My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 13. Opsi Masuk Akademi



Seorang Remaja yang berjalan di koridor dengan sendirinya, rambut Coklat panjangnya yang menutupi sebagian Keningnya, mata Hijau Zamrud yang indah menambah kesan Tampan dan juga menawan. Tak Henti hentinya ia tersenyum lebar, takkala itu apa yang akan terjadi selanjutnya arti dari senyum lebar itu; Bukan hal secara garis besar yang ia pikirkan tapi Tujuan ia melangkah kaki ketempat orang yang akan ia temui ini.


Hendrick Sendiri yang dari Tadi ingin mengajak saudara Angkatnya Zen berkeliling di kota. Bukan tanpa sebab ia melakukan itu, janji yang di berikan Ernest sendiri lah; Rancangan Senjata yang mereka inginkan akan di buat itulah janjinya. Ia membawa Beberapa Selebaran yang ia pegang sebagai Tanda Rancangan dari Yang ia miliki, Susan maupun Isabella kakaknya dan yang belum lagi....adalah Zen.


Terlihat Zen yang duduk sambil membaca Buku ada di kamarnya, keseriusan terlihat di matanya; Hendrick masuk tanpa Zen berpaling, tersenyum akan hal itu ia melangkah dengan Senyum jahatnya diam diam sambil mengendap-endap Langkah ia Rasa-rasa itu. Posisinya berada di belakang Zen tempati.


"Ada apa Hendrick" Langsung saja Suara yang menusuk ketelinganya membuat semua Apa yang ia lakukan berantakan total. Senyum jahatnya tadi mengisyaratkan membuat sang Remaja berambut putih itu terkejut, bukan terkejut melainkan sebagai Game kejutan, tapi orang yang merencanakan semua itulah yang kembali menjadi sasaran “Senjata Makan Tuan.”


"Eh...tidak apa,tidak apa...Hehehe.." Jawabnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Zen, kamu bisa Antar aku tidak,setidaknya sih menyegarkan pikiran, dari pada di dalam Terus"


"Sebenarnya kamu mau pergi kemana, bukanya Ayah Sebastian Selalu tak pernah mengijinkan Kita semua Bermain Di luar kediaman" Balasnya.


"Kalo itu sih aku sudah Minta Ijin sama Ayah dan soal pergi kemana R.H.S."


"R.H.S?" Kening Zen sedikit mengeryit


"Rahasia, Hehe.."Jawabnya Cepat seakan tau apa yang Zen Pikirkan.


R.H.S. kepanjangan dari kata 'Rahasia', tapi Hendrick sedikit mempermainkan Remaja berambut putih itu dengan kata katanya, walau Zen sendiri tak terlalu mempedulikan apa yang di lakukan Remaja berambut Coklat yang ada di hadapannya. Ia merasa takkala apa yang di lakukan Hendrick sendiri cukup membuatnya terhibur.


"Ayo aku juga bosan di dalam terus, hehehehe.." Ucapnya tertawa tipis.


"Hmmm...aku ingin tanya sama kamu Zen, kamu ingin masuk akademi tidak. Soalnya dua Minggu dari sekarang Masa Libur akademi berakhir."


"Aku juga tak tau" Balasnya


"Bagaimana kalo kamu masuk saja, setidaknya kita kan Seumurun"


"Terserah padamu Saja" Jawabnya


"Oh..Soal Rancangan Senjatamu itu, apa Sudah selesai."


"Disebelah sana" Jawabnya langsung sambil menunjuk kearah kertas yang ada di atas meja dan matanya masih Fokus bukunya.


Zen Menutup Buku yang ia baca berdiri diatas kursi yang ia gunakan lalu berjalan menenteng Bukunya dan menaruhnya dengan Rapi di atas rak rak buku yang berjejer, ia berjalan Di ikuti Hendirck dari belakang sembari menceritakan pengalamannya di akademi dengan Tujuan membuat Sosok Zen tertarik dengan namanya akademi. Kenyataannya sendiri Hendrick meminta Ayahnya memasukan Zen ke akademi Yang ada Di Kota Aliance City; Merupakan Salah Satu Sekolah Sihir dan kesatria terbaik yang pernah ada.


Berjalan di Lorong dengan Tiang Tegap sebagai Pondasi atas dari bangun di lewati, tak kiranya walau sedikit Cukup baginya merasakan apa yang namanya kebahagian; Zen merasa bersyukur dapat tinggal di kehidupan lain ini,merasakan apa yang namanya dengan Kehangatan keluarga maupun kasih sayang.


"Zen Sebenarnya kamu bisa sihir apa tidak sih, aku begitu penasaran dengan Sihirmu itu dan kamu tak pernah sama sekali menunjukkannya" Tanyannya.


