
Di dalam sistem yang kini semua muda-mudi the Golden Egg sangat berusaha, menyelesaikan tantangan yang di berikan. Secara teknis pun tak ada yang membantah bagaimana dunia sistem ini bekerja, bahkan jika Zen menilai sendiri, ia mengevaluasi bisa menyamaikan Artificial Intelegensi bahkan lebih di dunianya dulu. Zen tak dapat mendeduksikan apa yang ia lihat, namun pada akhirnya ia menyimpulkan jika semua ini adalah dunia ruang dan waktu, yang dapat di kendalikan oleh seseorang, entah bagaimana penjelasan yang lebih pasti, tapi hal ini sesuatu ide yang benar-benar jenius tak dapat di pikirkan oleh segelintir orang yang ada.
Meskipun hal ini masih di pikirkan, namun ia tak sama sekali gagal fokus menyerang tantangan yang ada di dalam, sekumpulan Direwolf di depan ia saat ini. Anak berambut putih itu begitu semangat menyerang menggunakan katana yang ia gunakan, dengan pelepasan acceleration penuh di tambah dengan enchement yang tak dapat di anggap main-main, dan itu pun berlaku bagi mereka semua yang ada; sesuai spesialis menyerang dengan koordinasi yang cukup baik.
“Apakah kau tahu ini Zen,” ucap Hendrick menatap lurus kedepan.
“...Kabut...”
“Kabut ilusi...” ucap Near cepat.
Zen mengangguk tanda mengerti, ia cukup yakin dengan anggapan dari Near. “Ya, ini seperti kabut ilusi,” ucap Leonhart.
Near lekas mengambil beberapa perkamen di Storage Magic, yang lebih cukup; berkualitas dari perkamen biasa di jual para pedagang, tak lupa dengan kuas sederhana yang di ia pegang di tangan kanannya. “Tunggu sebentar...” ucapnya dengan nada tenang.
Near dengan gerakan jari-jari lentik dan juga cepat, mencoret-coret sesuatu di atas perkamen dengan bentuk gulungan di atas. Pola-pola garis tinta hitam membuat lukisan yang aneh, tapi indah untuk di lihat, tak dapat di pungkiri hal itu berlangsung beberapa detik saja, yang menandakan jika orang yang satu ini sungguh, menguasai kemampuan yang ia miliki.
[Unique Magic]; The Animals Painting
Guman spell yang ia gunakan, lalu formasi Rune sihir bebentuk sedang di atas perkamen ukuran cukup besar; sekirannya berdiameter lima centi dalam patokan jari-jari, secara perlahan-lahan bayang kuas tinta berwarna hitam terangkat dari sela-sela perkamen yang ada. Berwujud membentuk hewan, seolah bayang bergerak.
“Apakah itu bisa menebus kabut itu...” ucap Peter.
“Mungkin, lihat saja nanti...” balasnya.
Hewan-hewan berbentuk itu, dengan melesat cepat menembus kabut putih pekat di hadapan mereka saat ini. Walau Near cukup yakin dengan manipulasi dalam unique skillnya ini, tapi ia juga tak terlalu menganggap remeh tantangan yang akan di alaminya, tentu hal itu sangat melekat pada mereka yang berprinsip pada sifat Asassin.
“Magic sensorik kamu cukup unik....”
“Apakah kamu menggunakan Unique Magic-mu itu Near...”
“...Jangan banyak tanya, selalu waspadalah...” jawab Near pedas yang masih berkonsentrasi pada jalur mana yang ia sebarkan pada bayangan wujud hewan yang ia kendalikan sembari memantau situasi.
“Tetap saja Near, bukanya ini terlalu membebani kamu...” ujar Rena menatap dengan kekhawatiran.
Memang apa yang di khwatirkan Rena sendiri, sangat di ketahui banyak pengguna sihir baik dari beberapa jenis tipe sihir yang mereka kuasai. Namun pada dasarnya, berdasarkan subjektif sendiri berpatokan pada kelebihan maupun kelemahan dari penggunaan [Unique Magic]; jika sihir ini cukup menguras [Mana] dan sekaligus mental ketika menggunakan secara berlebihan sama halnya dengan [Absolute Law] di miliki oleh Zen.
“Kamu tidak perlu takut pada orang, yang penguasaan magic controller sangat berpengalaman dari kita semua,” ucap Leonhart.
Wajah Rena yang khawatir itu, hanya bisa ia tenangkan ketika mendengar ujaran dari Leon, Rena cukup yakin apa yang di katakan oleh anak berambut pirang di sampingnya lagi menatap lurus; karna ia tahu jika Leon sangat dekat dengan Near, walau ia tak dapat atau menyimpulkan seberapa besar hubungan mereka, kendati perumpamaan: ia meyakini di atas keyakinan seperdua, berbanding; namun hal itu cukup membuat ia yakin sepenuhnya atas pembawaan yang leon lakukan – pada tanda kutip rasa saling percaya bukan hal lain.
