My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 23. Menentukan



Malam berganti memperlihatkan cahaya mentari pagi yang menyinari belahan bumi bagian Timur, di arena persegi dua orang remaja dan satu orang pria paruh baya berdiri tegak saling menghadap satu sama lain dan memberikan pandangan Tajam mematikan dari pancaran mata mereka masing-masing, saling berhadapan itu.


"Hoho...kalian sudah bersiap rupanya" Ucapnya dengan Tawanya yang khas.


Bagi Zen dan juga Hendric, tawa ia keluarkan begitu menyebalkan bagi benak pribadi mereka; Seakan mengejek atas kekalahan telak bagi mereka berdua kemarin. Itu sudah menjadi bentuk hal memalukan bagi Keduanya atas peristiwa terbilang sepele ini. Namun demikian, mereka berdua juga belajar arti dari kekalahan yang di dapat dan tak semata sebagai pajangan peristiwa memalukan yang pernah mereka alami.


"Hehe..pria tua lihat saja, mulutmu akan ku tutup rapat setelah kamu kalah nanti."


"Apakah begitu!!" Ucapnya dengan senyum mengejek.


Tak ada tanggapan dari keduanya,seakan siap dengan pertarungan antara murid yang terbilang keras kepala dan guru yang menyebalkan bertarung di Arena, memperlihatkan sang pemenang.


Sebenarnya ketika di Flash back kejadian kemarin, sikap guru atau pria paruh baya inilah yang membuat Zen dan juga Hendric naik pitam. Pasalnya ia tak terlalu menunjukan penjelasan yang memungkinkan dengan teknik yang ia ajarkan, sedangkan dalih yang ia ucapakan atas apa yang ia lakukan,seakan membuat urat-urat kepala timbul secara mendadak “Carilah Sendiri”.itu adalah hal konyol yang paling membuat mereka berdua kesal selama ini, bukan berarti Candaan Ernest tak termaksud.


Atas kejadian itulah, bentrok antara murid dan juga guru ini terjadi, walau begitu sang guru hanya bersikap seperti air mengalir dan tak terlalu mempedulikan apa yang mereka tuntut dari dirinya sekian ini.


Yang paling mengejutkan lagi, paman Sebastian tak ikut campur atas ketidakadilan apa yang mereka rasakan, dengan ucapan yang keluar dari ayah angkat Zen itu, mengejutkan Zen dan Hendrick yang mendengar secara bersamaan,cukup geleng geleng kepalan akannya. “Bukanya kalian berdua ingin kuat bukan, jadi kalian belajar lah dengan guru pembimbing kalian itu.”


"Hah~" Hembusan napas yang keluar dari dua remaja yang sudah mempersiapkan posisi ini."


"Peraturannya seperti biasa, kalian bisa menggunakan sihir Elemental kalian masing-masing, sedangkan aku menggunakan Teknik berpedang saja" Ucapnya dengan nada remeh.


Tak kuat akan sikap guru yang menyebalkan ini Hendrick yang tak tahan langsung melesat menyerang menerjang apa yang akan ia terkam, tapi sebelum itu Zen sudah terlebih dahulu berada di samping guru menyebalkan itu.


DAK...


BUSS..


BAK..


Suara terdengar di pendengaran, pedang kayu saling beradu. Walau hanya pedang kayu, tapi kayu sebagai bahan utama dari pedang ini memiliki kemampuan seperti pedang sihir lain, dapat mengalirkan mana pengguna. Pedang kayu yang terbuat dari bahan utama pembuatan senjata para Magic Master ini,terbilang cukup langkah akan bahan yang di dapat, tapi beberapa kerajaan manusia baik itu Kekaisaran; Telah membudidayakan Pohon yang bernama Oak Herzulen ini.


"Sepertinya kalian sudah belajar banyak, tentang pertandingan kemarin."


"Tapi..itu masih belum cukup, anak berbakat" Ucapnya.


Zen dan Hendrick dalam posisi mundur, kembali melesat dengan cepat menyerang sang pria paruh baya yang tak menggunakan Armord silver nya kemarin, walau begitu Kecepatan seakan bertambah dari kecepatan kemarin yang ia tunjukan, hingga sedikit membuat mereka berdua kembali tersudut, tapi Zen sudah memperkirakan apa yang terjadi, dan stand baik terhadap rencana yang ia susun.


[Magic Elemental Manifestation]; Ice Freezing Field.


Salju yang dingin di buat karna sihir Es dari apa yang di ucapkan oleh Zen Sendiri, turun menyentuh arena, jangka waktu sekian detik lama sang salju turun, sedikit demi sedikit lebih cepat dari apa yang di lihat sebelumnya, bahkan membuat Arena persegi itu tertutup dengan Es beku.


Tak sampai disitu, setelah Spell nya selesai ia keluarkan, menyodorkan tanganya keatas lalu mengucapkan Spell menyerang berikutnya yang ia buat kemarin.


[Sword Art Magic]; A Thousand Stands Attack Of Lotus****.


Langsung saja Sihir Es berbentuk Bunga lotus yang ada di atas, orang melihat baik itu sang pria paruh baya maupun Hendric Sendiri, hampir sekian bunga lotus berbentuk Es itu menutupi Arena pertandingan yang berlangsung, bahkan mereka di buat terkejut apa yang mereka lihat sekarang.


"Hoho..sihir Es rupanya, dan lagi...tak kukira ada orang yang lebih jenius menggunakan seni berpedang dan Magic Elemental sebagai daya serang."


