
“Apa maksud yang anda sampaikan sebelumnya, Tuan Phyterus...”
Ini adalah pertanyaan yang dasar di keluarkan oleh Commander Alia, ia sangat mencurigainya, kata yang di keluarkan sebelumnya itu. Inilah yang menjadi pertanyaan di benaknya, apakah ada maksud lebih tersembunyi lagi yang di selimuti oleh orang Tua di depannya; ini adalah kesalahan terbesar baginya–tak menyadari sesaat. Namun masih dengan ekspresi yang sama, santai tanpa celah di keluarkan oleh Instruktur Etnes, dengan kebiasaannya yang melekat ini—meminum teh di kala kekacauan melandasi.
“Apa kamu sangat mencurigaiku, apakah ini tindakan yang di ambil oleh Commander yang di akui oleh kecerdasannya..” Tersenyum menatap.
“...”
“Tidak sama sekali bukan, dan... seharusnya apa yang kubuat adalah sesuatu mengecoh dua sisi, termaksud kakak anda itu..” tambahnya lagi.
“Kuberitahu kepadamu sekali lagi, aku bukan orang yang bodoh tanpa menentukan sesuatu yang bernilai. Lebih baik menebak orang yang pintar dari pada orang bodoh bukan.”
“Kau kira hanya kita secara resmi yang ikut berpartisipasikan,” ucap Instruktur Etnest menjelaskan dengan santai.
“Walaupun aku mengatakan sebenarnya apa yang terjadi, bisa saja ini menjadi hal yang sangat merepotkan di masa depan.”
“Apa yang anda rahasiakan?”
...
Berjalan di lorong masih menampilkan keadaan hening, terdengar hanya suara sepatu memenuhi gemaan, namun tak terlau besar juga. Seorang perempuan dengan rambut hitam yang berpola putih di atasnya, menggigit jarinya dengan raut datar, tak menampilkan perasaan sebenarnya ia rasakan. Ia benar-benar bingung, seharusnya ini sudah menjadi rencana yang sangat sistematis dan juga terorganisir, dan berakhir manjadi sebuah keniscayaan apa yang ia mau, seharusnya begitu. Namun, hal itu menjadi titik balik baginya tak mempertimbangkan hal yang lebih penting lagi, seharusnya menjadi masalah—jauh dari pikirannya saat ini.
Jenuh berpikir namun ia sangkal, berusaha agar berpikir lebih jernih tanpa mengharuskan, itulah mungkin sebuah tindakan dari apa yang ia lakukan—mengadaptasi mental, dalam keadaan yang tak memungkinkan seperti ini—seharusnya ia menyadarinya juga bukan, tanpa ada sebuah kenyataan yang tak ia pikirkan sejauh ini.
Berjalan dengan keadaan yang sama, tanpa pikiran yang sungguh ia tak cukup jernih untuk mencerna, namun hal itu bukan berarti jika ia adalah seseorang yang tak menganggap hal ini adalah sebuah kendala.
“....Aku sungguh tak dapat menebak!”
***
“Near, kenapa kamu dari tadi diam saja, apakah ada sesuatu?”
“...”
Kevin mengalihkan pandangannya bersamaan dengan ucapan dari Hendrick ini. “Yah, kamu dari tadi hanya diam saja.. apakah ada sesuatu.”
Near sama sekali tak menanggapi, ia terlihat hanya berpikir dalam benaknya, apakah itu adalah sebuah realita sebenarnya, dari kejadian sebelumnya. Orang yang begitu ia kenal, sudah ia anggap salah satu orang terpenting, menunjukan dirinya di depan matanya. Tak dapat menginterpretasikan apa yang ia rasakan, seharusnya ia senang bertemu dengan Master-nya bukan, dalam keadaan rentang bersamaan.
Justru hal ini menjadi keadaan yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya, seharusnya begitu, ekspektasi yang tak terduga. Namun di lain sisi, serasa ada hal yang aneh tak terlepas akan insting assassin-nya sedikit cenderung dari biasanya, walaupun keadaan yang tak seharusnya, ia menganggap hal ini ada keanehan.