“Baiklah, aku percaya padamu...”
Near masih saja fokus dengan sihir yang ia gunakan, seolah-olah menyelidik, dengan menutup kedua matanya mengindentifikasi apa yang ada melalui Magic Ilustrasinya yang sekarang di gunakan. Di ibaratkan jika para binatang bayangan berbentuk tikus, burung, dan juga beberapa serangga bagaikan matanya sekarang ini melihat, tetapi hal itu bukan hanya berpatokan pada Indra penglihatan tetapi pada semua Indra yang ada, terlebih kecuali indra pengecap dan Indra peraba.
“Sepertinya ini akan sulit untuk di lakukan; ada sebuah gerbang yang selalu berpindah pada selang waktu yang di tentukan, dan lebih parahnya lagi luas wilayah kabut ini terbilang sangat besar dengan figur belakangnya sendiri adalah pepohonan lebat...” jelas Near masih fokus.
“Kamu bisa memprediksi berapa lama, gerbang pintu itu berpindah tempat?” tanya Lusi.
“Aku tak tahu sama sekali,” ucap Near.
“Kita akan membuktikannya jika masuk kedalam kabut ini, dan terlebih lagi jika... mungkin saja bahwa gerbang itu adalah pintu terakhir dari pintu yang ada kita lewati.” Berdiri menatap masing-masing mereka.
“Mungkin saja begitu, jika hitung-hitung, mungkin sudah enam gerbang yang sudah kita lewati...” ucap Esline.
“Bisakah kalian jangan membahas hal-hal buruk yang kita lewati, apalagi sebelumnya, itu adalah pengalaman cukup buruk bagiku,” Morlex berkata.
“Pertama harus melawan para Golem, lalu melawan para boneka aneh, habis itu hewan beats yang sangat mengerikan; memasuki gerbang kempat kita harus melawan para Dullahan kesatria para undeth itu, setelah memasuki gerbang kelima hal lebih ekstrim lagi, harus bertarung dengan iklim di bawah mines 0° dan setelah itu berganti menjadi di atas 100° melawan makhluk-makhluk aneh di dalamnya, dan baru saja, kita melawan beberapa Direwolf tipe King yang terbilang sulit untuk di lawan; mau apa sih nih sistem,” ucap Morlex panjang lebar dengan nada dramatis yang ia buat.
“Untunglah kita masih bisa bertahan..” tambahnya.
“Kamu itu jangan bawel, hal ini juga dapat mengasah kemampuan kita tahu..” ucap Guin menghela napas.
“Dasar bawel, aku baru ada lelaki seperti kamu...hahaha....B-A-W-W-E-L,” ejek Anatasy dengan kata terakhir ada nada penekan.
“Ya, ya...” Memutar kedua bola matanya.
“Sudah, sudah, lebih baik kita lanjutkan saja...” kata Gaznel melerai.
“Ide yang cukup bagus,” jawab Lumire.
Leksmar yang berada di belakang, berhenti, langsung menjadi pusat indikasi. “...Apa ini tidak berbahaya sama sekali..maksudnya, bagaimana jika ini semua adalah jebakan.” Menatap mereka semua.
“Entahlah...jika begitu, kita hanya bisa mengorbankan nyawa yang kita punya bukan, atau menyerah jika tak sanggup...” ujar Hendrick ringan.
“Namun, permasalahannya di sini, apa yang akan terjadi selanjutnya jika nyawa kita hilang sampai pada titik habis atau hal lain; aku tak tahu bagaimana pikiran kalian mengenai Instruktur Guld, tetapi sikap dari Instruktur Guld sendiri, tak akan membuat kita lolos begitu saja bukan....” balasnya.
“Pemikiranmu cukup Logis, jadi untuk menghindari permasalahan kedepannya, kita harus berhati-hati setidaknya jangan sampai bar nyawa kita berkurang,” ucap Lusi.
“Jadi ketua, apa itu mudah untuk di lakukan..” balas Cintia.
Leonhart sebagai seorang berpengaruh dalam kelompok ini, mengangguk mengerti. “Aku setuju denganmu Luci,” ucapnya. Lalu melirik Zen yang diam dari tadi. “Bagaimana menurutmu Zen...kamu di kelompok ini terbilang berjasa, jadi aku Ingin mendengar pendapatmu...” tanya Leonhart.
Zen langsung buyar akan lamunannya, ia yang sedari tadi hanya berbicara dengan Zenos, menanyakan beberapa hal dan juga saran yang sesuai dengan keadaannya sekarang ini. “Hmmm, ya, itu cukup logis dan juga rasional dengan keadaan kita sekarang...” ucap Zen memberikan pendapat.
“Tapi bukan hanya koordinasi saja, melindungi satu sama lain lebih dari bekerja sama,” tambahnya.
“Ya, aku lebih setuju dengan kak Zen...kita tak harus saling mengkoordinasikan bukan, melainkan lebih dari itu...”
“Kak??” batin Zen mengeryit.
