My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 19. Fighting Training



TIT...TIT...KRING...KRING.....KRING...


Matahari menyinari di kamar seorang pemuda yang masih di temani dengan mimpi indahnya, rambut putihnya yang begitu kita kenal. Sosok Zen di bangunkan dengan Suara Alarm Jam Weker yang ia buat semalam, berada tepat disebelahnya. Terpaksa sang Empu langsung dengan malasnya membuka matanya, memperlihatkan Iris Biru laut yang indah. Dengan jalan gontai yang terasa berat melangkah Ke kamar kecil melakukan Rutinitasnya Sehari-hari.


Seperti Biasa Sarapan Pagi menjadi Kegiatan Rutinitas bagi keluarga Charlotte sendiri, semua berada di tempat masing masing dengan santai memakan makanannya. Zen yang turun dengan baju Casualnya seperti biasa yang ia kenakan dengan Rompi berwarna biru yang nampak serasi. Lalu sosok Hendirck dengan sapaan Hangatnya yang selalu di ingat oleh Zen dan terakhir perdebatan Antara Susan dan juga Isabella, menentukan di mana tempat Zen pantas untuk duduk.


"Zen apakah kamu sudah memutuskan akan memasuki akademi?" Sambil menghentikan memasukan makanan ke mulutnya.


"Sebenarnya Ayah, aku sudah mempertimbangkannya dan sudah kuputuskan aku akan memasuki Akademi."


Sebutan Ayah yang keluar dari mulut Zen mengejutkan Sosok Sebastian, ia yang selama ini memaksa Zen menyebutnya dengan sebutan ayah tapi selalu di tolak mentah-mentah oleh Zen Sendiri dan selalu menyebutnya dengan sapaan dekatnya yaitu dengan paman Sebastian.


"Sudah ku katakan ayah Jika Zen akan masuk" Ujar Hendrick.


"Iyah..Iyah aku tau" Balasnya.


"Apakah kak Zen akan memasuki akademi" Ucap Susan dengan tatapan murung.


"Jadi kak Zen sudah tidak ingin bertemu dengan Susan."


"Tidak kok, kak Zen hanya ingin menjadi orang berguna di masa depan nanti dan melindungi Susan dan juga Keluarga baruku" Balasnya dengan Senyum hangatnya.


"Nanti ketika Ulang tahunmu akan ku berikan kejutan yang spesial pada Susan, apakah Susan mau."


"Yah..Susan mau" Balasnya dengan Senyum Gembiranya.


"Susan Anak baik" Sambil mengelus-elus kepala perempuan bertubuh mungil di sampingnya.


"Kalau begitu Zen, aku akan membawa orang melatih seni bertarungmu dan juga Hendrick."


"Mungkin sebentar lagi ia akan datang" Tambahya.


Zen juga Sesungguhnya tau dengan ucapan yang ia keluarkan, ia tersadar akan ucapan paman Gazel sebelumnya, pembicaraan sebelumnya itu membuat Hatinya sedikit terbuka. Ia tak boleh menyia-nyiakan apa yang menjadi dimilikinya sekarang, keluarga yang begitu ia dambakan dan juga Saudara yang selalu menebar kasih sayang. Walau sedikit Ambigu, tapi Zen mempunyai tekad yang kuat yang tertanam di Hatinya ingin melindungi orang yang pantas untuk di lindungi.


"Baik Ayah" Ucap mereka berdua serempak


o0o


Di Lapangan yang luas, tiga sosok pasang mata yang saling memandang. Dua remaja memandang seorang pria paruh bayah dengan Armord berwarna Silver di badan kekarnya. Rambut hitam dengan Kulit Saw matangnya dan tatapan tajamnya seolah menyelidik di setip sudut jengkal dari dua pemuda yang ada di hadapannya, begitu juga dengan dua Remaja yang berdiri tegak di lapangan, mereka takkala memandang tajam dengan pria yang ada di hadapan mereka.


"Kalian yah yang ingin ku latih...Sepertinya Sebastian keparat ingin aku mengajarkan seorang bocah rupanya" Ujarnya.


"Jangan menghina Ayahku Pria Tua."


"Hohoho...rupanya Ini anaknya, seperti ia tak tau berbicara dengan Siapa" Balasnya dengan Senyum Sinis.


"Kamu..." Geram Hendrick.


