
Satu hari berganti dari kejadian yang begitu Dramatis di alami Zen. Patut di singgung dari kebanyakan hal yang di lewati selama ia hidup di dunia ini, tak pernah sekali pun mengalami kejadian mendebarkan di gantikan dengan rasa Bahagia satu sama lain dalam kesenangan. Zen juga tau, sebab hal inilah mungkin maksud dari Libia sendiri memahami satu sama lain. Walau begitu, apakah Itu juga termaksud kedalam beban yang embani? apakah juga dalam realita yang akan di hadapi oleh masa depan sekarang atau di sisi lain juga tak ada dampak sama sekali bagi dirinya?.
Mungkin sebenarnya atau sudah pasti Zen tak terlalu memahami perasaan orang dan juga tak terlalu memahami isi hatinya sendiri. Jauh sisi yang ada, entah itu hal berkaitan dengan Feeling atau apalah itu. Jadi, semua pertanyaan dalam benaknya selama ini, Kenapa harus dia yang terpilih?, orang tak terlalu mengerti akan perasaan; Ia jujur akan hal itu, tapi kenapa???. Ini benar-benar membuatnya bingung.
“Huh...Membosankan” Tangan Zen yang menaruh buku di sebelah meja, yang sekarang ini tidur bersandar.
TOK..TOK..TOK..
“Zen...bisakah aku masuk.”
“Hmmm..masuklah Hendrick” Balas Zen.
Berlangsung beberapa detik, pintu kayu yang cukup besar terbuka. Tapi hal itu, tak menyurut perhatiannya yang menatap ke luar Jendela pagi ini. Hendrick berjalan mendekat lalu duduk dekan tempat di tiduri oleh Zen. kebetulan juga jika di samping tempat tidur itu ada kursi kosong yang berdiri tegak, di samping Zen yang tak mempedulikan.
“Yo..Zen, bagaimana kabarmu.”
“Baik” Jawab Zen malas.
“Aku tahu, kau pasti Bosan kan.”
“Bagimana kau bisa tau..Apakah kau membaca pikiranku yah.”
“Yah.. begitulah” Jawabnya gampang
Kamampuan atau Unique Skill Inner Feeling hampir sama halnya dengan Telepati. Kemampuan yang di karenakan persilangan gen dalam percabangan sihir ini, Kemampuan yang dapat membaca pikiran, tapi ini semua lebih dari itu bahkan telah di ketahui oleh banyak orang kuat lainnya. Kemampuan Spesial ini lebih Berbahaya bahkan mematikan jika penggunannya dapat menguasai selak beluk mental atau pikiran hingga ia mengontrolnya begitu baik, bahkan bisa saja Inner Feeling ini menjadi salah satu Kandidat kemampuan mematikan dengan serangan kedipan mata dari sang pengguna.
“Instruktur Ellia bilang, kamu itu bisa Keluar hari Ini, dengan Syarat kamu harus tak membebani Fisik kamu maupun mental.”
“Aku udah tau itu.”
“Di bilang ulang aja kali, bisa saja kamu lupa.”
“Aku malas berdebat dengan kamu Hendrick.”
“Yah..yah aku tau.”
“Cepatlah aku nunggu kamu sesegera bersiap, dan jangan lupa...nanti Master ingin bertemu denganmu.”
“Hmmm...”
Zen bergegas, ia menggantikan baju berwarna putih yang ia kenakan khas orang yang di rawat dengan campuran berwana abu-abu Seolah-olah Seperti putih keabu-abuan dengan motif yang aneh, yang di gantikan dengan baju berwarna biru tua dengan jubah Setengah badan dan tak lupa setelan celana panjang berwarna Hitam polos dari Storage Magicnya. Tak terlepas dari itu, Zen mengambil buku yang sangat sering ia baca sewaktu di rawat sehari sejak ia sadar, tepat di atas meja kayu pinggir tempat tidur.
