
Sehari sebelum sepekan berlalu, menyiratkan beberapa hal yang di lakukan sebelum-sebelum itu, walaupun sebenarnya ini cukup memberikan beberapa hal yang sewajarnya – memang ia lakukan; namun bukan sewajarnya lagi lebih ke sikap kerja habis-habisan yang harus ia targetkan – jatuh tempo. Remaja berambut putih itu terlihat kelelahan, dari berpikir secara mendalam di ikut sertai, mempertimbangkan secara sempurna mekanisme ini; keadaan ini sungguhlah kacau untuk di katakan selama ia lalukan. Kendati begitu, hal itu seakan menjadi kado kejutan baginya—hasil karya ilmiahnya ini yang ia pertimbangan segenap hati, dari kesabaran–maupun telaah-telaah yang mempertimbangkan dasar unsur kecilnya saja; Zen juga tak tahu pasti, anggapan yang cukup ia lebih-lebihkan, apakah ada kesalahan hasil kerja kerasnya ini, sungguh tak dapat di evaluasi sekedar memberikan tanggapan.
Menaruh buku yang ia pegang salah rak almari buku berjejer, di perpustakaan Anion saat ini; memang apa yang di katakan adalah realita sebenarnya, rasa letih memang terlukis di raut wajahnya saat ini; anggapannya bertanya-tanya apakah ia salah menerima semua ini? itu tak dapat Zen jawab, namun Zen jadikan ini adalah pengalaman pertamanya di kehidupan yang telah hampir satu bulan, lebih ia jalani, memang tak dapat ia ekspetasikan – seharusnya memang begitu.
“Apa ini yang kamu bilang tidak merepotkan Zenos,” ucap Zen.
[Menjawab; yah, bisa di bilang demikian, karena hanya sebagian persen; saya sama sekali tak dapat berbuat apa-apa]
“Tapi, ini tetap saja kan,” ucap Zen.
Tak ada yang tahu, bagaimana rasa letih yang alami oleh Zen, setiap hari ia harus begadang, tentu hal itu tak lain dan tak bukan hanya untuk membuat mekanismenya ini. Kendati demikian, Zen juga tak terlalu pekerja keras, akan hal para dwarf atau orang-orang blacksmith yang lain, namun ia tak ingin menyia-nyiakan sesuatu yang percaya diri ia buat, dalam sebuah keuntungan.
“Ini sudah cukup sepertinya, tak ada masalah serius untuk di lakukan,” ucap Zen.
Pada kenyataannya, memang Zen tak terlalu suka hal-hal yang berbaur merepotkan, jika itu memang murni sifat darinya. Ia sudah lama introspeksi diri, kendati berusaha, hal itu seakan sia-sia hilang begitu saja. Zen sudah membiasakan, tapi apa dayanya, sikapnya sendiri seakan-akan menolak konteks sesuatu merepotkan – tanda kutip. Walaupun pada dasarnya, sifat yang selalu menganggap merepotkan, lebih kebentuk dari struktur orang pemalas. Tetapi, sejujurnya lagi, ia bukan orang pemalas untuk sesuatu hal yang baru—Ia tak mengakui hal tersebut. Namun, jika berbicara hal-hal yang berbaur rasional dapat ia logiskan, maka Zen tak akan menganggap hal itu adalah sesuatu yang merepotkan—ia bisa selesaikan dengan hasil yang memuaskan.
“Aku cukup kepikiran, dengan beberapa kemungkinan kedepannya,” gumam Zen pelan.
Indikasi yang membuat ia tertuju adalah, seorang pria tua yang berjalan mendekat, fokus mencari buku di sela-sela himpitan yang ada, dekat Zen saat ini. Tatapan Zen juga tertuju, ia memperhatikan secara saksama, terhadap pria tua ini berada tepat di sampingnya. Ekspetasinya saat ini, menganggap jika orang tua–tidak jauh dari lima meter ini dari posisinya, umurnya mungkin hampir sama dengan kepala Akademi, ia pun tak tahu pasti juga, hanya dugaan liar saja belaka.
