My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 73. Presentation Part 2



“Lihatlah Ernest, bagaimana ayahmu menjelekkan namamu di depan banyak orang,” ucap Hendrick yang menggoda Ernest.


“Terserah, aku biasa-biasa aja tuh.”


“Hmmm... masa sih, kelihatanya kamu sedikit menahan, lihatlah wajahmu memerah.” Nada ucapannya di buat-buat tak percaya.


“Sepertinya, Tuan Gazel sedikit melenceng dari banyak orang katakan, aku tak menyangka humornya akan sejelek ini.”


“Jangan kalian nambahin.”


“Hehe, kelihatannya kamu marah yah Ernest.” Erwin kali ikut ambil.


“Tidak! Aku tidak marah sama sekali, aku hanya, aku hanya...” ucapnya ragu-ragu.


“Hanya apa? hanya membela diri.” Kali ini Gaznel pun sama menambahi kata-kata, membuat Sang Ermest sedikit panas kepalanya.


“Tidak kok! Aku hanya merasa kalian itu, begitula,.” ucapnya cepat.


“Begitu apa?” ucap Erwin.


“Sudahlah lupakan.”


Jika di lihat lagi, kedekatan mereka yang belum lama ini, menjadi sebuah keniscayaan. Ernest yang sifatnya hampir sama dengan Hendrick, mudah bergaul, tak heran juga bisa membuat suasana seperti ini, entah rasa nyaman atau hal mungkin selebihnya juga. Anak berambut kuning ini, merasa di buat nyaman menjadi teman selama ini walaupun ia terlebih nyaman duluan dengan pertemanannys dengan Hendrick sedari kecil, dan itu pun sama di rasakan bagi mereka semua, seolah-olah menerima ataupun diterima.


Near mengarah pandangan pada Leonhart yang sedari tadi diam menatap kegiatan acara yang masih berlangsung, kali ini nomor pendaftaran ke-enam menjadi pembahasan, dan juga Kevin yang tak tahu entah kemana, namun ia memastikan sekali lagi anak berambut biru tua itu dan spekulasinya benar, anak itu ada di posisi yang masih jauh dari tempat mereka saat ini–duduk secara tergesa-gesa di sampingnya yang paling pojok di tempat duduk pinggirnya yang masih kosong. Nafas yang memburu dengan desahan hos-hosan itu ia keluarkan setelah menduduki tubuhnya saat ini juga di tempat duduk yang nyaman tak terhindarkan.


“Apa yang kamu lakukan sedari tadi,” ucap Near yang menatap Kevin di sebelahnya.


“Malas menjawab dan itu adalah sebuah kerahasiaan,” jawabnya cepat.


“Ha?”


***


Zen masih sama diam sedari tadi, menutup matanya di sela-sela keheningan yang ada membuat suasana yang terasa sedikit bosan, walaupun Zen di bilang juga sudah terbiasa akan keheningan sedari tadi ini. Tak mau berdiri atau berjalan mondar-mandir seperti menunggu sesuatu maupun khawatir, ia tak melakukan hal itu, membuat ia tambah gugup saja menghadapi giliranya ini.


Sama halnya sebelum-sebelumya, sebuah proyeksi transparan berukuran kecil namun nampak di lihat jika diedarkan pandangan, tiba-tiba muncul di depan Zen, seperti biasa ia tak terkejut sama sekali hal yang sudah berulang-ulang kali ini. Dan itu pun kartu yang tertera nomor tujuh pun yang ia miliki, di pegang di tangan kanannya, sedikit bercahaya remang-remang, ia sama juga sudah tahu, gilirannya yang sudah menunggu.


“Sepertinya sudah waktunya giliranku.”


...


Zen yang berdiri di atas panggung menatap yang ada satu persatu di depan sembilan orang tanpa terkecuali, ia menatap sekali lagi seorang yang kemarin terjadi pertemuan sebelumnya itu, Professor Vesta yang menatapnya dengan senyum tipis; tak terkecuali juga bagi tiga orang pun yang sama menyinggung senyum tipis penuh makna. Zen hanya menatap tak menilai, namun memastikan sesuatu, mengidentifikasi apa yang ada, empat orang yang tak ia ketahui, namun spekulasinya beranggapan jika empat orang tersebut adalah salah dari pemimpin dari Mega corporation yang ada sama halnya dengan Pamen Gazel, dan itu adalah kemungkinan yang sangat besar berpatokan pada orientasi antara pernah bertemu dalam hal sebuah pengenalan identitas dari keempat orang yang menyunggingkan senyumannya.


“Baiklah, apa ini Tuan Charlotte,” ucap Professor Vesta.


Zen kembali fokus pada Pria tua yang berada pada posisi tengah, pinggir Instruktur Etnest ini. “Sebuah Revolusi,” ucap Zen yang menatap rancangannya saat ini.


“Revolusi? Apa maksud anda Tuan Charlotte,” ujar Instruktur Kesna bingung.


“Hmmm.. aku namakan ini adalah sebuah ‘revolusi.”


