My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 74. Satu Kata “Revolusi”



“Dan itu pun menjadi sebuah bentuk multifungsi di berbagai bidang yang ada, semua berkomponen [Mana] tak terkecuali sedikit pun.”


Penjelasan yang masih berlanjut ini di simak oleh banyak pihak, tak ada sepihak pun menginterupsi ujaran-ujaran yang benar-benar superior di keluarkan oleh remaja berambut putih ini lewat nada tegasnya. Hal yang ia keluarkan secara spontan terbawa suasana itu, seolah-olah bagaikan air mengalir tanpa henti, tak menyadari apa yang ia lakukan, keluar dari pikiran yang cukup lama ia simpan ini–di emban menjadi sebuah delusif, pembuangan pikiran tak sia-sia dari otak rasionalnya.


Sebuah Revolusi yang memungkinkan di masa depan nanti, bukan ras Manusia saja yang menikmati bahkan ras lain yang menjunjung tinggi teknologi dan juga pengetahuan di sandarkan bersamaan dengan superiornya sihir, ini lah karya dari Zen yang ia sebutkan Genitor: tool magic yang memungkinkan pada bidang apapun dapat bekerja secara semestinya. Walaupun wujud prototipe nya sedikit lebih kearah belum sempurna di gunakan dalam semua bidang atau tool magic lain di haybrid, namun masih bisa di kembangkan lebih lanjut dari penelitian ataupun observasi, lebih baik lagi, dan Zen berpikir juga begitu.


Tiga orang tersenyum secara bersamaan, berselang waktu yang sama itu, entah kenapa, seakan menjadi pikiran bersamaan bagi tiga orang yang sangat terkenal di affilition yang mereka jabat saat ini, walaupun itu hanya dasar dari kepuasan atas sebuah kinerja yang di dambakan. Instruktur Etnest menatap Zen tersenyum merekah, ia benar-benar tak ragu lagi akan kemampuan yang sungguh di atas kelebihan banyak orang ini, bakat terpendam tersembunyi, bagaikan harta karun berjalan, menguntungkan, anggapan yang bersusun. Berbeda hal lain dengan kedua orang yang di sebut murid dan guru ini, Professor Vesta dan Instruktur Kesna, mereka mempunyai pemikiran yang sama sebagai salah satu pemikir mempertimbangkan visioner, menjadikan komponen yang sangat penting—ini menjadi sebuah awal yang baru bagi perubahan ekspansi besar-besaran di Etherna ini.


Tidak ada yang bersuara sama sekali sewaktu Zen sehabis menjelaskan semua yang ada, menjadi sebuah tindakan yang sungguh di katakan jarang ataupun sering di temui, kendati ini menandakan hal yang membuat orang hanya bisa melongo di bawah bayang-bayang kebingungan, menjadi sebuah keheningan tak berarti. Zen hanya menatap bingung, tentu saja ia tidak peka sama sekali, menggaruk bagian belakang kepalanya, tak gatal itu, di benak bertanya-tanya.


“Anu, anu, ini ada apa yah..”


“Apakah ini menjadi akhir dari penjelasanmu Tuan Charlotte,” ucap Instruktur Etnest, sedikit berkomentar dari sebelumnya.


“Ya, begitulah,” ucap Zen nadanya agak ragu-ragu.


“Bisakah anda menarik Deduksinya Tuan Charlotte,” ucap Paman Gazel.


“Ahhh... tentu, sebuah aspek kehidupan mengatas namakan pengetahuan di melebih superioritasnya sihir,” ucap Zen.


“Deduksi yang sangat menarik, aku sungguh tak pernah berpikir jika ada seorang revolusioner yang masih muda seperti ini, tentunya ini menjadi pembuktian tersendiri akan suksesnya akademi Phyterus,” kata Tuan Elkerd.


“Aku sangat tertarik, jika Tuan Charlotte ingin berkolaborasi dengan Alkimia Corporation lebih lanjut lagi, untuk mengembangkan prototipenya seperti yang anda bilang tadi.”


“Ya, itu bisa terjadi, namun aku harus memikirkan matang-matang dulu, semuanya.”


“Itu memang keputusan yang bijak Tuan Charlotte, kami akan menghargai apa yang anda putuskan,” Tuan Leonhass pun berucap.


“Kami juga sama, pun begitu,” di anggukan oleh semua pihak dari affilition yang berpartisipasi, terkecuali salah seorang, Perempuan berambut hitam yang dari tadi diam saja menikmati.


“Aku sangat terhibur sekali atas semua yang anda jelaskan Tuan Charlotte, dan mungkin saja kami Organisasi Rhei di bawah langsung dari empat kekaisaran besar, ingin berkerjasama dengan anda, menjadi pemodal yang besar bagi projek ini.” Commander Alia tersenyum terhibur di luar, masih dalam suasana tanda tanya, maksud ucapan.