Buku yang selalu di baca Zen Sendiri sewaktu ia di rawat adalah buku yang menjelaskan menyembuhkan secara umum yang banyak para Healer kuasai, dan itu semua tak terlepas dari sang pemberi itu sendiri yaitu Instruktur Ellia yang merawat Zen selama empat hari ini.
Tapi Zen Sendiri juga berpikir apakah ia dapat memahami secara penuh dengan teoritis tanpa ada pelaksana secara pengalaman maupun praktek secara langsung, ia tak tau dengan jelas. Tak di pungkiri juga, apa yang ia lakukan bukan untuk hal yang ia anggap sebagai salah satu dalam kemampuan analisis bertarung atau aspek lain, tapi aspek ia lakukan semua ini; berkaitan dengan kejadian akan di butuhkan di masa depan, berhubung dengan Orang-orang terdekatnya.
“Apakah Kamu sudah selesai Zen” Ucap Hendirck ketika melihat Zen keluar dengan Pakaian putih.
“Yah Sudah.”
“Hei Zen, apa yang kamu lakukan pada waktu kamu di rawat di tempat membosankan itu” berjalan bersama Zen di samping.
“Entah..hanya baca buku, berbaring, makan dan sebagainya” Jawab Zen menatap lurus.
“Hmmm begitu yah, tapi..apakah kamu tidak bosan di situ terus.”
“Kamu ini ngejek aku...” Balas Zen.
“Maksudku bukan begitu, aku kan hanya bertanya tahu.”
“Jika begitu, Lebih baik kau diam.”
“Hmm..aku diam sekarang” Ucapnya sebal.
Di pertengahan atau lebih tepatnya berada di pusat tengah-tengah akademi, taman yang sering dan juga banyak murid akademi memadati yang sekarang mereka berdua lewati. Pusat akademi atau di kenal dengan Phyterus Park adalah penghubung dari semua sistematis bangunan kokoh yang menjadi Estafet dari semua bangunan berdiri dari berbagai Aspek yang meliputi akademi itu sendiri. Rancangan ini terbilang jenius dari para jenius dan Zen akui itu, walau pun begitu masih kalah jauh dengan Rancangan Kota Netral yang di diami oleh mayoritas bangsa Dwarf di bawah wilayah Kerajaan Dwarf atau Dwarf Kingdom.
“Oh yah Zen, Apakah kamu sudah tau penempatan kelas mu.”
“Belum......” Sembari mengeryitkan dahinya menatap Hendrick.
“Huh... baiklah, karna aku berbaik hati, maka akan ku jelaskan” Ucap Hendrick menepuk jidatnya tapi, ada rasa semangat dari Pemuda Compement Inner Feeling itu.
“Kamu itu satu kelas denganku” Tambahnya.
“Oh...” Respon Zen menatap Lurus.
“Masa sih cuma itu, responmu Zen” Ucapnya berdecak sebal.
“Kau tau tidak jika Kelas ku tempati ini adalah kelas yang begitu di impikan murid akademi tau...” Beo Hendrick.
“Dan juga, bahkan siswa nya sendiri tak cukup dari lima belas orang dan di tambah denganmu maka genap lima belas orang.”
“begitu yah....” Responnya masih sama.
“Haiss....kamu Zen, bisakah tanggapan mu itu lebih di buat-buat hingga suasana tak seperti ini.”
“......”
“Iyah...” Menghela napas. “Bisakah kamu jelaskan lebih rinci lagi” Lanjutnya.
Zen juga sedikit penasaran, walau Rasanya Zen tak menunjukkan secara terang-terangan tapi hatinya beradu dengan rasa penasarannya yang muncul secara tiba-tiba. Tapi perlahan Zen dapat menstabilkan, keanehannya itu.
“Baik akan ku jelaskan padamu Zen” Tatapan serius di tunjukan padanya, menatap Zen lagi.
“Zen..apakah kamu pernah mendengar atau membaca buku Compement atau kemampuan Spesial.”
“Yah,aku pernah baca.. Memangnya kenapa.”
“Jika begitu, maka kelas ini di katakan dengan perkumpulan dengan para Compement dari berbagai penjuru Wilayah ras manusia yang seumuran.”
