
Tok..
Tok..
Tok..
“Zen apakah kamu di dalam?” ucap seseorang di balik pintu.
“....” Hening tak menjawab.
“Hendrick bagaimana!” katanya sembari menepuk pundak dari temanya ini.
“Entahlah...Aku juga tak tau Leon.” Tangannya yang di angkat sejajar dengan posisi bahu lalu melebar seraya menyematkan hal yang di ucapkan.
“Hmmm...Kalo di pikir-pikir sebelum kita masuk ke asrama masing-masing, di perempatan lorong tadi bukanya Zen berbicara dengan seseorang bukan!!!” ucap Peter.
“Yah..itu memang benar, apa dia bertemu dengan orang itu?” Sembari mengelus dagunya seolah-olah berpikir, Leonhart.
“Mungkin saja begitu, tapi entah juga,” Ucap Hendrick.
“Apakah kamu tidak khawatir,” tanya Near.
“Tentu saja tidak, untuk apa mengkhawatirkan orang yang sangat kuat seperti Zen,” jawabnya acuh.
Sebelum Zen masuk keasramannya sebelumnya, kala itu ia di tarik secara paksa oleh entah itu siapa, tapi hal itu tak membuat kedelapan orang berjalan bersama dengannya menyadari atas kejanggalan atau pun hal-hal aneh dan berbahaya di sekitar mereka, walaupun ada tipe sensorik sekalipun.
Orang yang menarik tanganya Zen sendiri, adalah Seorang Instruktur Hagrid yang selalu memantau Zen. Entah bagaimana ia melakukan semua itu, tapi hal tersebut tak terlepas akan adanya kesempatan dan kesempitan seolah-olah akan adanya peluang yang datang. Ketika tepat di perempatan lorong, keadaan terbilang cukup mendukung. Instruktur Hagrid terbilang ahli jenius tak mungkin ketahuan bukan, apa yang ia lakukan.
“Apakah Kekuatan Zen sekuat itu,” tanya Peter bingung.
“Tentu, walaupun aku adalah seorang tipe sensorik, aku sama sekali tak bisa menentukan secara pasti bagaimana stat (Status) yang di miliki Zen.”
Near terkejut mendengar ucapan ringan yang di keluarkan Hendrick kala ini, walau ia cukup yakin akan apa yang ia yakini, jika Hendrick sendiri sangat kompeten dalam ahli sihir sensorik. Namun hal demikian membuat anak berambut coklat itu berstatus pengendali Molekular bebas itu, secara sadar mengakui akan ketidakmampuannya tentang sesuatu.
Near salah satu orang yang cukup handal dalam sihir sensorik, tapi hal demikian seakan ia bungkam mulutnya ketika mendengar penuturan secara jelas Hendrick, yang lebih tinggi dalam sihir tipe Controller ini.
“Jangan-jangan kamu tidak bisa melacaknya,” tanya Leon.
“Hmmm, aku tidak merasakan hawa keberadaannya!”
“Aku juga sama, walau tak sehebat kemampuan sensorik Hendrick, tapi aku masih bisa mendeteksi hawa keberadaan seseorang.”
“Kalo gitu kita tunggu dia disini saja,” kata Leon.
“Ya, itu ide bagus...”
Mereka sepakat untuk menunggu Zen, entah berapa lama menghabiskan waktu untuk menunggu anak berambut putih ini, tapi sedikit lebih menunggu itulah keputusan yang di buat. Tentu juga sang empu yang di maksud melakukan beberapa hal yang di katakan penting menurut pribadi mereka, entah apakah itu benar atau pun salah–apa yang di asumsikan.
***
Jauh dari peradaban masif, hutan yang membelenggu kehidupan; Secara subjektif di artikan jika Lingkungan ini sangatlah tenang nan damai, danau keperakan, riak-riak di permukaan memantul seperti tetesan butiran air jatuh di tengah danau tenang itu lalu pohon yang indah menggugurkan daunnya ke danau tenang dan damai itu. Tetapi, perasaan langka yang di rasakan oleh Individu yang selama ini, selalu menjaga dan juga di tempati tersebut bahkan tak ada yang tahu tempat apakah ini. Tempat terlihat indah, namun dibatasi pelindung kokoh mengisi Relief meninggi itu.
Dimensi para Roh di namakan Edenia dengan danau berwarna perak yang menghiasi keindahan dari dimensi ini, dimensi yang tak kalah menakjubkan untuk ras lain di lihat. Di ruang yang besar di katakan sebagai tempat aula ruang yang di miliki temple Edenia ini; Seorang perempuan ras peri terlihat tenang menutup mata di tempat kursi kayu sederhana seolah-olah telah menunggu, ia tak pernah beranjak dari tempat kesepiannya ini. Warna rambut berwarna kuning emas yang di kepang dengan sayap transparan seketika menanggapi jika ia adalah ras suci yang begitu di muliakan. Ia menyunggingkan senyum senang nan lebar, namun tak dapat berkata-kata, tak kala apa yang ia pikirkan.
“Lebih dari seribu tahun aku menunggu, tuanku sudah menungguku...Ini adalah perasaan Familiar dari tuanku yang agung,” ucapnya menggenggam erat sebuah benang berwarna kuning keemasan seakan itu adalah jalur transfer mana yang di kirim oleh seseorang.
“Sudah waktunya, aku harus bertemu dengan orang yang kutunggu-tunggu selama ini.” Tersenyum kala itu.
Menutup kedua matanya merasakan hembusan nafas dalam yang ia lakukan. Berselang beberapa Jengkal detik, seluruh badanya berubah menjadi manik-manik cahaya yang berkilau terbang jauh di atas sana. Sihir suci yang sangat besar di rasakan dari perempuan ras peri itu, pemimpin dari dua dunia, seorang pemimpin dari ras peri dan juga seorang individu yang di agungkan sebagai Ratu roh itu.
