
“Bagaimana cara kita masuk...”
“Tentu saja hancurkan bukan!”
“Apa gate ini bisa di hancurkan...”
“Tentu saja bisa, dengan kekuatan aku bukan.”
“Dasar, percaya diri sekali kamu.” Menatap datar kearah Morlex; yang ilusinya di umpamakan hidungnya seperti pinokio, dengan menonjolkan badan seolah-olah ia adalah yang terhebat.
“Hahahahaha...”
“Aneh.”
Tiga orang yang lagi melakukan pembicaraan ringan yang mungkin di dengar, di anggap perdebatan. Peter, Hendrick, dan Morlex, seakan-akan tak jenuh dengan kondisi semua orang saat ini, memikirkan bagaimana mereka melewati Gate terakhir yang berbeda dengan gate yang lain. Meskipun sebenarnya, mereka tak mencoba dengan hal-hal yang di pikirkan saat ini, entah bagaimana masing-masing berpikir, tetapi pada satu tujuan keluar dari tempat ini secepat-cepatnya.
“Akan kucoba...” Zen yang menjadi pusat indikasi – masing-masing mengeryitkan dahinya.
“Aku memikirkan beberapa kemungkinan, jadi...akan kucoba...” jelas Zen.
Semua mengangguk mengerti, walau mengerti tanda artian tak sepenuhnya, namun mereka cukup memahami maksud dari Zen. Hal itu memungkinkan jika Zen yang lakukan, atau keluar dari mulut anak berambut putih ini, yah, karna di kelompok ini yang paling berdedikasi bisa di katakan Zen sendiri secara dominan, walau Leonhart yang di anggap sebagai pemandu koordinasi satu sama lain; tentu Leonhart pun mengakui itu semua. Jika di flasback, Zen selalu menjadi otak dari semua ini, terkadang mereka berpikir bagaimana Zen dapat memprediksi hal-hal rumit yang demikian susah untuk di pikirkan, seperti kejadian di gate ke-empat yang mengharuskan mereka memecahkan sebuah teka-teki rumit, hampir menyamai sistem mekanisme di buat bangsa Dwarf jika di analogikan.
Maju dengan santai, sebuah bulatan ruang kecil termanifestasi di pinggir atas Zen melayang, bulatan lingkaran keluarlah katana yang ia gunakan. Posisi kuda-kuda seorang Swordman terlihat, dengan uluran katana kebelekang seakan bersiap, hendak memegang.
[The Third Technique Sword Art]; Kamaitachi.
Serangan tebasan dengan efek lingkup terbilang luas dengan ribuan slash akibat dari percepatan yang tak lain dan tak bukan termanifestasi oleh Zen sendiri, hal ini pun tak terlepas hal yang sudah ia sempurnakan sewaktu menyadari beberapa kelemahan yang telah ia evaluasi, sebelum masuk ke akademi. Jengkal hening, ribuan bahkan tak terhitung jumlahnya serangan tak terhingga menerjang dengan kecepatan sonik bahkan hampir menyamai supersonik – anggapan teknik dasar [Sword Art] yakni Slash, di ubah yang ia memodifikasi, dari beberapa teori yang ia pikirkan.
Swuss....
Bumm...
Debu bertebaran di udara memenuhi sela-sela tontonan yang ada, menjadi pusat sentral mata melihat. Namun semua itu, seakan runtuh, ketika dengan iris pasang masing-masing seolah tak percaya, realiti dari kondisi Gate yang satu ini. Sebuah portal Rune Berwarna ungu yang berdiameter cukup besar, dan lagi pelindung kokoh transparan; menjadi dua lapis yang terlihat seolah-olah melindungi gerbang terkahir dari serang yang di lancarkan oleh Zen.
“Sepertinya apa yang di beritahukan Zenos memang benar,” guman Zen.
“Sudah kuketahui semuanya...” Menatap masing-masing, yang bungkam tak berbicara.
“Bisa kalian lihat, jika Rune berwarna ungu itu seolah-olah menjadi pertahanan mutlak, sebagai pendukung dari pelindung transparan di depanya; hal itu pun terbukti, jika Rune Itu seakan menjadi objek yang dapat memperlemah sihir yang di lancarkan, dengan kata lain tak ada sihir apapun atau teknik apapun yang dapat menghacurkan pelindung transparan disana..” jelas Zen.
“Jika begitu, bagaimana kita keluar dari Sistem ini...”
“Apakah ada solusinya Zen...” tanya Near.
“Hmmm...aku masih berpikir, namun menurutku jika Rune itu dapat, langsung di tangani saja oleh Esline bukan.”
“Ya, aku bisa tangani itu, masalah muda,” jawabnya langsung.
“Tapi, mungkin hanya prediksiku saja, tapi hal ini terbilang cukup yakin jika ini tak hanya sekedar dari itu, jadi harus waspada.”
