My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 5. Hadiah Misterius



Kediaman keluarga Charlotte sendiri, hampir luasannya sekitar sebuah istana kecil dalam patokan hektar, termasuk dengan bidang halaman dan struktur bangunan kediaman utama yang besar. Belum sampai disitu, meskipun tak menutup kemungkinan jika Kediaman Charlotte paman Sebastian ini adalah salah satu kediaman bangsawan paling mewah dengan luasan yang sangat besar, terbukti. Jika, di kategorikan, di bagian sebelah ujung barat atau halaman belakang adalah hamparan rumput hijau yang luas, dengan danau buatan berdiameter kecil di tengah-tengah, yah, tak terkecuali dengan bunga-bunga yang hanya di hiasi oleh bunga mawar sahaja, menyapu mata memandang. Sedangkan bagian selatan dan utara hanya kediaman-kediaman yang langsung menyatu dengan struktur kediaman utama.


Akan tetapi, walaupun kediaman selatan hanya dianggap kediaman sampingan saja, namun besarnya, tak kalah dengan besarnya dari sosok primadona ini – lebih tepatnya kediaman utama. Jika hal itu, di perbolehkan untuk di masuki, kediaman yang mungkin paling bagus secara subtansial dan objektif sendiri, sangatlah nyaman walaupun kesan glamor masihlah melekat dengan kuat. Kendati begitu, kediaman itu seakan di rahasiakan dan tak di perbolehkan seseorang masuk tanpa ijin sekalipun, tak ada di perbolehkan masuk!!


Kreak..


Terdengar suara pintu yang terbuka, keadaan ruangan itu begitu gelap terlihat seorang yang berbaring di atas Ranjang yang nampak lemah, sama sekali tak berdaya, wajah tirus akan sebuah penyebab, tubuh yang sayu di bawah mata tertutup, beranggapan jika ini adalah lemah tak berdaya. Kondisi yang cukup memprihatinkan, seorang perempuan yang terbaring lemas di tempat tidur.


“Lihatlah Melis ada seorang anak yang begitu mirip denganmu,” ucap Seorang dengan nada sendu.


“Aku tak percaya, jika nanti aku akan merelakan ini. Namun... aku masih ingat dengan kata-kata mu itu, di hari yang kamu tersenyum tulus. Kamu berkata jika hati itu tiba bukan,” kata Paman Sebastian hanya bisa tertunduk.


Hanya hening yang mengantarkan suara agar terdengar hingga ketelinga. Pria paruh baya yang begitu dikenal yakni seorang Sebastian, begitu rapuh di depan istrinya hanya menatap sendu dengan mata berkaca-kaca. Bersurai coklat dengan mata yang tertutup, tangan putih bersedekap dengan keadaan tenang, lemah tak ada tenaga sama sekali.


Kenapa takdir begitu mempersulit Orang yang mengharapkannya. Hanya tatapan kosong dari seorang Sebastian terhadap kondisi istrinya. Bahkan seluruh Alchemi maupun smSeorang Healer dan juga Priest terkenal sekalipun tak dapat menyembuhkan kondisi istrinya, hanya takdirlah yang menjawab setiap tindakan maupun nasib seseorang hingga memutuskan akhir hayat mereka.


***


Di ruangan yang cukup besar seorang Zen membaringkan tubuhnya di kasur yang ia tempati, cukup nyaman baginya. Ia tak pernah memikirkan sebelumnya akan terjadi Seperti ini bagi kehidupannya. Apakah ini adalah keberuntungannya sendiri? ia sama sekali tak dapat menjawab itu, jika ia menjawab maka sudah pasti jawabannya bingung dengan notabene harus menjawab apa.


Ia memonolog kejadian-kejadian yang menimpanya, karna sebuah Kecerobohanya sendiri yang membuat ia berpindah dan menjadi seorang transmigrator, apakah begitu? Ia juga bingung bagaiman ia dapat berpindah, apakah karna lingkaran dengan pola aneh Itu–sama sekali tak ingat. Jika saja, ia berpikir lebih keras lagi maka kepalanya terasa nyeri, agar tak berpikir lebih keras lagi.


“Ahh... aku ingat bukanya aku di berikan Hadiah yah dari sosok itu,” gumam Zen. Ia hanya mengingat itu.


“Betul sekali... tapi bagaiman aku mengambil hadiahku,” Tambahnya.