“Yah..walau pun kamu tak Termaksud salah satu yang mempunyai kemampuan Spesial itu.”
Hendrick sendiri tak tahu dengan jelas jika Zen mempunyai Compement, ia hanya tau jika Zen mempunyai Unique Skill yaitu Temperatur Control sebagai salah satunya, hal ini juga di sebabkan Zen menutup rapat dengan erat-erat semua Kemampuannya dengan tujuan agar tak membahayakan dirinya sendiri maupun orang terdekatnya di masa depan nanti, dan bisa saja itu menjadi bumerang bagi paman Sebastian hingga lengserkan dari posisi pentingnya dalam Anggota keluarga bangsawan Charlotte karna merawat Monster yang dapat menghacurkan dunia bahkan wilayah ras manusia.
“Tapi...itu semua juga tak berlaku pasti untuk orang berbakat lebih Seperti mu Zen... hahahaha.”
“Maksudnya?...”
Zen cukup bingung dengan apa yang di utarakan terakhir dari Hendrick, bukanya sudah pasti jika ini semua untuk atau di peruntuhkan bagi orang-orang yang mempunyai Compement itu sendiri, walau ia pun memilikinya...
“Kamu tau kan Near...dia adalah salah satu dari orang seperti kamu, orang yang tak mempunyai Compement. Tapi itu semua ia buktikan hingga sekarang ini dengan bakatnya sendiri”
“Jadi jangan berkecil hati Zen” Tambahnya yang memegang pundaknya Zen.
Rasanya Zen ingin tertawa dengan semangat yang di berikan oleh Hendirck, jika ia tau sosok yang ada di hadapannya itu mempunyai Compement yang jauh menantang alam, bahkan bisa melampaui. Bagiamana reaksinya? mungkin sudah pasti ia muntah darah yang lebih parahnya lagi muncrat Tak menentu.
“Ayo Zen...aku perkenalkan kelas yang akan kamu tempati” berlari kedepan sekiranya sepuluh langkah di depan Zen.
Mereka berdua berjalan bersama dengan langkah Santai seperti biasa, obralan yang tak menentu dari sosok Hendrick dan juga tanggapan biasa-biasa saja dari sosok Zen tak terlewat dari itu semua, entah bagaimana sinkronisasi terjadi antara kedua remaja itu.
Yang kalian harus ketahui disini, Jika akademi Phyterus merupakan akademi yang sudah di legalitas secara luas maupun umum oleh petinggi maupun orang penting-penting lainya bagi ras manusia, bahkan tak terlepas dari dukungan Organisasi penting seperti Rhei untuk mengembangkan maupun membimbing orang yang mempunyai Compement di seluruh daratan maupun tanah wilayah ras ini.
Seperti yang di ketahui maupun tercetak jelas di buku pengetahuan umum seorang sarjana Sihir, jika seorang Compement sendiri bahkan tak lebih dari 5% hingga orang tersebut di katakan sebagai salah satu dari Compement. Dan itu juga keberuntungan bagi orang yang Anggota kelurganya yang di turunkan langsung secara turun-temurun berkat dari Dewi ini. Kendati demikian, semua itu di batasi dengan segala yang disebut perkawinan atau hal-hal yang di perkenankan, justru inilah membuat peluang dari keberhasilan seorang Compement memungkinkan terjadi, dan contoh nyata adalah Keluarga Charlotte.
Dan juga para Ahli sarjana sihir yang mengklasifikasikan semua itu ke berbagai dua jenis dari segi Gen sihir penyusunan maupun Faktor Biologis terjadi, misalnya secara Sosial Famliy, maupun terjadi secara Individu itu sendiri yang tak lain karna keberuntungan dari Dewi Fortuna, tapi Entahlah....
....Jika, orang yang di sebut karna Faktor keluarga yang akan di turunkan secara langsung itu di kenal dengan Sosial Famliy, kedua jika karna seseorang yang secara tak sadar mempunyai kemampuan Compement dan itu semua bersangkutan dengan berbagai hal, di Contohkan seperti jika kedua orang tuanya yang tak mempunyai Compement atau salah satunya hingga anaknya membangkitkan Compement nya.