Dua sihir yang di ucapkan saling mensuport satu sama lain, langsung saja helaian bunga lotus yang tercipta menyerang secara Brutal apa yang menjadi sasaran targetnya, serangan demi serangan dari bunga lotus tajam hingga sang pria paruh baya di buat dalam posisi bertahan, hingga...tak sampai di situ.karna desakan yang berlanjut, ia terpaksa...sedikit menggunakan manaya yang di sebarkan di seluruh Tubuhnya, pria paruh baya itu dengan cepat menghindari semua serangan yang di lancarkan padanya.


Tapi ia cukup tertarik dengan Zen, yang dapat menggunakan sihir tingkat Tinggi bahkan di gabungkan dengan Teknik berpedang dalam umurnya yang terbilang muda ini.


"Hoho...kalo gitu" Gumanya sembari tersenyum.


Serang tebasan yang terlihat begitu cepat menerjang semua Bungan lotus yang ada di langit arena, hingga sekian detik satu-persatu bunga Lotus berwujud Es hancur karna tebasan beruntun yang di lancarkan; Zen tak membiarkan hal itu ia menyodorkan tangannya tinggi-tinggi sambil mengucapkan Spell penguatan Medan Es nya itu.


Dan disinilah Hendrick Berperan dengan Teknik Asassin yang ia pelajari, bergerak cepat dengan belati yang di lapisi Elemental Anginya di belati yang terlihat; bergerak dengan gerakan Supersonik hingga menyerang sang Target.


"Apakah kamu sudah tak kuat lagi pak tau" Teriak Hendrick.


"Waktunya Zen."


Portal Cukup besar tercipta di hadapan Hendric, berwarna hijau mudah kepudaran. Tak sampai di situ saja portal itu berputar cepat mengeluarkan putaran angin yang masif dengan gerakan maju kedepan.


[Magic Elemental Manipulation]; Tornado Wings.


Elemen api akan bertambah kuat jika menggunakan elemen Angin, hal ini sama halnya dengan peristiwa pembakaran yang membutuhkan oksigen, dan itulah kenapa Zen menyuruh hendric menggunakan Sihir Anginya yang cukup kuat untuk di gabungkan dengan Elemen api yang di miliki Zen.


[Magic Elemental Manipulation]; Flame Of Mamba.


Bola api begitu besar bertabrakan secara beruntun di hadapan beberapa belasan meter di depan kedua remaja itu, tak kiranya saling berlawanan, mungkin bisa di bilang saling menguat terhadap sihir Elemen Api yang di lancarkan. Sungguh Sihir gabungan yang begitu dahsyat.


"Cukup Mengejutkan dengan apa yang kalian berdua lakukan, sungguh membuatku tersanjung melihatnya" Ucapnya sembari tersenyum melihat api besar berkobar menerjang ia yang sebagai target.


"Tapi...kalian berdua salah besar."


Kuda-kuda Seorang Swordman terlihat seperti biasa,dengan menggunakan teknik sebelumnya yaitu; Slash Attack of Fighter, serangan tebasan begitu besar menerjang secara Vertikal yang membelah kebawah. Bola besar api di hadapnya langsung saja musnah seketika seperti Buang lotus Es yang di buat Zen sebelumnya. Tapi, apa yang di lakukan; Membuat ia terjebak sendiri di hadapan kedua bocah remaja itu.


"Sepertinya kau sudah salah besar pak tau" Ucap suara yang mengagetkan, benang Seperti kawat yang kuat yang Transparan langsung mengikat sang pria paruh baya, kawat-kawat itu terikat dengan saksama di jari jari sang Hendric seperti pengguna Kugutsu.


"Heheh.. bagaimana pak tua, kamu sudah tertangkap bukan" Ucap Hendric dengan senyum puasnya.


"Kenapa?... Bukanya kau."


"Apa yang Hendrick ucapkan Hendirck memanglah benar Master" Ucap Zen dari seberang.


"Aku sudah memperkirakan semua yang akan terjadi,dan tentu saja...sikap begitu semangat yang akan kamu tunjukan termaksud dalam daftarnya.."


"Anda harus tau juga,sihir menyerang yang kami lancarkan hanya sebagai bentuk mengecoh terhadap Teknik yang terbilang memangkas Mana yang kamu Keluarkan,sihir Medan Es yang ku gunakan tak hanya untuk memperlambat Semua pergerakan yang anda lancarkan tapi... menyembunyikan rencana yang sudah kami susun"jelasnya.


"Jadi semua ini kamu sudah menyusunnya, bahkan aku sendiri sudah terjebak sebelum pertandingan di mulai."


"Hehe.. begitulah pak tua, aku hanya sedikit memprovokasi mu saja sejak awal, bagaimana..?"


"Walau Kapasitas [Mana] mu terbilang kuat dan juga pada titik seper dua, tapi kawat yang mengikatmu itu sedikit demi sedikit akan menyedot mana mu sampai habis" Jelas Zen lagi.


"Tak hanya di situ, apakah kau tau jika kawat ini sudah di buat khusus untuk para Asassin Terkenal."


"....."


Tak ada jawaban yang dapat mendeskripsikan arti Eksperesi rumit sang pria yang terikat oleh Kawat transparan dalam berbagai sisi di depan mereka berdua, dengan jelas cukup menggambarkan bahwa pria satu ini sedang berpikir keras dengan apa yang telah terjadi padanya.


"Baiklah...aku mengaku kalah" Ucapnya dengan nada pasrah.


Hal yang mengejutkan keluar dari apa yang di ujarkan pria paruh baya aneh ini, terbilang dengan mudahnya kata-kata cukup tabu bagi seorang kesatria.