Malam yang begitu indah membuat nyaman orang orang untuk mengistirahatkan diri mereka tapi tidak dengan Zen, ia begitu gelisah akibat rasa penasarannya akan hadiahnya itu; seperti ungkapan ”Cacing terkena abu,” seperti itu lah dia, bergerak kesana kemari dan juga meronta-ronta seperti ulat berjalan. Malam pertama Ia hidup di dunia berbeda ini di habiskan dengan tingkahnya itu.


Zen bangun dari kasurnya, melangkah kesebuah rak buku yang ada di sebuah Lemari yang tersusun dengan rapi–rao buku yang segala sisinya memadati ruangan kamarnya. Mata Biru lautnya memandang setiap inci buku yang ingin ia baca. Hingga akhirnya ia menghabiskan malamnya itu dengan membaca habis semua buku yang ada di ruanganya—Zen bukan orang yang suka membaca dengan intens lama-lama yang terbuai begitu saja, ia bukan orang seperti itu, sama sekali ia malas untuk membaca seperti itu, serasa mulutnya lelah membaca walaupun konteks pembacanya hanya di dalam benak saja; namun membaca dengan intensif, mengambil poin-poin penting seharusnya. Takkala buku yang tak penting sekalipun. Ia sama sekali tak pernah menduga, jika kamarnya akan di buat sedetail ini, di bagian sisinya ia duduki, nampak sebuah luasan cukup besar dengan dinding bermarmer yang melapisi. Kesimpulannya, Zen bukan orang yang suka di bidang dalam literasi, untuk menghiasi waktu luangnya.


“Akhirnya selesai!!!” ucap Zen sambil menyandarkan tubuhnya disebuah kursi yang ia duduki.


“Melelahkan sekali... yosh mari kita tidur,” tambahnya langsung pandanganya jatuh kearah kasurnya.


Membaringkan tubuh yang melelahkan ketika habis membaca membuat rasa kantuknya tak terbendung lagi. Hingga matanya terpejam dengan kasur putih yang menjadi alasnya itu, ini lebih baik menurutnya.


***


[Telah Mendeteksi Seorang Host].


0%...25%...50%...75%...100%


[Deteksi Berhasil].


Terdengar suara seperti sebuah sistem komputer dengan nada yang datar. Ucapnya dengan bahasa yang tak terlepas dengan Ke formalan. Zen walupun samar-samar mendengar Suara yang tergenang di kepalanya seakan memasuki Pikirannya itu, sungguh membuat ia merasa tak nyaman.


Perlahan iris mata birunya terbuka, memperlihatkan ruangan yang ia lihat sebelumnya, ruangan yang membuat ia merasa de Javu akan hal itu – berfikir ini adalah kamarnya.


‘“Ini Dimana... bukanya tempat ini kan. ”Zen yang berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi padanya sebelumnya.


Ruangan tak terbatas memperlihatkan sosok Zen seorang diri berjalan dengan perlahan, terlihat ada satu benda melayang tak menyentuk dasar seakan hukum Grafitasi tak berlaku baginya, objek ataupun subjek Zen sama sekali tak peduli, berjalan dengan langkah perlahan mendekat. Zen melihat benda itu dengan intens, ruangan yang membuat ia de javu di tambah lagi ada sebuah benda aneh seakan memaksanya mengambilnya.


Langkah kakinya mendekat kearah kotak berbentuk kubus itu, polanya yang begitu rumit dengan empat sudut sedikit agak tajam, dan warna merah yang membuat benda itu begitu mencolok—rasa ragu-ragunya tergantikan dengan rasa Penasaran yang begitu amat besar.


Zen menyentuh Kubus itu dengan sedikit waspada, tak ada reaksi yang di tunjukan oleh kubus itu maupun Zen, sama-sama mematung. Selang beberapa saat Cahaya silau terang berwarna merah membuat Zen Memaksakan kehendaknya, ia menghalangi Cahaya yang masuk ke matanya dengan tanganya. “Apa yang terjadi.”


Sebuah senjata yang begitu tipis tapi terlihat begitu kuat, ujung senjatanya di kedua sisinya memperlihatkan ketajaman yang sebenarnya. Sedangkan gagang pedangnya memperlihatkan corak hitam dan penutupnya terlihat corak merah yang rumit dengan seikat tali hitam yang turut memperhias katana itu.


“Bukanya ini Katana kan... siapa yang menaruhnya disini,” ucap Zen dengan pertanyaan bodohnya.


