My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 67. Preparation



Di Etherna World sendiri, di ketahui; sesuatu hal yang sudah menjadi pengetahuan umum akan yang ada. Material yang di jadikan sebagai senjata Magic maupun non-Magic [High Tier] dan terlebih Magic Equipment selevel [Rare Item] atau selebihnya termaksud [Magic artefak] yang banyak tersebar di Etherna World hanya hitungan jari saja; material dengan komposisi yang terbilang unik dengan kemampuan karekteristik masing-masing dalam adaptif sihir. Hal demikian sudah menjadi lumrah ataupun sudah tak menjadi sesuatu yang di kejutkan di telinga, walaupun dari sekian yang ada, masih di katakan samar-samar di artikan secara ambiguitas – apakah benar? disatu sisi hanya diyakini dari sebuah teori berasal dari sebuah buku peninggalan peradaban. Kendati begitu, logam demikian hanya didapatkan di tempat-tempat pedalaman, atau tempat khusus yang mungkin hanya segelintir orang yang tahu, dimanakah tempat tersebut? itu hanya pendapat semata, atau kemungkinan saja tidak ada yang tahu pasti.


Pernah suatu history, sebuah kaum melakukan eksplorasi secara besar-besaran hanya untuk menemukan material-material yang di katakan ini; dari sekian lamanya melakukan eksplorasi, mereka menemukan titik terang akan keberadaan logam-logam langka ini – hanya berpatokan pada buku sejarah pada peradaban pertama yakni kalender Hipsida yang mereka yakini, namun hal itu tak sepenuhnya mengilhami mereka secara personal kebatinan, tetapi kemantapan hati tak mau menyerah. Seketika saja, negara tersebut mengklaim sepenuhnya atas teritorial yang di anggap aneh untuk di jadikan sebuah pemukiman bahkan peradaban–tentu mereka sama sekali tak memberitahukan berita besar ini kepada dunia atas penemuan mereka. Hingga kini, sampai saat ini mereka di kenal salah satu peradaban yang sangat maju di Etherna World ini, mereka di sebutkan kebanyakan orang, kaum mereka sendiri yakni, para Dwarf; Kekaisaran Dwarf.


Dan soal material-material tersebut yang kini, sudah di gunakan hampir satu milenium lamanya, langka untuk di dapatkan; Andermantium, Lonsdeleita, Platinum, Titanium, Wurtizen Boronium. Mungkin ini sebabnya, jika alat-alat sihir maupun peralatan magic ataupun alat pendukung pertarungan yang ada, misal tools magic yang berbahan langsung dari salah satu logam langka tersebut, maka harga yang di patok pun tak di anggap main-main untuk di transaksikan; ini kenapa alasan utama, bagi kekaisaran Dwarf dapat maju seperti ini, walaupun hal itu di support oleh kebijakan implementasinya yang sangat mendukung dalam segi ekonominya yang secara liberalisasi.


“Kami berdua sudah menunggumu tahu, sudah berapa lama kami habiskan waktu hanya untuk menunggumu,” ujar Hendrick sedikit kesal.


“Ya, maaf, maaf, tadi ada sesuatu yang mendesak yang harus aku urus.”


“Namun, apa yang mereka lakukan disini...” Menunjuk mereka semua uang ada yang terlihat berusaha menahan kantuknya.


“Entah juga,” jawab Hendrick.


“Apakah hanya kita akademi Phyterus saja yang mengikuti kegiatan ini,” tanya Zen.


“Itu tak menentu, namun banyak yang bilang, jika itu bisa di anggap mungkin, tapi kegiatan ini bukan hanya di peruntukan bagi kita yang ada, namun lebih tepatnya semua yang ingin berpartisipasi, namun cukup menyulitkan jika berpartisipasi tida ada namanya relasi dari belakang, mungkin mereka beranggapan itu adalah mata-mata, jadi ada rasa sangat waspada para pengawasnya sendiri,” jelas Ernest berhenti sejenak.


“Apa yang kalian mau... tunggu, langsung ke intinya saja.”


“Kamu bisa membantuku... mempersiapkan bahan-bahan ini,” ucap Zen yang menyodorkan beberapa perkamen kecil.


“Sebenarnya aku juga ingin membantumu Zen,” ucap Ernest.


“Dan terlebih, aku lumayan penasaran dengan pameran yang akan di gelar.”


“Selain, seharunya aku membantu teman bukan.”


“Magic Stone? kamu perlu Magic Stone juga,” ucap Ernest ketika melihat dengan saksama perkamen berisi catatan.


“Magic stone, tak mudah di temukan...”


“Aku bisa mendapatkannya, kamu tenang saja,” jawab Zen santai.


“Eh? maksudnya?” Masih belum mengerti.


“Begitulah...”


“Dari logam yang ada, kenapa kamu memilih andermateid, itu lumayan simple untuk di cari,” komentar Ernest.


“Ohh..itu, kamu tahu tidak fakta sebenarnya dari Andermadeid,” ucap Zen.


“Memangnya kenapa?”