Sedangkan untuk Hendirck, rupanya ia harus mengevaluasi lagi gerakan bertarungnya dalam Sword Art nya walau ia tak mau.


"Baiklah...Cukup basa-basinya, panggil namaku dengan Master Lucas."


"Master Lucas~" Ucap mereka berdua serempak dengan tatapan datar.


"Bagus..mari kita mulai pelatihannya."


"Hmmmm...aku mulai dari mana yah. Oh yah.. apakah kalian pernah mendengar Martial Art" Tanyanya.


"Seni Bela diri" Jawab mereka berdua.


"Benar....Seni bela Diri."


"Biar ku Contohkan" Sambil melangkah ke pusat lapangan yang berbentuk Arena di depan.


Bagi Seorang Kesatria Martial Art menjadi hal lumrah bagi mereka, sudah lazim melekat dalam kehidupan. Seorang kesatria sendiri mempunya Dua Class dalam Klasifikasi baik itu sihir maupun Fighter Art atau seni bertarung; Magic Knight secara umum menggunakan magic dan juga Martial Art, dua bentuk dari segi menyerang dan juga bertahan. Magic yang dikuasai juga beragam sesuai dengan kemampuan Individu yang di maksud, dengan empat tipikal Sihir kemampuan. Sedangkan dalam Segi bertarung sesuai dengan Senjata yang mereka pakai dengan julukan masing masing misalnya Sword Art atau seni berpedang.


Ordinal Knight di kenal dengan Individu yang lebih menggunakan Martial Art dari pada Tipikal Magic, karna Hanya orang di Anugrahi lah yang mempunyai Tipikal sihir yang ada. Tapi di lain sisi [Mana] sendiri, mereka masih bisa di gunakan dan Berlaku tetap bagi Semua yang ada.


Dalam Martial Art, Para Sarjana Sihir Sepakat membedakan dengan beberapa kelas, misalnya Seni Berpedang. Seperti yang di ketahui seni berpedang menggunakan pedang Sebagai senjata. Tapi, kalian jangan salah sangka dulu jika Setiap kelas yang di bedakan tak cukup kuat ketika berhadapan dengan Orang yang menggunakan sihir yang disebut Magic Master.


"Dalam diri manusia mempunyai akan halnya Namanya Bakat, baik itu sihir maupun Bakat lain, bagi Seorang Ordinal Knight di sebutkan harus menguasai satu jenis Martial art yang terdiri dari Sword Art, Asassin Art, Marksman Art, dan terakhir Tank Art" Jelasnya.


Zen dan juga Hendric mendengar dengan saksama, walau Hendric yang telah belajar selama pelajaran di Akademi, tapi perlu di ketahui. Akademi tidak hanya Condong pada seorang kesatria melainkan juga Condong ke bidang lain misalnya pemerintahan dan juga Sarjana Sihir; Atau lebih tepatnya pada Tahun pertama para murid di wajibkan mempelajari pelajaran umum tapi tidak Ke bentuk militer.


Hingga pada tahun pembelajaran kedua di berikan Sebuah pemilihan kelas, memilih untuk melanjutkan atau memasuki militer dan menjadi seorang Kesatria. Di dunia ini kesatria sangatlah di pandang bagi Umat Manusia, sama halnya dengan Seorang yang menggunakan magic. Bahkan tak tanggung tanggung seorang kesatria bisa saja melampaui Seorang pejabat yang memimpin satu kota sekalipun.


"Apakah Kalian mengerti" Ucapnya.


"Mengerti Master" balas mereka berdua sedikit acuh


"Kalian bisa memilih senjata Kalian yang menurut kalian lebih bagus kearah mana" Sambil menunjuk ke arah meja didepan yang tersebar masing masing senjata.


"Setelah kalian memilih kelas...kamu berdua bisa istirahat sebelum melanjutkan pelatihan Selanjutnya."


Sama halnya bagi Zen dia bingung dengan pemilihan kelas yang sangat jauh dari Militer di dunianya. Itu juga terlihat dengan Hendric yang keningnya mengerut, melihat kearah senjata yang terlihat jelas.


Hendric yang pernah belajar Sword Art ketika masih kecil sebagai hal dasar bagi anggota kerajaan, ia tak tak suka dengan pedang yang agak berat, tak sesuai dengan kebutuhannya.


"Hei Zen,apa yang akan kamu pilih sekarang" Tanyanya.


"Entahlah..Aku masih belum tau."