My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 15. Bertemu Dengan Tuan Liqued



Di Pusat kota yang ramai, terlihat banyak Sekali Rombongan kereta Kuda memadati memenuhi jalanan, semuanya berasal dari keluarga bangsawan dengan lambang mewakili keluarga mereka masing-masing dengan ukiran di atas Gerbong yang di tempati. Pasalanya Dua Minggu dari Sekarang Akademi Terbesar yang ada di Aliance City yang telah meliburkan para muridnya selama tiga bulan yang lalu, dibuka secara resmi dari tidur sementaranya ini dan memulai tahun pelajaran baru. Banyak orang yang berlalu lalang menikmati keindahan, Zen dan juga Hendrick pun begitu, lantas apa yang membuat kedua pemuda itu menginjakan kaki ditempat ini.


Di sana, seorang pemuda duduk menunggu dengan rambut kuning khasnya. Tapi, yang berbeda dari pemuda itu adalah hal yang mencolok yang tidak ia kenakan yaitu kaca mata tebalnya. Sunggu membuat ia sedikit berbeda dari yang di kenal sebelumnya.


"Apakah kamu sudah menunggu Lama Ernest" Ujar seorang dari bepakang.


Ernest yang sedikit melamun,berbalik mencari suara yang terdengar di Indra pendengarannya. Ia sedikit bingung ketika melihat kehadiran dua sosok yang begitu ia kenal.


"Yah begitulah,tapi kenapa hanya kalian berdua saja" Ucapnya yang bertanya.


"Kalau masalah itu sih, kedua kakak dan juga adikku mereka ada sedikit urusan dengan Ayahku jadi masing masing dari mereka sendiri menitipkan hasil rancangan mereka...ini...." Balas Hendrick yang menyodorkan Selebaran yang di ketahui sebagi hasil rancangan yang telah di buat oleh mereka sendiri.


Erenst sendiri melirik Zen yang memperhatikan mereka dengan tenang di wajahnya, jujur saja ia tak dapat membaca Eksperesi dari Remaja berambut putih ini yang ia lirik berhadapan denganya.


"Sudah lama yah kita tidak bertemu Zen" Ujar anak sang penggila Bioteknikal itu.


"Iya...sudah lama yah" Balas Zen yang tersenyum tipis.


"Aku sebenarnya ingin memberi tahukan kalian, sehabis Zen diangkat menjadi anak angkat keluarga Charlotte..ayahku sendiri, ingin bertemu denganmu. Ia begitu penasaran dengan wujud dari Zen sendiri" Ujarnya.


"Jadi....Zen bisakah kamu bertemu ayahku ini, kelihatan ia begitu penasaran dengan dirimu" Tambahnya


"Aku...tak apa-apa lah,sekalian aku ingin kau memenuhi permintaanku ini" Balasnya.


"Kalau boleh tahu apa permintaan mu itu".


"Sebenarnya aku ingin..mengetes kapasitas manaku, aku baru tau jika tempat yang...atau lebih tepatnya Guild petualang Sendiri menyediakan Alat tersebut" Jelasnya.


"Kalo itu sih masalah Gampang, sebelum itu kita bertemu Ayahku dulu."


"Tak masalah" Jawabnya.


o0o


Di kediaman Liqued Sendiri, terlihat seorang Pria sedikit kekar dengan tubuh tinggi dengan rambut kuningnya menampilakan sisi elegan duduk sambil bergulat dengan beberapa berkas yang menumpuk di atas mejanya, dengan tatapan mata fokus menulusuri tulisan yang terpampang jelas di matanya. Pria paruh baya itu terlihat Enggang melepaskan semua apa yang ada di hadapannya, walau tampak ia terlihat kelelahan dari segi mental dan juga fisiknya yang duduk seharian di kursinya itu. Sungguh membuat orang berpikir jika orang yang di hadapanya ini di kenal dengan sebutan “Gila kerja.”