Katana adalah senjata yang populer di jepang, sehingga Zen tau akan seperti apa senjata itu. Seorang yang menggunakan Katana disebut dengan Samurai, itu memang adalah pengetahuan umum, untuk di ketahui oleh


terlinga–untuk Zen sendiri.


Zen sebelumnya juga tak tau tempat apa ini sehingga ia merasa de javu pertama kali melihatnya. Walaupun Zen di katakan orang yang memiliki ingatan yang begitu tinggi, tak ada salahnya juga kan kalo ia membuat kesalahan karna di adalah seorang manusia yang tak luput dari kesalahan yang begitu kecil sekalipun. Itu anggapan yang bisa Zen ia jadikan pandangan hidupnya juga.


“Sepertinya aku ambil Saja benda ini tak ada masalah bukan,” kata Zen menimbang-nimbang


[Host Telah mengambil Barang Yang Telah Di Berikan].


Suara tiba tiba menggema di pikiran Zen, membuat Sosok Zen terkaget-kaget akan hal itu.


“A-apa itu?”


Pemuda berambut putih itu, wajahnya celinguk kesana-kemari melihat mencari sesuatu di wajahnya dengan perawakan begitu panik. Setelah itu ia ketakutan walaupun ketakutannya hanya sebentar saja. karna Pandangnya Hilang begitu, kembali kesadaranya sebelumnya.


“Ahh.. apa itu kepalaku sakit.” Sambil memegang kepalanya.


Dalam posisi setengah sadar Zen membangunkan badanya dari kasur yang ia tempati. Wajah malas yang terlihat di tampangnya sambil melangkah Bodoh.


Tok..


Tok..


Tok..


“Kak Zen sudah Bangun?” ucap Seorang yang dari arah pintu.


“Iya...aku sudah bangun tunggu sebentar.” Sambil berjalan membuka Engsel pintu.


Rambut putih berantakan itu dengan wajah bodohnya melihat kesosok anak gadis bermata hijau yang begitu indah. Gadis itu tersenyum melihat orang yang di depan itu, rasanya membuat ia ingin mengelus-elus rambutnya seperti seekor Anjing yang ingin di manja.


“Susan?”


“Ayo kak bersiap siap Dulu cepat kita akan sarapan bersama Ayah,” ucap Susan dengan semangat menggebu-gebu.


“I-iya tunggu yah.. aku bersiap siap Dulu,” jawab Zen.


Langkahnya berjalan sebuah dengan pikiran yang masih sedikit ragu, entah pikiran apa yang membuat ia seperti itu tapi yang jelas sosok yang selalu memperhatikan dengan mata Interns tapi begitu di penuhi hasrat.


“Eh...Susan kenapa kamu masih di sini,” ucap Zen ragu.


“Hmmm.. aku tak akan melihat cepatlah mandi kak,” ucap Susan yang membuang mukanya.


“Baiklah..”


Habis dengan kegiatan membersihkan diri ia mengenakan baju yang sudah di persiapkan, kakinya mendekat di sebuah cermin besar hingga bayangan terpantul menunjukan Sosok Zen berdiri mengenakan Baju yang begitu pas Di tubuhnya.


Ia bergegas membuka pintu dan tampak tiga orang di baliknya, seorang yang begitu dia kenal tak bukan dan tak lain itga orang bersaudara dari Keluarga Charlotte itu.


“Hai...Zen,” ucap Hendrick


“Kak Zen!!!” ucap Susan melompat memeluk Kearah Zen


“Eh... kenapa ini,” ucap Zen kebingungan


"Lihatlah wajahmu terlihat sangat tampan Zen,” kata Isabella.


“Benarkah...Tapi menurutku biasa-biasa aja,” balas Zen yang sedikit bingung dengan apa yang di ucapkan Isabella.


“Jangan merendah begitu... Ayo kita sarapan.” Ajak Hendirck


“Susan boleh kamu melepas Zen, dia terlihat sedikit kesusahan,” tambah Hendrick dengan ucapan lembut.


“Yah...” jawabnya pasrah sambil melepas pelukkanya itu.


Mereka semua bergegas pergi disebabkan Paman Sebastian telah menunggu di meja makan. Terlihat sosok yang di sebutkan menunggu sambil tersenyum kesemua orang yang datang.


“Ayo kita makan bersama,” ucapnya Dengan senyum lembut.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=