
Satu hari telah berlalu, meninggalkan semua kenangan yang terjadi kemarin, dari sosok besar; Jendral Lucas salah satu dari Ten Commander dalam Rhei yang terkenal dengan julukan Sang Mercury itu. Zen tak tau seberapa terkenal orang itu, tapi yang jelas orang yang mempunyai julukan yang terpampang, bahkan sudah di cetak dalam buku-buku yang sering di baca anak anak dan di anggap sebagai Hero; cukup membuktikan sosok terkenal yang sangat di hormati dalam berbagai kalangan baik itu kalangan non-bangsawan.
Zen yang biasa duduk dengan santai membaca buku di dalam kamarnya, Memikirkan beberapa hal ditemani Zenos sebagai sistem Analisis dan juga informasi yang ia punya.
“Aku sebenarnya tak mengerti dengan Aturan Natural Law ku ini,” ucap Zen.
“Zenos bisakah kamu jelaskan Unique Skillku ini,” batin Hendrick yang masih bergulat dengan buku yang pegang.
[Di Mengerti].
[Menjawab; Unique Skill yang Anda miliki Dapat memanipulasi Hukum alam yang ada tapi Sebatas pengaruh kecil lainya atau Hubungan Timbal balik Lainya Karna Nilai yang anda dapat Manipulation Hanya 10% dari Hukum-Hukum Alam yang terjadi]
“Bisakah Zenos kamu mempersingkat saja apa yang kamu jelaskan,” ucap Zen yang menghela napas.
Tak ada jawab maupun Suara yang keluar maupun Terdengar di pikiran Zen saat ini, Menandakan tak ada respon dari Sistem Analisis (Zenos).
“Baiklah.. Lanjutkan.” Hanya pasrah yang terlihat dari raut wajahnya.
[Menjawab; Anda h****arus ketahui jika Natural Law yang anda miliki ini tidak Sepenuhnya Berjalan Jika Anda Tak pandai Mengatur atau Memanipulasi Hukum Yang tidak sesuai dengan Angka 10% yang tertera].
“Tapi...Hukum apa saja yang bisa aku manipulasi, bukanya angka 10% terbilang cukup Banyak bukan,” tanya Zen.
[Misalnya Hukum Kematian Seseorang yang anda tak dapat di Manipulasi].
“Aku pun juga tau,” balas Zen sedikit kesal.
[Menjawab; Kalau begitu Anda carilah Sendiri].
“....”
“Cuek seperti biasa,” batin Zen dengan suara datar.
“Ahhh...Sudahlah Aku bosan, Mungkin aku bisa berburu informasi di luar,” ucapnya yang bangun dari kegiatan berbaringnya.
Tak berlangsung dari pembicaraan yang terjadi di pikiran itu seakan terwujud; di mulai suara ketukan terdengar seisi ruangan kamar. suara yang sangat familiar bagi Zen, tak lain dan tak bukan adalah Hendrick.
“Zen apakah kamu ada di dalam,” ucapnya.
“Yah...tunggu sebentar.” Berjalan membuka pintu.
Tak kiranya terhindar dari senyum berseri dari orang yang di hadapannya ini, bersinar dengan ilusi Bunga-bunga yang tak kala ada juga, hingga iris mata Zen di buat di tutup paksa oleh kelopak mata,melihat pemandangan yang ada di depannya. Lantas Zen pikir, jika semua ini ada maksud tertentu yang bersembunyi di balik pesona yang di tunjukan. “sungguh tidak enak di pandang**,” batin Zen.
“Kenapa?” ucap Zen sedikit acuh.
“Ayolah Zen..Temani aku jalan jalan keluar,” katanya dengan nada memohon.
“Apakah kamu sudah meminta izin kepada ayah,” tanyanya yang keningnya sedikit mengeryit.
“Sudah kok....” balasnya spontan.
“Baiklah...”
Zen juga tau kalo semua ini cukup merepotkan, tapi ia juga bosan dengan keadaan yang begitu begitu saja. Mungkin dengan menyetujui permintaan Hendrick menemaninya berkeliling dapat mengatasi rasa bosannya, bahkan dapat sesuatu yang menarik ketika berkeliling di keramaian kota Aliance City.
