My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 50. Bakat Tamer



Berjalan mendekat kearah posisi dekat batu diamond sebagi sentral yang ada, tetap menjadi perhatian dari dua orang dari arah belakang, yakni Instruktur Ernest dan Instruktur Hagrid. Walau sebenarnya Zen tak tau apa yang akan di lakukan selanjutnya apalagi maksud dari semua ini, hanya menuruti kedua Instruktur itu.


“Huh...” Menghela napas pelan.


“Apa yang akan aku lakukan selanjutnya,” teriak Zen ke arah mereka berdua.


“Mendekatlah dulu kesana...” jawab Instruktur Etnest.


Ruangan dengan dinding pengap tapi terasa aliran [Mana] yang kuat benar-benar tak di sangkal, jujur saja ini baru pertama kali ia merasakan, tak tau berapa jumlah [Mana] total keseluruhan mengalir, hingga Zen benar-benar takjub dengan keadaan yang satu ini.


Sihir adalah salah satu hal abnormal yang baru di yakini di otak rasional Zen, dan masih banyak lagi sesuatu yang benar-benar abstrak menjadi kongkret akan di alami selanjutnya kehidupan ini. Tak terasa kehidupan yang penuh sihir ini sungguh di alami Zen, walau terasa de Javu atau tak terasa asing dengan namanya atau julukan sihir dalam dunia fiksi seolah-olah pernah ia ketahui, memang jelas Zen di kehidupannya yang dulu gemar membaca beberapa karya tulis dengan bermodalkan fantasi—dan itu tak dapat di elak sama sekali. Namun demikian ini jelas-jelas terjadi pada kehidupannya sekarang ini walau harus di bebani tanggung jawab sungguh berat sih....


“Bagus kamu sudah sampai,” ucap Instruktur Etnest tepat berada di hadapan Zen.


Zen terkejut, “Eh....Akhhh, apa yang ka-kalian lakukan! Ini membuat ku terkejut....” Menghela napas dalam sembari mengelus-elus dadanya agar berhenti berdetak tidak normal.


Wajah terkejut Zen benar-benar terlihat, anak berambut putih itu bahkan di buat salah tingkah oleh kedua Instruktur di depannya. Sampai-sampai remaja beriris biru laut itu panik plus terkejut, sungguh malu untuk di liha–dan juga di tambah wajahnya memerah tomat sampai ketelinganya hingga membuat dirinya berdecak sebal.


“Apaan sih sialan,” umpat Zen.


Namun demikian cukup bagi Zen, buat semua ini menjadi pengalaman baginya, walau bukan pengalaman berarti tapi ingat, atas kejadian yang tak pernah ia lupakan sampai seterusnya.


“Baiklah, sudah waktunya dan akhiri semua ini.”


“Zen berdirilah di dekat Stone Magic itu,” menunjuk kearah batu Diamond besar menjulang tinggi.


“Stone Magic? Batu sihir!” batin Zen mengeryitkan dahinya.


[Menjawab; Stone Magic diketahui sebagai salah satu bahan pembuatan dari senjata Magic, dengan komposisi 1 : 50 dari kekuatan senjata Non-Magic dalam menggunakan bahan yang sama].


“Sungguh aset yang di sembunyikan,” batin Zen kagum.


“Tapi untuk apa semua ini, hubungannya denganku sekarang,” batin Zen bertanya.


[Menjawab; Stone Magic pada dasarnya dapat mengumpulkan unsur [Mana] murni yang sangat berbeda dengan unsur [Mana] para ras lain gunakan atau unsur [Mana] biasa, oleh sebab itu karna efeknya begitu besar atas keperluan [Mana] seorang Individu maka di gunakan secara pasti untuk keperluan hal-hal menggunakan [Mana] terbilang besar lagi, contohnya sihir pemanggil ini].


“Bagaimana perbedaan dengan unsur mana biasa?”


[Menjawab; 1 : 100 dari pengguna sihir Witch]


“Besar sekali rupanya...”


“Zen apa yang kamu lamunkan?”


“Tidak kok.... jadi aku hanya berdiri di sini bukan,” sembari menunjuk ke arah stone magic.


“Ya, itu benar,” jawab Instruktur Etnest.


Mendekat, melangkah apa yang dimaksudkan, jika keadaan berpikir tak di perlukan hanya menuruti keadaan yang terus-menerus terjadi. Zen yang jenuh bertanya-tanya atas kebingungan melanda, melangkah tanpa kebingungan walau ia buat di sangkal. Tak berpikir secara mendalam atau pun secara kritis atau pun teliti lainya, sungguh membuat mentalnya kelelahan.


Pusat tempat bernama Spirit Cave ini; Zen berdiri menghadap kearah batu kokoh meninggi sampai dual belas meter menurut ekspetasinya, namun ia tak bisa mengekspetasikan secara pasti tapi sekiranya seperti itu. Hal berkilau dengan aliran [Mana] yang kuat terasa hangat ketika di serap, atau pertukaran secara terorganisir maupun mekanisme berjalan mempengaruhi satu sama lain seolah-olah bagaikan Ekosistem.


