
Pemuda membuka mata dan nampak iris birunya seolah-olah tidurnya ini telah berakhir. Seketika begitu, ia mau beranjak, tapi badanya kaku tak dapat di gerakan. Ia mau tak mau harus tidur kembali di tempat sandaranya itu. Ia sesekali menatap ruangan yang agak berbeda dengan kejadian akhir sebelumnya. Pemuda itu tak tau ia di mana; dan kenapa ia bisa di tempat ini. Berpikir cukup keras hingga ia menjerit sembari memegang kepalanya yang kesakitan, di sebabkan ulahnya sendiri.
“Akh...”
Suara terdengar cukup keras. Langkah kaki seorang masuk tanpa mengetuk pintu, tergesa-gesa akan sesuatu. Pintu terbuka memperlihatkan perempuan berambut biru muda dengan mata yang senada, jubahnya tak asing dengan warna berwarna putih bersih. Perempuan yang tak tau berapa umurnya menghampiri pemuda berambut salju itu, Ia dengan cepat berada di samping pemuda yang menjerit. Namun demikian, pemuda itu justru terlihat menunjukan tampang rumitnya, ini cukup aneh baginya, ia merasa ada hal ganjil sekarang ini.
“Apakah kamu tidak apa-apa?”
Ucapan pertama dari perempuan yang tak di kenal, Ia seketika mengeluarkan sihirnya dari kedua tangannya yang di sodorkan seberapa centimeter dekat pemuda yang ia tanya. Sihir yang sangat di kenal bagi seorang Healer yakni; Healing Magic. Tak ada tanggapan dari Pemuda Berambut Putih itu, ia menatap heran perempuan yang ada di hadapannya. Walau rasanya sedikit aneh, tapi ia tak ingin berprasangka negatif dengan orang terliht baik ini.
Healing Magic, yang di lakukan perempuan tersebut bisa di katakan salah satu Magic tingkat tinggi yang cukup setara dengan efek ramuan-ramuan lainya, karna Potion di katakan salah satu benda mahal di dunia ini. sehingga berkembang lah apa yang namanya para Healer. Tapi di lain sisi, hal tersebut bukan menjadi alasan tersendiri berkembangnya para Healer di dunia Etherna World. Seperti di katakan dalam Sejarah, para Healer berkembang dengan pesatnya bersama dengan kemajuan Ilmu pengetahuan dalam beberapa abad ini di Sergai dengan Ilmu pengobatan.
“Apakah kamu tak ingin berbicara Zen...”
Seketika begitu, ucapan yang mengarah pada sang empu terkejut. Ia cukup bingung, di tambah lagi tak pernah sama sekali dalam benaknya bertemu dengan perempuan berambut biru muda itu. Cukup memikirkan hal-hal sebelumnya yang ia lakukan sebelumnya; apakah ia pernah bertemu dengan perempuan ini di hadapannya.
Di Landa terkejut — perempuan itu menatap sosok Zen melamun, Ia sudah memikirkan semua ini. Ia cukup tau jika Zen adalah anak yang cukup cerdas, Entah ia tau dari mana. Tapi sebagai salah satu orang penting dalam akademi Pyhterus, informasi bukanlah hal yang sulit untuk di dapat, bahkan sampai-sampai sudah menjadi hal biasa bagi orang-orang seperti demikian.
“Kamu pasti bertanya, kenapa aku dapat mengetahui kamu bukan,” ujarnya.
Zen menatap sekali lagi perempuan yang tak tau namanya, ia menatapnya serius di mata birunya. Zen menyimpulkan, semua ini baik identitasnya sudahlah tersebar ke berbagai pihak. Ia tak tau pihak-pihak siapakah yang mengetahui kejadian sebelumnya bahkan identitasnya. Tapi satu hal yang harus di ketahui, jika Pemuda Misterius mempunyai kekuatan besar bahkan dapat mengalahkan orang kuat setingkat Jendral menjadi perbincangan Hangat. Bahkan ada yang membuat Grup Fans tersendiri untuk pemuda misterius, dan semua itu dengan tak terlepas dengan ketidaktahuan Zen.
