My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 72. Presentation



Kembali pada Zen saat ini, ia masih sama duduk diam menyandarkan bahunya di sisi dinding, dengan kedua matanya yang tertutup, menandakan jika remaja yang satu ini menenangkan dirinya mencapai sebuah ketenangan, di situasi yang terbilang tepat untuk di lakukan. Ia tak mau melakukan hal yang merepotkan, apalagi ini semua, namun nasi telah menjadi bubur–ia akan jalani walau di katakan merepotkan, tak dapat di sangkal. Perihal urutan nomor tujuhnya juga dari tadi terus berjalan, menyisakan empat orang di ruangan, Zen sebagai orang yang terakhir hanya dapat menunggu, itu lah pilihan yang terbilang adaptasi.


Leknes pun hanya diam seperti biasa, soal gilirannya, Zen juga tak tahu untuk di katakan. Pandangan Zen yang sedikit mengintip ini di posisi tangan Leknes, tanpa Lekness sadari—Zen terbilang penasaran juga. Lekness memegang kartu yang berisi nomor lima, dua tingkat dari Zen saat ini. Zen menyipitkan matanya, melihat lebih jelas, Lekness yang merasa ada sesuatu yang aneh, mencaritahu—dari ketertutupan matanya saat ini, menatap Zen yang pandangannya mengarah padanya.


Mengangkat satu alisnya, dengan posisi yang ia perbaiki–sedikit menegakan punggungnya. “Kenapa pandangannya kearahku,” ucap Lekness dalam hati.


Ia masih lekat menatap Zen yang aneh menurutnya, menatap jalur arah mata Zen saat ini–kebawah. Seolah-olah tahu maksud dari Zen, ia mendongak wajahnya kebawah, memastikan jika anggapan terpikir adalah benar–menatap genggaman tangannya, yang masih memegang kartu yang ia miliki. Ah, ia tahu sekarang.


“Apa yang kamu lihat,” ucap Lekness mengarah pada Zen.


Zen seakan tersadar, matanya membulat sempurna–memalingkan wajahnya kesamping, untuk menghindari kontak tajam itu dari perempuan berambut pasta ini. “Aku sama sekali tidak melihat,” ucap Zen dalam hati berulang-ulang.


Semua itu seakan ada titik terang bagi Zen sendiri, sebuah papan proyeksi seperti sebelum-sebelumnya, muncul secara tiba-tiba sentral ruangan yang ada, tepat tidak jauh didepan mereka ini. Lekness yang masih menatap Zen tajam, ia alihkan pada papan proyeksi, tertulis angka lima itu, ia tahu maksudnya. Seketika saja, ia mendirikan tubuhnya yang sudah lama duduk terdiam di ruangan ini, portal sihir pun seperti biasa tercipta di sela-sela sekian detik setelah munculnya papan proyeksi ini.


Zen menatap sekali lagi, ia melihat hal yang biasa sebelumnya, jadi tak perlu di kagetkan, terkecuali pada sebelum-sebelumnya itu–ketika muncul pada awalan. Hal itu bukan menjadi pandangan Zen saat ini, ia menatap wajah Lekness yang masih menyiratkan tatapan tajam, secara terang-terangan ia tunjukan.


“Apa salahku..??” batin Zen bertanya.


***


Lekness berjalan di anak tangga yang terdiri dari tujuh tingkat ini, berundak-undak memanggung keatas. Ia sedikit kesal entah itu apa penyebabnya, tak dapat dimengerti—masih berjalan keatas, tanpa ada berpaling menatap lurus dengan raut wajah kekesalan.


“Akan kutanyakan ia setelah ini!” ucapnya pelan.


Ketika tiba di panggung acara ini, ia di suguhkan akan banyaknya para partisipan yang ada. Namun menjadi indikasi ketika berada di tengah-tengah panggung, dihadapannya, terlihat sembilan orang yang duduk saling berjejer menatap dirinya, dan orang yang sangat membuat ia terkejut adalah, Instruktur Kesna, sedari tadi melihatnya seolah-olah menilai–sosok yang ia banggakan sebagai idola ini. Lekness masih menatap, menilai yang ada, dari Kepala Akademi di tengahnya dan dipinggirnya seorang yang sangat ia kenal dan menjadi Master dari idolanya ini, yakni Professor Vesta, dan lainnya lagi, ia tak tahu sama sekali terkecuali Instruktur Kesna, duduk di paling pojok kanan.


