
“Kak..! kak..! sadarlah,” suara seseorang yang menggema ditelinga.
Samar-samar suara seorang perempuan yang tak dapat di perkirakan umurnya menyadarkan seorang pemuda yang tergeletak seperti pingsan di jalanan, lebih tepatnya di atas tanah bersemu kotor nan berdebu. Pemuda berambut putih salju sedang tidur tak sadarkan diri dan di tapuk-tepuk oleh seorang perempuan bertubuh mungil atau lebih tepatnya orang yang ingin menyadarkan itu.
“Hmmm....” gumam secara sadar begitu pelan yang keluar dari mulut Sang Pemuda.
Mata yang begitu indah terbuka menatap seorang anak kecil berambut pirang yang memandangnya penuh Kekhawatiran, pemuda itu menatap anak yang depannya dengan perasaan bingung, tak menutup kemungkin terlihat di wajahnya. Biru Laut itulah warna mata dari pemuda itu, mereka berdua saling bertatapan biru laut bertemu dengan hijau zamrud dari warna mata anak itu yang agak sedikit kilauan-kilauan, bisa di kaitkan juga dengan warna emerald.
“Aku ada dimana?” ucap pemuda itu secara spontan dan tampak kebingungan, menatap sekitarnya — nadanya pelan-pelan. Yah, sekiranya itu adalah kata yang sangat normal untuk di katakan.
“Kakak! kakak tidak apa-apakan?” Bukan menajawab, ia kembali menanyakan.
Anak perempuan itu mengenakan gaun seperti dress yang terlihat di tubuh mungilnya. Berwarna kuning blonde, dengan warna kuning dengan campuran kecoklatan, berenda-renda di bagian lehernya, jubah tipis yang sangat pas berlengan pendek, dan paling mencolok adalah sebuah lambang di depan bajunya, yang menutupi secara menjas di tengah-tengah area dada.
Bayang-bayang beberapa ingatan yang muncul di benak Sang Pemuda. “Kau adalah orang yang terpilih yang menjalankan tugas yang ku berikan kepadamu, kau mempunyai berbagai potensi sehingga cocok untuk aku pilih. Tapi sebelum itu aku akan memberikan kamu sebuah kelebihan yang tak punya orang lain.”
Memegang kepalanya yang tiba-tiba saja sakit tanpa ia sadari. “Ahhhkkk...” pekikan pelan, merengkuh kesakitan di kepalanya.
Perlahan-lahan pandangnya buram setelah mendengar kata-kata dari orang misterius itu. Walaupun ia sedikit kebingungan apa yang terjadi padanya, tapi ia juga tak terlalu memusingkan diri untuk memikirkan terus menerus – cukup apatis dengan dirinya sendiri.
“Eh... maaf,” ucap pemuda itu yang tampak kebingungan dengan Anak kecil di hadapan itu. Ucapan tanpa sadar.
Kening anak kecil itu mengernyit ketika mendengar ucapan minta maaf dari kakak Indra pendengarannya, kakak yang ada di depanya ini. Sedangkan pemuda itu hanya bingung sambil melihat keadaan sekitarnya. Mata anak itu memandang lekat-lekat kesosok kakak yang di depanya. Walupun ia sedikit berantakan tapi masih menunjukan ketampanan yang ada di wajahnya, ia terlihat cukup jujur untuk mengatakan seperti itu; wajah anak itu sedikit memerah ketika memandang wajah pemuda itu dengan begitu serius — polos untuk ukuran anak seperti dirinya.
“apa yang kakak lakukan di dalam Hutan ini,” ucap anak itu
Pemuda itu sedikit tertawa canggung, sebenarnya ia juga tak tau kenapa ia berada di Hutan ini. Hutan yang saat tak pernah ia lihat sama sekali, serasa tak pernah lihat dalam hidupnya.
“Aku... sebenarnya tak tau juga,” balas pemuda itu.
“Hmmm... kalau begitu kakak ikut aku saja bagaimana?” tawar anak itu.
“Bolehkah... aku juga tak tau tempat ini,” kata pemuda itu jujur.
Anak perempuan itu mengangkat tangan kananya sambil menyodorkan regangan jari-jari ini agar berdiri, itu ke pemuda yang posisinya duduk di atas tanah. Posisi tangan yang di lunjurkan tanpa membalas sama sekali apa yang di tanyakan, seolah-olah mengalihkan pembicaraan, tentu itu bukan tanpa mengalihkan, perempuan bertubuh mungil ini tak punya waktu untuk menjelaskan sesuatu yang tak ia ketahui juga bukan.
“Ayo kak!!!” ucap anak itu.
Hanya anggukan sambil menyodorkan tangannya membalas sodoran tangan anak itu. Keduanya tersenyum hangat, tak ada sama sekali pengenalan yang di suguhkan ketika bertemu.