Kerutan di kening mereka semakin menjadi-jadi, tapi hanya anggukan sebagai respon masing-masing, toh, bukanya mereka menyakini bagaimana kemampuan Zen.
“Apa yang membuat kita semua harus mewaspadai hal itu..aku benar-benar tidak mengerti maksud kamu Zen,” tanya Guinevere serius.
“Entahlah, ini masih prediksiku saja, tapi aku cukup meyakini.”
***
Di salah satu ruangan, di jadikan sebagai tempat yang di katakan, ruangan dari kepala sekolah ini. Seorang pria paruh baya, dengan teh hangat yang uapnya masing mengepul di sela-sela ujung hidung, sembari menyesap di balik gelas yang di pegang, menikmati dengan pelan-pelan kenikmatan sudah terbiasakan itu. Didepannya, seorang laki-laki dengan tatapan datar, tak menyenangkan ia tunjukan. Ia masih dengan tatapan datar namun Intens, menatap secara lurus apa yang lihat. Tak ada merespon satu sama lain dari dua orang berbeda ekspresi itu, namun laki-laki pria paruh baya cukup mengerti di balik tampang datar laki-laki di depanya.
“Ada kedatangan apa Instruktur Hagrid menemuiku?” Masih santai dengan teh yang ia minum.
“Apa yang membuatmu menjadikan mereka, uji coba seperti itu Instruktur Ernest?” ucap yang langsung to the poin.
“Aku...juga tak tahu..”
“....”
“Kamu tidak usah memikirkan hal-hal rumit seperti itu, jangan memandang enteng mereka semua bukan.”
“Ini semua, sungguh di luar batas Instruktur Etnest,” sanggahnya dengan geprakan meja yang ia lakukan.
“Aku mengerti, aku mengerti, aku mengerti...namun jika kamu melihat sendiri realita sebenarnya, mungkin kamu akan tersenyum Hagrid.”
“...Dan baru kali ini, aku melihat Instruktur Hagrid, terbilang sosok yang tenang cukup mengeluarkan emosi..”
“Jangan mengelak dari pembicaraan utama Instruktur Etnest, aku tahu jika Lingkaran Rune berwarna ungu pada tantang terakhir lebih tepatnya Gate Terakhir, anda mempunyai dalih tersembunyi bukan.”
“Bukan hanya memperlemah sihir, tapi menghisap sihir dan juga menyimpannya, walaupun Rune sihir itu rusak, ia secara otomatis akan di transfer ke suatu tempat,” ucapnya lagi menatap tajam Instruktur Etnest.
“Huh...kamu benar-benar jeli sekali Instruktur Etnest.”
“Yah..jujur saja aku membutuhkan [Mana] yang kuat untuk sebuah proyek yang lagi di kembangkan, dan lagi itu Rune itu hanya dapat mengkonversi sihir seseorang menjadi [Mana] yang dapat di gunakan.”
“Tapi itu tetap saja bukan...”
“Ya, ya, aku tahu, tapi ini sudah terlanjur, tak dapat untuk cegah atau menghentikan semua ini.”
“Huh..kamu benar-benar, aku sama sekali tak mengerti pemikiran kamu Instruktur Etnest..”
“Di luar kamu bersikap seperti biasa kebanyakan orang, namun....katak di balik tempurung, Instruktur Etnest.”
“Haha...kamu sepertinya begitu memahamiku Instruktur Hagrid, tak kukira.”
“....Terserah, ku peringatkan saja, jagalah sifat mu itu agar tidak ketahuan.”
***
[Unique Magic Of Unique Skill]; Rune Formation Destruction.
Spell yang di ucapkan Esline tak dapat di ganggu gugat, cukup mencengangkan untuk di lihat. Genggaman tangan seakan ingin menghancurkan, yang ia lunjurkan kedepan, walau tak di sangkal juga hal ini terbilang sulit, memecahkan aksara-aksara Rune yang di anggap mustahil untuk di lakukan, namun beda namanya jika itu orang yang berspealis. Terbukti, bulir-bulir keringat dengan raut di pelipis, wajah yang mengerut terlukis jelas di anak berambut pirang terang itu. Ia masih fokus untuk menghacurkan formasi portal ungu yang tak terlihat tadi, sedikit terlihat.
“Ini... sangatlah susah...” ucapnya lirih seperti menahan.
“akan kubantu..” Lusi berkata.
“Rune Formation Destruction.”
“Terima kasih, Lusi...”
“Ya..” Tersenyum manis.
Orang menjadi tontonan, hanya melihat dan juga menyimak dua orang segender itu di depan mereka. Mereka semua sangat yakin, akan kesulitan dari ini semua, yang hampir di anggap mustahil untuk di selesaikan, bahkan faktanya sendiri jika itu akan membuat si pengguna akan menjadi gila jika terlalu berlebihan. Sedikit perkembangan, ada sebuah retakan kecil yang terlihat dari portal besar itu, lalu secara sedikit dramatis menjalar hingga retak keberbagai arah, hingga berselang hancur, membuat sorakan dari mereka semua.