Tak disangka persetujuan begitu saja terdengar di pendengaran anak berambut coklat itu, sungguh di buat bersorak senang akannya. Senyum lebar merekah di wajahnya seolah-olah menyambut apa yang di ujarkan pada Zen sebagai bentuk penyambutan.
“Ayo.” ajak Zen yang telah selesai bersiap, Berlalu beberapa menit.
“Hmmmm..”
***
Berjalan di jalan berbata nan ramai, seperti biasa ramai akan para pedagang dan juga pembeli. Saat ini kedua remaja itu berada pada distrik pertama yang berbatasan langsung dengan pembatas utama Aliance City, distrik yang terbilang sebagai tempat perputaran ekonomi para rakyat jelata, dan juga para pedagang dari berbagai kerajaan maupun Kekaisaran yang kebetulan berdagang di daerah ini. Terlihat sepanjang mata memandang, banyak sekali lapak-lapak penjual yang menjual barang-barang baik itu aksesoris maupun jajanan jalanan yang terpampang jelas di depan mata jika melihat.
Kedua remaja yang berbeda rambut itu berjalan dengan langkah ringan seolah-olah aktifitas yang mereka lakukan, ini adalah waktu senggang bagi mereka berdua yang cukup terkurung dikediaman yang begitu sepi Itu.
“Zen lihatlah itu...pertunjukan sulap bukan,” ucap Hendrick yang antusias sambil menunjuk-nunjuk tempat yang ia maksud.
“Iya..memangnya ke----” Sebelum menghabiskan apa yang ia katakan, Sang Empu yang di maksud berlarian menuju tempat yang begitu membuat ia antusias.
“Bagaimana Pertunjukan yang kami tampilkan,” ujar pembawa acara ‘Sulap jalanan.
“Wah..Hebat.”
“Kamu lihat kan Zen, Itu benar-benar hebat,” ucapnya dengan mata berbinar.
Zen hanya menggeleng-gelengkan kepala terhadap apa yang ia lihat sekarang ini. Sifat kekanak-kanakan yang di tunjukan Hendrick sedikit membuat ia menyunggingkan senyumnya. Yah..ia juga tahu kenapa orang yang satu ini, bisa bersikap seperti itu. Maklum anak bangsawan yang tak bebas keluar.
“Hei..Zen lihatlah, Kamu tersenyum.”
“Hmmm.”
Dua Remaja berjalan dengan langkah santai mereka, menyusuri jalanan utama deretan pertokoan, lapak-lapak kecil terlihat sepanjang jalan yang ada, baik itu berderet memanjang secara vertikal, ataupun melakukan promisi dengan teriak-teriakan hanya untuk menawarkan barang. Orang-orang berlalu-lalang melakukan kegiatan transaksi jual beli, baik itu barang yang di tawarkan oleh penjual dengan cara promosi mereka masing-masing dan juga permintaan dari sang pembeli itu Sendiri–roda ekonomi berjalan baik di sini.
Hendrick sendiri melangkah dengan semangat empat-lima nya, bukan rasa semangat yang ia tunjukan saja tapi juga isi kantong yang cukup untuk ia belanjakan terhadap barang yang menurut kedua bola matanya terlihat menarik.
“Zen..kamu mau apa, nanti aku belikan,” tawar Hendrick.
“Tidak usah, Aku hanya mau kesitu,” ujarnya sambil menunjuk sebuah Toko barang Antik.
“Hmmm...apakah hanya itu,” ucap Hendirck.
“Yah.. begitulah, Hanya ini,” jawabnya acuh melangkah pergi.
Toko yang cukup Lesu di depannya, kaca yang berdebu memenuhi sudut-sudut yang sulit di jangkau, entah apa yang membuat Zen tertarik dengan Toko yang satu ini, seumpaman ada daya tarik dari Magnet hingga membuat Zen cukup untuk menjadi Logamnya. Dari sekian banyak toko yang mereka lewati selama ini baru pertama kalinya mereka berdua melihat toko yang sunyi akan pembeli.