Namun, ia cukup tersadar akan sedari tadi ia berdiam diri ini, tatapannya fokus pada sebuah mimbar yang tak terlalu tinggi, tak seperti bentuk mimbar biasanya, ini seakan di buat cukup pendek untuk disejajarkan dengan posisi orang untuk menggunakan. Lekness yang tahu apa yang harus ia lakukan, maju melangkah kearah mimbar itu, mengeluarkan perkamen rancangan mekanisme yang ia buat; ia buka secara perlahan horizontal–perkamen berbetuk gulungan ini.


Ia membiarkan begitu saja tentu ia tak lupa sama sekali menandai perkamen yang ia buat dengan tanda Rune Capastial Magic. Secara perlahan, Rune berukuran kecil berbentuk pola rune yang ia miliki, tiba-tiba muncul di perkamen rancangan yang ia buat, secara langsung pun juga sebuah proyektor di tiga sisi menunjukan, beberapa tulisan keterangan maupun pola rancangan yang ia susun akan sebuah mekanisme, membuat semua mata tertuju. Tak kiranya pun sama sekali bagi sembilan orang sebagai juru nilai yang ada, ia terbilang cukup gugup, apalagi Instruktur Kesna melihatnya dari tadi—rasanya ingin memasukkan dirinya kedalam lubang.


“Baiklah, ini sudah waktunya,” ucapnya pelan.


Lekness menegakan kepalanya dengan raut wajah yang begitu seruis, di tengah-tengah tontonan yang ada. Panggung penonton yang beranjak naik itu, membuat ia manjadi sentral indikasi di maraknya yang ada. “Inilah karyaku ku persembahkan,” ucapnya lantang.


Banyak kasak-kusuk dari tanggapan banyak orang yang ada, tak terkecuali para partisipan sendiri, semua seakan menjadi fokus melihat dari semua perhitungan yang ia buat dari segi bentuk maupun sistem, akan pemikirannya ini. Itu pun tak terlewat akan arah tatapan para penilai yang ada di depan ini.


“Apakah kalian mengerti rancangannya.”


“Yah, aku mengerti namun tak dapat memecahkan rancangan serumit ini, seolah-olah kita dapat menduplikat yang ada.”


“Coba kalian lihat rancangannya, aku terkejut melihat rumitnya mekanisme seperti itu, apa itu yang ia buat.” Tunjuk seseorang.


“Aku sebagai soerang Blacksmith, sangat bodoh beranggapan jika orang muda tak bisa melampaui kita-kita yang berumur ini,” balas yang satu lagi.


“Aku baru juga, dan hari ini aku tercerahkan, bahwa masih ada orang di atas kita.”


“Apakah anak perempuan di sana yang membuatnya.”


“Mungkin saja.”


Riuh akan penonton membuat semua orang yang bersorak atas semua yang ada, namun semua itu terhenti ketika suara dari Lekness menggema. “Ini lah yang kusebut dengan ‘Bom Uap,’ salah satu karya mekanisme yang kubuat saat ini. Dan inilah wujud prototipe nya.” Menunjukkan bulatan besar, yang segenggam tangan Lekness namun tak cukup untuk di sesuaikan dengan genggaman tangan kanannya saat ini.


“Apa yang membuatmu terinspirasi seperti ini,” ucap Paman Gazel.


“Yah, aku sejujurnya terinspirasi dari jenis Compementku sendiri, bentuk dari sebuah kekuatan dari pemanasan.”


“Sebenarnya jika kita telaah lebih lanjut lagi, sebuah pemanasan dari bentuk cair akan menimbulkan hal yang disebut uap, uap yang mengepul akan hilang begitu saja, anggapan banyak orang seperti itu. Aku tak berpikir sama demikian, walaupun tingkat yang ada tercipta pun hanya sebatas dari patokan kita beranggapan.” Lekness menjeda. ”Anggapanku ini, jika kurincikan, sebuah benda cair yang didihkan dalam bentuk konduktor ketika melepaskan energi yang sama dalam keadaan tertutup, menghasilkan hal yang sama juga, namun berbeda dengan proses yang aku sebut adalah konversi energi.


Ia berjalan santai secara vertikal maju ke depan, dan seolah-olah santai menikmati. “Dan pada dasarnya uap adalah suatu bentuk proses akhir dari air dan juga api jika di satukan. Inilah bentuk dari benda cair yang berkonduktor, dan selama aku mengkaji dan mengobservasi sendiri, uap sendir bisa saja menjadi bahan sebuah bentuk energi yang secara tak sengaja, di ledakan, jika ada yang menjadi perantaraannya. Hal itu pun tak terlewat dari bagaimana terjadinya juga, dan, disinilah bentuk mekanisme yang aku buat sendiri,” jelasnya.