“Kak... boleh aku tau nama kakak siapa?” ucap Anak yang begitu Penasaran.
“Hmmm.... nama aku yah, aku juga tidak tau,” tukasnya polos.
“Hah? Masa sih.”
“Bercanda kok,” beo pemuda itu.
“Namaku Zen Arnold Kurogomi,” tambah Pemuda berambut putih ini, tersenyum tipis.
Gadis itu sedikit kebingungan nama Zen, kebanyakan orang di dunia ini membandingkan beberapa hal mengenai status dan nama keluarga mereka, dan bahkan ada yang begitu tak tau malunya menjilati seperti halnya yang di ketahui oleh banyak orang, termaksud kalian sendiri.
“Aku tidak pernah dengar ada Nama keluarga Kurogomi,” ucap Anak itu.
“Eh..., itu sebenarnya!!!”
Zen sedikit kebingungan harus menjawab seperti apa. Seorang pemuda Berasal dari Negeri yang di juluki matahari terbit dan menjadi Seorang Transmigrator, apakah akan ada orang yang akan mempercayai kebenarannya, mungkin orang berpikir itu hanyalah omongan bualan belaka. Zen tak berpikir seperti, ia sama sekali tak bisa menjawab, yah, setidaknya ia pikir ia harus merahasiakan identitasnya.
“Putri...!! Kamu dari mana Saja,” ucap Seorang di depan sana menghampiri yang sedikit Berteriak.
Suara itu memecah keheningan antara mereka berdua, seorang Pria paruh baya yang menggunakan baju pelayan berjas Hitam dengan Rambutnya yang sedikit keputihan, keputih mendambakan jika orang di depan ini tidaklah muda lagi.
“Dalton yah,” kata perempuan bertubuh mungil itu.
“Kamu dari mana saja Putri?”
“Tadi aku hanya jalan-jalan kok, tidak usah khawatir seperti itu,” ucapnya sedikit tersenyum.
“Oh.. yah, kalo gitu ayo pergi,” bersuara ria.
Sedangkan Zen hanya mematung sambil mendengarkan pembicaraan antara Tuan dan Pelayan ini. Ia sedikit terkejut dengan sebutan putri yang di ucapkan pria paruh baya yang ada di depanya. Apakah ini seperti yang ia pikirkan, asumsi liarnya membawa ia terbengong.
Dalton melirik Kearah seberang sang putri itu, ia mengangkat alis satunya sambil memandang putri secara bergantian seakan meminta penjelasan.
“Ah yah, perkenalkan kakak ini ada Zen,” ucap anak mungil demikian.
Tersadar ketika di tepuk bahu kanannya. “Eh... anu bolehkah aku bertanya siapa anda Nona,” tanya Zen dengan bahasa formal.
“Tidak usah seformal itu kak, namaku Susan van Charlotte.”
“Sedangkan ini adalah pelayanku namanya Dalton.” Dalton sedikit menunduk ala pelayan.
“Ayo kak kita pergi Kak, akan kuperkenalkan kepada ayahku,” ajak Susan dengan senyumnya.
“I-yya...” balas Zen yang di tarik paksa.
Setelah beberapa saat berjalan lurus kedepan sampai seratus meter menembus hutan, terlihat banyak tenda besar yang tersusun rapi di lapangan yang sedikit lebih luas membentuk sebuah perkemahan. Banyak prajurit berlalu lalang dengan zirah dan senjata mereka, seakan sibuk sesuatu. Sedari tadi mereka harus di buat sibuk atas secara tiba-tiba, tanpa di sadari oleh mereka sedikitpun sebuah kehilangan — kehilangan seperti yang di katakan Dalton tadi.
“Putri anda telah membuat sebuah masalah besar dan ayah anda sangat mengkhawatirkan kepergian anda tadi,” ucap Dalton.
“Hmm... apakah sebesar itu kah Kekacauan yang kubuat,” terlihat wajahnya yang begitu masam.
Mereka bertiga berjalan disebuah tenda besar dari semua tenda yang ada, warna kuning dengan garis merah terlihat dari tenda itu. Seorang Pria yang umurnya mungkin sudah tiga puluh tahunan keatas, dengan baju satinya yang tak berbeda warna yang di gunakan dengan Susan, couple-nya terlihat, jas coklat yang di kenakan ketat menyelaraskan tubuhnya. Nampak seorang pria paruh baya yang sedikit marah-marah sambil memecahkan benda yang mudah pecah, sedangkan orang yang menjadi sasaran hanya menunduk, ada enam orang. Terhenti seketika, yah, orang yang dilihat ini, menjadi arah pandangannya tepat suara yang sangat familiar, membuat matanya membulat.
“Ayah....”
“Putriku apakah itu kamu, kamu dari mana saja?”