“Mungkinkah Pihak Akademi menyebarkan semua ini,” batin Zen.
“Bolehkah Aku bertanya Nona, siapakah anda, dan....tempat apa ini,” tanya Zen.
“Kamu Sepertinya sudah baikan...baiklah, namaku adalah Ellia Rezulen, aku adalah seorang Healer Akademi Phyterus.
“Dan tempat ini...tempat biasa orang di rawat di Akademi,” jawabnya.
Perempuan bernama Ellia itu tersenyum hangat nampak manis di tambah gigi putihnya. Zen menatap lagi sosok Ellia; Ia tak habis pikir jika ia masih berada di Akademi, Jika asumsikan secara kasar yang paling parah adalah ia dapat saja Koma dengan Kejadian kemarin, yang tak tau sudah berlalu berapa lama.
“Sudah berapa lama Nona Ellia, aku...tertidur di tempat ini,” tanya Zen.
“Hmmm..Jika dipikir-pikir, Sepertinya sudah tiga hari kamu berbaring di tempat ini.”
“Begitu yah,” balas Zen seadanya.
Zen tak sangka ia tertidur selama tiga hari di tempati ini, dan lagi ia benar-benar tak ingat sama sekali kejadian sebelumnya, Ia hanya mengingat kejadian yang menurutnya delusi belaka dan bertemu dengan Sosok yang menyebutkannya Libia. Zen sama sekali tak pernah mengingat sosok Libia, bahkan menurutnya sendiri jika ia tak pernah sama sekali bertemu dengannya sebelumnya. Tapi satu hal yang membuat Zen ragu, ada rasa Familiar di matanya dan juga De Javu perasaanya sendiri dengan orang itu.
“Apakah semua itu hanya mimpi, tapi terasa sangat nyata,” batin Zen.
Terkadang semua kejujuran perasaan tak berlaku akan Ujaran kata-kata. Inilah yang di rasakan Zen, Ia tak peka akan perasaanya sendiri. Justru, Ia lebih peka akan hal-hal yang logis berbaur pengetahuan dari pada perasaan batin – mungkin inilah yang namanya bersikap Kritis.
"Tunggu sebentar...Aku akan memanggil Seseorang orang dulu.”
Tak ada respon dari Zen, Ia hanya diam melihat keluar jendela yang di tutupi oleh Kain gorden berwarna putih yang panjang di biarkan begitu saja terbawa angin yang berhembus. Zen memperhatikan dengan Intens, ia memikirkan hal-hal yang di katakan Oleh Libia sebelumnya. Hal yang tak luput dari perasaan, tak dapat di jelaskan. Justru...padahal Zen bertanya, apakah ada sesuatu yang salah. Pandangannya lagi-lagi menatap diam melamun ke luar jendela persegi cukup tinggi itu.
Angin berhembus lebih kencang sebelumnya, rasanya seakan terbawa dengan hembusan sejuk menerpa. Ia sepertinya mengevaluasi dirinya sendiri seolah-olah ada sesuatu yang harus membuatnya untuk di Instrospeksi, ia lagi-lagi di landa emosi yang beragam – menatap Langit-langit kamar yang Dominan nya itu adalah putih.
“Apakah malam ini, akan ada bulan lagi,” guman Zen.
...
Kearah lurus sana, Pintu kamar yang di tempati Zen saat ini terbuka. Memperlihatkan empat sosok berbeda umur berjejer, membuat tampang eksperesi berbeda mereka. Nampak, Hendrick yang memegang kedua lututnya dengan buruan napas yang menerka padanya. Lalu di sampingnya, tiga orang memperhatikan pemuda yang kaget atas perbuatan mereka sendiri; mata saling memandang satu sama lain, di lain sisi Hendrick berjalan mendekat.....hingga memeluk dengan keras sosok Zen – Sanga empu kebingungan.