“Apa yang kamu pikirkan Near, apakah ada sesuatu?” ucap Erwin.
Near mengalihkan pandangannya pada Erwin yang berdekatan dengan Morlex di sampingnya kanannya. “...”
“Ayolah... katakan saja, apakah ada sesuatu Near.”
“Aku tak tahu harus katakan apa,” jawab Near menunduk.
Semua indikasi tatapan pun mengarah pada Near yang terdiam di saat-saat yang cukup aneh. Yah, walaupun hal ini tak secara dikatakan ada hal yang mengganjal di pikiran, hal ini mengakibatkan ada rasa penasaran tak terungkap di kala tanda tanya besar, untuk di beritahu, tak seperti sebelumnya. Near adalah tipikal orang yang tak terlalu menganggap jika hal yang ia ketahui, ataupun hal yang ia tanyakan menjadi sebuah permasalahan di benaknya, jika jawaban itu puas, ia terima, jika tidak maka menyangkalnya—seharusnya jenis orang tersebut suka mengalibi sebuah fakta, keyakinan di pikirannya, ia tak akan berterus terang akan sebuah permasalahan di otaknya, dan akan membongkar jika itu meyakinkan pada seorang individu.
“Apa itu adalah hal yang berat, sampai-sampai tak bisa kamu utarakan di sini,” ucap Leonhart.
“...Ini hanya kendala berarti, namun tak ada apa yang harus aku ucapkan,” kata Near.
“Aku sama sekali tak mengerti maksudmu, apa... itu kendala berarti,” ucap Erwin sekali lagi.
“Tak seharusnya begitu bukan.” Menatap mereka semua mantap.
“..Apa maksudumu Near, aku tidak mengerti..” kata Hendrick mengernyitkan dahinya.
Keadaan menjadi hening tak terbaca. Zen hanya menampilkan raut wajah yang sangat tak pernah ia tunjukkan selama ini, rumit tak mengerti. Ia tak dapat menebak dari permasalahan di otak Near ini, yah, tak mengerti sama sekali, walupun ia cukup menebak dari raut wajah yang di tunjukan Near, namun hal itu seakan masih belum cukup apa yang ia jadikan sebuah patokan.
“Apakah kamu akan menampilkan hal yang sesungguhnya...” Zen menjadi sentral tatapan saat ini.
Tak mau beranggapan yang bukan-bukan, ia lebih menanyakan secara terang-terangan, anggapan yang berdasar maupun tidak ia seharusnya tahu bukan — keadaan yang benar-benar membuat ia tak di pungkiri harus melakukan. Zen menanggapi hal itu adalah sebuah absurb yang tak seharusnya menempel pada otak remaja berambut hitam mengkilat ini. Kendati demikian, ini juga tak di sangkal bagaimana beberapa kejadian sebelum-sebelumnya itu, sewaktu ia dan dua lainya yakni Kevin dan Leonhart bertemu sewaktu itu.
“...Jika kamu mempunyai masalah, ceritakanlah itu, akan memperingan bebanmu Near...” ucap Zen.
Near yang terkejut akan mendengar perkataan Zen, ia mendongak kepalanya kepada sang empu saat ini berada di depannya. Sebenarnya, anggapannya malah berbanding terbalik dengan ungkapan Zen saat ini, ia tak mau merepotkan mereka, apalagi menjadi dua beban pikiran yang sama, bahkan bisa saja mereka menjadi sangkut pautnya, karena keteledorannya sendiri, ia tak mau hal demikian. Lebih baik ia menyimpan sendiri dalam-dalam tanpa memberikan tahukan. Namun hal itu berbeda dengan sebuah alasan yang terbilang duga-duga ini, apakah ini benar sesuai dengan realita ataupun salah berpatokan yang sama.
“Ini lebih baik bukan, apakah kamu dapat membicarakan dengan kami semua Hendrick,” ucap Lumire yang entah dari tadi, kenapa tak menyuarakan.
“Itu setidaknya~” ucapnya terpotong.
