My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 56. Sang Api Hitam (The Ten Strongers Dragon)



Tiba-tiba Zen dengan acceleration, membuat semua orang melihat tak berkutik, Magic Elemental yang ia gunakan, membakar habis secara brutal semua Golem yang ada. Remaja itu hanya menyinggungkan senyum tipis, puas atas hasil yang ia lakukan. Sihir api yang mengandalkan penguasaan pikiran sepenuhnya, mengendalikan secara penuh panas yang akan di berikan; hal ini juga tak luput dari [Uniqu Magic] di miliki Zen sendiri, yakni [Temperatur Control].


Zen mengklaim sendiri, jika dalam hal [Martial Art] ia jauh lebih berkembang dari sebelumnya, dengan mengembangkan Acceleration maupun Enchement, ini dapat membuat seseorang akan berkembang dalam hal kekuatan maupun imunitas tubuh – hal apapun yang berhubungan dengan tenaga; misalnya penggunaan stamina; tentu hal itu tak akan membuat kapasitas [Mana] sendiri seorang individu akan bertambah secara semestinya, karna [Mana] dan juga Stamina adalah sesuatu yang berbeda namun berkaitan satu sama lain, sama halnya dengan [Mana] dan juga darah yang saling berdampingan.


Namun secara substansial sendiri, ini tak memungkin jika tak ada latihan keras yang di lakukan, kendati demikian bagi orang jenius seperti anak berambut putih itu, tak terlalu dengan paksaan lebih yang berarti. Cukup baginya menggunakan hal terkesan wajar di lakukan oleh segelintir orang dan itu tak terlepas pengaruh keberuntungan menyulut padanya.


“....Itu bukanya...Api hitam...” ucap Esline tak percaya.


“Api yang membakar segalanya, api yang di gadang-gadang dapat menghancurkan seluruh dunia....” kata Anatasya.


“Apa sih yang kalian bicarakan....” tanya Hendrick bingung.


“Kamu tidak tau, legenda kehancuran satu negara karna api hitam...” ujar Near masih menatap lurus.


“Kehancuran satu negara? terkesan tak wajar...”


“Memangnya kenapa, apakah ada hubungannya yah?” tambah Hendrick.


“Haihs...kamu ini benar-benar bodoh, kamu tidak tahu legenda seperti itu, bahkan itu sudah menjadi sejarah dasar tahu...” ucap Erwin.


“Kamu itu sungguh aneh Hendrick, jelas-jelas itu menjadi pengetahuan umum, untuk di dengar dan di pelajari....” ujar Cintia menatap Hendrick mencemoh.


“Bahkan di kekaisaran Elbasta, ini seperti kisah itu tak memungkinkan untuk di dengar karna, tak mungkin juga seseorang, bukan melainkan Individu entah itu apa, dapat memusnahkan satu negara besar, dengan sekali serangnya. Apalagi api hitam adalah mitos, salah satu tipe Elemental yang hanya ada dalam legenda dan tak mungkin juga realitanya.


“Namun tetap saja, ini benar-benar misterius di miliki oleh Zen,” tambahnya.


“Jika ini ada hubungannya dengan Zen, apakah ia masih menyembunyikan sesuatu dari kita semua, dan bisa saja itu tak dapat terima logika,” ucap Leksmar.


Lumire nampak diam menatap seolah-olah tak mempedulikan, mekipun ia secara terang-terangan tak menunjukkan rasa penasarannya yang sekarang ini melanda. Indra pendengarannya masih dengan posisi aktifitas yang di kendalikan sang empu, dengan mengedarkan sedikit [Mana] dengan cara Division – Hal dasar melakukan penggunaan sihir dan juga pengendalian, di area pendengarannya ini; mempertajam menangkap gelombang getaran lebih dari fungsi gendang telinga orang normal (tanpa menggunakan apapun).


“Menarik, sangat menarik, tak kukira akan rumit seperti ini,” gumam Lumire.


“Yang patut di pertanyakan disini, kamu bukankah saudara dari Zen, jadi bagaimana kamu tidak bisa tau tentang ini, apakah kamu merahasiakan sesuatu?” ujar Leksmar.


“Entah juga...” jawab Hendrick santai.