“Lebih lengkap lagi, kunamakan Projekku ini adalah The Revolusi in Aspects Life and Views. Sebuah Projek yang kusebut sebagai suatu revolusi dari mengubah pandangan yang menjadi acuan umum selama ini, bahwa kita beranggapan jika [Mana] adalah suatu komponen yang menjadi penghantar dalam bemtuk kekuatan segala-galanya–implementasi sihir; dan revolusi aspek kehidupan itu sendiri sudah menjadi sebuah keniscayaan di masa depan nanti, jika benar-benar projek ini akan di implementasikan,” ucap Zen menatap mereka semua serius.


- Semua hening...


“Kenapa kamu beranggapan seperti itu Tuan Charlotte, mungkin saja ini hanya bulan yang anda buat bukan,” Tuan Elkard yang kali ini menatap Zen.


“Tidak sama sekali! Ini lah Prototipenya,” ucap Zen menatap sebuah Tool Magic secara tiba-tiba muncul di tengah-tengah panggung.


“Biar kujelaskan, alat yang aku buat sendiri adalah bentuk suatu mekanisme pen-konversi dari bentuk [Mana] yang kita pakai, dalam artian yang mungkin saja kita beranggapan jika [Mana] adalah bentuk Energi bukan, tersebar di alam. Dari kajian selama sepekan ini aku Observasi, tak ada bentuk hal apapun yang dapat menghancurkan [Mana] yang ada tanpa terkecuali.”


“Tapi... aku masih bingung, jika tidak hancur sama sekali, namun ketika kita menggunakan implementasi sihir yang mendestroyer [Mana] sendiri, apakah itu benar tidak hancur sama sekali, sedikit aneh jika realitakan.”


“Iti benar sekali, biar kucontohkan,” ucap Zen.


Zen membuat bola api merah kecil di tangan kanannya, lalu ia pusatkan di tangannya saat ini dengan fokus pikiran tersalur, secara tak terduga, mengambil ancang-ancang, segera melemparkan kearah depan hingga membuat mereka kaget terkejut. Namun hal itu bukan yang di ekspektasikan banyak orang, Ia segera menghentikan dengan sebuah Spell yang dapat menghacurkan semua jenis sihir yang ada, baik aktivasi sihir berjalan sekalipun.


[Magic Of Controller]; Mana Destroyer


Tak sampai di situ pun, ia lanjutkan dengan Spell berikutnya, yang membuat semua orang menatap tak percaya dengan apa yang mereka lihat, tak terduga, menakjubkan, dan tak pernah di lihat, seolah-olah bercampur menjadi satu evaluasi yang ada. Sama halnya yang di rasakan delapan orang yang ada, tadi merasakan sedikit ragu-ragu akan berlebihannya dari pemikiran remaja berambut putih ini.


[Magic Of Controller]; Assessment Mana Appraisal


“Apakah ini...”


“Ya, [Mana]! Kalian sudah lihat kan, bagaimana sihir elemental api yang kulemparkan tadi, berubah menjadi [Mana] seperti awal mulanya bukan,” ucap Zen tersenyum.


“Dan inilah fungsi sebenarnya dari Tolls Magic yang aku buat, esensial mengubah [Mana] kebentuk lain ini, lebih bermanfaat. Walaupun pada dasarnya, Tools Magic yang aku kuciptakan hanya untuk mengubah [Mana], namun jangan salah sangka dulu, bentuk semua yang ada mengkonsumsi [Mana] sendiri, bisa saja Tolls Magic aku ini menjadi sebuah acuan, tanda artian menjadi perantaranya sendiri antara penyalur yang tersedia kapanpun,” ucap Zen menjelaskan.


“Dan terlebih lagi, aku sudah memperkirakan yang ada tanpa terkecuali, pelindung-pelindung kota termaksud dua kota terbesar Alliance City dan juga Antoinerei, bisa menjadi bahan yang cocok untuk menguji Tools magic aku demikian.”


“Tunggu.. dalam pikiranku ini bertanya, apakah itu tak akan di permasalahkan dimana depan nanti, jika menggunakan [Mana] berlebihan apalagi sehari-hari sebagai penopang dalam aspek kehidupan yang ada, dan bisa saja [Mana] sendiri akan habis bukan,” kali Tuan Leonhass yang memberikan komentar.


“Jika pertanyaan itu, itu memang pertanyaan yang sangat bagus. Aku menggunakan dua konsep dalam sistem mekanisme yang kubuat, dan kujamin jika itu tak akan menguras [Mana] yang ada,“ jawab Zen.


“Kenapa begitu, bukanya tadi...” ucap Tuan Leonhass kebingungan, di wajah tenangnya.


Zen menginterupsikan pembicaraan dari Tuan Leonhass. “Aku menggunakan dua konsep yang saling menjalankan peran masing-masing, konsep Back anda Front dan juga Reciprocal dalam sistem mekanismeku.”


