
"Jadi kak Kita mau kemana sekarang" Ucap Susan
"Hmm...Dimana yah?" Balas Isabella sambil memikirkan Acara keliling kota mereka ini. Sungguh ia tak memiliki ide lain selain pergi ke Alun-alun kota, disebabkan minimnya kebebasan yang di berikan Ayah mereka.
"Bagaimana kalau kalian ke Rumahku saja, aku Ingin uji Coba Penelitian ku itu sembari kalian melihat bagaiman senjata yang aku buat!" Jawab Ernes yang tak sengaja mendengar pembahasan mereka berdua itu.
"Tidak...tidak.. dan tidak, aku tidak setuju" Ucap Hendrick dengan kata yang berturut-turut nan juga tegas.
"Menurutku tidak buruk juga,aku juga penasaran bagaimana pembuatan senjata" Ucap Isabel sambil menutup ketidaktauanya tadi dengan sikap Dewasa yang ia tunjukan.
"Iya..aku juga setuju dengan kak Isabel" Jawab Susan dengan wajah meyakinkan.
"Yang jelas aku tak setuju" Ucap Hendrick dengan Wajah Acuhnya.
Iris mata seorang Ernest tertuju pada orang yang berdiri disamping Hendrick yang posisinya berada belakang disamping posisi Hendrick berdiri, seorang remaja berambut putih dengan mata biru berjalan melamun tanpa memperhatikan arah jalan langkah yang ia pijaki itu, sungguh apa yang di pikirkannya membuat orang yang melihatnya sedikit penasaran.
"Jadi bagaimana denganmu Zen?" Beo Ernest yang pandanganya mengarah pada Zen.
"Hmmm...aku setuju-setuju Saja" Jawabnya dengan ragu-ragu tapi ia sembunyikan. Bukan ragu-ragu seperti Trauma yang di alami Hendrick yang sedikit mengancam nyawa itu, melainkan ucapannya nanti yang tak Sinkron dengan apa yang mereka bicarakan tadi.
"Yah...tiga orang setuju di tambah Aku jadi empat orang, ayo kita pergi..." Ucap Ernest yang begitu bersemangat.
Sedangkan Hendrick menghela napas mengikuti mereka dari arah belakang, ia agak sedikit khawatir akibat traumanya dengan penelitian temannya itu, berjanji pada dirinya sendiri tak akan mengikuti uji Coba penelitian anak berkaca mata sang penggila Bioteknikal. Tapi Entah kenapa? Kesialan yang melanda padanya Hari ini sampai-sampai Harus mengikut uji Coba Penelitian penggila Bioteknikal yang ada di hadapannya.Walau keadaan memaksa sekali pun ia tak mau!!, tapi ketika mendengar perkataan setuju dari Zen ia sedikit luluh Entah menapa apakah Karna sosoknya seperti Ibunya Melisa Van Charlotte.
"Hah.. merepotkan saja."
Mereka kembali ke alun-alun Kota terlihat Dalton yang telah menunggu dengan Kereta kudanya yang terlihat jelas dari Arah Rombongan yang datang. Dalton dengan senyum hangatnya seakan menyambut kedatangan tuan-tuanya itu.
"Bagaimana Acara Jalan jalan Tuan muda Nona muda, apakah menyenangkan" Ucap Dalton sebagai bentuk penyambutan.
"Yah...paman Dalton, terima kasih telah memberikan kami persetujuan atas kesempatan untuk menikmati Semua ini" Balas Isabella
"Itu sudah menjadi Tanggung jawab saya mengenai kebahagian Tuan muda dan juga Nona muda" Balasnya.
"Apa kabar paman Dalton" Ucap Ernest dengan senyum lebarnya.
"Aku Baik, Tuan muda Ernest."
"Jadi paman Dalton Bagaimana kalau kita pergi ke kediaman paman Gazel" Ucap Isabella
"Itu Terserah Anda Nona saya hanya mengikuti apa yang anda perintahkan."
"Kalau begitu ayo kita pergi."
Dari Tadi Zen hanya diam berbicara seadanya, walau tak terlepas dari berbagai pertanyaan di arahkan padanya ia hanya setuju setuju seakan itu ide bagus. Padahal perhatiannya teralihkan pada pembahasan yang mereka bicarakan.
Zen melakukan beberapa Analisis data bersama Zenos, Objek pertama yang ia analisis adalah Senjata Yang diberikan secara percuma oleh Ernest tadi. Senjata Non-Magic yang terbuat dari Andermantium salah satu dari lima logam terkuat. Analisis yang mengejutkan bagi Zen, tapi bukan karakteristik benda yang ia lihat yang menurutnya mengejutkan melainkan Analisis dalam pikirannya bertambah begitu signifikan bukan karna adanya Zenos tapi alami yang ia miliki, ia masih tak tau apa sebabnya. Tapi masih banyak Asumsi-asumsi yang ia pikirkan dari kejadian yang ia alami ini, sungguh membuat Zen harus berpikir lebih keras.
Di dalam kereta mereka berbincang seperti biasa, bercanda dengan Ernest yang merupakan anak yang Ceroboh dengan sifat kekanak-kanakan, tapi tidak dengan Zen diam dengan pandangan yang menghadap Keluar jendela yang perhatiannya tidak ditunjukan arah pembahasan apa yang di bahas.
