My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 52. Mistery



Hutan belantara, dengan padatan pohon yang meninggi, tak ada satupun cahaya mentari yang lolos hingga menyentuh tanah gelap; sekedar hal yang membuat untuk menyinari agar pandangan tak kelabu ketika menjadi pancar Indra penglihatan melihat di bawah sepanjang luas hutan belantara demikian. Namun berbeda halnya dengan peradaban alami bangsa bertelinga panjang ini, hutan belantara itu yang di anggap sebagai rumah mereka, hidup di bawah bayang kegelapan tetapi tak menyulitkan aspek kehidupan masing-masing.


Elvanzasyon sebuah kota unik; kota yang dikenal sebagai ibu kota dari Elf Kingdom ini, kota dari salah satu peradaban yang begitu masif maupun berpengaruh bagi Histori bangsa Elf. Rumah-rumah pohon...bukan! melainkan rumah yang menyatu dengan pohon berjejer dan jalan bata tua yang memanjang secara vertikal, pondasi dengan diameter sekiranya berada pada ukuran sedang maupun besar, rata-rata berada enambelas meter dengan tinggi rata-rata pohon sekitar tigapuluh lima meter. Kota yang di rancang menyatu dengan keasrian alam bukan melainkan hal sudah semestinya bagi kehidupan ras mereka — terkesan akan kedamaian maupun kehidupan flora tersebar di seluruh kota ini, bahkan teritorial yang menjadi kekuasaan bangsa setengah peri ini.


Sentral dari semua itu, nampak Pohon besar dengan diameter bahkan hampir menyamai satu kota kecil di miliki ras manusia, sangatlah besar di pandang. Istana terbesar, yang di miliki bangsa Elf bahkan sangat besar di Etherna World – istana yang di juluki sebagai ‘Keindahan peradaban Elf’ ini – dengan nama The Temple Of Foresty. Tinggi Temple Foresty bahkan menyamai gedung pencakar langit yang rata-rata seratus meter dari tempat berdiri kokoh. Namun di dalam sana, tepatnya ruang besar aula di miliki Temple Foresty ini, nampak perempuan Elf dengan mahkota indah cantik di rambut putih mengkilap halus yang ia miliki, dengan tongkat kayu indah yang di hiasi benda bulat besar di ujung kayu, di perkokoh dengan bentuk lingkaran melingkar berwarna putih adalah platinum; duduk dengan elegan menatap bawahnya memandang tunduk di hadapan perempuan yang berumur dua ratus tahunan ini.


“Salam Hormat ratuku,” ucap lelaki Elf berpirang panjang terurai melewati lehernya.


“Bagaimana Edmiard, tanggapan para Guardian mengenai kejadian aneh sebelumnya,” sang ratu Elf berucap.


“Mereka tak menanggapi secara pasti ratuku...” Diam sesaat!!!


“Tiga Guardian saat ini berada di luar sana, mereka ingin bertemu anda ratuku,” ucapnya.


“Membahas pelepasan Energi Gaia sangat besar waktu kala itu,” tambahnya.


“Ohh..mereka ingin bertemu dengan ku, biarkan mereka masuk.” Senyum santai terlihat di wajah jelitanya.


“Baik ratuku, Edmiard ini akan selalu melaksanakan apa yang di perintahkan,” ujarnya.


...


Di tempat yang masih sama, aula singasana sang ratu Elf. Terlihat tiga orang ras Elf tunduk di hadapan sang ratu yang duduk dengan elegan menatap tiga orang ini, dua di antaranya adalah laki-laki dengan rambut pirang nampak cerah dan satu perempuan berambut perak keabu-abuan.


“Salam Hormat kami, ratu Evana sang pemimpin Elf yang XVIII,” ucap mereka serempak.


“Hmmm.... Langsung pada intinya, kalian sebagai seorang Guardians pasti tau kejadian aneh yang di rasakan sebelumnya, Energi Gaia yang sangat kuat yang setara bahkan melawan Eksistensi dari Yggrasial bukan...”


“Bagaimana tanggapan kalian,” ucapnya tersenyum penuh makna.


“Kami sebagai salah satu dari perwujudan dari tujuh jendral Valar yang terpilih, tak dapat menanggapi apa yang anda tanyakan, ini semua sudah melewati dari apa yang di tugaskan kepada kami sebagai salah satu penjaga Yggrasial,” ucap salah satu Guardian dengan pedang terpampang jelas di rompi pinggir pinggangnya.


“Jika begitu, apa yang membuat kalian bertiga kesini jika tidak menyampaikan tanggapan kejadian begitu ganjil itu,” ucap sang ratu masih dengan nada santai.


“Kami hanya ingin mengatakan kepada anda, jika ada salah seorang yang mempunyai Energi yang lebih besar dari anda sang ratu,” ucap Guardians perempuan hingga suasana menjadi hening.


