My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 46. Kedepannya Nanti



Di ujung sana tak jauh, seorang pemuda berjalan seperti biasa sembari menghela napas dalam Seolah-olah frustasi akan sesuatu, langkah yang ia pijakan pun terkesan lambat padahal itu semua dapat ia lakukan dengan cepat, seakan ia buat-buat.


“Hah...Sungguh melelahkan” Menghela napas dalam.


Ia melangkah sungguh melangkah, tak memperhatikan keberadaan di sekitarnya. Sosok yang berdiri tegak yang sedang menyandarkan bahunya di sisi tembok lorong yang di lewati, pakaian Armord Silver yang ia kenakan tak lupa dengan pedang yang sekiranya terlihat seperti Long Sword terpampang jelas di pinggir badan kekar yang ia miliki, itu adalah sosok yang sangat di kenal Zen.


“Apa yang kalian bicarakan, di dalam sana” Ujarnya.


“Maaf Master, aku sama sekali tidak melihat anda”


“Tidak apa-apa, jadi bagaimana?”


“Apa yang bagaimana, aku tak mengerti” Ucap Zen pura-pura tak paham.


“Jangan mengelak Zen, apa yang kalian bicarakan di dalam” Tanyanya sekali lagi, menatap Zen penuh curiga.


“Huh...baiklah, apa yang yang mereka bicarakan tak ada pentingnya juga kan” Guman Zen pelan.


“Mereka? Siapa?”


“Ya...tadi ada Instruktur Hagrid didalam, sedangkan soal apa yang di bicarakan...hanya sebatas masalah penjelasan atas apa yang kalian rencanakan sebelumnya” Jelasnya.


Zen juga tak mungkin memberikan penjelasan soal apa yang di bicarakan itu, belum di tambah sebagian soal privasi yang tak di pungkiri ingin ia tutup rapat-rapat agar tak merepotkan ia di masa depan nanti. Ia berpikir walau kebanyakan pihak-pihak yang ia tak tau, tapi ras waspada harus ada seperti sekarang ini bukan.


Jendral Lucas menatap mata Zen dengan Intens, tajam seakan menyelidik jejak kebohongan yang pada orang di depannya, pemuda berambut putih itu. Walau ia tak tahu bagaimana mengartikan tapi, Intuisinya berkata jika semua ini sungguh tak mudah di percaya, walau di lain sisi ia ragu; Tapi keadaan tersebut seolah-olah bulat untuk di lakukan.


“Baiklah Zen, aku percaya dengan kata-katamu, tapi jika ada sesuatu yang kamu simpan, jangan pendam di dalam hatimu seakan tak ada yang dapat kamu ucapkan. Ingatlah itu pesanku Zen” Ucapnya.


Rasanya Zen sedikit bersalah di hadapan orang yang satu ini, walau tak di pungkiri jika ia menyimpan sesuatu yang ia pendam, tapi hal yang membuat ia ragu, bahkan itu gelisah seolah-olah rasa labil terjadi padanya; Bisa di katakan ia Frustasi terpendam, yah... begitulah untuk di umpamanya. Pria menggunakan Armor silver itu, berbalik pergi meninggalkan Zen, lalu ia berhenti seukuran tiga langkah orang dewasa menatap dengan lirikan dari iris silver nya, tak dapat berkata-kata sekarang ini, seakan apa yang ingin ia ujarkan tertahan di tenggorokannya dan juga pikiran tersimpan yang ingin ia katakan seperti kosong entah hilang kemana.


“Huh........” Buangan napas yang lebih dalam.


Zen juga tau, jika pria di hadapannya peduli dengan dirinya, entah karna apa. Tapi sekali lagi, ia benar-benar tak mengerti secara Impresif atau kesan yang dalam terhadap orang yang ia anggap sebagai master ini.


***


“Hari ini benar-benar melelahkan, sangat melelahkan” Ucap Zen di kamar Asramanya.


Perlu kalian tahu, jika Asrama yang Zen tempati adalah Asrama VIP yang lebih tinggi tingkatannya dengan Asrama Elit yang banyak di tempati oleh kamu bangsawan bahkan untuk kelas Compement saja, tapi yang ia tak tahu bahwa jika Hendrick sendiri sama masuk Asrama VIP ini. Walau pertama-pertama Asrama ini sepi karna Ujian yang di berikan kepada Compement New Generation sebelumnya yang sudah di sediakan sebelumnya, yang sekarang ini di tempati Zen, inilah yang di radakan jika mereka yang di anggap sebagai aset yang pernah ada untuk manusia.


TOk..


TOK..


Terdengar suara ketukan pintu yang khas di Indra pendengaran seorang Zen, ia menatap dengan memiringkan kepalanya di bawah kasur kain putih yang ia jadikan sandaran bagi punggungnya. Zen sekiranya menyimak dengan menatap suara pintu yang terdengar, ia mendirikan badanya dengan posisi setengah duduk, kakinya yang di Lunjurkan seolah-olah untuk di regangkan itu ia gunakan sebagai alasan untuk turun dari tempat tidur yang ia tempati.


“Huh...Siapa lagii sih” Ujarnya dengan menatap malas.


“Tunggu sebentar.....”