“Hmmm...jika kamu tahu sebenarnya, kompisis logam itu yang hampir kesamaannya dengan lima logam langka yang ada, andermadeid yang di katakan material yang hampir sama.”


“Eh???”


Pada faktanya, jika andermadeit adalah material yang di transisikan dari andermantium, namun kesamaannya sendiri hanya sepertiga dari apa yanga ada, dan itu pun hanya di ketahui oleh segelintir orang yang menyembunyikan secara alamiah dari fakta yang ada. Sejujurnya saja, amdermantium tak dapat di transisikan namun dapat di ubah dalam proses hybrid, dengan campuran dari komponen lain, dengan kesetimbangan 1% dan 99%, kendati begitu hal itu tak menyurut kualitas akan kesamaan yang ada; ini lah sebabnya andermadeit... cukup di maknai jika ini semua, akibat dari andermantium dalam proses adiptif sihirnya yang terbilang unik dari yang lain.


Zen pun menganggap hal ini adalah sesuatu yang mungkin, karna andermadeit jika di analisis oleh Zenos, karakteristiknya hampir sama dengan andermantium, namun hal itu tak menjadi sebuah peryataan bahwa andermedeit sepenuhnya adalah andermantium; andermantium dengan komposisi kerapatannya yang bahkan terkeras dari lima logam langka yang ada, tidak hanya sebuah isu yang di buat saja. Tak ada yang tahu pasti dari semua logam yang ada, dimanakah logam terkuat dari mereka menentukan, tetapi kebanyakan mereka meyakini jika andermantium adalah logam terkuat yang ada di Etherna World.


“Aku baru tahu,” jawab Ernest.


“Aku akan meminta ijin dulu pada kepala akademi,” ucap Zen.


“Hei.. kalian bicara apa sih..”


“Tidak! kalian seharusnya tidak usah kami kesini, lihatlah keadaan kalian sendiri,” ucap Hendrick.


“Kami pergi dulu...”


“Pergi kemana.”


“Kami ikut...”


Zen berjalan dengan tenang, di balik tatapan mereka mengharapkan, itu pun juga hal yang ia anggap merepotkan untuk di respon. Kendati ia terbilang peduli dengan teman-teman yang saat ini – menghormati pertemanan, tapi berbeda halnya dengan sesuatu yang merepotkan untuk di interaksikan atau seharus untuk merespon saja, Ia tidak suka yang begituan; bukan tidak suka namun malas untuk di lakukan.


“Huh...”


***


“Menurut kalian, apa yang di lakukan Zen di dalam.”


“Entahlah...”


“Setidanya mungkin aku berpikir, jika ia meminta izin bukan..”


“Tapi, apakah hanya itu..”


“Tunggulah dia sebentar lagi, baru tanyakan..”


“Hmmm.. itu jawaban yang terbaik.”


Di dalam ruangan, Instruktur Etnest menuangkan teh dari cangkir yang masih hangat, di hadapan anak berambut putih ini. Menatap sekeliling, untuk memastikan, helaan napas yang ia keluarkan sebagai tanda jika anggapan tentang keberadaan orang itu, tidak ada. Zen cukup lega, dengan pembuktian matanya saat ini, memastikan jika Instruktur Hagrid yang kemungkinan besar berada dalam ruangan yang sudah ia kunjungi sampai tiga kali di tambah dengan kali ini, seharusnya.


“Apa yang membuatmu kemari, apa ada masalah untuk dipertanyakan, Zen.”


“Aku mempunyai dua pembahasan yang akan dibicarakan saat ini!!!”


Instruktur Ernest mengambil teh hangat di hadapan. “Hmmm..” Sembari menyeruput teh.


“Pertama, bisakah anda memberikan saya izin keluar, untuk mempersiapkan beberapa perlengkapan, setidaknya untuk mencari bahan saja..”


“Hmmm... itu bisa ku izinkan, tapi.. kamu harus menggunakan teleportasi, tidak menggunakan gerbang masuk perpustakaan Anion...”


“....”


“Itu dilakukan, agar tidak ada rasa yang harus keluarkan saat ini. Dari sekian banyak murid yang ada, meminta izin keluar dengan berbagai cara, namun tidak di perbolehkan dan itupun seharusnya berlaku bagi kamu juga, namun... kamu aku istimewakan.”


“???”


“Huh... apa permintaan kamu yang kedua,” ucapnya langsung.”


“Soal itu, mengenai Magic Stone yang masuk dalam daftar, bahan yang kugunakan nanti, bisakah----”


“Ya, bisa-bisa saja,” balas Instruktur Etnest memotong pembicaraan Zen.


“Selebihnya, mungkin kamu bisa gunakan, keperluan kamu sendiri.”


Zen mengganggap jika Instruktur Etnest memang seharusnya menyetujuinya, tanpa harus bilang padanya, namun ia tak mau jika anggapan demikian, nanti akan salah sangka, merepotkannya sendiri, dan terlebih lagi Zen bukan tipikal orang yang akan mengambil sesuatu tanpa izin maupun alasan yang tidak jelas untuk ia gunakan. Seharusnya tujuannya saat ini tercapai, sedangkan opsi pertama permintaan yang ia berikan, adalah sesuatu mungkin saja ia gunakan lebih dan kurangnya; justru ia akan menggunakan hal ini untuk keuntungannya karena beberapa notifikasi maupun penjelasan dari Zenos.