Keanehan itu juga disadari oleh Susan yang terbuai dari pembicaraan yang sedikit menyenangkan. Ia melirik kearah Zen yang duduk diam yang tampak tenang.
Zen mendengar Suara Susan yang berbicara padanya, hanya melirik sambil menggelengkan kepalanya. Walau ia sedikit merasakan kelelahan mental pada pikiranya hingga tak mampu berkonsentrasi. Jadi, Zen mengagap semua pembahasan maupun pembicaran mereka berempat yang terdengar padanya seperti angin lalu saja karna kondisinya demikian.
o0o
Berada pada Ruangan yang Sangat besar, banyak sekali Alat alat yang bertumpuk diatas Meja, Baik dari Hasil percobaan yang gagal maupun alat alat percobaan yang di gunakan. Terlintas Iris mata berwarna biru sedalam laut yang ada di lautan, memandang Satu alat penelitian dengan Eksperesi yang begitu Rumit "bukanya ini seperti mikroskop."
Cahaya terang yang memasuki Ruangan secara tak beraturan dengan Atap Kaca super tebal yang membatasi hingga seperti Bangunan Cukup modern. Seperti itulah bangun atau Lebih tepatnya rungan yang di masuki.
Mata Zen melihat sebuah Alat yang menurutnya sama seperti Alat yang digunakan untuk mengamati objek sejenis partikel yang ukurannya sekitar Nano, bahkan itu lebih kecil lagi.
Ekspresi Rumit Zen tak membuat ia berkalut pada rasa penasaran hingga tak ia tak dapat terbaca, ia memandang Wajah Ernest yang berbalik memandang wajahnya. Seakan tau maksud dari tampang yang terlihat dari, Ernest mendekat kearah Benda yang di maksud.
"Oh..ini yah! apa yah ingin kamu tanyakan,sepertinya kamu penasaran?" Tanya Ernest yang begitu antusias.
Ia merasa bahwa Zen mempunyai kesaaman denganya yaitu menguji Coba sesuatu hingga tercipta barang yang tak pernah Ada bahkan Mustahil untuk di ciptakan. Sedangkan Bidang yang paling ia senangi atau Gemari dan menjadi Hobinya yaitu Bioteknikal.
Mungkin jika ia serius tidak dengan Sifat kecerobohan maupun kekanak-kanakanya ia sudah Dianggap Seorang jenis.
"Boleh aku tau Nama Benda ini" Jawab Zen yang menjawab pertanyaan Ernes.
"Kalau Tidak salah namanya itu...Magnifantem."
"Magnifantem..." Beo Zen yang merasa Cukup Aneh dengan nama benda yang menurutnya sama dengan Mikroskop.
"Yah...Fungsinya itu mengamati benda Kecil bahkan lebih kecil dari seekor semut,Tidak!tidak! bahkan berkali kali lipat."
"Jadi kesimpulannya Benda ini sama Dengan Mikroskop, bentuk ukuran, maupun Fungsinya,dan apakah Cara kerjanya juga sama?" Batin Zen sambil memikirkan Berbagai Pendapat yang tertera dalam pikirannya yang belum tentu ia katakan Benar walau faktanya yang terlihat jelas.
Dari arah Lain Hendrick memperhatikan banyak sekali Senjata yang menurutnya berbeda dengan Senjata yang pernah ia lihat, terus memandang sampai pandangannya jatuh pada Cairan berwarna Merah muda dengan sedikit kekuningan yang ada Disebuah kubus transparan yang cukup kecil.
"Hei Ernest jadi ini yah yang kamu sebut penemuan terbarumu itu" Ucap Hendrick.
"Benar dan Itu aku namakan Solventibus" Balas Ernes yang melihat Kearah Hendric, memperhatikan Cairan yang ia sebutkan tadi.
"mana..mana Aku mau lihat" Jawab Susan yang antusias sedangkan Isabella berjalan dari arah belakang Susan.
"Ahh..terlihat imut, Kak Ernest Boleh aku menyentuhnya" Tanya Susan.
"Tidak Boleh.. Jika kalian menyentuhnya kalian akan mendapatkan Luka iritasi dan akan membesar jika tak segera di Obati bahkan Healer tingkat menengah harus mengeluarkan tenaga Ekstra nya untuk menyembuhkan, juga akibat pancaran Radiasinya yang begitu tinggi dan tingkat pelarutnya amat besar bahkan dapat menelan satu Rumah dengan Sekali semprot dan sangat berbahaya untuk Makhluk Hidup jika Di hirup kandungannya" Ucapnya panjang Lebar.
"Jadi Cairan ini begitu Berbahaya Yah" Kata kak Isabella dari belakang bergerak maju dengan Rasa penasaran yang terlihat di wajahnya.
"Seperti sebuah senjata saja" Ucap Hendrick
"Betul sekali..aku sebut dengan Nama Chemical Weapon." Ucapnya yang bangga.
Zen yang melirik mereka berempat sedikit tersenyum terlihat dari gerakam Bibirnya berbicara pelan seperti bergumam akan sesuatu "Jenius tapi tak di anggap."