“Aku membutuhkan dua core yang bereleman dasar adalah core tipe air dan juga core tipe api pada beats yang ada, namun kesetimbangannya sebagaimana juga. Dua tipe tersebut akan saling berlawanan, core tipe air berkomposisi 60% dan core tipe api akan berkomposisi 40%, Itu sudah menjadi sebuah keseimbangan ketika bereaksi”


“Dan kita pada tahu, jika core sendiri berguna untuk Mensirkulasi sebuah [Mana] yang masuk, aku menggunakan [Mana] sebagai proses pengaktifan, dan hal itu lebih bisa saja, di aktifkan kapanpun dan dimana pun, terkecuali, jaraknya tak sampai 5 km.


Penjelasannya masih berlanjut, para partisipan pun sangat kagum dengan pemikiran remaja perempuan berambut pasta ini. Ia menjelaskan sangat rinci, hingga membuat mereka lumayan mengerti, dan masih banyak pertanyaan yang patut di tanyakan dari banyak orang yang ada, dan itu semua tak terkecuali bagi teman-teman sekelas perempuan saat ini, masih menatap kagum sosok Lekness di depan mereka.


“Kak Lekness memang sangat hebat, aku sangat kagum.”


“Begitulah dia Anastasya, aku juga kagum dengannya.”


“Jadi ini yah, yang ia kerjakan selama ini, sepertinya kerja kerasnya akan berbuah hasil sendiri.”


“A-aku juga sama dengan kalian.”


“Kamu.. sama apa, jangan-jangan.. kamu...” Terlihat Cintia menggoda pada Rena yang saat ini malu-malu mengakui, bisa di katakan jika Rena bukan mendukung Lekness secara sepenuhnya, namun ia sampingkan pada seseorang juga.


“A-aku tidak kok!”


“Hehe becanda kok,” ujar Cintia yang terhibur.


Guinevere hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, ia sudah tahu sikap Rena yang sangat pemalu itu, tapi sikap pemalunya juga membuat ia manis di mata orang lain– sehingga seolah-olah menyatakan Rena sendiri seorang yang harus di lindungi, bagaikan sebuah benda yang mudah rapuh, dan harus ekstra hati-hati ketika menyentuh maupun memegang.


Sebagai temanya pun, mereka tak bisa tak bangga atas pencapaian yang di raih salah satu temannya–ciri persahabatan yang sangat jarang di lihat. Apalagi mereka juga membantu Lekness, menyiapkan semua yang ada tanpa terkecuali, walaupun kinerja Lekness masihlah yang mendominasi dari mereka semua–mereka sungguh senang bisa membantu.


“Dia memang sangat berbakat, aku tak pernah melihat sisi Lekness seperti ini,” ucap Lusi.


“Ia memang menyembunyikan, dan baru kali ini ia mengeluarkan kemampuan tersembunyi itu,” jawab Guinevere.


Lekness bukanlah orang mencolok dan juga mendominasi di dalam kelas the Golden Egg, membuat ia sulit di mengerti, tidak! melainkan semua remaja the Golden Egg memang sulit di mengerti; baik dari segi pelajaran dan praktek yang di berikan, dan Lekness juga bukan orang yang ceria di mata yang lain–tentu hal demikian tak akan membuat mereka sehubung memahami sifat sebenarnya dia sama sekali entah itu kepuasan atau kelemahan yang melekat. Namun pada kenyataannya memang, memahami satu sama lain itu adalah hal yang tak mungkin, perbedaan ego maupun kepentingan masing-masing, apalagi mempertahankan sebuah pendapat, bagi orang berprinsip.


Beralih pada di bagian pojok kanan para kursi partisipan, duduk berjejer para lelaki dari teman Zen ini. Ernest, Hendrick, Lumire, Near, Leonhart, Morlex, Erwin, dan juga Gaznel, memperhatikan secara saksama, perempuan berambut pasta yang menjadi pusat indikasi itu di atas panggung ia berdiri, mereka juga tak menyangka, jika ada sisi Lekness yang seperti itu, seolah-olah tak dapat berkata dan beranggapan jika ini bukan Lekness yang mereka lihat selama ini. Uniknya, mereka juga tak pernah menyadari perempuan berambut pasta itu akan mengikuti hal demikian, dan ketika di Perpustakaan Anion sendiri, mereka semua menganggap jika Lekness hanya berbicara begitu saja, fleksibel tanpa kebenaran yang berdasar, dan itu pun di cocokan atas tak ada dominasi yang ditunjukkan oleh perempuan ini dalam kelas notabene dalam pelajaran Instruktur Anatia.


“Apa kamu mengerti Ernest, kamu kan ahli dalam hal beginian,” ucap Hendrick dan menjadi perhatian teman sekelas lelaki ini.