Zen berjalan untuk menggerakan engsel pintu yang terlihat di kedua matanya, mendekat dengan langkah yang santai lalu membuka pintu kayu dengan ukiran-ukiran yang cukup unik menurutnya, dengan mekanisme yang di buat oleh orang yang berpesialisasi Blacksmith dengan cabang Modify ini.


“Halo..... Perkenalkan Namaku Zena, seorang yang di tugaskan sebagai perantara untuk menyampaikan pesan untuk anda tuan Charlotte, jika semua murid dari kelas The Golden Egg, di perintahkan berkumpul di ruangan bawah tanah atau ruangan the Salivon.”


“Untuk apa...apakah ada sesuatu yang penting.”


“Anda bisa mengetahuinya di arena, jadi bisakah anda mengikuti saya” Ucap perempuan itu.


“Hmmm....Tidak apa-apa kok, aku hanya penasaran saja” Jawab Zen.


“Kalo gitu mari ikuti saya, Tuan Charlotte” Ucap pelayan di depannya itu lalu berjalan melangkah pergi ketempat tujuan.


***


Di ruangan yang sama sebelum Zen berbincang dengan Jendral Lucas sebelumnya; Seorang pria paruh baya dengan laki-laki berjubah yang di katakan salah satu Instruktur utama yang di miliki akademi, yah di adalah Instruktur Hagrid bersama dengan kepala akademi, Instruktur Etnest; Berbincang masalah yang serius bagi benak mereka, masalah yang kedepannya akan di perebutkan antara beberapa Negara-negara besar jika di ketahui secara luas. Hal yang di takuti akan berdampak terjadinya perang saudara, dan itu akan terlihat jelas Kedepannya nantinya; Namun itu dapat di cegah sebelum apa yang di takuti akan terjadi.


“Bagaimana menurutmu dengan anak itu, Instruktur Hagrid?” Sembari menyesap teh hangat seperti kebiasaannya.


“Apakah akan terjadi seperti demikian.”


“Jika seperti itu mau bagaimana lagi, tapi...itu dapat di atas bukan” Jawabnya mengehela napas.


“Jangan pernah meremehkan sesuatu Instruktur Hagrid, tentu saja jika anak itu mempunyai Compement yang menantang Hukum alam maka bisa di pastikan jika ia dapat menggunakan Sihir seri malaikat bukan” Ucapnya tersenyum menatap Instruktur Hagrid yang kala ini merenung akan sesuatu


“Yah...itu memang sudah pasti, sungguh aku harus berkontribusi lebih lagi bukan” Ucapnya.


“Oh...Masalah naga itu, kamu seperti masih tak melupakannya.”


“Kamu kan bisa mencari beberapa Hewan mitologi seperti Spesialis mu itu...”


“Jangan selalu memandang aku mudah seperti itu, walau aku berspesifikasi pada Magic Tipikal Summoning, Jangan kira aku dapat menjinakkan hewan seperti membalikan telapak tangan” Ujarnya.


“Yah..yah aku tau kok, aku ingin lihat seperti anak itu Kedepannya, aku sangat penasaran dengan Indentitasnya yang misterius itu.”


“Betul...aku juga sama, dunia yang penuh Konflik dan juga konspirasi ini, benar-benar tak cocok untuk anak seperti Instruktur Etnest.”


“Dan lagi, aku tak sabar melihat seorang monster yang akan muncul beberapa tahun lagi.”


Jika Di deskripsikan secara sempurna mungkin sangat tepat untuk dunia penuh Konflik, perseteruan maupun Konspirasi sangat cocok di sematkan bagi Etherna land ini, bahkan sudah hal lumrah jika Rasisme di biarkan begitu saja menjalar dalam kehidupan dari kaum yang ada, entah lebih tepat bagaimana untuk di jelaskan, tapi tanah Etherna sendiri tak seperti Bumi pada kehidupan awal abad ke-21 yang Sangat menjunjung tinggi cirikan yang di miliki manusia, baik itu ras Kaukasoid terhadap Negroid yang notabennya sangat kontras dengan warna kulit mereka.


***


Menatap yang ada di sekitar, ruangan besar yang di batasi oleh tembok kekar nan keras, dan di tengah-tengah yang ada terdapat Arena yang terbilang besar sebelumnya, rasa nostalgia maupun aneh bercampur menjadi satu, nostalgia karna menginjakan kaki di tempat ini sebelumnya dan aneh karna nampak teman sekelasnya yang berjejer membentuk syhaf baik itu perempuan maupun laki-laki dengan posisi siap mereka, Zen tak terburu-buru menyimpulkan apa yang menjadi pandanganya sekarang ini, tak ragu maupun tak mengurangi kecepatan langkahnya sekarang ini, melangkah mendekat ketempat perkumpulan banyak pihak itu.


“Sepertinya yang terakhir telah datang, benarkan Zen Arnold Van Charlotte” Ucap suara yang familiar mengarah pada sosok Zen.


Instruktur yang sangat di kenal Zen selama pada test pertama, sosok individu yang entah kenapa selalu menutup Indra penglihatannya itu, kendati begitu ia dapat melihat dengan jelas terhadap lingkungan sekitarnya yang demikian di katakan begitu baik dengan orang yang sama menggunakan mata untuk melihat selalu.


“Baiklah, jika sudah lengkap sebelumnya mari kita lakukan latihan mengenai....Magical Controller kalian..”