“Seharusnya, karyaku disini bukan,” gumam Pria tua itu pelan.
“Apa mereka sama sekali, tak mengaturnya dengan baik maupun bagus untuk dibaca siswa akademi.” Masih sama.
Gerutunya yang tak jelas, membuat Zen tidak fokus untuk melihat beberapa buku yang ada. Ia bukan orang yang suka akan ketenangannya diambil, oleh orang-orang yang merepotkan menurutnya; tak seperti Hendrick yang suka dengan hal yang merepotkan seperti itu. Zen mengesampingkan tubuhnya, memastikan orang yang ada di pinggirnya ini, menatap dengan pandangan menilai, apa yang di lakukan oleh pria tua ini.
“Apa yang ia lakukan,” batin Zen bingung.
Tak peduli atau pun menatap, ia alihkan pada buku-buku yang tadi ingin ia ambil, tak sangkal pun hari ini–masih ada waktu luang untuk hari esok. Akademi Phyterus waktu sepekan akan pameran, pada pertama-pertama saja sangatlah ramai, namun sedikit ada perubahan akhir-akhir ini. Seperti yang di ketahui, seluruh murid yang ada memang sedang melakukan cuti bebas, dan terlebih mungkin saja, jika mereka lagi di kamar asrama masing-masing dengan urusan pribadi yang mereka lakukan entah itu apa, terkecuali hal yang berhubungan dengan rutinitas pengisi perut pada pukul setengah jam tujuh pas.
“Apakah mereka tidak memberikan, jika karyaku ini masuk jajaran rekomendasi,” gerutunya dari tadi.
“Jahat sekali mereka,” dengan nada berdecak sebal.
“Ini tak dapat di terima sama sekali,” ucapnya masih sama.
Zen menatap sekali lagi pria tua di sampingnya, jubah putih yang ia kenakan yang nampak lusuh, rambut beruban acak-acakan, dan di bagian bawah matanya ada pola hitam, yang di yakini banyak orang adalah pertanda bahwa individu itu suka begadang. Namun, Zen alihkan lagi pada jubahnya itu, di samping pinggir bahunya, ada lambang yang sangat tak ia ketahui, tetapi bukan ia penasaran juga, jadi tak patut ia tanyakan pada Zenos. Zen terbilang mendengar semua gerutu pelan dari pria tua ini, bukan ingin menguping pembicaraan orang, tapi secara teknis, pria tua ini lah yang membeberkan secara personal – anggapannya.
Kembali; Pria tua seakan sadar ada orang yang berada sampingnya, kepalanya ia arahkan untuk memastikan insting merasakannya itu. Walaupun ia tak sekuat banyak orang dalam hal sihir, baik implementasinya entah bagaimana ia tak tahu, namun jika itu konsep sihir, maka ia adalah ahli, seperti halnya Instruktur Anatia. Wajah mengerut, menatap lurus kearah Zen yang kini hanya acuh tak acuh, ia seakan teringat akan hal-hal gerutunya dari tadi yang tak jelas itu – rusaklah reputasinya pikirnya.
“Apakah kamu dari tadi disitu,” ucapnya.
Zen mendengar ada suara berbicara padanya, kembali menatap secara refleks. “......Ya,” ucap Zen.
“Apakah kamu mendengar apa yang kubilang tadi,” tanyanya lagi.
“...”
Zen tak menjawab, tetapi responnya menatap dengan posisi saling bertatapan dengan raut pelipisnya terangkat sembari kening mengernyit, menatap dari iris birunya ini. Ia sedikit bingung, apa yang di katakan pria tua ini, tapi ia sedikit mengendalikan dirinya, tak mengeluarkan hal secara tak sopan dengan orang tua di hadapannya – kan di juga orang tua, itu lah pikirnya.
“Maaf jika hal itu, sungguh membuat anda marah, kakek,” ucap Zen.
“Kakek? Apakah kita dekat,” jawab pria tua itu.
“Hmmm... gimana yah kalo di jelaskan, seharusnya... sebutan kakek adalah sebutan umum bukan,” jawab Zen.
