
Di Akademi Phyterus saat ini, pada akhir dari pekan yang telah di tentukan, pergelaran event yang gadang-gadang sangat besar dan bergengsi di seluruh wilayah Ras Human. Hal itu pun berlaku, banyak sekali lapak-lapak yang sudah tersedia, yang di bentuk oleh komunitas, ataupun orang yang ingin memamerkan barang yang ia buat, dari bentuk promosi, maupun hal keuntungan yang diraup terhadap suatu barang; sesuatu yang tak dapat di sangkal dari keuntungan jangka pendek, menengah, atupun jangka panjang jika itu diminat hati banyak orang – bisa saja melakukan penanaman modal.
The Discovery And Development Of Magic Tool, itulah nama dari event bertajuk akbar ini. Baik dari Organisasi Para Blacksmith, Alkimia, maupun para petualang pun tak di pungkiri, turut berpartisipasi hanya untuk meramaikan event setahun sekali ini, bukan turut sebagai penonton saja, namun hal ini juga ada beberapa kolaborasi maupun minat hati, untuk dikatakan – selain sebagai komponen dalam bentuk sebuah acara. Event yang biasa sering dinamakan “Pameran Of Magic Tool” ini, di gagas oleh para petinggi dari kota Antoneirei, bukan dari walikotanya, melainkan dari para Ilmuan maupun cendikiawan–tentu di kota Antoinerei tak ada namanya para pejabat yang bergelar viscount atau hal yang serupa secara semestinya; dan hal itu pun disepakati oleh pilar kekuatan Ras manusia baik Empire dan Kingdom selama tiga dekade berlalu – awal mula.
Hal ini tak terlewat akan beberapa prosedur kegiatan yang di laksanakan, secara substansial sendiri pameran yang di buat bukan hanya satu bentuk namun ada dua bentuk jika di bilang. Yang satu bersifat lebih memperkenalkan secara orientasi ataupun bisa di katakan tak mengikuti gelaran sebenarnya; secara langsung di evaluasi oleh pihak yang bukan berwenang, atau pun delegasi yang ada namun bisa saja diminati banyak orang yang karna bersifat bebas. Dan kedua yang di ikuti oleh Zen, langsung dalam suasana yang sebenarnya, itu pun juga di ikuti oleh Leknes, perempuan pemdek berambut pasta itu.
Mereka yang ikut itu pun juga tahu akan jalur prosedur pendaftarannya, dan hal itu sebelumnya di katakan Ernest sangatlah susah hanya mudahi langsung dari relasi yang mensuport atau hal lain melalui jalur pendaftaran juga. Dan pada faktanya, terlebih di katakan, jika Zen adalah salah satu dari orang yang mendaftar menggunakan jalur orang dalam, tanpa ada sebuah keniscayaan yang berarti ia lalui – tak di ketahui oleh banyak orang, terkecuali untuk Instruktur Kesna yang secara langsung menjadi bukti juga. Zen juga merasa—menganggap itu adalah sebuah kecurangan yang sistematis dan juga terorganisasi, walaupun ia tak ikut dalam konspirasi itu juga, toh, bukan ia yang mau bukan, siapa juga yang mendaftarkan dirinya – persoalan itu ia berikan kepada Instruktur Etnest yang bertanggungjawab untuk di pertanyakan.
“Apa kamu gugup Zen,” ucap Hendrick yang bersama dengan Zen berjalan di koridor.
“Tentu saja aku gugup, dia nanya lagi, apakah ia ngejek.”
“Entahlah...”
“Hahaha... tak aku sangka jika umpatan kamu cukup pedas Zen.”
“Kamu itu suka membaca pikiran orang yah, jangan gunakan kemampuan bualanmu itu, Hendrick.”
“Maaf, maaf, hahaha...”
Koridor lorong kompleks jalan asrama laki-laki yang di pijaki di peruntukan bagi Kelas The Golden Egg ini, sudah menjadi familiar bagi dua orang remaja itu. Lorong-lorong yang masih terhubung di berbagi sisi, di tempat yang sekarang untuk menjadi tujuan. Akan tetapi, hal itu tak menganggap jika Hendrick terkecuali Zen tahu semua lorong yang sangat bercabang ini untuk di pastikan di akademi. Walaupun penggunaan Magic Sensorik bisa mengekspetasikan kebenarannya di atas kemungkinan rata-rata lima puluh persen keatas, tapi entah kenapa mereka sama sekali tak bisa yang di katakan itu juga, sebuah kemustahilan yang tak terduga – tak berlaku bagi ruang publik atau sejenisnya.
Hendrick menepuk punggung Zen pelalam. “Aku akan bertemu denganmu lagi yah Zen, sepertinya Ernest menungguku,” ucap Hendrik.
“Hmm..”