"Kalo itu sih aku tak bisa jawab" Balasnya.


"Eh...Kenapa?, aku penasaran tau...."ucap Hendirck.


"Ayolah...kita kan saudara" Tambahnya dengan senyum terkekehnya itu.


"Hah...kamu ini" Balasnya sambil menghela napas.


Langsung saja Zen mengangkat jari telunjuknya pada tangan kanannya, tak tau apa yang ia lakukan. Api berwarna Hitam Langsung saja muncul di atas Jari telunjuknya itu, disusul dengan Jari Telunjuk kirinya yang mengeluarkan Sebongkah Es, membuat Badan Hendrick sendiri, menggigil dengan aura dingin yang ia keluarkan.


"Sihir Elemental, kau menguasai sihir Elemental" Ucapnya tak percaya.


"Um, lebih tepatnya Sihir Elemen Api dan juga Es"jawabnya.


"Aku tak habis pikir Zen kau dapat menguasai dua Sihir Elemen."


"Jadi,apakah kamu juga sama" Tanya Zen dengan sikap orang yang ada di hadapannya ini.


"Yup...Sihir Elementalku adalah angin."


"Apakah hanya angin Saja" Balas Zen.


Zen Sebenarnya Tak ingin menunjukan Kemampuannya itu yang Harus ia sembunyikan, menggunakan dua Sihir Elemental yang berbeda dan saling berbanding terbalik; Sihir Es yang ia keluarkan, yang sudah ia tekan di atas 0° C Dan Elemen api dengan Spesialis api terkuat yaitu [Black Flame] ia kendalikan sampai Radiasi panasnya di atas batas aman. Bukan hanya satu satunya kemampuan yang di miliki Zen saat ini, ia masih menyembunyikan kemampuannya yang lain tak luput untuk keselamatan ia sendiri maupun orang terdekatnya.


"Hendrick aku Sebenarnya begitu penasaran dengan Kapasitas [Mana] aku ini, jadi boleh aku tanya dimanakah tempat yang Cocok untuk mengukurnya."


"Kalo masalah itu Sih kebanyakan di Asosiasi Guild petualang, mungkin kamu bisa meminta bantuan Ernest" Jawabnya.


Zen Sebenarnya telah di Tawari oleh paman Sebastian itu sendiri, lebih tepatnya ayah angkatnya untuk memasuki Akademi terbesar yang ada di kota Aliance City. bukan hal tak mungkin, sudah tiga hari penuh ini, ia memikirkan sampai sampai Zen sedikit pusing dan juga Dilema di buat karnanya. Zen sendiri tahu bahwa Akademi sendiri Cukup membuat ia mendapat berbagai informasi selain berasal dari Buku Perpustakaan yang ada, tapi di satu sisi ia harus berurusan dengan apa yang tidak tidak.


Sudah Seminggu ia melakukan hal dengan membaca Buku, hampir semua buku yang ada sudah membacanya, rasa ingin tau yang begitu tinggi yang terlihat; Zen juga tak tau apa yang membuat ia begitu Antusias, merasa seperti ketagihan, ketagihan dan ketagihan, aneh bukan!


Entah sudah berapa lama ia belajar Sihir Secara Otodidak dari Zenos yang tak lain Sistem Analisisnya itu, apa yang Zenos jelaskan membuat ia begitu paham bahkan lebih rinci lagi. Tapi Zen akui ia sedikit kesal juga dengan Sikap Zenos yang begitu datar bahkan seperti berbicara dengan Tembok.


"Zenos Bisakah kamu menganalisis kekuatan Hendrick" Batinya. Zen sedikit penasaran dengan orang yang berjalan bersamanya ini, rasa penasaran inilah membuat ia begitu gelisah, gelisah karna apa yang ingin ia ketahui sepertinya terhambat.


[Dimengerti].


[Analisis Data Di Mulai].


0%...25%...50%...75%...100%


[Analisis selesai].


[Data akan langsung Di Kirim ke Otak Pengguna].


Seperti biasa Analisis yang di lakukan Zenos begitu cepat, mengantikan Analisis Orang jenius sekalipun. Begitu membantu bukan!!!!.


Name: Hendrick Van Charlotte


Age: 16th


Iris Color: Hijau Zamrud


Skin Color: Putih Bersih


Hair Color: Kecoklatan


Affilition: Pentagrom Empire


Unique Skill (Compement): [Inner Feeling]


Second Skill: [Sensorik]


Magic Elemental: [Wind]


Martial Art: [Sword Art]


Mana Capacity: A+


Tipikal Magic;


•Magic Element And Manipulation: A+


•Magic Controller: A-


•Summoning Magic: F (Tidak Ada)


•Magic Sealing: C+


"Hmmm...Lumayan Juga."