“Kamu ada benarnya, namun, kata-kata yang tadi kamu ucapkan sedikit tidak sopan, jika orang yang berpikir sempit, ketika di maknai,” ucap Pria tua itu.
“Dan terlebih, aku masih belum tua, umurku saja belum di katakan kategori umur kakek-kakek.”
“Kalo gitu, saya meminta maaf sebesar-besarnya,” ujar Zen.
Melambai-lambaikan tangan “Yah, tidak apa-apa, santai saja,” ucap Pria tua ringan.
“Ngomong-ngomong apa yang kamu lakukan di sini Tuan,” ucap Zen berbasa-basi.
Zen sebenarnya bukan tipikal orang yang suka bertele-tele, lebih cenderung ucapan yang langsung ke intinya tanpa berbelit-belit untuk di utarakan, terkecuali dalam hal situasi yang tidak menguntungkan – memainkan kata-kata dan juga penuh intrik. Tapi hal itu ia harus sedikit relakan, karena rasa penasarannya sedikit muncul untuk mengupas lebih dalam dari pria tua di sampingnya ini.
“Tidak usah memanggilku tuan seperti itu, cukup panggil aku Professor Vesta,” jawabnya.
“Profesor yah, seperti yang ucapan Zenos, kalo ia berasal dari kota Anthonerei.” Tersenyum di dalam hati.
“Sungguh sesuatu yang tidak terduga, kalo aku akan bertemu dengan orang yang hebat seperti anda Professor Vesta,” ucap Zen.
“Tapi... apa yang membuatmu, seperti tadi?”
“Ahhh... itu, tadi... aku hanya ingin mencari buku yang aku kaji sendiri yang kuberikan secara percuma bagi perpustakaan Anion,” ucap menjawab.
“Buku yah... seharusnya aku tahu bukan..”
“Buku apa yang anda maksud,” tanya Zen penasaran.
“Hmmm... buku yang aku tulis sendiri, apakah kamu tahu,” ucapnya.
“Buku itu; hal dasar dalam menciptakn sebuah mekanisme dan seharusnya, tahap yang di lakukan,” ucapnya menatap kebawah dengan memegang dagunya.”
“Kalo tidak salah begitu, dan judulnya ‘the Beginner Mechanisms,’” ucapnya lagi.
“Hmmmm... aku mengerti, aku udah pernah baca buku itu,” ucap Zen.
“Benarkah? Aku cukup terkejut.” Mengangkat satu alisnya dengan serius.
Zen mengingat-ingat apa yang ia baca dalam buku itu, kebetulan ia pakai juga dalam prosedur mekanismenya. Zen juga tak ada alasan, untuk menilai buku itu tepat di depan penulisnya maupun pencetus. Bagi sebagian orang memang, jika hal yang di lakukan Zen sedikit dari kata melenceng cenderung dalam bentuk keadaan fleksibel, tetapi hal demikian, Zen bukan jenis orang fleksibel juga, yang suka lurus-lurus dalam sesuatu yang di kehendaki.
“Aku jujur saja, setidaknya, buku yang anda buat, sedikit salah tafsir, walaupun tiga komponen dalam Blacksmith, yang paling penting Creator, namun design dan juga modify and repair sedikit, menjadi penghubung dalam komponen itu.
“Jadi, intinya, mereka semua sama-sama penting.”
“Apakah begitu?”
“Hmmm... Walaupun Blacksmith, banyak di lakukan yakni tahap akhir (Creator), tapi, pada dasarnya pun hal itu cenderung ke modify maupun design, untuk di kaitkan.”
Memang seorang pengrajin (Blacksmith) mempunyai tiga bidang; seperti yang sudah di jelaskan, jika Creator adalah tahap akhir namun maksud dari tahap akhir sendiri adalah bentuk dari pembuatan, hal ini pun seperti hal dasar dalam menciptakan sebuah benda. Bidang “Design” di peruntukan, untuk menghitung berapa kemungkinan sebuah mekanisme yang tepat, dalam rancangan maupun konsep yang sesuai. Sedangkan “Modify” (tidak menambahkan Repair) sama halnya dengan design, namun secara langsung, penyusunan mekanismenya. Dan terakhir “Creator” adalah bentuk dari pembuatan.