“Baiklah, mari kita teruskan...” ucap Leonhart.
...
Kabut yang begitu tebal sekedar untuk melihat kedepan, walau jalannya cukup besar yang membatasi dua sisi hutan lebat yang ada, membuat lebih mudah untuk mereka berjalan; dan terlebih lagi, tak ada tanda-tanda berbahaya yang mengancam mereka ketika berjalan di atas jalan tanah, lumayan besar ini. Kendati, masih ada rasa tetap kewaspadaan akan apa yang ada di sekitar mereka.
“Apakah pelindung Ilusimu ini, masih dapat bertahan Near...” tanya Hendrick berbisik, tepat berada di samping Near.
“..Hmmm.... terkecuali jika [Mana] aku sendiri benar-benar habis...” jawabnya.
Di sekitar mereka tak jauh beberapa meter, ada beberapa bola hitam melayang, membentuk formasi segi empat dengan ruang lingkup, mereka menjadi pusat di dalamnya. Near menggunakan kemampuannya sendiri dalam bawaan [Unique Magic] nya yakni, Manipulation Ilusi yang telah ia sempurnakan dalam bentuk Tipe Sihir Controller. Near yang begitu tahu bagaimana sepak terjang sihir unik ini; dan tak lain dan tak bukan jika Masternya sendiri yang mengajarkannya hal ini semua.
Four-way Illusion Protective Formation; Itulah Speel yang di gunakan Near kala ini, dengan bentuk seperti formasi empat arah. Hal ini pun tak terlewat dengan Formasi sihir pelindung lebih besar efeknya dan lebih dari dari ini, mencakup dari apa yang di gunakan Near, terdiri dari lima, enam, tujuh, dan terakhir delapan arah. Namun, ini semua di kondisikan dengan keadaan, Near bukan tidak menguasai sihir bertingkat ini, namun menurutnya ini semua sudah cukup untuk belasan orang dan alasan utamanya sendiri agar dapat menghemat [Mana] yang ia miliki.
“Aku melihat ada Gerbang besar disana..” ucap Rena.
“Ya, aku pun melihatnya...” balas Anatasya.
“Tapi itu cukup mencurigakan...” ujar Near
“Tetap saja, hal ini tak bisa di lewatkan bukan,” sanggah Morlex.
“Bukanya kita sudah sepakat, agar harus berhati-hati,” Near menjawab.
“Namun, bukanya kamu tadi bilang jika gerbangnya sendiri akan menghilang dalam beberapa waktu kedepan.” Cintia ikut dalam pembicaraan.
“Y-ya, begitu lah...”
“Jadi sepakat kita harus pergi ke gerbang itu,” ujar Cintia menunjuk Gerbang besar tak jauh dari posisi mereka saat ini.
“Tunggu dulu....tapi ini semua harus di putuskan secara matang,” sanggah Guinevere.
“Hmmm...aku setuju dengan Guin, ini semua harus di pikirkan dulu baik-baik bukan,” Rena berucap.
“..Aku pun sama..” ucap Lusi menatap mereka semua.
“Zen... bagaimana menurutmu..” Leonhart melirik kearah Zen diam.
“...Entah, tapi, aku setuju dengan Near...itu memang cukup mencurigakan..” ucap Zen yang dari tadi diam.
“Namun, kita semua tak akan bisa eluar dari tempat ini, jika tak bergerak sama sekali bukan...” tambah Zen lagi.
“Jadi...harus waspada!” peringatan Zen.
...
Gerbang besar di depan mereka, melayang tak jauh dari ukuran centi ketinggian di bawah landasan kedua kaki di atas tanah, dengan beberapa cahaya putih di tepi sisi dari gerbang besar ini, pola-pola sebagai raut dari penampilan sang gerbang besar, tetapi ada hal yang ganjal tak dapat di rasakan saat ini, entah itu apa.
“Apa ini Gerbangnya...” tanya Hendrick.
“Entahlah, lihat saja nanti.”
Gaznel yang berada tepat di pinggir Lumire, mendongak kepala sedikit miring seolah-olah membisikan sesuatu, kearah samping Lumire menatap lurus kearah gerbang. “Lumire, bagaimana menurutmu..” ucapnya.
Lumire kembali menatap kearah suara yang menanyakannya saat ini, ia sedikit mengangkat satu alisnya. “..Tidak tahu..” responnya kala ini.
Lagi-lagi sebuah kejutan tak dapat di ekspetasikan semua orang, tiba-tiba muncul papan proyeksi melayang di hadapan mereka dan seorang yang mereka begitu kenal, tersenyum lebar di balik remang-remang proyeksi terlihat.
“Instruktur Guld?”
“Selamat aku ucapkan pada kalian semua, melewati tantangan ini begitu baik. Jika kian bertanya ini adalah tantangan selanjutnya maka jawabannya adalah iya, mari kita mulai tantangan terakhirnya...”
“Sialan ini sudah di rancang...”
“Jangan...jangan... hati-hati semua.”