat tujuan, tujuan yang sekarang sedang mereka Tunggu.


“Ruangan dan juga suasana yang tak pernah aku lihat.” Memonolog tanpa ia sadari dalam hatinya.


Menatap sekitar. “Sepertinya tiba,” tambahnya lagi


Ruangan arena besar yang tak kalah megah juga, bagaimana untuk deskripsikan, tapi satu kata yang sangat Cocok untuk apa yang di lihat Zen, Luas!!! Mata biru Zen yang di buat kaget bahkan terkaget-kaget dengan keadaan yang ia lihat. Sejauh yang ia lihat hanya tembok Dinding dari berbagai sisi membatasi setiap ukuran arena yang besar dengan nama The Salivon Of Arena.


“Apa-apaan ini,” Batin Zen mengernyit.


“Selamat datang di Arena ujian kedua Zen


Arnold Kurogomi.”


Ada beberapa orang yang tidak di kenal Zen bergabung dengan sepuluh Instruktur, waktu di tempat pengujian pertama itu sendiri tak melihat secara jelas karna pikiranya yang terfokus dengan satu pikiran, tapi ia juga tak berpikir untuk menggunakan Zenos waktu itu. Jadi Ini benar-benar kecerobohan, kesalahan dia sendiri.


Yang satu berwujud Pria muda dengan rambut hitam kearah silver panjang yang di biarkan di ikat rendah, tapi Pembawaannya acuh dan dingin dan satu lagi perempuan yang takklah acuh dan dingin berambut putih seperti Zen dengan mata biru sapphire.


“Perkenalkan mereka berdua Zen, Instruktur Hagrid dan Instruktur Dina.”


“Hmmmm...”


Zen juga dibuat mengernyitkan dahinya, kenapa kedua orang itu tidak pada Waktu test pertama, entah apa jawabannya, benar-benar sedikit di buat pusing jika berpikir lebih dan lebih. Sosok Zen menaikan satu alisnya Mengidentivikasi apa yang di buat bingung baginya, rasa penasarannya sediri di buat bergejolak.


"Benar-benar.... Menarik!!!” ucapnya tentu bukan Zen.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Note;


Sebenarnya Simple Teleportation Project di di kerjakan hampir enam tahun lamanya, projek hasil kolaborasi dari turut serta Liqued Corporation, Akademi Phyterus dan juga Kota Anthoinerei para ahli Blacksmith, sebagai tiga pihak penting yang ada. Projek yang dapat memudahkan seseorang tanpa menggunakan sihir teleportasi yang sebagai hanya di ketahui—untuk masa depan nanti, lebih ke kemajuan akan kehidupan—kedepannya akan di gunakan oleh masyarakat.


Menitip beratkan pada penggunaan [mana] yang besar, juga mereka memodifikasi dan juga mendesain, jadi ketika mengaktifkan kita hanya dapat menyalurkan sebagai mana kita sebagi tanda di mulainya pemakaian.