***
“Jadi ini yah....” Ucap Zen yang mengarah kepada pintu cukup besar ukiran tertutup.
“Ayo masuk... Leonhart, Near dan juga Peter sepertinya menunggumu” Ia memegang tangan Zen.
Di Ujung dari kejauhan seorang perempuan berjalan yang Tujuannya sekarang ini ketempat kedua remaja itu, Ia memegang sebuah buku Tebal dan tak lupa Ciri Khasnya dengan rambut Pirang ikal kacamata yang menutup irisnya seolah-olah menambah kesan dari kutu buku, menatap kedua remaja itu yang berada di pintu masuk. Ia berjalan sedikit cepat hingga berada dekat dengan kedua remaja itu.
“Apa yang kalian lakukan di sini Hendrick dan juga.... Zen” Ucapnya yang menatap Zen Terkejut.
Dia adalah kak Anatia salah satu instruktur utama dalam bidangnya adalah Sarjana Sihir, Instruktur yang sangat di hormati dalam usia mudanya dan itu semua tak di pungkiri, Karirnya yang terang benderang.
“Halo.. Instruktur Anatia” Ujar Hendirck tertawa lebar sembari mengaruk-garuk kepalanya.
“Kami akan masuk kok..benarkan Zen” menatap Zen.
“.....”
“Dan juga hari ini, seperti yang anda lihat kan jika Zen akan masuk kelas hari ini”
“Oh... Seperti itu, jika begitu ayo masuk kedalam dan Zen Perkenalkan dirimu di kelas.”
“Ya.. Instruktur Anatia.”
Mereka bertiga masuk kedalam, memperlihatkan Ruangan bercat putih dengan teknologi yang cukup lengkap dan lagi tak lupa bangku yang berjejer rapi dengan Mode naik menggunung dan juga turun yang tak terlalu curam. Bangkunya terbuat dari kayu tersambung lalu terdapat tiga belas orang dengan gender berbeda duduk dengan urusan mereka masing-masing. Di jelaskan lima di antara adalah perempuan dan Enam di antaranya adalah Laki-laki dan itu termaksud dari trio sahabat yakni: Leonhart, Near dan juga Peter yang sedang bersenda gurau dan perempuan yang familiar bagi Zen yaitu Guinevere De Barekyou.
Sontak saja semua pasang mata tertuju pada ketiga orang yang berada di depan, Hendrick sesegera mungkin kembali ketempat duduknya lalu tersenyum lebar kearah pemuda berambut putih itu.
“Zen perkenalkan Dirimu” Ujar instruktur Anatia.
“Baik...”
“Perkenalkan nama aku adalah, Zen Arnold Van Charlotte dan biasa di panggil dengan nama Zen.”
“Mohon bantuannya” Tambahnya dengan mempertahankan Eksperesinya.
Dan Objek kedua yang di lihat Zen sekarang ini adalah, tatapan-tatapan yang aneh maupun rumit untuk di Jelaskan. Zen tak terlalu peduli akan semua itu karna ia pun tak dapat mengartikan secara jelas tatapan yang di sematkan padannya, ia paling tidak suka orang yang menatapnya dengan Eksperesi Rumit seperti itu, bukan ia tak suka atau merasa risih lainya tapi ia tak terlalu suka untuk mengartikan semua itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Note;
Buat kalian yang nungguin Novel gw, mungkin aku ngk akan jadi updet Kedepannya. Aku lagi mau review penulisan yang salah dari Chapter pertamaku, karna Memang gw adalah Penulis yang amatiran yang lebih mengutamakan pada Kuantitas dari pada Kualitas. Tapi, aku sadar....Sudahlah, pada Intinya–Mungkin maksimal seminggu ngk jadi Updet atau minimalnya tiga hari baru bisa Updetnya, Jadi tunggulah.
😪😪😪