...
“Apakah ini alam bawah sadar ku....”
“Seperti waktu itu...” gemaan suara terdengar di demensi tanpa batas itu.
“Apa ini seperti waktu bertemu Libia sebelumnya.”
“Aduh...aku benar-benar bingung.”
“Padahal tidak semudah yang aku kira,” ucap Zen.
“Apakah aku harus mengikuti saran Zenos,” pikiranya bingung.
“Ahkk...ini benar-benar membuat otakku pusing,”
Namun, ada manik-manik seperti Kilauan serbuk yang turun entah di mana bercahaya bagaikan cahaya kebijaksanaan. Membentuk seorang dengan sayap yang duluan terlihat, lalu membentuk kaki yang secara dramatis hingga ‘Swuss....’ membentuk seorang perempuan jelita dengan rambut yang di kepang berwarna kuning terang, menatap Zen tersenyum, dengan senyum hangat pas dengan wajahnya yang manis.
“Ka-ka-kamu siapa,” ucap Zen di Landa Keterkejutan.
“Maafakan aku tuanku, jika ini semua membuat anda terkejut,” ucapnya.
“Tidak, tidak apa-apa,” balas Zen canggung ketika melihat wajahnya yang terlihat sendu menunduk.
“Terimakasih tuanku,” jawabnya dengan senyum senang.
“Tetapi, bisakan kamu menjelaskan siapakah kamu sebenarnya, kenapa kamu bisa ada di sini.”
“Jka soal itu, aku datang karna panggilan tuan sendiri; aku adalah orang yang di utus Nona Libia untuk menjadi partner anda tuanku,” ucapnya.
“Panggilan dariku....” Guman Zen pelan ketika mendengar
“Jadi ini semua sudah di rencanakan Libia,” tambahnya.
Alam bawah sadar masih bergulat dengan beberapa hal yang tidak di mengerti–hal itu berhubungan dengan perasaan mental maupun pikiran. Tak semestinya Zen mendapatkan hal yang tak pernah di dapatkan banyak orang bahkan melawan alam sekalipun, namun hal tersebut berbeda dengan kata takdir. Walau Zen tak terlalu percaya dengan namanya takdir yang menentukan hidup seseorang; dengan jelas ia tak bisa memprediksi secara jelas takdir yang ia miliki maupun orang lain tapi bukan hal tersebut yang membuat ia menepis habis-habisan keyakinan seperti itu—kendati hal tersebut banyak di percayai dengan rasa keyakinan secara mendalam. Zen beranggapan jika hal yang kita lakukan maupun seterusnya tak terikat dengan namanya kondisi yang di tentukan oleh langit maupun bumi, atau catatan kehidupan yang jelas di tulis atau hal yang telah di tentukan secara pasti; Anak berambut putih salju itu mengartikan jika makluk hidup, adalah Subjek yang di katakan bebas melakukan apapun sesuai keinginan yang dimiliki, di gerakan oleh pikiran adanya komponen emosi. Entahlah...namun pada dasarnya di jelaskan jika makluk hidup itu mempunyai keistimewaan untuk hidupnya baik itu memiliki akal maupun tak memiliki akal, emosi untuk selalu bertahan hidup apapun bagaimana caranya!!!!
“Sudahlah...jadi siapakah nama kamu?”
“Lemia, namaku adalah Lemia, the Queen Of Spirit.”
“Baiklah Lemia, maukah kamu menjadi patnerku.”
“Ya, aku akan selalu mengikuti tuan selamanya” balasnya kegirangan.
[Pemberitahuan; Kontrak telah terjalin, masa dimana dimensi pencarian Summoning telah berakhir].
Secara bersamaan terlihat alam bawah sadar Zen kembali pada kesadaran sepenuhnya. jiwa dan raganya telah menyatu yang saat ini sedang berdiri di depan magic stone: batu kristal namun berbentuk berlian, namun aneh juga! Seolah-olah memang tergabung dua batu bernilai tinghi yang sangat di cari oleh kehidupan dulu Zen—Membuka mata menatap orang yang berada di belakangnya.
“Sudah selesai Zen,” tanya Instruktur Etnest menyinggung senyumnya.
“Ya...” Membalas sama hal denganya.
***
Lorong asrama yang luas, dengan ukuran empat kali lima dengan dinding agak terbilang sedikit kekuningan lebih terkesan kearah megah dan kokoh dengan alat-alat sihir menambah rasa sinar di kala gelap menghapiri. Lebih tepatnya lorong berada di depan kamar Zen.
“Aduh ini benar-benar sangat lama...dia kemana sih..” risih Peter.
“Kami tidak bisa yah tenang sedikit, kamu sudah berapa kali menyebutkan kata-kata itu berulang kali,” ucap Hendrick.
“Tenanglah kalian berdua.” Near melerai perdebatan kedua orang itu.
“Ahhhh...” desah Leonhart.
“Apakah dia masih lama lagi,” gumanya pelan.
Dari jauh seorang remaja berambut putih terlihat melangkahkan kakinya ringan di lorong-lorong yang menuju di asramanya, ia seolah-olah sungguh seperti terbiasa atas lorong-lorong cukup membingungkan di miliki Akademi Phyterus ini. Ia mengedipkan matanya berkali-kali melihat pemandangan di depan kamar asramanya, terlihat empat orang yang sangat ia kenal berdiri menunggu dengan menyandarkan punggung masing-masing di sebelah pinggir pintu kamar asram yang ia tempati.
“Kalian...” ucap sang empu membuat keempat anak itu berbalik menatap asal suara.
“Zen...”