Commander Alia dari tadi memang menyimak dengan jelas apa yang di ucapkan oleh Zen, baru pertama kali ini ia tertarik akan bakat seseorang, selain Near murid sebelumnya. Perasaan yang berbeda sangatlah ia rasakan dari dalam jiwa anak ini, dominasi memang, misterius, aura kepemimpinan, lebih dari itu! ia rasakan. Akan tetapi, ia bukan orang gegabah yang akan membeberkan secara langsung atas semua ini pada pihak petinggi yang ada—sudah mempertimbangkan secara semestinya di otak cerdasnya, kejadian yang bisa saja terjadi. Tak mau repot-repot, ia akan menggunakan rencana yang sangat simpel namun dua burung menjadi sasaran tembakan.


Memikirkan hal itu saja ia bahagia di benaknya, ketika delusi yang belum tentu terjadi itu terjadi di masa depan nanti, masih melekat dari raut tatapan yang ia tunjukan kepada Zen—hanya tersenyum ia keluarkan tipis, namun memiliki maksud tersembunyi di sembunyikan, sungguh tak dapat di pikirkan.


“Ini seharusnya, tak menjadi kendala sama sekali bukan,” ucapnya lagi.


“Anda seharusnya Commander Alia, mengerti keputusan yang di berikan Zen, apalah anda beranggapan masih begitu,” ucap Paman Gazel.


“Tentu saja aku beranggapan seperti itu,” ucapnya dengan nada main-main.


Instruktur Etnest sungguh sudah mengekspektasikan jika Commander Alia akan bersikap seperti ini, ia benar-benar tahu. Dan sejujurnya saja spekulasinya akan keterlibatan organisasi Rhei di bawah langsung Kekaisaran dalam pameran kali ini tak pernah ia pikirkan, membuat ia beranggapan hal yang mungkin sudah di ketahui banyak orang—dugaan yang masih ia pikirkan. Namun di lain sisi, ia tak bisa menghentikan apa yang terjadi sedari pertama; sebenarnya ia bukan menggunakan Zen sendiri untuk masuk dalam rencana pembuktian spekulasi yang ia susun, bukan untuk hanya kesenangan semata-mata karena bakat dari Zen, tidak sama sekali, walaupun hal ini di ketahui suatu rahasia yang sangat besar dan menjadi sebuah masalah kedepannya tanpa di duga-duga–melibatkan Zen itu sendiri.


Ia menggunakan indikasi ini, membuat sebuah dalih yang seharusnya bisa diyakinkan oleh para yang ada, termasuk delegasi yang menentang–seharusnya begitu. Ia berdiri sekali menatap di arah Zen yang cukup terdiam, menjadi bahan diskusi yang ada, tak terkecuali para partisipan—terseyum sekali lagi, nampak samar-samar.


“Ini memang hal yang sangat simpel di gunakan, kata perubahan dalam aspek apapun seharusnya, menjadi sebuah tantangan bukan!”


“Apa maksud anda Instruktur Etnest, aku tak mengerti sama sekali...” ucap Tuan Admaish.


“Hmmm.... seharusnya ini menjadi sebuah titik terang bagi kita bukan, hal yang memang seharusnya di ubah dari bentuk peradaban ini dan itu pun menjadi indikator merubah prespektif banyak orang yang ada, terutama para kamu yang menindas...”


“Aku sangat tertarik dengan Projek yang anda katakan itu Tuan Charlotte, aku akan secara terang-terangan mengumumkan jika Akademik Phyeterus akan langsung mendukung sepenuhnya...”


Kedua kalinya suasana hening terjadi, sebuah ucapan yang sangat superior di keluarkan dari Kepala akademi saat ini, benar-benar tak dapat di perkirakan jika Akademi Phyterus akan langsung memberikan pertunjukan yang sangat menarik bagi pameran kali ini, itu di akui semua orang, termasuk perempuan berambut hitam bermata merah yang sedari tadi menyimak yang ada dari kejauhan. Skak mat bagi orang yang mengintrupsi!


“Ini sangatlah menarik, tak sia-sia aku turut berpartisipasi juga dalam gelaran kali ini.”


***


“Itu sangatlah keren Zen, aku tak menyangka jika hal tersebut dapat terjadi,” ucap Hendrick yang sangat kagum.


“Biasa aja lah... itu cuman insting saja..”


“Jangan merendah seperti itu Zen, aku tak percaya jika itu kamu sebelumnya.” Erwin yang menepuk pundak Zen.


“Ya sudahlah, kau hanya mengikuti insting saja, tak lebih!”


Pembicaraan dari dua orang menggoda Zen, selalu ia tepis, menurutnya ini bukanlah pujian yang harus ia banggakan, tidak sama sekali dari dua orang bersikap seperti ini, ia juga tak membuktikan jika hal yang di maksud pun hanya sebuah pujian agar memberikan kesan godaan kepada seseorang–merasa malu terpujinya memuncaki emosional. Zen hanya berjalan tanpa memandang yang ada, namun ia masih ada satu di benaknya di pertanyakan, tentang wajah cemberut Kevin yang ia tunjukkan–wajah suramnya.