“Tapi tetap saja, hal ini adalah sesuatu yang kamu ketahui bukan....”


“Hmmmm...aku sebenarnya tak tahu indentitas pasti di miliki oleh Zen, ketika adikku dari perjalanan kota Weil, ia menemukan Zen, ahhh...aku tak tahu...sudah sampai di sini saja,” kata Hendrick melangkah pergi.


“Bagimana kalau kita tanyakan saja padanya, aku sangat penasaran..” ucap Morlex.


“Jangan menanyakan hal-hal yang aneh, tanpa sebab seperti itu..” ucap Lumire.


“Kenapa?”


“Kamu pikir Zen itu orang seperti apa, walau ia kerapkali hanya menampilkan tampang biasa-biasa saja, tapi jangan berpikir jika otaknya tak bekerja memikirkan hal yang rumit untuk di jelaskan...” ucap Hendrick dari seberang.


Ya, apa yang di utarakan Hendrick memanglah, benar. Walau Zen terlihat menunjukan hal biasa-biasa saja Seolah-olah secara natural alami baik dari dari eksperesi yang di tunjukan maupun hal lain, tapi di lain sisi otaknya bekerja mencerna hal yang di utarakan walau itu tak jelas sekalipun. Di ibaratkan seperti raut sampul dan juga isi buku, cocok untuk di lebih artikan dari kelebihan sifat Zen seperti ini. Jadi jika kalian berasumsi jika Zen selalu tak berpikir dulu sebelum memutuskan sesuatu, maka hal itu harus di tepis jauh-jauh, karna remaja beriris biru laut itu, memikirkan hal dengan matang dengan kemungkinan yang akan muncul, sebelum memutuskan.


“Eh...kenapa kamu yang jawab....”


“Entah juga, tapi di sini akulah yang paling mengerti dengan Zen,” ucapnya ringan.


“Jika kamu sangat mengerti dengan Zen, kenapa sama sekali kamu tidak tahu jika ia mempunyai hal yang mengejutkan seperti itu..” tanya Lusi.


“Kamu pikir aku nih orang yang cukup pintar, apa yang ia sembunyikan dapat aku terjemahkan, memaknai eksperesi aneh yang di miliki Zen itu, bahkan aku kasi tahu kalian tak ada orang sama sekali yang dapat memahami pikiran anak itu.


“Sudahlah, akhiri semua ini....” ucap Gaznel


“Kita susul Zen sekarang....”


Zen yang berpikir lebih apa yang ia lakukan, membuat ia tanpa sadar melakukan hal yang ceroboh; sifat yang sungguh yang paling ia benci. Tanpa sadar tersebut menjadi pertanyaan besar bagi orang yang melihat, apa yang ia lakukan, hal itu juga tak ia tanyakan hal demikian pada Zenos, terbilang sangat membantunya dalam kondisi apapun.


Di iris birunya menatap para Golem musnah tanpa sisa, keadaan yang sungguh kontras dengan sebelumnya, nampak indah menjadi hancur tak tersisa pada koordinat nya saat ini. Banyaknya golem-golem tadi menjadi abu menyatu dengan tanah; Golem terbilang keras pun tak ada yang menyamai dengan keganasan dari pelahap semua materi ini, tak ada terkecuali pun, bahkan benda yang mempunyai masa sekecil tak ada belas kasih yang mungkin tak bisa ia lahap semestinya.


“Huh.... sepertinya aku terlalu berlebihan...”


“Tak kukira katanaku ini, bahkan bisa menahan dari ganasnya api hitam, apakah ini benar terbuat dari 5 logam kuat yang ada.” Sambil mengayunkan secara santai katana yang pegang.


“Huhhhh....mari berkumpul pagi dengan teman-teman.”


***


“Benar-benar mengejutkan bukan begitu Kepala Akademi, Magic Element yang bahkan tak dapat di kuasai oleh para jenius, di miliki oleh anak itu.”


“Ya, aku...cukup mengejutkan juga, melihat hal seperti itu..”


“Cukup membuat aku de Javu dengan seseorang.”


“Mengingat masa lalu yah...apakah anda masih berpikir jika orang itu masih mengingatmu.”


“Entahlah...biarkan saja begitu, aku juga tak terlalu mempedulikan.”