“Semangat,” ucapnya dengan gerakan tangan meninju namun seakan perumpamaan memberikan sebuah dukungan.
“Ya..”
Tentu Hendrick dan juga Ernest tak ingin ketinggalan sebagai subjek penonton. Ernest sebagai anak dari pemimpin salah satu dari mega corporation, secara pasti akan mendapat tempat khusus di sediakan, bukan tanpa sebab dilakukan semua seperti itu – mungkin saja terjadi. Kendati bisa saja begitu, Ernest lebih memilih tempat yang di sediakan secara umum saja walaupun terbatas, menurutnya itu lebih baik tanpa harus menyediakan hal-hal yang berlebih akibat statusnya yang ia miliki seperti demikian.
Zen berjalan sendiri keluar dari tempat kompleks asrama, posisi ia berada saat ini adalah halaman yang menghubungkan langsung antara asrama dan juga aula utama, tempat yang paling besar yang ada di akademi Phyterus. Tentu hal itu lebih tepatnya tempat tersebut, di jadikan sebagai pameran pergelaran ini, karena luasnya sangatlah sesuai, bisa saja meminimalisir membludaknya partisipan yang ada. Saking besarnya aula tersebut, orang yang datang pun tak akan berhimpitan, tak seperti ekspetasi jika di pikirkan oleh sekian yang ada. Melangkah sedikit terdengar kasak-kusuk secara samar di indra pendengarannya, dan tujuannya adalah tempat persiapan yang sudah disediakan bagi panitia, bagi yang mengikuti pergelaran acara utama.
Menghela napas dalam-dalam dengan hembusan yang di keluarkan secara perlahan-lahan. “Menurutku ini lebih baik, aku seharusnya tidak gugup.” Zen menyemangati dirinya.
“Baiklah..” gumannya pelan.
Ketika ia memasuki, terlihat tujuh orang yang duduk saling berjauhan seolah-olah memberikan kesan menghindari satu sama lain, pun hal itu tidak seperti yang di ekspetasikan oleh Zen sendiri, dan yah, jika yang mengikuti hanya dapat dibilang dihitung jari saja. Wajah familiar dari tampang yang ada, seorang perempuan yang duduk paling pojok sudut kanan sedikit diam, Zen tahu siapa itu, dari perawakannya saja, rambut pasta yang mencolok, dengan gaya rambut yang di potong sangat pendek dari bentuk rambut wanita sekiranya seperti rambut lelaki.
Zen dengan inisiatifnya berjalan di bangku yang memanjang rapat dengan dinding, duduk menunggu gilirannya. Ia merogoh saku celananya, mengambil sesuatu–tangannya yang masih mengepal ia buka secara perlahan. Ada sebuah kartu berwarna merah dengan tiga lambang kecil tertera, yakni Akademi Phyterus, Kota Anthoinerei dan Organisasi Rhei—lambang memanjang di bagian samping kartu itu. Untuk menjaga keasliannya juga, tak lupa Pola Calestil pun turut menghiasi di belakangnya, walaupun transparan.
Zen seharusnya mengerti jika gilirannya adapah yang ketujuh, ia cukup senang dengan apa yang ia dapat, walaupun hal ini tak patut juga untuk disenangi juga. Zen menyakini sedari tadi ada seseorang yangp selalu memperhatikannya, ia tak mau mencari tahu ataupun sekedar respon saja, ia malas mempedulikan, namun hal itu sangatlah mengganggu mentalnya juga—punggungnya sedikit agak dingin. Tatapannya terjatuh pada perempuan berambut pasta yang kini masih menatapnya lekat, Zen tak tahu apa maksudnya? sekedar hanya berbasa-basi saja kah? entahlah.
Mengangkat satu alisnya, menatap kearah Leknes yang masih menatap lurus tanpa berkedip. Sepertinya ia masih tak sadar dengan kelakuannya saat ini. “sudahlah biarkan saja,” ucap Zen melerai.
***
Di salah satu ruangan; ruangan yang sudah di sediakan bagi orang-orang penting turut berpartisipasi termaksud dari Asosiasi Guild Petualangan, dengan hiasan indah yang kesannya cukuplah glamor untuk di bilang, baik dari kursi maupun meja di persiapkan sedikit yang dihiasi oleh warja terang dari emas dengan nilai kenyamanan di atas yang paling utama—ruangan yang cukup di katakan besar pun seharusnya. Namun disatu sisi pun, ruangan itu langsung terhubung dengan koridor teras dengan pagar pembatas beton; memperlihatkan hiruk-pikuk kesibukan dari aula utama ini, banyak subjek yang ada di ruangan tersebut turut melihat dari atas, tanpa ada yang menyadari dibawahnya, mungkin ketinggiannya sekitar belasan atau hampir mencapai dua puluhan meteran jika di ekspetasikan. Dan hal itu pun tak terlewat akan seorang yang sangat penting selain tiga delasi yang mendukung secara langsung acara ini, perempuan dengan rambut hitam legam dan juga mata semerah darah, terlihat memegang sebuah gelas yang berisi cairan merah di katakan anggur itu, memegang dengan posisi menilai yang gelas kaca itu sejajar dengan wajahnya, memperlihatkan iris besar berwarna merah akibat dari refleksi gelas kaca.