“Apa yang terjadi padanya...” tunjuk Zen kepada Kevin yang berada di belakang mereka dengan raut wajah sedih.


Semua orang tertawa kecil, sedangkan ke remaja berambut coklat ini hanya meratapi nasibnya, tak menyadari, ia pun seakan di manfaatkan oleh itu juga, tak merasa, otak yang fleksibel maupun pemikiran yang lurus dan juga polos sungguh melekat pada pemuda bernama Kevin ini. Kendati ia terbilang lurus dalam sesuatu tanpa berpikir, dan juga sangat berbanding terbalik dengan pemikiran teman-temanya yang ada, ia di katakan anak yang penurut, dan paling ceria, jujur dan juga nyaman ketika berteman dan itu di tambahkan dengan nilai sifat plusnya tanpa embel-embel.


“Kamu sungguh jahat Zen?” ucap Kevin dengan nada meratapi.


“Kenapa salahku.... huh, baiklah, tidak meratapi seperti itu lagi, ini kuberikan kepadamu saja...” Memberikan sesuatu.


Objek yang sangat membuat mereka melongo, menatap tak percaya dari apa yang di berikan Zen kepada Kevin, tanpa ada rasa tak rela sedikit pun, remaja berambut putih itu seakan biasa-biasa saja hanya untuk mereda ratapan yang dibuat-buat Kevin ini. Yah, Stone Magic itu lah yang berikan Zen, sebuah bulatan objek menyerupai kristal terang dengan pancaran [Mana] yang terbilang besar di rasakan, oleh semua orang tanpa terkecuali. Sedangkan Kevin sendiri hanya menatap memastikan dari apa yang ia lihat, tak pernah ia lihat selama ini—bahan yang di gunakan Sang Creator ketika membuat senjata Tipe Tier, bahkan Magic Item itu sendiri.


“Ini bukannya... Stone Magic!”


“Begitulah... ini seperti yang aku janjikan Kevin, ambilah tak perlu sungkan-sungkan.”


Kevin segara memegang kedua tangan Zen, secara spontan terlihat. “Yeah... haha, terimakasih Zen, tak sia-sia aku membantumu.”


***


Di ruangan yang Kepala Akademi, terjadi sebuah perdebatan besar antara Instruktur Etnest dan Commander Alia, apa yang di pikirkan ataupun menjadi sebuah pertimbangan, ini tak dapat di pungkiri jika akan terjadi, jika pun ini melibatkan hal yang di utarakan tadi, hanya sebuah tindakan pasti menjadi pembuktian. Commander Alia merasa, jika kepala akademi sedang membuat alibi yang mengecoh akan sesuatu hal, dan itu pun akan berdampak pada sebuah kenyataan bukan kenyataan melainkan sebuah Konspirasi.


“Apakah anda menyebutkan jika ini ada masalah simple tadi,” ucap nada Sarkastiknya di mulai.


“Tentu saja, aku beranggapan seperti itu.. Commander Rhei,” balasnya santai.


“Apakah kau tidak menyadari sama sekali Tuan Phyterus, jika ini semua ada perihal sehingga kami akan turun langsung...”


“Ya, aku sangat tahu pasti, setidaknya ini menjadi permulaan akan sebuah konflik bukan...”


Sebenarnya hal ini menjadi sebuah perdebatan jika di ketahui oleh banyak pihak atau pun publik, apa yang di sebutkan kata yang tadi di sebutkan Zen sebelumnya yakni Revolusi, tentu hal itu akan berdampak secara signifikan, apalagi hal ini secara tak terduga jika orang kuat tahu sebuah masalah sebenarnya, akan berdampak lebih parah lagi dan hal ini menjadi sebuah konflik telak, dari banyak orang pikirkan. Anggapan Commander Alia mempunyai dua maksud tersembunyi yang ia pendam, pertama turut berpartisipasinya Kekaisaran akan pameran kali ini, tentu mempunyai sebuah tujuan masih tanda tanya, apalagi turut berpartisipasinya akan lima Mega Corporation yang ada–ini tak di pungkiri adalah sebuah kecurigaan.


“Konflik? Kau pikir ini hanya anggapan yang tak berdasar yang anda keluarkan tadi... jangan menghayal, Tuan Phyterus!” Tak ada nada main-main.


“Jika anda menganggap hal ini main-main, bisa saja saya laporkan apa yang terjadi, tanpa terkecuali..” tambahnya.


“Sungguh naif, apakah hal ini akan menjadi sebuah bentuk juga dari apa yang kamu simpan..”


“Kamu sangat mengerti diriku Tuan Phyterus jadi pikirkan sendiri saja... tanpa usah menanyakan!”


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Note;


My Life Is Full Magic sudah masuk tahap konflik pertama nih, jadi jika anda merasa chapter-chapter selanjutnya membosankan, bisa kalian tinggalkan saja. Harap maklum! ^ ^