
Tak mau berlama-lama, orang bersembunyi di balik tembok itu memperlihatkan wujudnya, langkah pelan ia terapkan dengan perasaan yang rumit di lihat oleh Zen. Menatap lebih jelas—Zen sangat terkejut dengan wujud di hadapannya, bukan seperti yang ia ekspetasikan – pikirannya yang sehubung negatif lainya. Itu seolah-olah tak terwujud seperti hal dugaannya tapi memang begitulah. Seorang anak lelaki berambut hitam menatap kearahnya, sedikit ada ketakutan terlukis di wajahnya. Namun Zen juga, tak dapat menyangkal dengan rambut hitam yang ia miliki, ada rasa familiar jika di lihat.
Zen terkejut, ia memang tadi sempat nada yang ia keluarkan sedikit lebih tegas, tak seperti gaya bahasanya. “Eh... maaf, aku tidak tahu..” ucap Zen terbata-bata.
“S-se-harusnya aku yang meminta maaf, aku ingin mengembalikan punyamu ini, yang kamu lupa ambil tadi.” Memberikan beberapa beberapa koin perak.
“Koin???”
“Hmmm... sebenarnya tadi ada kembaliannya, barang yang anda beli di toko kami,” ucap Anak itu.
“Ah... aku tidak tahu.. terimakasih yah.. Maaf Soal yang tadi,” ucap Zen tersenyum.
Anak itu hanya membalas senyumannya. “ Terimakasih kembali,” ucapnya langsung ingin berbalik pergi.
Tak tahu-tahunya, secara refleks Zen menghentikan anak itu. “Tunggu.. tunggu sebentar,” ucap Zen.
Anak itu mengembalikan lehernya kearah belakang, mengernyit tak mengerti. “Apa????”
“Bolehkah aku tahu namamu..” tanya Zen.
Zen terbilang yakin akan perihal apa yang di ucapkan oleh bocah di depannya ini, ia cukup menyimpulkan jika di hadapannya ini memang sedikit terhubung dengan orang yang tadi bersama melakukan transaksi dengannya; jujur saja, ia tak ingin mempermasalahkan atau lebih di katakan kata urusan — semua ini, tapi mungkin saja kedepannya hal ini dapat ia gunakan, tanda kutip bukan saling manfaatkan, tapi lebih kebentuk saling kolaborasi; akan sesuatu dengan bakat yang di bilang Zenos ini yakni; “Cretor.” Hal itu semua mempunyai suatu alasan yang tiba-tiba muncul di pikiranya, Zen juga cukup sadar merasa jika toko Blacksmith yang ia kunjungi tadi, sedikit berbeda dari yang lain, entah itu apakah sebuah misteri juga. Jika saja, hal ini tak di beritahukan oleh Zenos, akan jalur bahan yang harus ia dapatkan, mungkin ia juga tak mungkin menemukan core yang seperti ia perlukan.
Jalan pikiran Zen memang sedikit rumit dan juga aneh, seperti yang di katakan Hendrick tak dapat di pikirkan olehnya sendiri walaupun itu di bantu oleh kemampuan sensoriknya bawaan dari [Inner Feeling]. Zen bisa di katakan seorang visioner tapi bukan visioner juga, seakan-akan sifatnya tersebut memang bukan kehendaknya di lakukan secara hakiki, lebih kebentuk sensitif dan labil akan sesuatu.
“Aku sedikit familiar dengan wajahmu itu,” ucap Zen.
Anak itu mengangguk sebelum menjawab pertanyaan dari Zen sedikit aneh. “Namaku Denian,” ucap anak itu.
***
Di sebuah jalan yang sedikit sepi, tak seperti jalan yang biasa di lewati para pedagang dan juga wagon-wagonnya – memuat barang yang di per jual-belikan. Wagon yang terbuat dari logam, sedikit aneh dari bentuk wagon kayu biasa di gunakan, baik jasa akomodasi ataupun miliki pribadi perorangan. Dengan tanda-tanda mekanisme meliputi sistem kerja aktifnya, sudah sewajarnya jika wagon logam ini tak di tarik seperti yang kita ketahui, bukan tenaga dari kuda melainkan tenaga sebuah mekanisme sihir yang di buat sedemikian rupa.