“Aku cukup mengerti, ini memang adalah sebuah reaksi yang di katakan sangat rumit untuk di timbulkan, dalam kontraksi,” jawab Ernest memegang dagunya seolah-olah berpikir.


“Dan jika di lihat dari penjelasan yang ia berikan, bisa saja ini dapat mengalahkan daya ledak dari Chemical Weapons yang aku buat.”


“Apakah begitu?” Hendrick menanggapi.


“Hmmm, bisa saja begitu.”


“Aku tak mengerti sama sekali,” ucap Morlex.


“Lebih baik, kita memperhatikan lagi bukan.” Kali ini Near berucap yang sedari tadi diam saja.


“....aku ingin secepat-cepatnya saja, giliran ini berakhir.”


“Kenapa? Kamu iri yah Lumire,” ucap Erwin.


“Tidak sama sekali!” Menatap mereka semua. “ Kalian tidak penasaran bagaimana kejutan yang di buat Zen sendiri,” lanjut Lumire.


“Eh... kenapa kamu bisa yakin seperti itu,” tanya Morlex bingung.


“Tentu saja aku yakin, orang yang membuatku melakukan hal yang berlebih tak akan membuatku kecewa dalam hal apapun,” ucap Lumire serius.


“????”


“Ha? Maksudnya.”


“Sudahlah, lihatlah sana, kali ini Lekness telah selesai,” ucap Leonhart sebagai penengah.


...


“Ini sepertinya sangat menarik Nona Jarvis, aku tak mengira jika ada seorang yang semuda ini, bertalenta melewati para generasinya seperti anda, melewati batas pemikiran yang ada, aku salut.”


“Hmmm.. ini akan menjadi sebuah keniscayaan, di jadikan sebagai bahan observasi lebih lanjut bagi Kota Antoinerei sendiri,” ucap Professor Vesta yang menanggapi.


“Dan bagi aku sendiri, ini pemikiran yang tak terpikirkan oleh banyak orang, walaupun ini secara semestinya relevan akan kehidupan kita sehari-hari.” Kali ini Tuan Leonhass, memberikan penilaian.


“Hmmm.. aku jujur saja, mungkin kamu dapat melewati anakku sendiri,” ucap Paman Gazel.


“Kami akan melakukan sebuah kerja sama, jika anda mau, Nona Jarvis,” tambahnya tak terkecuali tanggapan yang sama pun dari dua orang yang mempunyai kedudukan yang sama di tempat ini.


“Mungkin ini lebih baik, jika Nona Jarvis saja yang memilih,” ujar Tuan Elkerd.


“Kami, sebagai perusahan Potion terbesar, mempunyai sebagian kekuasaan dalam jalur material yang ada, akan kami jadikan presentase jika hal ini membantu.”


“Seharusnya Tuan Elkerd, tidak menganggap ini adalah hal mudah bukan.” Tuan Admaish yang kali menginterupsi pembicaraan.


“Ya, itu memang benar, kami sama sekali tidak menganggap hal ini adalah persoalan yang mudah.”


“...”


“Aku sangat memuji atas pemikiran yang kamu miliki, namun bidang kami bukanlah Magic Tool yang rumit sedemikian itu,” ujar Nona Eliz.


“Jadi, hal ini bisa kamu pilih kandidat yang paling tepat untuk mengembangkan Steam Bomm ini kedalam yang lebih baik. Bagus atas kerja kerasmu Nona Jarvis,” tambahnya lagi.


“Aku terakhir yang menanggapi, bagi Blacksmith memang kamu sudah di katakan di atas rata-rata yang ada, tak ada hal sekecil kesalahan dalam pemikiran yang kamu miliki, ini sudah menjadi tolak ukur kedepannya, jika kamu ingin berkembang lagi maka seharusnya kamu dapat melampaui aku sendiri, jadi berjuangalah.“ Kali ini Instruktur Kesna yang berbicara.


Lekness tak bisa sesenang ini, hatinya seakan girang di puji oleh Instruktur Kesna yang memberikan pujian pada karya yang ia miliki, dan itu semua tercapai, hal ia sudah tunggu-tunggu selama ini, pun menjadi sebuah kenyataan. Ia tersenyum, meninggalkan kesan dalam semua yang ada–menyembunyikan berpesta hatinya saat ini


“Terima kasih atas masukan dan juga saran yang diberikan, aku akan berkerja lebih baik lagi.” Sembari memberikan hormat.


“Dan soal menjalani kontrak nanti saya pikirkan matang-matang dulu.”


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa like yah, dan paling kuperlukan di sini adalah rate-nya kalian semua berikan, jadi jika kalian membaca silahkan rate dulu🙏🙏