My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 39. Secercah Harapan



Bermimpi. Apakah Kalian pernah bermimpi, Mungkin ini lah yang namanya satu hal selalu di rasakan tanpa sadar Oleh manusia atau Makhluk hidup lainya, Walau terasa Mimpi hanyalah Imajinasi sang pemikir tapi....Di satu sisi juga, Ini adalah Cara terbaik Untuk Mengekspresikan semua Pemikiran kita berada. Dan juga, Di dunia mimpi tak ada bedanya dengan Keinginan semata, Keinginan untuk melakukan hal yang di anggap hanya bualan tersimpan dalam benak seseorang, Keinginan dari semua yang begitu di dambakan, dan Kenangan Buruk, Manis, Sedih, Pahit, Gembira; Gambungan dari semua itu tersimpan di dunia mimpi ini.


Mungkin sebagian Orang berpikir jika Mimpi adalah kejadian-kejadiam tak memiliki makna sama sekali, Tak ada artinya bagi kita, Imajinasi tanpa sadar itulah mimpi. Walau tanpa sadar, Kenapa kita bisa bermimpi hal-hal berhubungan dengan Hidup kita sendiri. Apakah pikiran kita bekerja ketika kita tidur?, Apakah lagi Otak adalah salah satu dari dua alat Fungsi manusia yang akan selalu bekerja ketika Tubuh ini mengistirahatkan Seperti Jantung dan Juga paru-paru?. Entahlah...ini semua Benar-benar Rumit..


o0o


"Aku dimana?."


"Apa yang terjadi padaku."


Suara pelan yang Bertanya, Kebingungan di campur adukkan menjadi Satu, Kondisi yang tak memungkinkan terjadi. Entah apa yang di rasakanya Seakan ada sesuatu yang hampa didalam Lubuk hatinya yang paling dalam. Jika ia Seorang Manusia, Mungkin hanya dia satu-satunya yang dapat menahan pedih dan juga kekosongan hati ini. Hati yang hampa maupun Kekosongan Hati bersatu, Entahlah bagaimana pedihnya yang ia rasakan, Tapi yang pasti sangat..sangat tak Enak bagi dirinya itu sendiri.


Bulan Besar terlihat di danau Es membeku. Salju dingin Angin malam berhembus hilang Entah kemana. Kegelapan menyelimuti di tambah Rasa Dingin Akut memasuki pori-pori. Dasar Air tak berujung Seorang melayang di biarkan begitu saja seolah-olah gaya apung Dalam Hukum Archimedes tak berlaku baginya, Tak berdaya, Rasa Takut Merenggut hatinya di tambah dingin Es menembus pori-pori hingga ia berpikir apakah ia ada, apakah ia masih hidup lagi!!.


Secara perlahan tapi pasti Tubuhnya terangkat di balik Danau Es beku yang debit Airnya tak terhingga, Seakan Gaya Apung memberikan Ia harapan agar tak tenggelam di Dasar Danau Gelap tak menentu itu. Perasaan pemuda itu hanya satu "aku Takut...Jangan Tinggalkan Aku".


Jujur Saja ini bagaikan Kesepian Abadi baginya, Kenapa Hanya ia merasakan semua ini, Kenapa hanya ia merasakan Kesengsaraan yang tidak di inginkan baginya, Apakah Tuhan tidak pernah mengabulkan semua Doa dari Hambanya ketika meminta bantuan?, Jika bertanya padanya ia pun tak tau.


Berselang waktu Di Tengah-tengah Danau Es, Tercipta retakan-retakan kecil lalu meluas. Sosok Manusia Terangkat, Terbang melayang bebas beberapa meter di bawahnya. Bulan Purnama memberikan Secercah Cahayanya hingga menghilangkan kegelapan, membuat siapapun ketakutan merasa akan jauh Lebih baik.


Pemuda berambut putih itu memperhatikan Bulan Purnama yang menerpa Wajahnya, Kulitnya agak sedikit pucat di sebabkan entah kenapa, Ia tersenyum melengkung menatap Bulan purnama yang sangat Besar dan....Indah.