Seorang pria paruh baya menatap di balik jendela yang kini bosan, tangan kanannya sebagai penongkah dagu disela pinggiran kayu yang di buat untuk di khususkan bagi tangan menyandar. Rambutnya yang tak terurus dan sedikit beruban seperti pria paruh baya tua biasanya, dengan jubah kebesaran yang hampir sudah lama ia kenakan, selama karirnya ini menjulang di kenal.
“Apa keputusanmu ini, apakah begitu baik Professor,” ucap perempuan yang masih muda sekiranya berumur dua puluhan, menggunakan kaca mata dengan tanpang seperti seorang yang kutu buku. Terlihat jelas bagaimana sikap yang di tunjukkan, perempuan menggunakan kaca mata ini– tenang dan juga profesional.
“Bukanya lebih baik kita menggunakan apa yang kita buat yang sudah di pakai, ‘Simple teleportation advice‘ bukan,” ucapnya lagi.
“Aku sudah mempertimbangkan hal ini jauh-jauh hari sebelumnya, setidaknya ini membuatku merefreshkan diri dengan keadaan jenuhku di kota Antoinerei.”
“Pemandangan ini sudah tak kulihat selama berpuluh-puluh tahun,” ucapnya lagi.
“Tapi, bukan itu masalahnya, bukanya pihak kita sendiri telah mengkonfirmasi kedatangan kita di Alliance City, dan itu mungkin mereka sudah mempersiapkan semuanya kedatangan anda Professor.”
“Dan itu pun akan membuat skedul yang kamu miliki, sedikit ada perubahan, sesampai anda di kota,” balas perempuan itu.
Ia mengesampingkan lehernya yang tadi menatap keluar—perempuan kaca mata ini di hadapannya. “Itu tak ada masalahnya denganku.. Aku ini sudah tua, setidaknya aku menikmati masa tuaku bukan.”
“Ya, ya, aku tahu pemikiran anda professor, tapi di satu sisi, yang akan menjadikan ini semua sesuatu yang merepotkan, bukan anda melainkan murid anda sendiri. Sudah mempersiapkan perihal sesampainya anda di alliance city.”
Pria paruh baya itu tersenyum, membayangkan sosok muridnya yang akan memaki pria tua ini, sebagi masternya. “Aku memang berencana seperti itu, anggap sajalah sebagi hadiah pertemuan yang sudah lama ini.”
“Huh... sifat anda memang kekanak-kanakan Professor,” gumanya pelan.
***
Dua segender berjalan di keramaian dari distrik pertama, di Alliace City. Kepadatan yang menyeruak, di berbagi sisi yang ada, memang sudah kental di distrik pertama ini. Zen dan juga anak lelaki ini, terlihat berjalan sedikit di keramaian, banyak poster di tempelkan di sisi-sisi dinding bangunan, akan pameran yang lagi di gelar lima hari akan datang. Zen juga sebenarnya, terbilang canggung akan sikapnya tadi sedikit untuk di nilai, ia melakukan respon, bukan!! melainkan gerakan refleks dari ia keluarkan, anak itu juga bingung dengan sikap orang di depannya. Zen dengan tekad hatinya menghilangkan rasa canggung di landa, menatap serius, dan berkata; “Bolehkah aku menjadi temanmu,” ucap Zen. Tentu anak itu terkejut, menunjukan sikap wajah anehnya menatap lekat Zen – untuk memastikan.
“Maksudnya..???”
Zen mengucapkan sebuah dalih. “Begini, sebenarnya aku ingin mempunyai sebuah koneksi untukku, menyiapkan bahan-bahan yang nanti akan kubeli, kemudian hari nanti jadi... aku sebenarnya cukup familiar wajah anda, apakah...” Tentu itu semua, untuk memaksimalkan teknik Blacksmithnya.
“Aku anak dari Pemilik toko Blacksmith yang anda beli tadi,” ucap anak itu cepat.
“Sepertinya dugaanku benar,” batin Zen. Seperti dugaanya, wajahnya memang sedikit ada kesamaan dengan tuan yang menjual core-nya itu.
“Apakah kakak serius dengan ucapan yang tadi,” tanya anak itu memastikan.
“Hmm... tentu,” jawab Zen.
Alih-alih berkata yang ia ucapkan membuat suasana keduanya tak secanggung tadi, tapi itu seolah-olah berbalik kepada anak berambut hitam panjang di hadapanya. Menatap dengan wajah menunduk, dengan gerakan jari tangan dua telunjuknya
“Bolehkah, aku tahu... kakak.... jubah itu,” ucap anak itu ragu-ragu.