Namun pada dasarnya, hal demikian adalah bentuk dari generalisasi; walaupun secara indikator, seorang pengarajin itu pun di katakan lebih kebentuk sesuai, mempunyai kekhasannya masing-masing dalam pembuatan. Hal ini tak dapat di pungkiri, jika sewaktu-waktunya, seorang berprofesi sebagai pengrajin sangat di peruntukan jika ada keadaan yang melibatkan sebuah hal yang tak terduga, dalam keniscayaan kedepannya.
Professor Vesta menatap dan juga menyimak Zen yang kala ini menjelaskan, baik dari bentuk yang melenceng ia sebutkan, ia jujur saja cukup sadar beberapa perihal yang ia buat sendiri, konsep lemah ia sebutkan. Masih menatap saling bertautan ini, tak ada yang dapat ia respon, bukan ia marah atau sehubungan, ia seakan tercerahkan dari pembicaraan dengan anak ini.
“Apalagi bentuk dalam konsep ‘Capastial Rune Magic’ anda, yang menurutku sangatlah fatal jika ku jelaskan,” ucap Zen.
Rune capastial merupakan Rune sihir yang di gunakan dalam benda para pengarajin, di gunakan secara umum untuk sebagai tanda paten walaupun di klaim bersifat individual namun sudah cukup untuk melindungi dari hal pemalsuan—jika ini adalah karya yang ia ciptakan maupun ia biat, tanpa ada hal bersifat menduplikasi – meminimalisir hal itu. Dan hal ini juga, berguna sebagai manfaat lebih ketika digunakan pola Calestial Rune ini, jika orang itu menguasai di atas rata-rata sihir yang ia gunakan—tanpa ada pola Rune Magic yang keluar untuk mensinkronisasikan antara konsep imajinasi dan juga spell.
“Apa yang membuatmu mengira jika pemahamanku tentang Capastial Rune sangatlah fatal,” ujarnya tersenyum.
“Tidak di bilang fatal juga, tapi lebih kebentuk hal yang tak sempurna,” jawab Zen.
“???”
“Pada dasarnya, bentuk dalam Rune Magic mempunyai pola masih-masing yang di miliki oleh semua individu, tak lain itu pun mengatakan jika kita lebih kebentuk penyesuaian dalam bentuk sihir, walaupun Stone Magic masih memberikan dampak yang lumayan,” ucap Zen.
“Akan hal itu, konsep capastial dalam Rune magic yang anda tulis, lebih kebentuk bersifat secara personal dari satu sisi komponen, yakni Pola Rune umum, tanpa mempertimbangkan pola Rune Sihir para pengguna sihir khusus,” tambahnya lagi.
“Ya, kamu benar, aku sangat terkejut dengan analisis dalam membaca buku aku itu. Jujur saja, kajian-kajian yang ku tulis dalam buku itu sangat susah untuk di pecahkan oleh orang semuda kamu,” ucapnya.
“Ah yah??”
“Aku salut denganmu anak muda, siapa namamu,” tanyanya.
“Apa aku harus memberitahukan namaku yah.”
“Ah... sudahlah, lebih baik keberitahukan sajakan.” Zen terlihat berpikir.
“Namaku Zen...”
“Zen, hmmm... nama yang lumayan.”
“Kalo gitu, aku permisi dulu Professor Vesta,” ucapnya menunduk hormat.
Zen berbalik, seharusnya ia ingin membaca buku lebih lanjut lagi, tapi seakan rasa yang mendukung itu hilang entah kenapa, ia tidak mood lagi–merasa seperti itu. Melangkah pergi meninggalkan perpustakaan Anion, meninggalkan Professor Vesta yang menatapnya masih lekat, berjalan yang tak lagi berhadapan ini. Tersenyum melengkung di sudut bibirnya, penuh makna yang tak dapat di jelaskan, terkecuali sang empu sendiri.
“Aku.. menemukannya..”
To be continued
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=