"Sangat..Sangat..Sangat Besar Bulan itu" Ujarnya.


"Dan Sangat Terang" Tambahnya


Ia tersenyum lagi di bawah Indahnya sinar bulan, Melayang bagaikan angin lalu ia berhati-hati mendaratkan kakinya di danau Es beku nan licin. Ia mengerti semua ini, Apa makna dari bulan. Sesuatu Sangat besar menghilangkan kegelapan malam, Bahkan itu Ketakutan maupun rasa bimbang bagi Orang melihatnya. Makna Sinar bulan sendiri Seperti Matahari menyinari terang benderang merasa Hangat dalam Lubuk Sanubari terdalam, Bukan Hangat Secara Fisik tapi...Hangat karna sesuatu menerangi Kekosongan hati di Gelapnya tak berujung bagi Orang kesepian, bagi orang yang tak mempunyai Harapan maupun Tujuan Hidup.


KREK....


BHIS...


Pecah!!. Keadaan tadi Musnah, Bagaikan Gelas yang jatuh di tempat ketinggian lalu berhamburan, Memperlihat sosok Kebingungan. Sebuah Di Dimensi menggantikan Dimensi baru, Terpaksa Dengan Responnya pemuda itu memperhatikan dengan Saksama Semua yang menjadi Pandangannya.


"Aku Di mana Lagi" Ucapnya Kebingungan.


Dimensi Tak berujung, Tak tau seberapa Besar Dimensi ini, Bintang-bintang jatuh yang menjadi Latar belakang dari Dimensi ini. Ia berjalan dan berjalan tanpa Tujuan, Ia pun tak tau harus kemana hanya lurus dan lurus menjadi Langkah kakinya itu.


Sosok Perempuan Dengan Rambut Putih seputih Kilau-kilauan Cahaya melayang di udara Hampa nampak Elegan, Pemuda itu juga tak tau kenapa ia bisa bernafas padahal tidak ada tanda-tanda Oksigen di sini, Tapi yang patut di pikirkan sekarang adalah bagaimana ia bisa keluar dari tempat aneh ini. Sosok itu tersenyum hangat melihat pemuda berambut yang warnanya senada. Pemuda itu memperhatikan lagi dengan saksama, Hingga mata mereka bertemu, Biru kehijauan dan Biru laut saling memandang.


"Sudah lama yah Zen...Sejak waktu kita bertemu pertama kali." Ucapnya.


"Kamu Siapa...Kenapa kamu bisa mengetahui Namaku" Ujar Zen.


"Aku Siapa..Hah, Baiklah...Aku ku perkenalkan."


"Namaku Adalah Libia, Eksistensi Pencipta dari dunia yang kamu tempati sekarang ini."


"Dan Lagi Orang yang memanggilmu Ke Dunia ini".


"A-Ap-Apa...." Ucap Zen gagap.


"Aku Adalah Orang yang memanggilmu ke dunia ini untuk Menjalankan Misi yang ku berikan kepadamu..." Ucapnya tersenyum Lembut.


"Apakah semua ini benar" Ucap Zen sembari mencubit kedua pipinya.


"Ahk...Sakit."


Zen Sedikit malu, Ia memalingkan wajahnya ke samping agar wajah merah tomatnya tak di lihat Oleh Libia.


"Bolehkah Aku bertanya....Kenap kamu memanggilku kedunia ini.." Tanya Zen serius.


"Aku mengerti Zen..Karna kamu adalah Orang yang tepat untuk semua ini."


"Kenapa...Aku? Aku benar-benar tidak mengerti." Tanya Zen lebih Serius.


"Kamu Harus tau Zen...Jika ini semua bukan aku yang memilih mu...Tapi...!!!."


"Tapi apa...Ha?." Tanya Zen lagi.


"Tapi...." Menundukan Wajahnya lalu mengangkatnya lagi "Ini semua adalah Takdir yang memilih mu Zen." Ucapnya Sembari Tersenyum.


Zen benar-benar tak tau harus berkata seperti apa, Ia merenung sejenak lalu menatap Perempuan beriris Biru kehijauan nan berkilau itu yang menatapnya tersenyum.


