My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 66. Terungkap; In Anion Library



“Near...Leon, apa yang ka--” ucap Hendrick yang kaget pada orang yang menepuk pundaknya.


“Bisa dibilang mengikuti kalian..” jawab Near cepat.


“Kami tadi melihat kalian berdua di lorong dekat dengan kompleks asrama, walaupun tadi ada sedikit...,” ucap Leon.


“Asrama? sepertinya begitu sih.”


“Hei kalian, apakah kalian tidak pergi sama sekali, kami sudah menunggu nih,” Morlex berucap.


“Cepatlah..”


“Ya, ya...tunggu sebentar, kami segera menyusul kesana.”


Walaupun di katakan, perpustakaan Anion hari ini benar-benar sangat ramai, entah di sebabkan karna apa. Namun sebenarnya, pengunjung yang di perbolehkan agak sedikit di batasi, dan hampir seperdua yang di perbolehkan masuk di perpustakaan Anion, tentu itu tak berlaku bagi kelas-kelas yang di katakan di prioritaskan seperti the Golden Egg maupun Elmest Silva yang di katakan langsung berpartisipasi dalam pameran kali ini.


Tak cukup lama berjalan, Zen dan juga kawan-kawan lelakinya saat ini–dengan lambang jubah mereka langsung di biarkan masuk tanpa ada relevansi pemeriksaan yang berarti, itu pun tak ada yang di sangkal jika mereka adalah anak-anak dari kelas yang terpilih ini. Namun demikian itu pun tak menyurut kemungkinan, jika para perempuan dari kelas yang sama, akan memasuki Perpustakaan Anion. Di pandangan deretan kursi memanjang bagian ketiga, kelompok yang di sebutkan itu, nampak duduk disalah satu kompleks kursi berhadapan–sama sekali terlihat keseriusan dari masing-masing, bahkan itu sang Loli Anastasya.


Hendrick mengangkat satu alisnya, lalu menatap mereka dengan berusaha memastikan. “Sepertinya kita ada sekawan juga, apa yang mereka lakukan disini. Menurut kalian bagaimana??”


“Aku juga tak tahu, mungkin mereka punya tujuan, mungkin..“ ucap Morlex dengan nada remda akhirnnya.


“Ayo kita cari tempat yang pas..”


Semua mengangguk mengerti, peryataan dari Peter, namun hal itu bukan masalahnya saat ini, suara yang cukup keras dari mereka ini membuat masing-masing dari mereka menjadi sentral indikasi, tentu para perempuan dari kelas the Golden Egg pun juga sama; mereka menatap dengan tatapan heran di tunjukan pada mereka semua.


“Eh? ada apa.”


“Kalian tidak sadar, jika suaramu itu sangatlah mengganggu bagi ketenangan dalam perpustakaan,” ucap cintia dengan nada mencemoh.


“Seharunya kalian itu baca peraturannya dulu baru memasuki perpustakaan,” tambahnya lagi.


“Haisss...apa yang mereka pikirkan sih..” ucap Zen di benaknya.


“Kami minta maaf atas segalanya,” ucap Zen dengan cara menunduk di depan mereka semua.


Zen pun merasa hal ini tak seharusnya ia lakukan, apalagi faktanya hal tak ia perbuat sama sekali. Namun kendati begitu, hal demikian cukup membuat sedikit ada rasa bersalah walaupun tidak sepenuhnya untuk di nilai bagi orang yang melihat—cukup untuk menetralisir yang ada bukan. Mereka juga sepenuhnya ada yang tak terlalu mempedulikan semestinya, jadi tidak patut juga untuk membesarkan masalah ini.


...


“Huh..hampir saja,” ucap Peter menghela napas dalam.


Sekawan ini mereka duduk di tempat yang paling pojok seperti biasa yang sering di tempati oleh Zen, tak cukup untuk menyangkal hal ini terbilang aneh di benak Zen yang memastikan bingung dari tadi. Zen menatap mereka dengan tatapan intens dan juga serius, meniadakan Hendrick yang menatap bingung. “Apa yang kalian lakukan disini?” ucapnya langsung keintinya.