Seperti yang sudah di jelaskan, jika konsep bolak-balik dan juga timbal balik mempunyai sebuah definisi masing-masing, namun pada dasarnya, hal demikian dalam bentuk esensi akan kembali berawal semula dan kembali semula lagi berulang-ulang kali tanpa batasan yang ada, saling mempengaruhi dalam bentuk interaksi–khusus peran timbal balik. Hal ini Zen terapkan dalam bentuk tool magic yang ia buat, tanpa ada kelemahan jika kita telusuri lebih dalam lagi. Ini pun menjadi sebuah pertanyaan kenapa dan bagaimana bisa? dan ini semua di jawab, ketika proses pelepasan sebuah energi, Zen kaji sendiri selama sepekan, ada sebuah oksidasi dan juga reduksi dalam proses yang terjadi, misalnya, ketika saling membutuhkan pada saat proses mengubah [Mana] menjadi bentuk pengaktifan Tool Magic ledakan, hal itu ada terjadi pergantian–dalam bentuk saling mempengaruhi–interaksi.


Ini juga di buktikan, hampir semua orang pernah lakukan di Etherna World sendiri; yakni dalam menjalankan sihir; seharusnya ketika menggunakan sihir dalam bentuk apapun diatas batas wajar yang individu miliki, akan menimbulkan resiko yang terbilang berat, bisa saja pingsan tak sadarkan diri ataupun koma–tak berujung pada kematian. Kendati begitu, [Mana] yang akan otomatis terisi itu, berselang juga akan penuh, dan itu pun menjadi titik awal kesadaran terjadi; Sebuah Analogi yang tepat.


“Inilah bentuk Prototipe-nya, yang masih perlu di kembangkan” ucap Zen menunjukan sebuah tool magic yang berada di sampingnya saat ini.


“Menggunakan stone magic agar mengatur sirkulasi [Mana] yang masuk lebih teratur, dan lagi sebagai bentuk penyimpanan tanpa celah,” jelasnya masih berlanjut.


Penjelasan-penejelasan yang Zen utarakan, mereka semua lumayan mengerti, dan juga hal penting lain merek dapatkan yakni; pandangan lebih lanjut tentang karakteristik mengenai [Mana] sendiri. Akan tetapi, ini menjadi Indikasi pertanyaan akan hal menarik dari beberapa orang di balik yang ada, termaksud Ernelia De Vasgard, menatap dengan singgungan senyum di bibirnya di tempat yang paling beranjak naik tertinggi, melipat kedua tangannya di dada.


“Aku tak menyangka, ada bibit unggul dari sekian Ras Human yang ada,” ucapnya pelan.


***


“Aku tak menyangka, jika Zen dapat membuat hal yang sangat hebat seperti ini, ini benar-benar tak seperti dirinya,” ucap Hendrick yang melongo tak percaya.


“Ia seperti para Ilmuan saja..”


“Seharusnya ini memang dia bukan.”


“Hahaha, sepertinya bantuanku berguna juga baginya,” ucap Kevin bangga.


“Bantuanmu?”


“Ya, bantuanku lah, aku yang mempersiapkan semua kejutan panggung yang ada, termaksud alusiom otomatis tadi, ketika memunculkan Tools Magic yang di buat Zen, sedikit besar itu.”


Alusiom Otomatis adalah salah satu Magic Item yang dapat memindahkan sebuah benda terkecuali Manusia – benda mati. Magic Item ini di modifikasi sama halnya dengan gulir sihir ini, dapat memindai atau pun melakukan sihir pemindahan tanpa terkecuali batas jarak, sangat simple dan juga praktis jika di gunakan dengan berselang sekali pemakaian – sekali coba tanpa dua kali percobaan. Dan ini juga harus menggunakan penanda dalam menentukan tempat untuk memindahkan, dan Kevin sendiri menjadikan Zen sebagai patokan dalam Magic Item ini, setelah membuat pola rune-nya di salah satu tubuh Zen.


“Jadi, kamu tadi memakai Alusiom yah?”


“Hmmm... soalnya, Zen bilang sebelumnya, jika tool magic ia buat sama sekali tak di bisa di simpan di Storage Magic, takut rusak katanya.”


“Begitulah.. hebat kan aku,” kata Kevin berbangga diri.


“Jadi selama ini, kamu membantu Zen untuk mengaktifkan Alusiom Magic di kamarnya,” ucap Gaznel.


“Hmm.. tepat sekali.”


“Jadi pujilah aku,” tambahnya lagi.


“Tapi kan tetap saja, yang disini menjadi kebanggaan adalah Zen bukan, kamu hanya tokoh sampingan,” ujar Morlex.


“Itu memang betul, kamu hanya menjadi figuran saja tahu..” balas Erwin.


“Tapi kan.. aku yang berperan penting disini,” ucap Kevin yang polos.


“Itu sih anggapan lain tahu, walupun kamu membantu Zen di saat-saat penting, tapi uang disini paling dominasi kan Zen, bukan kamu Kevin,” jelas Near.


“J-ja-jadi aku...”


“Jadi kamu hanya tokoh sampingan saja, dan tak seharusnya di puji,” ucap Hendrick tertawa.


“Ta-tapi kan ini...”


“Aku pun sama, beranggapan demikian.” Kali ini Ernest yang berucap.


“Hahaha... kamu seperti di manfaatkan...” kali ini Leonhart tersenyum kecil.


To be continued


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa rate-nya dong🙏🙏🙏