“Syukurlah kamu sudah sadar Zen.”
“Apakah Hendrick selalu memikirkanku...“ batin Zen.
Ia cukup sadar dengan kejadian ini, saat itu berlalu bukan hal yang harus di tinggalkan, dan inilah rasanya rasa rindu mendalam dan juga kekhwatiran seseorang. Ia tak habis pikir jika hendrick akan seperti ini, jika ia bertanya hal yang di pungkiri mungkin inilah jawaban dari semuanya. Dan soal perasaanya yang rumit terasa ada titik terang, akan hal yang di rasakanya itu.
“Maaf sudah membuat kalian semua Khawatir,” ujar Zen sendu.
“Maafkan....ayahmu ini Zen...Telah melibatkan semuanya ini padamu,” ucap Paman Sebastian tak kalah sedih.
“Sudahlah ayah...semestinya aku lah yang Justru berterima kasih padamu; mungkin ini terkesan mementingkan perasaanku sendiri, tapi Kejadian inilah membuat aku menyadari sesuatu, hal penting yang harus ku lindungi,” ucap Zen tersenyum.
Jendral Lucas yang menatap Zen tersenyum pun, menyinggung-kan senyumnya yang sama. Tak terasa jika semua kejadian ini adalah hal terbaik untuk semuanya. Jika itu adalah dirinya, mungkin ia akan memberontak tak mempedulikan dengan apapun. Tapi...tak terasa jika ini membuat hal baik terjadi pun datang.
“Selamat....Telah datang kembali Zen,” ucap Jendral Lucas.
“Terima kasih Master,” jawabnya.
“Zen sepertinya kita harus membuat pesta untuk menyambutmu, bukankah begitu ayah.”
“Yah, sepertinya begitu....Bagaimana menurutmu Zen.”
"Hmmm...Iyah,” balas Zen.
Perasaan hangat yang sekarang ini ia rasakan, apakah semua yang di katakan Libia adalah benar. Hal yang perlu ia ingat agar tak menyia-nyiakan sesuatu, dan juga tidak selalu menilai dengan pemikiran semata, tapi hal yang harus di perhatikan adalah sesuatu yang hati yang dalam.
“Sepertinya kalian sungguh Bersenang-Senang, disebabkan Zen kamu sudah pulih, kamu bisa keluar besok karna kondisimu yang mungkin satu atau dua hari sudahlah stabil.” Dari arah belakang.
“Terima kasih Nona Ellia,” Jawab Zen.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Note;
.......Healing Magic; salah satu sihir tipe Controller yang mengandalkan Konsentrasi pikiran yang lumayan dan pembagaian mana dalam hal Struktural Aktifasi sihir menggunakan aksara Rune. Tapi, dalam hal ini — Magic ini terbilang sulit untuk di jelaskan, di satu sisi menggunakan Manipulation seperti sihir tipe Elemental, tapi sisi lain menggunakan Controller karna Memanifestasion Rune Magic. Walau begitu tapi beda halnya Jika orang sudah Mahir atau Ahli dalam Healer, mereka tak perlu menggunakan Aksara Rune sebagai penghubung baik itu untuk Pemulihan Fisik maupun [Mana] Sendiri untuk di gunakan. Singkatnya saja, sihir ini masuk kategori dua sihir Tipikal yang berbeda, tapi di sudah di ketahui dengan jelas jika Manipulation Elemental adalah sihir yang fokus pada Magic Elemental, bukan sebagai Magic Lainya.
Secara garis besar, kenapa sebagian seorang Healer dalam artian Ahli, tak menggunakan atau memerlukan Aksara Rune sendiri. Secara umum sudah dapat ketahui jika Rune Magic di gunakan untuk menghubungkan antara Pikiran dan juga Spell di keluarkan, jadi dalam kasus ini, seorang yang ahli tak memerlukan itu semua karna pembiasaan mereka atau lebih tepatnya Magic Controller mereka atau manipulasi sendiri terbilang di atas rata-rata atau tingkatan yang cukup.