“Huh... akhirnya..
“Kalian berdua memang hebat..”
“Aku salut...”
“Jangan terlalu mendramatisir juga Peter.” Hendrick menatap datar.
“Yosh, ternyata dapat keluar juga dari tempat ini.” Morlex mengangkat tanganya tinggi-tinggi, seolah-olah berseru ‘Hore.’
“Terimakasih Lusi, Esline,” ucap Guin tersenyum Lembut.
“Tidak apa-apa, ini semua kan untuk kepentingan kita bersama, dan juga aku senang membantu.”
“Benar apa yang di katakan Lusi, ini semua untuk kita semua bukan..”
“Esline kamu tidak apa-apa kan..”
“Tidak lah Anatasya, jangan menganggap aku ini lemah yah...ini cukup mudah di lakukan,” seruanya.
Benarkah? bukanya tadi kamu kesulitan.”
“M-masa sih aku kes----”
“Kalian jangan senang dulu, lihatlah kesana masih ada pelindungnya, kita hancurkan pelindungnya baru kalian lakukan semua ini,“ Lumire dengan nada datar, langsung di tatap oleh semua orang.
“Benar apa yang di katakan Lumire, jangan bersenang-senang dulu, ini masihlah belum selesai,” tambah Leonhart.
“Bukanya hanya hancurkan, mudah bukan..”
“Ya, benar hanya menghacurkan, bahkan kita tadi sangat mudah menyelesaikan tantangan yang ada sebelumnya,” ucap Peter setuju dengan ucapan Hendrick.
“Huh...jangan terlalu memandang segala sesuatu,” ucap Zen menanggapi.
“Kita seharusnya serius dalam melakukan semua hal..”
“Jadi apa yang harus di hancurkan Leader,” ujar Hendrick.
“Leader? Siapa?”
“Kamulah...”
“Ehem, ehem...baiklah jika begitu, sepertinya kita hancurkan saja,” terang Zen.
“Baiklah...ayo kita hancurkan..”
•
•
•
“Hah-hah-hah...ini sangat susah..” seruan napas terdengar di telinga.
“Satu kali lagi...”
Bruk...
“[Mana] ku habis...kuserahkan pada kalian saja..”
“Aku pun sama, sepertinya pelindung ini lebih susah dari formasi tadi,” kata Esline.
“Ya, aku pun setuju denganmu.. seolah-olah badanku sakit, menggunakan [Mana] berlebih”
“Sihir Witch tingkat tinggi pun tak dapat di menghacurkanya..”
Nampak semua yang ada kelelahan yang berarti, sudah menggunakan semua jenis sihir baik bersifat destruktif maupu superior, yang di lancarkan hanya untuk menghancurkan pelindung kokoh di depan tak jauh dari mereka, yang masih terlihat baik-baik saja. Mereka masih mengeluh bahkan mengumpat tak jelas untuk pelindung yang tak tahu apa-apa ini.
“Sepertinya aku harus turun tangan..”
“Zenos apakah kamu mempunyai solusi?”
[Menjawab; Pelindung tersebut di katakan Barier tingkat tinggi yang menggunakan [Mana] tipe Sage untuk memperkokoh semua yang ada, dan kemungkinan tak dapat menghancurkan dengan sihir bersifat masif maupun magic tingkat tinggi lainnya, namun bisa menggunakan tekanan tinggi digunakan.]
“Jadi begitu, tapi menggunakan tekanan tinggi, apa yah.”
“Baiklah akan kucoba,” guman Zen pelan.
Zen melihat mereka semua yang lemas, sehabis menggunakan sihir mereka, baik dari sihir tipe Elemental ataupun sihir tipe lain – tak dapat menghacurkan seperti yang di harapkan. Zen yang tadi hanya diam mengawasi maupun mengamati, tentu evaluasi pun tak terlewat dari apa yang di lihatnya, Zen di katakan tipe orang yang sangat tenang dalam menghadapi kesusahan atau situasi apapun, seperti tipe Zen suka berpikir matang sebelum bertindak.
“Zen apa yang kamu lakukan..“ Near lekas untuk berdiri.
“Mencoba,” jawabnya singkat dan jelas.
“Mencoba?” beo Near.
Maju beberapa langakah kedepan, regangan tangan terlihat, memikirkan beberapa konsep dan juga imajinasi secara bersamaan. Hal yang terbiasa bagi Zen untuk dilakukan, tak di pungkiri ini pun menjadi kelebihan dari anak berambut putih ini, namun bukan secara pandangan yang kita asumsikan, bahwa Zen itu Jenius, tapi....Jenius di atas para jenius.
[Unique Magic]; Free Air The Breakwater.