“Oh kalian yah, apa yang kalian lakukan di sini,” suara seseorang dari arah belakang mereka.
Kompak berbalik secara bersamaan, sama mengernyit dengan pikiran masing-masing—tentu saja mereka semua bingung ada yang menginterupsi di sela-sela pembicaraan serius di antara mereka. Tak ada yang menyadari kedatangan, tak sadar ini. Perempuan dengan mata hitam menatap mereka dengan senyum khasnya tersirat akan sebuah makna terpendam. Yah, senyum tak cukup terbaca.
Near membulatkan kedua matanya tak percaya dengan wujud terlihat keluar dari keheningan remang-remang akibat kurangnya sinar matahari, jalan asrama ini. “Kamu bukannya...”
***
Di waktu yang sama dengan tempat berbeda, di koridor luar dengan suasana angin menerpa, akibat cukup tingginya seorang ini berada. Dengan kedua juluran tangan memegang, gagang sebuah besi di lapisi campuran beton, hingga membuat ini cukup kokoh yang terhubung langsung dengan sebuah ruangan selaras dengan tempat dokumen menumpuk ini – tempat kerjanya. Sosok dengan rambut coklat dengan mata berwarna hijau zamrud, setelan jubah yang sangat di banggakan yang menempel langsung dengan lantai datar di biarkan terbawa-bawa begitu saja ketika berjalan, menatap keindahan kota yang terlihat jauh, di terpa mata di area ini—tempat yang jadikan sebagai pelepas penat dan juga tempat favoritnya.
Rasa yang seimpresif ini, membuat ia sangat nyaman di kala kesibukan akibat apa yang harus ia urus ini, yang sudah menjadi kewajibannya. Walaupun tempat ini di katakan sebagai favorintnya, ia jadikan sebagai tempat ketiga di sela kesibukan—akibat dua tempat lainya adalah sebuah kewajiban yang harus ia lakukan juga. Ruang kerja dan ruang singgasana.
Terlepas akan semua itu, tak menyurut pandangan sama sekali, ia masih tetap menatap dari kejauhan—kebiasaannya ini, terlepas akan sebuah alasan maupun idikasi menyadari akan kedatangan seseorang. Dengan aura yang sangat mendominasi ia miliki, orang yang mendekati pun hanya bisa tunduk walaupun itu sudah kewajibannya sendiri, sebagai orang yang sangat ia hormati—tnada artian, pengorbanan dedikasinya sebagai tangan kanannya.
“Aku memberikan hormat kepada Kaisar Sender, Kaisar Pentagrom ke-94.” ucap seseorang dari arah belakang.
Tanpa berbalik ataupun sekedar menoleh, mencari tahu siapa yang datang yang memberikan ucapan tadi – Kaisar Pentagrom ini hanya menyinggungkan senyum tipis, seolah-olah tahu apa maksud kedatangan dari tangan kananya ini. Sebuah surat yang masih di jamin akan kerahasiaannya, masih tersegel, di pegang oleh suruhannya ini dengan posisi tangan yang benar-benar sangatlah sopan di katakan dengan aturan kerajaan yang berlandas; dengan sudut lambang keluarga Charlotte, “Bunga Mawar.”
“Ooo... Kerja bagus Xei, apakah adikku sudah mengirimkan suratnya sebagai tanda balasan.”
“Sudah tuanku,” ucap Xei yang masih menunduk hormat.
“Hmmm... Aku seharusnya, mengirimkan surat yang isinya lebih serius lagi bukan.” Dengan senyum terkekehnya, melanjutkan ucapannya saat ini. “Aku sangat penasaran dengan Bicah yang di pilih adikku itu, apa hanya itu yang ia mau saat ini, seharusnya ia meminta persetujuan dariku.”
“Anda benar tuanku...”
“Biarkanlah, seharusnya ini adalah terakhirnya bukan,” ucapnya dengan nada yang rumit di jelaskan oleh orang bernama Xei ini.