“Terimah kasih atas semuanya, kepala Akademi,” ucap Zen.


“Sama-sama,” balasnya dengan senyum seperti biasa.


***


Senjata Magic, lebih pasti di sebutkan dengan senjata sihir ini, pada fungsinya dalam penggunaan support sihir pengguna, hal itu juga bergantung akan manipulasi dalam penggunaan [Mana] nya sendiri, lumayan susah untuk di katakan—semakin tinggi tingkat Senjata Magic maka semakin besar kontrolnya, walaupun hal itu dimudahkan untuk di gunakan–di permudah karna penguasanya mengendalikan sihir; feel of Mana; Division; Manipulation. Namun demikian, tiga tahap itu tak berlaku akan Magic Equipment atau pun senjata Magic High-Tier, walaupun di permudah akan penguasaan dari tiga komponen tadi, tapi seakan tak cukup untuk mengontrol secara sepenuhnya senjata-senjata tinggi keatas, maksimal hanya seper dua dari kemampuan sebenarnya.


Dan kita tahu walaupun senjata Non-magic di katakan tak lebih unggul dari senjata Magic, hal ini tak berlaku jika keunggulan dari material yang berbeda, misal jika senjata Non-magic materialnya adalah logam dari salah satu material langka yang ada di gunakan sedangkan senjata Magic materialnya setingkat di bawah, maka hal itu adalah keunggulan bagi senjata Non-magic demikian.


Di salah satu toko Blacksmith yang ada di distrik pertama, Zen kali ini cukup tersadar akan beberapa hal yang berhubungan langsung dengan pameran kali, ia menatap di balik kaca persegi empat yang sedikit memanjang, tertuju langsung di jalanan nampak ramai. Rasa Impresif pun tak luput akan pikiran yang ia miliki, walau sebenarnya keramaian ini juga tidak serupa dengan dunianya dulu, hal itu pun ia anggap sebagai sesuatu de Javu dan familiar beberapa orang yang lewat–tentu saja ia melamun jadi tak mendengar orang berbicara padanya.


“Maaf...Core nya nak...” ucap suara seseorang.


Tersadar, ia menatap orang yang berbicara padanya. Seorang pria paruh baya dengan jambang di wajahnya, kumis tipis yang langsung menyatu dengan jalur jambang kebawah yang ia miliki, jenggot yang sedikit panjang dari kebanyakan orang, tak lupa celemek berwarna hitam yang sedikit usang ia pakai; Zen mengekspetasikan jika pria paruh baya ini berumur empat puluh tahunan sebelumnya. Ia mendongak kepalanya kebawah melihat sekantung kain berwarna hitam, yang kini di berikan oleh pria paruh baya itu, Zen tersenyum menatap pria di hadapannya ini, seharusnya ia sedikit merasa malu, tak tahunya ada orang yang berbicara padanya tanpa sadar.


“Eh maaf pak, aku seharusnya tidak melamun.”


“Iya, iya, tidak apa... ini barang yang kamu minta”


“Terima kasih..”


Core termaksud dalam daftar bahan sihir yang akan ia gunakan, Zen tahu jika core di gunakan sebagai bentuk peralihan dalam sirkulasi [Mana], ia sebenarnya berencana mengubah [Mana] sendiri menjadi sesuatu bukan di anggap semata sebagai komponen kekuatan melainkan lebih kebentuk manfaat yang ada bagi kehidupan. Namun sejujurnya hal tak memang di anggap mustahil untuk di terima banyak orang berdasarkan dari perspektif yang sudah melekat ini.


Jalan ia lalui seramai dan juga seberisik yang ada, hanya teriakan banyak orang seperti kala itu—ia mengunjungi distrik pertama sebelumnya sewaktu berkeliling dengan Hendrick. Soal Hendrick dan yang lainnya juga, seharusnya mereka mengikuti Zen seperti pada rencana awal, membantunya mencari hal-hal yang sehubungan dengan karya ilmiahnya yang ia buat nanti, namun hal itu harus.. bisa di bilang di gagalkan oleh Instruktur Etnest sebelumnya.


“Seharusnya semua Stone Magic ini, ku gunakan untuk apa yah.”


“Aku kan hanya memerlukan satu saja, kenapa kasih sejumlah ini.”


Semakin lama ia berjalan di jalan yang cukup ramai, ia merasa di ikuti dari belakang; sikap Zen saat ini—ia sudah menyadari namun bersikap biasa-biasanya seolah-olah tak mempedulikan maupun tak menyadari seperti yang di lihat. Ia hanya berjalan dengan langkah santai, berbelok secara serentak di sebuah gang yang kini sunyi dan agak remang-remang, walaupun sinar mentari masih menyilaukan dan sedikit panas terkena kulit.


Zen berbalik dengan nada superiornya. “Apa maumu..” Menatap dengan tajam.


To be continue


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


**Note;


Jangan lupa rate-nya, maupun like**!!!!!