“Ini seperti akan adanya Eksistensi lebih besar dari kita semua bangsa Elf bahkan bisa saja kita tunduk di bawah kekuatanya, mungkin ratu sendiri berpikir jika hanya kita bangsa Elf yang mempunyai Energi Gaia, walau bangsa peri selama ini telah mengisolasikan diri mereka dari dunia luar.” ucapan terdengar dari Elf yang di juluki sang guardian dengan pedang berada di samping pinggangnya.


“mendengar apa yang kalian utarakan, beranggapan seperti ancaman yang kalian berikan padaku,” kata yang ia keluarkan sedikit ada rasa penekanan dari sang ratu.


“Maaf, jika anda merasa begitu, kami hanya ingin bermaksud baik untuk kepentingan kerajaan Elf ini,” ucap perempuan dengan nada datar.


“Ohhh... bermaksud baik, aku mengerti, tapi ketika melihat ekspresi kalian masing-masing, sungguh di katakan bagaikan ancaman saja,” ujar sang ratu Elf.


“Kami tidak bermaksud demikian, wahai Sang ratu Elf.”


“Hmm...Sudahlah, namun jika kalian ingin melawanku...aku akan selalu berbaik hati meladeni pertarungan sesama kita, sang Guardians.”


“Terima kasih atas kebaikan ratu, kami undur diri dulu,” ucap salah satu Guardian dengan panah berada di punggungnya.


“Baiklah....”


Kreak... (Suara pintu tertutup)


Wanita Elf itu masih menatap lurus kearah pintu terdengar, iris biru matanya yang indah di tambah parasnya yang terbilang tidak biasa. Pupil dari Iris birunya, berbentuk kilauan cahaya biru safir dari iris berwarna, kesan indah tak ada duanya di sematkan pada Perempuan Elf yang di agungkan sebagai ratu Elf ini. Bawahnya yang bernama Edmiard itu, menatap sang tuan dengan tampang yang tak terbaca, menatap sang tuan yang mungkin lagi memikirkan hal yang di ucapkan oleh tiga Guardians itu.


“Apakah tuan mempercayai apa yang di bicarakan oleh para Guardian.”


“Entahlah Edmiard, aku sama sekali tak merasakan jejak kebohongan dari apa yang mereka katakan.”


“....”


“Aku merasa ada sesuatu yang lebih ganjil dari kejadian semua ini.” Menatap langit-langit ruang aula megah itu.


“Baik..Ratuku,” ucap Edmiard dengan tegas.


***


Di ruangan yang besar, terlihat satu meja bundar kayu dengan sodoran kursi terdiri dari tujuh kursi yang ada – memutari meja bundar kayu tersebut. Kayu berwarna coklat yang nampak kokoh menjadi pusat dari objek ruangan yang ada. Namun hal itu berubah ketika terlihat tujuh orang Elf yang di katakan tak muda lagi duduk di sandaran kayu memutari itu, eksperesi mereka terlihat menunggu akan kedatangan orang nomor satu seanteru bangsa Elf ini.


Tap...


Tap...


Suara alas kaki terdengar di telinga panjang masing-masing Elf berada, secara bersamaan suara pintu kayu terbuka memperlihatkan seseorang yang telah mereka tunggu lama dari tadi di ruangan besar ini. Wanita Elf memegang tongkat yang begitu di suci kan bagi penyembah Valar ini, di katakan tongkat tersebut di berikan secara langsung Oleh pimpinan Jendral Malaikat sang Uriel Ini.


“Apakah kalian telah menunggu lama atas kehadiranku ini,” ucap sang ratu Elf jelita itu.


“Tidak sama sekali ratuku, kami semua sama sekali tidak keberatan atas keterlambatan anda, dan kami lah yang harus tahu diri, bertemu dengan anda yang suci ini,” ucap pria paruh baya Elf dengan rambut pirang yang sangat khas rata-rata bangsa Elf.


Semua itu pun di anggukan, pemimpin Elf dari berbagai Keluarga terkenal sangat menjunjung tinggi bahkan menyembah pemimpin mereka yang di agungkan sebagai penguasa seluruh wilayah tengah ini. Mereka mengagumi atas kehebatan baik bersifat personal ataupun pemerintahan atau hal-hal lain dari berbagai kehidupan bangsa Elf.


“Baiklah, mari kita bahas sesuatu yang penting; yang Kedepannya akan mengacam kaum kita bangsa Elf ini,” ucap sang ratu Vena yang telah duduk di depan pandangan mereka semua, lalu menatap mereka serius.


“Namun sebelum itu!!!”


“O fuinneamh atá ar fáil má tá tu sásta Lo mo cheannas, déan an seomra seo gan torann are chor at bith.”