Seorang berjas khas pelayan dengan rambut putih beruban terlihat jelas, wajah dengan kerutan-kerutan yang menghiasi setiap sudut wajahnya menampilkan sosok yang berumur Enam puluhan. Ia memandang sosok tuanya yang seminggu ini melakukan kegiatan, menurutnya begitu membebaninya dirinya sendiri.


"Tuan...Tuan Muda Ernest telah menunggu anda di Ruang utama bersama dengan anak dari Tuan Sebastian dan juga...." Ujarnya yang menjeda.


"Anak angkatnya itu" Tambahnya.


"Ohhh...Anak itu kelihatannya masih mengabulkan permintaanku ini" Balasnya yang mengingat beberapa kesepakatan dengan Ernest sendiri.


Flash Back On...


"Ayah...kan sudah ku bilang jangan terlalu memaksakan dirimu, walau kamu terlihat muda di luar tapi jangan lupa umurmu itu yang sudah tua ini."


"Hah...sudah kubilang, ayah bilang tidak apa apa" Ujarnya.


"Dan lagi kamu kemana saja, tidak seperti dirimu itu yang menghabiskan seluruh waktumu hanya dengan alat alat yang kamu buat" Ucapnya yang terlihat acuh.


"kalau itu sih...kemarin aku berkeliling bersama dengan Hendrick, Susan dan kak Isabela di tambah lagi dengan Anak angkat yang baru-baru ini di angkat oleh keluarga Charlotte" Jelasnya sambil beranjak duduk melihat sosok pria paruh baya.


"Anak angkat...tidak seperti Sebastian yang kukenal" Gumannya bingun. "Tapi bolehkah aku tau namanya" Tambahnya


"Namanya adalah Zen" Balas Ernest ke ayahnya.


"Kelihatan menarik, bisakah kamu memenuhi satu permintaanku ini."


"Sepertinya ayah lupa dengan permintaan yang ujarkan kepadamu sebelumnya, bagaimana kalo kita timbal balik saja" Ujarnya.


Ernest Sendiri menginkan beberapa bahan untuk melakukan uji cobanya, ia bertekad tak melakukan hal-hal yang membuat ia merasa Trauma lagi. Cukup hari itu saja hingga membuat ia pingsang tak sadarkan diri dengan posisi yang sangat memalukan,dan Hendrick Sendiri, suka mengejeknya yang membuat ia sedikit geram akibat kejadian yang telah berlalu itu.


Itulah sebabnya ia merubah penampilannya menjadi sedikit berbeda dengan penampilan lamanya, beranggapan ketika ia merubah penampilannya di satu sisi moodnya akan berubah seiring berjalannya waktu.


Flash Back Off...


Sambil beranjak dari tempat duduk yang ia tempati selama ini, tubuh yang kaku terasa padanya membuat ia sedikit meregangkan tubuhnya yang sedikit kekar. Dokument yang berantakan tadi langsung dengan sigap di Pelayan yang berdiri di sampingnya langsung dengan sigap menyusun semuanya dengan rapi.


"Ayo Gestel kita temui anak-anak itu" Ujarnya.


"Baik Tuan."


Di Kediaman utama sendiri terlihat 3 sosok yang duduk dengan santainya sambil memakan cemilan yang telah di sediakan oleh pelayan, Zen sendiri menyesap Teh dengan kue yang terbilang manis dan lumer di mulut itu. Mereka seperti biasa biasa saja seperti tak tau apa yang menunggu mereka. Duduk dengan santai, cukup membuat mereka kaget dengan sosok yang datang dengan tubuh tegap yang terpampang jelas di hadapan mereka. Dibuat terkejut akan hal itu, mereka secara bersamaan berdiri dari kursi empuk yang mereka tempati secara bersamaan.


"A-Ayah."


"Paman Gazel."


"kelihatan kalian Sudah cukup bersantainya" Ujarnya.