“Ahhhh.. Jubah ini,” ucap Zen cepat, tak mengerti sembari gerakan kepalanya kebawah. “Aku dari Akademi..” ucap Zen spontan.
“Akademi? Jangan bilang... Aku tahu, aku tahu, aku tahu!!!!” ucapnya berteriak-teriak.
“Jadi, sekarang kita berteman kak,” ucap anak itu langsung.
“Eh.. yah kita berteman,” jawab Zen masih bingung.
“Kok, suasananya berubah cepat sekali....” batin Zen.
...
“Aku tidak menyangka, kota di distrik ini akan seramai ini.” Sambil memakan Es krim yang ia pegang.
Sudah sewajarnya jika ekonomi atupun hal yang sekaitan, memang akan di semaksimalkan terjadinya keramaian, tanda kutip hal bertransaksi. Walaupun itu memang di kehendaki lakukan, namun berbeda dengan distrik-distrik yang lain – distrik ketiga sampai dengan distrik kelima, tidak seramai dengan distrik pertama dan kedua, yang begitu mencolok menunjukan arti dan tujuan sebenarnya di buat Alliance City ini. Tak mengenal adanya perbedaan antara dua bentuk clasifikasi Ras Human yakni; Non-bangsawan atau kaum Bangsawan—mereka lebih menjunjung tinggi akan sederajat, yang di pakai motto Asosiasi Guild petualang.
Denian yang masih menjilati Es krim manisnya ini, menatap orang yang berbeda umur empat tahun dengannya. “Hmmm, karena sebentar lagi akan di adakan pameran di Akademi Phyterus,” ujar Denian.
Zen kali ini sedikit kebingungan dengan ucapan tadi Denian katakan, sedikit dua kata yang ia garis bawahi. “Apakah kamu tahu juga dengan nama Akademi Phyterus sebenarnya?”
“Tentu saja aku tahu..” jawab Denian, dengan semangat.
“Impianku adalah ingin memasuki akademi Phyterus...” ucapnya lagi penuh dengan tekad.
“Kenapa???”
“Karna aku ingin, walaupun itu tidak mungkin bagi orang yang tidak menonjol sepertiku ini.”
“Menurutku tidak, anggapanku semua orang itu mempunyai dominasinya masing-masing termaksud kamu,” ucap Zen
“Aku? Kenapa begitu? Menurutku itu terlalu aneh.”
“Kamu tahu, jika anggapanmu itu sangatlah pesimis, tak seharusnya kamu bersikap seperti itu. Tapi sebenarnya jika kehidupan yang kita miliki, kita adalah yang mengaturnya maupun menjalani, jadi nasib yang akan kedepannya itu semua berasal dari kita sendiri, tangaan kita sendiri yang lakukan bukan.”
Melongo tak percaya seolah-olah mendapatkan hidayah. “....” Menunduk kebawah.
“Aku percaya, jika dunia ini memang adil, namun tak di sadari oleh banyak orang,” ucap Zen menatap langit yang menjelang sore.
“Hmmm.... aku tahu, aku seharusnya tidaklah pesimis, kecuali kita berusaha bersungguh-sungguh maka yang kita lakukan pun akan kita panen juga.”
Ia mengangkat tinggi-tinggi tangannya, lalu mengepal. “Aku akan tetap berjuang,” ucapnya penuh dengan rasa semangat yang membara.
“Sikapmu itu sangatlah bersemangat Denian,” ucap Zen.
“Begitukah???”
“Yah, kamu benar, aku akan selalu mendukungmu untuk masuk ke akademi...”
“Jadi hari ini ,kita adalah teman yang saling memahami,” ucap Zen.
“Hmm... hari kita berteman, Kak Zen.”
“Baru aku menyadari, hari ini sangatlah menyenangkan, namun.. ini pertemuan kita terakhir,” ujar Zen.
“Kenapa??? Kita kan baru berteman.”
“Bukan begitu, jangan menyimpulkan hal yang tak jelas dulu, aku bukanya tak ingin bertemu denganmu lagi, tapi Akademi sendiri menggunakan asrama dan itu membuat kita harus menetap sampai kelulusan. Setidaknya jika aku akan bertemu denganmu, akan kunjungi lagi, dan lagi kubawa teman-temanku,” ucap Zen.