Sihir Elf kuno yang di keluarkan dari sang ratu Elf, terdengar jelas di telinga panjang yang ada. Hal yang sangat mustahil untuk di kuasai secara berkala maupun di luar kepala, tapi ini semua tak ada artinya di bagi Queen Evana ini, ia di gadang-gadang bahkan satu-satunya bangsa Elf yang menguasai secara pasti bahasa generasi Elf pertama ini yang langsung terhubung dengan energi alam atau [Mana].


“Edmiar jelaskan...”


“Baik ratuku..” jawab Edmiar berdiri di belakang.


Ras Elf mempunyai tujuh keluarga yang saling mempengaruhi bagi kehidupan bangsa Elf, keluarga yang utamanya di bedakan karna Spesialis mereka dalam bidang masing-masing – tentu saja bukanlah sihir ataupun Pengetahuan Sihir atau hal-hal lain dalam edukasi umum peperangan maupun strategi militer lain, mereka bahkan sudah lumrah mengetahui dari sejak mereka kecil hidup sebagai bangsa Elf ini.


Tujuh keluarga tersebut yakni; Exonia, Arexes, Dwarzes, Asilon, Wynen, Asgard, dan juga Lumiel. Keluarga masing-masing yang saling mempengaruhi itu, tak di pungkiri di katakan sebagai indikator tolak ukur kekuatan bangsa Elf maupun pengaruh, relasi hal berkuasa apalagi ilmu pengetahuan. Tak seperti ras lain yang menyematkan kata persaingan atau pun pun hal permusuhan dalam sematan nama besar yang mereka gunakan; disebabkan ratu mereka Evana sang ratu Elf yang menjadi panutan seantero Elf Kingdom ini tak memiliki ataupun keluarga yang menjadi nama belakang dari keluarga berpengaruh itu — alami pilihan dari takdir atas negeri Elf ini.


“Apakah yang anda ucapkan, benar-benar sungguh kebetulan,” ucap Lelaki paruh baya dengan akhiran nama Lumiel ini.


“Ini tidaklah kebetulan tuan Wastel; jika ini adalah kebenaran, bisa saja bangsa Elf hancur di tanah Etherna ini,” ucap salah seorang bangsa Elf dengan perawakan cantik tapi tak sebanding dengan sang ratu — menatap serius. Ia bernama Vena Asilon.


“Walaupun begitu ratu, siapakah seorang yang menjadi pelaku dalam semua ini,” kata pria Elf, seorang bernama Lemberk Arexes


“Aku tak bisa memprediksinya secara pasti maupun mengasumsikan.” Diam sejenak.


“Namun duganku jika benar, ada dua opsi yang mungkin benar-benar terjadi, yang pertama bangsa peri sendiri telah menunjukan keberadaan mereka selama ini, dan opsi kedua jika ini ada kaitannya dengan bangsa manusia, entah apa mereka lakukan,” tambah sang ratu.


“Jadi apa yang akan kita lakukan, mengatasi hal ini ratu...” Ucap lelaki Elf berasal dari keluarga Dwarzes, bernama Helioss Dwarzes itu.


Ratu Elf Evana terlihat berpikir, memegang dagu dengan pancaran mata yang sangat serius. Pelipisnya terlihat berkerut, ketika mengetuk meja kayu bundar di hadapan mereka, membuat ia menjadi pusat perhatian yang ada.


“Aku tidak mempunyai solusi sama sekali secara atau pun sungguh menyelesaikan masalah ini, tapi jika berkenan bisakah kalian menempati satu permintaanku ini,” ucap ratu Evana.


“Tentu, kami akan selalu menempati apa yang anda perintahkan, ratuku...” ucap lelaki Elf dari Keluarga Dwarzes itu dan di anggukan oleh semua pemimpin yang ada.


“Aku membutuhkan para generasi berbakat dari perwakilan keluarga besar masing-masing,” ucap ratu Evana.


“Bisakah saya bertanya kepada anda ratu, untuk apa semua itu untuk anda sendiri, apakah ada hubungannya dengan masalah yang kita hadapi ini,” tanya seorang Elf berkacamata.


“Ya, aku setuju dengan tuan Amaon, untuk apa semua ini ratuku,” ujar Vena bingung atau lebih tepatnya belum menangkap makna permiantaan dari sang ratu Elf.


“Aku akan membuat sesuatu yang akan berdampak Kedepannya bagi bangsa Elf ini.” Ia tersenyum menatap kebingungan dari semua yang ada, mereka menerka-nerka apa yang akan di lakukan sang ratu demi masa depan. Ratu Evana terlukis senyum tipis di kedua sudut bibirnya, menatap di kala kebingungan yang ada.


“Kami semua mengerti, ratuku yang agung.” Serempak semua mengucapkan hal demikian.