“Ayo..Masuk,” ucap Zen
“Yah..”
Mereka langsung saja disambut oleh Pria Tua yang mempunyai jenggot panjang di tambah dengan Rambut putih uban yang kental, duduk dengan santai di kursi yang biasa Resepsionis duduk, sambil membaca buku acuh tak acuh. Kedatangan kedua remaja itu tak membuat sang pria tua itu surut akan kegiatan membacanya, sampai ia menutup buku dengan keras mengagetkan dua orang yang baru datang tadi, disebabkan terlalu memperhatikan pria tua yang berada tepat di depan mereka ini.
“Apa yang mau kalian Beli?” ucapnya langsung.
“Boleh kami lihat-lihat dulu,” balas Zen.
“Silahkan,” jawabnya.
Berkeliling di setiap etalase yang berjejer, banyak sekali barang-barang bekas yang di biarkan begitu saja terkurung di rak-rak kaca yang ada di depan mereka. Zen di buat sedikit terkejut dengan rak-rak kayu yang berjejer rapi menempel dengan dinding bata dari Toko, buku-buku bekas menurut Zen yang seperti buku kuno yang tidak di ketahui asalnya, Itu masih dugaan belaka, tapi tentu saja Zen akan membuktikannya apakah spekulasi benar apa tidak, sungguh ia buat penasaran. Memeriksa setiap Buku yang ia lihat di rak yang berjejer, tapi matanya tertuju pada buku yang jelas tertulis di depannya ”A Compement.”
“Cukup Menarik,” batin Zen memegang lalu membuka buku yang matanya tertuju.
Dan satu lagi, compement atau kemampuan spesial hanya dimiliki pada Tubuh manusia bukan ras lain. Tapi Bagaimana dengan ras Witch sendiri? Jelasnya: Intinya jika Gen para Witch maupun Human Tidaklah sama, itu memang benar jika dari segi fisik Manusia dan juga Witch adalah sama, walau begitu dari segi sihir maupun Penggunaan Sangatlah terpaut jauh seperti bumi dan langit. Kendati begitu ada juga manusia yang dapat menggunakan Witch Magic seperti biasa seperti para witch itu sendiri, misalnya Half-witch atau orang-orang khusus lainnya.
Awalanya memang cukup membingungkan kenapa hanya manusia yang mempunyai kemampuan khusus; secara garis besar cukup rumit untuk di jelaskan tapi yang pasti, karna Gen manusia itu sendiri yang terbilang berbeda dengan Gen yang lain baik karakteristik sihir itu sendiri, yang tentu saja membuat ras lain itu iri, bahkan bangsa Elf yang terbilang angkuh sekalipun mengakui akan hal itu.
“Hah....” Sambil melihat semua buku sampai keatas rak buku.
“Zenos bisakah kamu Menganalisis Semua buku yang ada di depanku,” batin Zen.
[Di Mengerti].
[Analisis Data Di mulai].
0%...25%...50%...75%...100%
[Analisis Selesai].
“Yosh...mari kita keluar,” ucap Zen.
Zen membeli beberapa barang antik yang ada di Etalase kaca maupun buku yang tertenteng rapi di tangan kanannya,walau ia tak berminat dengan barang antik tapi ia juga mendapat hadiah yang lebih dari itu mengenai buku yang telah di salin Oleh Zenos sebelumnya, Menurut Zen saat ini ia harus berburu informasi karna pengetahuannya yang masih minim akan dunia ini.
“Apakah kamu sudah selesai,” tanya Hendrick yang sedari tadi menunggu di luar.
“yah.”
“Ayo pergi..” tambahnya.
“Hei..Zen apa yang kamu beli,” tanya Hendrick yang berada di sampingnya.
“Buku...dan juga ini.”
“Rupanya kamu suka mengoleksi barang antik yah,” ucap Hendric tak percaya.
"Hah..terserah kamu saja lah".