Berbagai lontaran merasa ribuan pertayaan dari pria paruh baya yang ada di depanya, berambut pirang dan juga bermata Hijau zamrud seperti anak kecil yang ada di pinggirnya.
Ia alihkan pandangannya kerah belakang, kearah pada bawahnya yang tertunduk. “Keluar!!!” Sesegera mengikuti titahnya.
“Sudahlah Ayah, pekenalkan aku mempunyai teman baru dan Namanya Zen.”
“Halo paman....Namaku Zen,” ucap Zen yang tersenyum Ramah, tetapi berbeda dengan pria itu, ia terkejut namun ia ubah dengan cepat eksperesi wajahnya cukup aneh.
“Kamu bisa memanggilku dengan Paman Sebastian,” ucap paman itu yang membalas senyum Ramah dari Zen.
“Baik paman,” balasnya.
Setelah berbincang bincang beberapa saat baru di ketahui bahwa Susan bersama Paman Sebastian merupakan Seorang Keluarga Kekaisaran yang di tugaskan sebagai perwakilan di Aliance City. Kota terbesar dalam sejarah Ras manusia.
Gerbong Kereta kuda yang begitu besar dengan Campuran beberapa Logam terlihat di depanya, wagon-wagon berjejer dengan vertikal beberapa benda cukup menarik perhatian mengisi ruangan yang ada di beberapa wagon ini. Beberapa Prajurit pengantar dan juga seorang Kasir penunggang kuda. Cukup mengejutkan bagi Zen beberapa Teknologi yang menurutnya cukup canggih bagi Transportasi jika di bandingkan Dengan Transportasi yang ada Di bumi.
Tapi tak berlangsung lama keterkejutan itu berlangsung padanya. Ia menaiki Gerbong itu, bersama paman Sebastian dan juga Susan. Walau terkadang ia juga merasa Ragu, apakah ia pantas menaikinya yang di khususkan untuk Seorang yang berpengaruh.
Kereta kuda atau wagon yang di kendalikan oelh seorang kasir pun berjalan menyusuri jalanan utama menuju Kota sekaligus Pertahanan utama ras manusia jika terjadi peperangan dengan ras lain, kendati hal itu seakan tak mungkin namun banyak mengatakan seperti itu — pertahanan yang tak terbantahkan. Banyak wagon yang figur yang sama juga atau yang berbeda pula berpijakan berjalan dengan Satu tujuan ada yang pulang maupun pergi.
Bagi Zen jalan yang disebut sebagai jalan utama itu tak terlalu buruk jika dinilai dengan Seni Arsitek, jalan berbata dengan Pola Bata yang disusun nampak kokoh karna menggunakan Teknik Adhesive.
Sebenarnya Susan dan ayahnya Paman Sebastian sedang melakukan perjalanan dari ibukota Kekaisaran Pentagrom yaitu Kota Weil yang berada di ujung timur wilayah ras manusia menuju ke kota Alliance City. Mereka membuat tenda sebagai ganti menginap – di dalam hutan cukup dekat dengan Kota – akibat perjalanan jauh dan memakan tenaga ini. Tapi, ketika Susan berjalan di sekitar perkemahan ia mendengar suara yang cukup nyaring menggema di telinganya. Secara kebetulan ia pun menemukan Zen yang tergeletak di tanah.
Kronologinya memang demikian, Susan sama sekali atau bisa di sebut kebetulan atau tidak kebetulan menemukan Zen tidak jauh dari tempatnya. Uniknya, Sang Empu sendiri tak mengingat apa yang tejadi padanya, secercah ucapan sebelumnya itu yang keluar dari pikirannya, hanya itu yang ia ingat di kala pertanyaan besar apa yang terjadi.
“Cukup menarik, apakah semua ini mereka yang buat,” ujar Zen di benaknya. Penasaran dengan kehidupan atau aspek yang ada di dunia ini.
Sangat membosankan duduk di kereta hanya melihat pepohonan di sekeliling jalan dan juga gerbong kereta kuda yang berlalu lalang yang begitu padat, wagon-wagon yang sibuk dengan beberapa barang yang di muat ataupun hal-hal tak itu entah apa. Dari kejauhan samar-samar terlihat dimata, sebuah benteng begitu kokoh yang berdiri megah yang terbuat bahan logam menjulang keatas, lebih dari tiga puluh meter benteng itu berdiri. Terlihat begitu banyak gerbang kota yang terhitung ditangan di tambah lagi Ras manusia yang berprofesi sebagai pedagang sibuk masuk dan keluar kota.
“Selamat datang di kota Alliance City kak,” ucap Susan dengan senyum ramah bersama ayahnya.
“Jadi ini yah namanya kota Aliance City,” balas Zen yang melihat di arah jendela.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=