"Apakah Kamu masih tidak percaya..." Tanya Sosok Libia lagi.


"Entahlah...Tapi, Kenapa...Apakah aku dapat menyelesaikan Tugas ini."


"Yah..Kamu dapat menyelesaikannya Zen, Karna kamu adalah Orang terpilih."


"Walau kamu menanggung Semua Beban berat Zen, Jangan lupa....kamu Harus melindungi orang-orang yang kamu, Pantas untuk di lindungi."


"Hmmm...Aku akan melakukan sesuai apa yang kamu Inginkan" Jawab Zen.


"Bukan yang aku inginkan, Tapi Keinginan kamu Zen" Ujarnya lagi.


Mata Zen membulat. Ia seakan tak sadar dengan Jika ini adalah keinginan dari lubuk hatinya yang paling dalam, Ia tak habis pikir jika Libia sendiri dapat mengetahui lubuk hatinya yang sebelumnya. Ia sudah merasakan kekosongan hatinya pada Kehidupannya dulu, Hidup sendiri tanpa teman dan juga Cuek dengan kehidupan orang lain itu kehidupan Zen.


"Sepertinya kamu belum merasakan Isi hatimu itu" Ucap Libia berpikir sembari memegang dagunya.


"Apa maksudmu?" Tanya Zen penuh Tanya.


"Dimensi pertama itu adalah Isi hatimu itu sendiri. "


"Jadi..." Ucapnya terpotong.


"Aku mencoba menyadarkan kamu, Lebih baik kamu Zen sadar akan perasaan mu itu. Ingatlah Jangan mengesia-siakan Hal yang kamu miliki sekarang, Itulah Saranku Zen."


Zen di buat diam, Ia kembali berpikir...


"Dan Satu lagi, Jangan merasakan Perasaanmu itu menggunakan Pikiranmu. Tapi, Gunakanlah Perasaanmu Zen."


Kata-kata terakhir yang ia ucapkan dengan senyum lembutnya, Membuat siapa saja kaum Adam meleleh. Ia hilang begitu saja berganti menjadi serbuk Cahaya terbang tinggi di Udara Hampa nan berbintang. Rasanya Hal ini adalah sesuatu yang telah di tentukan oleh takdir itu sendiri, meninggalkan sosok Zen yang tertunduk dengan Eksperesi Rumit. Ia tak tau bagaimana menjelaskan semua perasaannya, Tapi hatinya menjerit menginginkan untuk di keluarkan.


Seketika saja, Dimensi itu Hilang berselang sosok Libia meninggalkan. Bintang-bintang Jatuh yang menjadi latar belakang dari Dimensi ini, membuyarkan lamunan dari Zen. Dalam buku panduan Kita suci yang sering di pakai kekaisaran Holy Gereja barat atau Buku Ordoks Of God, Libia adalah Sosok Eksistensi yang di Juluki Kepercayaan, Kekuatan, Maupun Kebijaksanaan. Dialah Sosok Manifestasi dari Alam Semesta, Pemimpin para malaikat dari tujuh Kebajikan. Itulah yang tertulis jelas di kitab suci Ordoks itu.


Dalam Sejarah juga, Sosok Libia mengagungkan tiga senat nama, Yaitu Eksistensi Tak Terbantahkan, Sang Pembenci dan Pemurah dan Keagungan dari Tujuh Kebajikan,Tapi kebanyakan mereka menyebutnya dengan Julukan Sang Bintang Suci.


Kata-kata Akhir sempat ia ucapkan pada Zen, Zen juga mendengar samar, Tapi ia tak terlalu peduli. "Aku akan selalu mengawasimu Zen"


Jia semua di pikirkan, Tak ada yang dapat menjawabnya, Lagi dan lagi hanya waktu lah yang dapat menjawab teka-teki misteri dari semua ini. Benar-benar waktu adalah Hal yang terbantahkan baik Kenyataanya maupun Kebohongan, Fakta akan terungkap satu demi satu di atas waktu berjalan.