“Tentu saja hal semestinya bukan, apa yang orang lakukan di perpustakaan,” jawab Gaznel langsung.


“Ohhh.. jika begitu, seharusnya tidak mempengaruhi posisi duduk kalian bukan, apa yang akan kalian dapatkan jika duduk di tempat yang sama?”


“.....Aku tak bisa menjawab...” ucap Near.


“Huh....begini Zen, sebenarnya mereka tahu jika kamu akan mengikuti event kali ini, dan itu pun cukup mengejutkan untuk mereka dengar, dan...terlebih lagi hal itu seperti harus di dukung juga bukan,” ucap Leon dengan pasti.


“Hmmmm, itu benar sekali, aku lumayan penasaran, kenapa kamu terdaftar di pameran kali ini, padahal pendaftarannya sangat susah, kecuali jika ada yang mendaftarkan dirimu dan itu pun seharusnya jika ia mempunyai relasi yang kuat,” ucap Erwin menatap Zen.


“....”


“Tidak perlu membahas hal yang tidak perlu...”


“Aku akan memberitahukan maksudmu, bisakah aku membantumu,” ucap Lumire yang terlihat serius.


Mengedipkan mata sekali lagi, berusaha mencerna apa yang ia dengar sebelumnya, bukan! melainkan sebuah permintaan. “Eh..ya, bisa saja, aku memang sedikit perlu bantuan,” jawab Zen.


Dari keempat remaja yang ada yakni Morlex, Gaznel, Erwin, dan juga Lumire; orang yang di katakan paling penasaran dengan Zen sendiri adalah Sang Manipulasi Ruang ini–benar-benar tak dapat di sangkal. Lumire yang di luar bersikap biasa-biasa saja, namun hatinya seolah-olah terobsesi dengan keadaan akan gundah penasaran dengan kemisteriusan dari Zen, dan kemarin-kemarin yang lalu, tepat pada saat ujian yang diberikan Instruktur Vena; pertemuan mereka semua sesudahnya dengan ujian sihir itu. Ia bingung dengan hawa yang di miliki Zen yang tak terlihat lagi sedikit berbeda lebih tepatnya tidak nampak sama sekali, berusaha memastikan, apakah Zen menetralisirkan atau mentransparankan agar di ketahui oleh banyak orang. Kendati ia berusaha cukup maksimal untuk memastikan, tapi apa di dapatkan adalah tidak sama sekali.


Ia hanya mengambil kesimpulan dari ketidakpastian yang ada, mengasumsikan berdasarkan pikiran yang miliki dengan pendekatan-pendekatan beberapa kemungkinan yang mungkin terhubung dengan sebenarnya. Namun pemikiran tersebut ia sedikit tak menyakinkan, apalagi Lumire adalah salah seorang yang cukup tenang berusaha berpikir secara matang sebelum ia yakini, tetapi ia tak dapat menyimpulkan akhirnya. Untuk mengatasi rasa obsesinya ini yang makin hari makin ada peningkatan; ia lebih harus mendekatkan diri dengan pengorbanan di sendiri, untuk di jadikan umpan.


“Aku tak pernah berpikir jika ia akan secepat ini menyetujuinya,” batin Lumire sedikit terkejut.


“Aku ingin bertanya pada kalian, siapa yang disini mengikuti pameran kali ini,” ucap seseorang dari arah belakang mereka.


“Ehh? Leksmar...”


“Aku bertanya! Kenapa kalian tidak menjawab...”


Zen menatap Leksmar dari pandangan irisnya yang berpaling kebelakang. “Aku..” Sembari mengangkat tangan.


“Hmm, kamu ingin bersaing denganku yah..?” ucapnya dengan ujaran yang menilai.


“...” (Apa maksudnya)


“Menurutku itu mungkin saja jika kamu yang mengikuti, tak terpikirkan olehku juga; seharusnya aku sedikit menganggap kamu itu dari sekian laki-laki yang ada, tak kupikir jika Lusi, Anatasyah, Esline, Cintia dan Guin maupun Rena tertarik padamu, lebih tepatnya sekian perempuan dari kelas the golden Egg yang ada,” ucapnya.