“Tapi ini sangat Ganjil, kenapa mana sebesar ini tak di rasakan oleh orang tipikal sensor, seperti Hendrick, apakah ia menyembunyikannya dariku?” guman Zen pelan.


“Saudaramu sama sekali tidak tau, Spirit Cave inilah di sembunyikan oleh pelindung seperti Sealing Magic yang di miliki Perpustakaan Anion,” ucap seseorang yang mengagetkan Zen.


“Eh... Instruktur Hagrid.”


“Jangan suka mengasumsikan, hal-hal yang aneh,” tambah Instruktur Hagrid.


“I--iya.”


“Apakah kamu sudah siap!!!” ujar Instruktur Etnest.


“Hmmm....apa yang akan aku lakukan,” tanyanya menatap dua orang itu.


“Berdoa!!!!” jawab Instruktur Hagrid cepat.


“Berdoa?” beo Zen.


“Maksudnya????”


“Berdoa...diam dan berdoa sambil memejamkan mata,” ucap Instruktur Etnest menatap Zen.


“Huh..Baiklah!!!” Agak kesal dengan kedua orang ini.


“Zenos apakah, kamu mempunyai saran lebih baik untuk keadaanku sekarang ini,” ujar Zen memohon di batinya.


[Menjawab; Anda hanya perlu memejamkan mata lalu mengosongkan pikiran seraya berdoa; Kamu bisa saja mengajak mereka mengobrol atau mengajak mereka bermain ketika memanggil di alam bawah sadar].


“Apakah kamu yakin, menurutku Saranmu sedikit aneh,” ujar Zen.


[Menjawab; Ya, saya yakin]


“Huh... baiklah, mari kita coba dulu.”


Zen menutup kedua matanya; Walau ia merasa ragu atas apa yang di sarankan Zenos, tapi di lain sisi adalah Zenos tak akan mungkin membohongi tuanya sendiri bukan, walaupun ia sedikit menyebalkan—apalagi ia adalah sistem Pemandu yang di buat Libia untuk keperluan dia sendiri ketika untuk menyelesaikan misi, tak mungkin ia di ragukan.


Menggenggam erat kedua tangannya seperti kepalan namun berbeda, seraya berdoa sungguh-sungguh seolah-olah meratapi akan sesuatu, kesan yang dalam terlihat dari apa yang di lakukan Zen saat ini, walau sang Empu tanpa sadar melakukannya dan tak menyadarinya. Cahaya berkilau merembes, kuning terang seperti Elemental Cahaya namun terkesan murni lebih dari dari Elemental Holy, seolah-olah lebih dari semua itu, tapi satu kata yang tepat untuk mendeskripsikan secara pasti dengan enegi itu; Yakni Energi Gaia.


“Sepertinya dia akan melewati bakat Magic Summoning yang Kamu miliki Instruktur Hagrid.”


“Ya, aku tau itu, aku sudah melihat potensinya,” seraya tersenyum.


Sihir Summoning merupakan salah satu sihir terbilang rumit, karna kesusahan atau keberhasilan akan sihir ini terbilang hampir setara sihir jenis Desintegration; Rumit dalam artian karna keberhasilan atas sihir ini gunakan, dan juga tak tanggung-tanggung energi mana yang di perlukan untuk mengaktifkan sihir yang tak menggunakan Kontrak terjalin memanggil sesutu—tentu saja bukanlah benda seperti Sealing Magic gunakan.


Bukan hanya dari cara penggunaannya saja; Menjadikan hewan beats, Spirit atau pun lainya sangatlah susah bahkan tak mungkin terjadi, dan pengecualiannya sendiri dari Summoning yang tak berakal atau monster mob agresif lainya tak memiliki pikiran, itu dengan penyelesaiannya dengan umpmaan siapa yang kalah atau pun menang, siapa yang menjadi budak atau pun majikan.


Instruktur Hagrid salah satu Instruktur utama akademi Phyterus berspesifikasi pada bidang yang satu ini, bahkan telah di akui oleh empat negara besar ras manusia, bakat Tamer yang ia miliki di katakan luar biasa di atas para jenius yang ada dalam sejarah Tamer ini. Tentu juga hal tersebut tak berpatokan pada satu kemampuan yang di miliki, justru Instruktur Vena sangat kagum akan pengendalian sihir Controller dari Instruktur Hagrid–notabenenya di katakan ahli profesional itu. Akan tetapai tak kebanyakan orang mengetahui kemampuan sebenarnya dari Instruktur Hagrid, dan hanya orang-orang tertentu ataupun khusus mengetahui kekuatan sebenarnya dari orang berambut Hitam keperakan ini.


“Akan kutunggu perkembanga selanjutnya yang kamu miliki Zen,” gumannya menatap Zen di depannya.