“Seperti biasa...yang kau tunjukkan.”


“Hahahaha...kamu begitu memahami ku Instruktur Guld, tak seperti anak Jenius Hagrid itu...”


“Hahahaha, aku merasa sungkan menerima pujian anda itu, kepala Akademi.”


“Ya, walau pujiannya cukup ringan untuk di dengar.”


“Ayo, lanjutkan hal yang seru di lihat ini..” ujar Kepala Akademi.


“Benar juga, waktunya babak kedua bukan.. Lanjutkan!!!!!”


....


Di malam yang terang dengan bulan besar menghampiri, di sebuah negara lebih tepatnya kota yang menjadi pusat pemerintahan ini. Di kejutkan akan hal yang menjadi insiden di kenal di seluruh dunia dan juga sejarah melekat di pelajari, insiden yang masih di ragukan akan kebenarannya maupun kepastian akan hal itu, baik di telinga masyarakat maupun dari mulut ke mulut oleh segelintir orang.


Ras legenda yang di sebutkan menjadi ras terkuat yang pernah ada, dan lagi ras yang menentang tuhan itu; menjadi sentral kota ini. Di malam yang kenal bukan menimbulkan suara keheningan karna akan hal menjadi sesuatu yang di lakukan oleh semua orang – gaduh akan hal yang menjadi – untuk menyelamatkan diri. Raungan keras dari sosok bersayap dengan api hitam yang membludak tak menentu keberbagai arah, menghancurkan, bukan melainkan melahap apa yang ada di sekitarnya. Orang-orang ngeri melihat, hanya melarikan diri tak menentu dari malam insiden itu.


Di ruang aula, seorang yang berbalik membelakangi seseorang yang tunduk di bawah panggung berundak, tampak lima tingkat dengan singasana melengkapi, disisi berdiri kokoh dua patung singa berwarna gold dengan tatapan jelas sangar menambah lebih kesan mewah dari aula besar ini. Magic penerang di atasnya membuat ruangan satu ini menjadi lebih terang namun buram menampakkan wajah masing-masing individu itu, walau masih terkesan remang-remang namun jelas di kala lihat di Indra penglihatan masing-masing.


“Apa yang kamu katakan, ras Naga...bukankah itu hanya dalam legenda, yang di jadikan sebagai ras utama yang ada.”


“Benar rajaku, apa saya ucapkan ini benar-benar adalah kenyataan.”


“Bagaimana dengan tempat kejadian, apakah kerusakannya berdampak besar....”


“Benar yang mulia....saat ini naga itu, membasmi distrik tengah, hancur tanpa tersisa,” jawab orang itu.


“Kumpulkan pasukan, termaksud para Mage berspeaslis lebih pada Sealing Magic, dan ungsikan para penduduk yang di tempat yang aman,” titah sang raja.


“Saya mengerti yang mulia,” jawabnya.


...


Graoooo.....


Bomm...


Busss...


“Dasar makhluk egois, dasar sampah tak ada artinya.”


“Kalian harusnya di musnahkan saja di Dunia ini, hanya egois yang menyulut pada hati kalian, semestinya kalian itu tahu diri, bagaimana kemampuan kalian itu sendiri.” Suara berat keluar dari Reptil dengan sisik berwarna hitam legam bahkan lebih mencolok menyatu dengan suasana malam yang terang.


Reptil bersayap itu mengaum tak jelas, membakar semua yang ada dengan semburan yang keluar dari mulutnya. Kota yang besar kini, terombang-ambing dengan opsi kehancuran, jika tidak di tangani dengan cepat. Namun hal itu sepertinya tak mungkin, untuk di lakukan secara cepat seperti yang di harapkan, ras kuat yang kini mengamuk itu seakan tak mempunyai kesadaran seolah-olah menggunakan instingnya mempertahankan hidup di kala merasa bahaya. Tapi, hal itu sepertinya salah besar untuk, apa yang terjadi pada naga satu ini, api hitam pekat sempurna yang mengelilingi membentuk bundaran penuh memgelilingi sang naga, merespon di kala apa yang di lakukan sang naga saat ini. Hal yang di kondisikan, seperti pembalasan akan sesuatu, yang menyulut api kemarahan itu.


“Rasakan ini.....”


Swus..


Dhuar....