Zen mengernyitkan dahinya, ia belum bisa menangkap maksud dari ucapan Leksmar yang sedikit dicerna. “Aku sama sekali tak dapat memaknai atau pun menerjemahkan apa yang kamu ucapkan,” ucap Zen.


“Tak kukira ada laki-laki yang tidak peka sepertimu itu,” jawabnya.


“Aku cukup yakin, jika kalau kamu itu tak mengerti apa yang orang pikirkan. Instropeksi dirilah menjadi lebih baik, itu yang harus kamu lakukan, berusaha lah memahami hati orang lain..” ucap Leksmar langsung berjalan pergi.


“...”


“Apa-apaan perempuan itu,” ucap Hendrick terlihat kesal.


“Perempuan memang menakutkan,” Peter yang terlihat meneguk salivanya.


“Apa kalian merasa... ini ada, sedikit aneh dengan sikapnya, dan apalagi makna ucapnya sebelumnya,” tanya Near.


“Aku pun merasa dari pertama, sedikit aneh dengan Leksmar itu,” ucap Hendrick yang menatap mereka semua


“Jangan berpikir sembarangan Hendrick!” jawab Gaznel.


“Hah... kita lanjutkan saja dengan kegiatan kita saat ini,” ujar Leon.


***


“Apa yang kamu bicarakan dengan mereka Leksmar,” ucap Esline.


“Hmmm..tentu, aku hanya ingin mengucapkan kata hati kalian,” ujar Leksmar yang santai.


Tiga orang perempuan yakni Esline, Rena, dan Cintia mendengar, matanya membulat sempurna, sepertinya mereka sangat terkejut dengan ucapan ringan yang keluar dari perempuan berambut hampir seperti laki-laki ini. Tak di pungkiri, hal itu membuat detak jantung mereka bergerak sedikit aneh dari kecepatan normal biasanya, hal yang membuat mereka sama sekali tak bisa berpikir jernih dari biasanya.


“Jangan mengada-ada Leksmar,” ucap Esline; rona merah kental terlihat di wajahnya.


“Apa yang kamu bicarakan dengan ‘dia ha!!!” ucap Cintia.


“Tentu saja berhubungan dengan kalian semua bukan, menyukai satu orang yang sama, aneh juga...padahal baru pertama kali bertemu..” ucap Leksmar memanas-manasi.


“A-aku tidak menyukainya sama sekali,” ujar Rena sama dengan berdua.


“Hmmm...akan kuberitahu kalian yah, aku cukup tertarik dengan ‘dia.”


“A-a-apa!!!!!” teriak mereka bertiga.


“Bukanya kita sudah sepakat, jangan terlalu berpikir dengan orang itu bukan, persahabatan kita lebih penting, kalian harus tahu itu,” ucap Guin tenang dari tadi menyimak.


Perempuan berambut skroll berwarna coklat sempurna, serius apa yang ia lihat. Ia jujur saja sudah mencurigai gerak-gerik dari Leksmar sebelumnya, namun ia hanya berfikir positif maupun tak memperhitungkan kemungkinannya–beranggapan mungkin jika perempuan berambut pasta itu, sedang mencari buku yang mungkin akan ia jadikan referensinya dalam pameran nanti yang akan ia ikuti.


“Ya, aku sudah menyembunyikannya sudah lama, a-aku cukup tertarik dengan ‘dia,” ucap Leksmark lagi dengan nada memain-mainkan.


“Sudahlah...Leksmark, kamu tidak lihat muka mereka lebih aneh dari sebelumnya,” ucap Guin.


“....” tak merespon


“Mungkin saja, hahaha...senang juga yah.”


“Apa yang kalian bicarakan sih, kalian lihat, ini untukmu kak Leksmar mungkin buku ini ada hubungannya dengan karya ilmiahmu yang nanti kamu pamerkan nanti,” ucap Anastasya.


“Hmmmm...ini lumayan bagus,” jawabnya.