Ini merasa, terlihat masih sama, iris mata yang menunjukkan ambisi dan juga hal yang harus ia dapatkan di katakan lebih dari cukup, walaupun pada dasarnya emosi tersebut terbilang menduakan diatas kesempurnaan– melainkan kesempurnaan yang berlebih tanpa ada cacat sedikitpun; hal itu lah yang membuat ia sampai di puncak seperti ini – sungguh di hormati. Dan lagi, secara subjektif pun, Ia jujur saja bukan orang yang di katakan jahat ataupun baik yang suka melihat kebahagiaan seseorang atau selebihnya lagi, atau pun sebuah rencana jahat agar mendongkrak reputasinya, namun di katakan, ia bukan orang naif yang beranggapan jika sesuatu yang di lakukan adalah sebuah kemudahan, ataupun usaha yang di lakukan secara sungguh-sungguh akan mendapatkan sesuatu yang memuaskan, ia anggap itu adalah tabu.
Walaupun sebenarnya, banyak orang beranggapan jika ia adalah salah satu dari sekian banyak orang berkuasa maupun berpengaruh, tidak menggunakan reputasinya menindas yang pantas untuk di tindas, ia tidak merasa demikian, fisik maupun jiwanya telahlah kotor bukan seperti banyak orang beranggapan mengenai dirinya sendiri; mungkin karna terlebih di katakan dialah yang menjadi pencetus motto yang di gunakan para petualang saat ini–sebagai pemimpin yang sangat di hormati oleh sekian petualang.
Seorang perempuan dengan rambut yang sama, berjalan mendekat menghampiri orang yang menjadi pandangannya saat ini. Ia merasa sangat impresif dan juga de javu dari perawakan belakang saja, rambut yang tergerai lurus panjang sampai di pinggang itu, dengan porsi tubuh yang sesuai dengan orang yang ia pikirkan saat ini, familiar dan juga dejavu.
“Apa yang membuatmu datang kesini Ernelia,” ucap suara dari arah belakang.
Ernelia De Vasgard berpaling wajahnya kearah belakang, tepat lurus dengan posisinya saat ini. Mata yang terlihat memperlihatkan rasa cukup terkejut namun ia ubah dengan cepat dengan tatapan kosong yang tak dapat terbaca seperti biasanya. Commander Alia pun nampak kaget akan kehadiran dari sosok yang satu ini, ia tak pernah berpikir jika ada orang yang berperawakan sama yang membuat ia merasa Dejavu dengan sesosok yang samar untuk di prediksi, namun hal itu ia tepis juga, dengan pembuktian dari mata kepalanya sendiri.
Ernelia terkekeh pelan. “Oooo... adikku yang manis rupanya,” ucapnya tersenyum penuh arti.
“Kenapa kamu bisa ada disini, apakah kamu seorang yang peting juga disini.” Langsung menanyakan keintinya atas kebingungannya sendiri – Commander Alia.
“Tentu saja bukan, tapi jujur saja aku sedikit terkejut dengan ucapan kamu tadi, orang penting yah, lumayan,” jawabnya pura-pura terkejut, memegang mulutnya itu.
“Apa yang membuatmu tertarik datang kesini Ernelia.” Sedikit membentak.
“Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu itu, seharusnya kamu sudah tahu bukan, aku juga seorang partisipan, adiku yang manis,” ucapnya mengubah tatapannya menjadi lebih datar dengan nada ucapan yang masih sama.
“Terserah! dan... cukup hari ini saja kita bertemu.” Langsung beranjak pergi.
Ernelia masih menatap lurus punggung adik sekandung ini, ia bukan orang tak mengenal rasa sakit bahkan lebih sakit lagi. Rasanya, hatinya remuk dan juga sesak atas sikap adiknya ini—sebuah kejadian yang tak ingin ia ingat sama sekali, masa kelam yang alami pada waktu ia remaja itu, mengubah semua yang ada baik orang-orang terdekatnya. yakni adiknya. Ia yang masih beranggapan kuat jika dunia ini, tak akan adil, walaupun dari usaha keras yang kita lakukan–peristiwa yang membuat ia beranggapan seperti itu, justru tak ada sebuah kemustahilan lagi, menurutnya.
“Seharusnya begitu, kita tidak usah bertemu lagi, Alia,” ucapnya pelan.
To be continued
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=