Obrolan Keduanya terhenti ketika melihat banyak sekali kerumunan orang yang memadati jalanan, dengan cepat mereka mendekat ke tempat kerumunan dan naas kejadian yang ada di depan mereka begitu miris.seorang kakek yang rentang umur di keroyok oleh beberapa gerombolan pria kekar dengan anak anak buahnya.
“Sialan,” batin Zen yang tak suka.
Ia dengan cepat menahan serang berupa kepalan yang mengarah langsung pada tubuh sang kakek; entah kenapa Zen merasa jika kakek yang satu ini dapat menahan semua Serangan yang terjadi padanya.
“Kek..kamu tidak apa-apa kan?” Hendrick berkata.
“Yah..Nak aku tidak apa-apa.”
“Wah..wah lihat, ada seorang penyelamat rupanya,” ujar orang yang berbadan kekar.
“Oh.. sepertinya kalian mau tulang kalian berpindah tempat yah..kayaknya,” balas Zen dingin yang maju ke depan.
“Hahahaha...lihatlah siapa yang berani menantang kita.” Tawanya mengejek Zen dan di ikuti semua anak buahnya.
Orang yang berkerumun juga tak habis pikir dengan apa yang di lakukan kedua remaja ini, Bukan berarti mereka tak ingin membantu tapi apa lah daya mereka tak memiliki kekuatan, mereka hanya melihat apa yang terjadi saja.
“Oh..Yah,” balas Zen.
Bhukkkk...
Bhuk...
Bhukkk...
Semua para Gerombolan penjahat itu tergeletak tak berdaya hanya beberapa detik saja, Zen sedikit mengeluarkan kekesalan terhadap apa yang di ucapkan pria kekar. Entahlah...ia merasa tanganya gatal ingin memukul seseorang.
“Apakah kakek tidak apa-apa,” tanya Zen.
“Terima kasih Nak, telah membantu kakek Tua ini,” ujarnya.
“Tidak apa-apa” guman Zen pelan Sedikit mengeryit.
Jujur saja, Ia merasa jika kakek Tua yang ada di hadapannya seolah-olah sedang berakting akan sesuatu, tapi itu hanya dugaan Zen semata.
“Sudah sewajarnya, jika kita membantu orang yang membutuhkan,” ucap Hendirck dengan Senyum Lembut.
“Perkenalkan namaku Hendirck dan ini adalah Zen, Saudaraku.”
“Terima kasih Nak Zen, Telah membantu kakek.”
“Iyah...Tidak apa-apa kok kek,” balas Zen.
"Sebagai Tanda terima kasihku pada nak Zen, bisakah nak Zen menerima hadiah dari kakek Tua ini.
Zen sedikit bingung, bukanya ia sudah bilang tidak apa-apa kan, malah di kasih Hadiah rupanya, rasanya sangat Aneh.
“Ayolah Zen..Terima saja.”
“iya..terima kasih kek.”
“Terima kasih kembali nak Zen.”
Note Author: Dari sini gw nyebutin Aliance city dengan nama singkatnya saja yaitu A.C.
Sudah sewajarnya jika A.C. tak hanya di jadikan sebagai patokan semua kota yang ada baik itu semua aspek kehidupan, bisa di katakan jika A.C. adalah kota bebas bagi ras Manusia baik perdagangan yang tak memandang Kekaisaran maupun kerajaan lain yang berada. Tapi juga di sini tingkat kejahatan termaksud cukup tinggi meresahan para warganya.
Walau begitu masih banyak para Turis dari berbagai Negara menghabis uangnya hanya kota ini, bahkan para kalangan bangsawan Sendiri menghambur-hamburkan uangnya dan itu wajar bagi mereka yang mempunyai uang seperti itu.
“Zenos bisakah Kamu Analisis apa yang ada di dalam kotak ini.”
[Di Mengerti].
[Analisis Data Di Mulai].
0%...25%...50%...75%...100%
[Analisis Selesai].
[Data Akan langsung di kirim Di Otak Pengguna].
“Bukannya ini....” Zen Terkejut bukan main