Umurnya yang berjarak dengan paman Sebastian hanya empat tahun saja ini, masih terlihat raut muda di wajahnya, walaupun hal itu tak menutupi keadaan umur sebenarnya yang ia miliki; setidaknya menunjukkan hal yang tak terduga ia pikirkan. Dengan mengalihkan pembicaraan yang membahas sesuatu, yang sudah ia selidiki sewaktu sebulan yang lalu—remaja berambut putih ini.
Ia melanjutkan pembahasan dengan suatu hal yang terbilang ada relevannya dengan penyelidikan yang ia delegasikan. “Apakah ada perkembangan dari laporan Commander Alia, apa ada yang penting di sebutkan laporan,” ucap Kaisar Sender dengan nada bertanya.
“Hanya beberapa poin penting yang umum saja, di dalam laporan selama kegiatan pameran berlangsung,” balas Asistennya ini.
“Itu sama saja hal yang tak terduga yah? hmmm... cukup menarik,” ujar Kaisar Sender.
“Ini memang mungkin saja terjadi, biarkan berlalu! Jika itu memang ada Instruktur Tua itu,” ucapnya.
“Dan kirim kepada adikku ini, sesuatu yang mengejutkan... kamu tahu bukan.”
“Ya, saya tahu, yang mulia,” ucap Xei tegas.
***
“Sudah tidak lama berjumpa yah, Near, muridku bodoh. Bagaimana keadaanmu,” lanjutnya.
Near masih dalam keadaan linglung terkejut tak percaya. “Kamu bukannya... Master! Jadi itu benar.”
Ini benar sesuai dengan spekulasinya yang di sangkal, jika indra penglihatannya ada cenderung pengecoh – terbukti kebenarannya. Sedari tadi, Near hanya berpikir jika ini tak mungkin, walaupun ia sudah tahu akan keterlibatan Organisasi Rhei yang di katakan adalah affiition yang di jabat Masternya saat ini, sebagai petinggi Organisasi Rhei itu sendiri. Kendati berusaha menyangkalnya, namun berbeda akan kecenderungan insting assassin-nya yang sangat mengenal akan sosok dari wanita ini.
“Tentu saja itu benar, apakah kamu tidak lihat ini,” ucapnya.
“....Master!!!” dengan cepat melangkah memeluk sang Master yang melihatnya tersenyum.
Pertemuan dua orang dalam sesi berpelukan ini, menjadi kebingungan tersendiri dari mereka yang ada, tak terkecuali bagi Zen—menatap kebingungan di dalam benaknya.
“Master!!!?” ucap mereka semua kompak.
“Perkenlakan ini Masterku, Master Alia...” ucap Near. “Ia yang mengajarkanku pengendalian Magic Controller dan juga Manipulasi Ilusi yang aku miliki,” ucap Near.
“Tunggu dulu, aku merasa de javu dengaan orang ini... Kamu bukannya wanita yang menjadi juru nilai, selain Instruktur Kesna bukan!!” ujar Hendrick tak percaya.
“Hei Hendrick, ucapanmu itu sangatlah tidak sopan,” kata Morlex berbisik..
Commander Alia tersenyum. “...Ya.. Aku yakin kamu adalah adiknya Isabella von Charlottoe.”
“Kamu tahu kakakku,” ucap Hendrick.
“Tentu saja, ia sangat populer di Organisasi Rhei,” balas Commander Alia.
Hal ini menjadi hal yang di garis bawahi oleh Zen, ia tak percaya dengan ekspektasi akan berakhir seperti ini—apa ini bentuk hal mengecoh ataupun dalih yang seharusnya, tak dapat ia mengerti. Kerut di kening semakin banyak, bersama dengan berpikir kerasa cukup ia konsentrasikan, dengan tatapan intens mengarah pada Commander Alia ini.
“Ooo.. Tuan Charlotte, tak kusangka kita akan bertemu sekali lagi di tempat yang terbilang berbeda.”
“...Yah, aku juga tahu...” ucap Zen.
“Baiklah... jika tidak ada yang perlu di bicarakan, jadi, Near bisakah kita berbicara sebentar.”
“Hmm... aku mengerti..”