“Apa benar???”
“Tentu saja benar, semoga kita dapat bertemu lagi,” ucap Zen.
“Janji yah kak...”
“Yahh..”
***
Jauh dari kota Alliance City, di sebuah Padang rumput yang luman luas, wagon logam di biarkan berhenti di titiknya. Dua orang keluar dari pintu wagon, menatap sekeliling dengan hembusan angin sepoi-sepoi tak menentu. Ini adalah titik pertemuan yang sudah di janjikan, untuk kedatangan orang yang penting ini. Sebuah buntalan portal sedikit besar di bawah wagon, seakan-akan menelan; langsung menggunakan [Storage Magic] untuk menyimpan wagon tipe berat ini — tak terlihat lagi.
“Apa ini tempat yang anda bilang tadi...”
“Itu benar sekali, sekurangnya membutuhkan beberapa waktu dekat, kedatangan jemputannya.”
“Bagus, itu sudah cukup..”
tak berlangsung lama, sebuah lingkaran Rune berwarna biru, sedikit pekat–dekat dari posisi mereka saat ini, dengan diameter lumayan luas. Keduanya tersenyum, menatap formasi Rune itu, inilah yang mereka tunggu dari tadi, kedatangan yang sudah di tunggu-tunggu tak selama ini, kedatangan mereka baru saja.
Di balik cahaya, menyilaukan mata, seorang perempuan berambut coklat dengan iris mata senada, berdiri tegak dengan beberapa orang dari arah belakang yang menggunakan seragam dari organisasi Rhei. Perempuan itu tak menyinggungkan senyum seperti dua orang di depannya, ia terlihat kesal menahan kekesalannya saat ini—bagaimana tidak, sudah diatur jika Masternya ini, seharusnya kedatangannya lebih lambat sedikit seperti skedul yang di tetapkan; apakah ia benar-benar mempermainkan mereka? dan jawabannya sendiri, jika di lihat dari tampang ekspresinya saat ini, seharusnya begitu.
“Sudah lama tidak bertemu Master, Professor Vesta,” ucapnya remeh.
“Lihatlah, kamu sedikit lebih tengil dari biasanya,” ujarnya lebih sarkastik.
Sedikit kekesalan, menahan. “Kamu tidak berubah sama sekali, kata-kata sarkasme-mu itu.”
“Hahaha... Seharusnya kamu menyambutku bukan.”
“Itu memang benar, tapi... ketika mendengar sarkasme-mu tadi, aku sama sekali tak berinisiatif,” ucapnya langsung.
“Hahaha, kamu semakin berani denganku bocah kecil, setidaknya kamu harus membawaku bukan,” ucap Profesor Vesta.
“Tentu, kamu tidak lihat orang-orang di belakangmu ini.” Mengalihkan arah tatapannya, “Dan... sudah lama tidak bertemu Amel,” ucap Instruktur Kesna, kearah perempuan berkacamata tadi menyimak, pembicaraan dua orang murid dan guru ini.
“Hmmm.. semenjak tiga tahun yang lalu,” jawabnya tersenyum.
“Apakah kamu menjadi asistennya dari pak tua ini,” tanya lagi.
“Ya, itu memang benar.”
“Akan kutebak, jika pak tua ini, selalu merepotkan kamu bukan, apakah sifat kekanak-kanakannya masih belum berubah,” ucap Instruktur Kesna lagi.
“Begitulah...” jawabnya jujur.
“Sudah, sudah, sudah! aku sudah tidak tahan lagi disini,” ujar Professor Vesta menahan kekesalannya
“Kalian cepatlah,” nada memerintah.
“Tunggu sebentar pak tua,” jawab Instruktur Kesna.
Seakan mengerti, beberapa orang yang berada di belakang tadi, lansung inisiatif membentuk formasi barisan. Mereka bertiga berdiri dengan posisi siapa masing-masing, di tengah-tengah formasi barisan yang di buat.
“Apakah, kalian sudah siap,” ucap Instruktur Kesna tegas.
“Ya...” balas serempak, terkecuali dua orang yang berada di dekatnya.
“Mari kita mulai!”
[Magic The Controller]; Greater Teleportation
Swingg..
Swus..
To be continued \=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=