Zen terlihat menaikan satu alisnya,dibatinnya sediri ia bertanya-tanya siapakah sosok di depan mereka dengan aura yang cukup mendominasi. Ketika mendengar ucapan dua orang yang dia kenal dengan sebutan yang begitu De Javu bagi orang yang begitu dekat bagai sebuah keluarga. “ayah...paman Gazel” Batinya.


Ia melirik ketiganya dengan iris mata kuningnya, pandanganya berhenti ketika melihat sosok Zen yang berada di sela-sela pembicaraan mereka. Berjalan mendekat, hingga ia tepat berada satu meter di hadapan pandangan Zen saat ini.


"Tidak buruk...kamu lumayan juga" Sambil menelusuri setiap tubuh Zen dengan matanya sembari memegang dagunya seperti seorang penilai yang menilai sesuatu.


"Perkenalkan Tuan nama saya Zen Arnold Van Charlotte."


"Bolehkah aku bertanya kenapa Tuan melihatku seperti itu" Tanyanya.


"Tidak usah Seformal itu...tapi jujur saja kamu begitu mencolok dengan rambut putihmu."


"Benarkah..aku cukup terkejut" Balasnya.


"Kalo gitu mari kita lanjutkan acara santai- santainya" Katanya dan menyuruh semua pelayannya menyiapkan apa yang ia minta.


Mereka duduk secara berhadapan Hendrick bersama Zen sedangkan Ernest bersama dengan ayahnya. Terbilang cukup hening dengan Suasana yang melanda pada mereka, hanya bunyi Teh yang di tuangakan oleh pelayan lah yang menggema memecah keheningan dari setiap yang ada, hingga..


"Jika ku perhatikan, kamu sudah begitu beradaptasi dengan lingkungan para bangsawan" Ucap Tuan Gazel yang memecah keheningan.


"Jujur saja ketika waktu muda dulu, Sebastian terbilang sangat dingin dengan Orang luar yang tak tau asal usulnya."


"Tapi....bisa di katakan ini pengecualian bagimu" Ujarnya yang tersenyum.


"Mungkin di satu sisi kamu juga bingung kan."


Wajah Zen Terlihat sedikit menunduk, Ernest yang sudah memperkirakan akan terjadi seperti ini, merasa bersalah karna keegoisannya yang melibatkan sosok temanya. Sebenarnya ia juga begitu kaget dengan kehadiran ayahnya secara tiba-tiba, ia mengira ayahnya sedang mengurusi beberapa masalah yang ada di perusahaan hingga tak menyempatkan dirinya datang ke kediaman.


"Seperti itulah...aku sebenarnya sudah memikirkan semua ini" Ucap Zen dengan yang posisi yang masih menunduk.


"Tapi..cukup bagiku merasakan Kehangatan keluarga yang berasal dari keluarga baruku ini hingga bertekad untuk melindungi semua apa yang ku miliki sekarang" Ucapnya sembari mengangkat wajahnya menghadap sosok Gazel dengan Mata yang terlihat begitu menyakinkan.


Hendrick Sendiri yang mendengar ujaran yang di berikan Zen tersenyum lembut kearah orang yang berada di seberangnya. Ia sudah begitu merasakan rasa hangat ketika berada di sisi Zen sendiri, rasa yang membuat ingin dekat dan tak ingin jauh-jauh dan selalu ingin bersamanya, rasa untuk saling melindungi seperti Seorang saudara sebenarnya. Di ibaratkan; Seperti Anak singa yang tak jauh dari induknya dan induk singa sendiri melindungi apa yang menjadi miliknya.


"Hahahahhahah...ayo kita lanjutkan Acara santai-santainya" Ucap Tuan Gazel dengan senyum ramahnya.


"Sepertinya begitu" Ucap Ernest yang terbilang ingin mencairkan suasana.


"Sepertinya....Sebastian, kamu tak salah memilih orang" Batinya Sambil menyesap Teh yang di pegang.