My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 38. Finis The Enmity



Kepala Akademi Pyhterus Esnet De Pyhterus memandang pertarungan begitu Dramatis, Di satu sisi ada rasa gundah dalam hatinya dan di sisi lain ia pun tak tau bagaimana di jelaskan. Rasa Dilema sangat sering melanda pada manusia yang di sebut makluk mempunyai Emosi dan berakal, Rasa yang entah kenapa membuat lubuk hati mendalam terombang-ambing memilih antara satu Keputusan yang tak pungkiri akan ada Efek yang tercipta, Walau rasanya akan di rasakan sesudahnya hingga rasa Berbeda arah itu Sudah menjadi ketetapan dari banyak pemikiran-pemikiran yang jauh dari arah Sama satu sama lain.


Rasa bersalah juga tak luput dari Perasaan yang tercipta. Bagi orang yang lebih mementingkan diri sendiri mungkin tak dapat merasakan Rasa Dari kebanyakan orang bersifat Perfeksionis. Jiwa kuat membedakan Antara benar dan yang salah membuat ia begitu bijaksana. Tentu, Apakah kepala akademi di sebut juga orang Bijaksana? Memutuskan sesuatu secara matang dalam segala situasi apapun.


"Apakah Kamu merasa bersalah Kepala Akademi" Ucap Istruktur Vena


"....."


"Aku Tau, Ini semua tak dapat di jelaskan oleh mulutmu, Tapi Ekspresimu lah membuat mu jujur akan Perasaanmu sekarang ini".


" Semoga saja ia dapat menerima ini semua" Tambahnya berlalu pergi.


"Yah...Semoga pun begitu" Ujarnya yang baru Membalas.


Walau Rasanya mulut tak ingin berbicara Tapi Hati yang paling dalam ingin mengeluarkan apa yang Ia simpan selama ini, Tapi itu semua di batasi keterbatasan satu sama lain.


"Tapi dengan ini juga akan membuktikan, Semua Hal bukan...." Ucapnya yang tak kala tersenyum.


"Aku pun harap begitu Vena".


Di Arena sendiri Zen terlihat Hos-Hosan memaksakan dirinya berdiri untuk bertarung, Jendral Lucas pun melihat semua itu, Jujur saja Jendral Lucas adalah sosok yang menganggap Zen seperti Anaknya dari pada muridnya, Sikap yang di tunjukan Dingin dan juga Kejam hanya kepada Orang lain tapi dengan Zen, Ia merasakan sesuatu dari dalam anak ini, Entah apa itu.


Ia sudah membakar Semua Logam dengan Api Hitamnya, Tapi lagi dan lagi Logam itu ada terus-menerus hingga mental Zen seperti ini. Ketika Ia menunjukkan api Hitamnya pada Hendrick pada waktu itu, Hanya separuh bahkan Sangat kecil Efeknya untuk di kontrol tak seperti ini, Ia harus membakar semua Logam yang tak terhitung Jumlahnya. Zen tak tau kalau Ia Amatiran sekarang ini, walau wajahnya tenang belum tentu Hatinya setenang Air bukan. Tapi semua ini pun terbukti Jika Zen selalu tak mewaspadai semua serangan dari Titik buta area Vitalnya.


"Ini Benar-benar.....Aku tak mampu lagi" Batinnya.


"Apakah Kamu tidak mampu Zen" Jendral Lucas berjalan santai.


"......."


"Mari kita Akhir ini".


Ia menjulurkan tangannya kedepan hingga tak dapat di majukan lagi, Berjalan santai dengan Posisi tangan seperti itu, Ucapnya menggelegar.


[Unique Magic Manivestasion]; The Magic Mercury Of Lord King Ozastem


Portal Sihir tercipta ukuranya lebih besar dari semua portal sihir yang Ia keluarkan. Portal berwarna Silver yang begitu mendominasi di Arena, Hingga Logam mercury berwarna silver muncul dengan Membentuk Sungai Logam Mercury menutupi Seperdua Arena, Sontak Zen mundur kebelakang memperhatikan semua yang ada. Mercury yang Cair itu membentuk Pertahanan tak terhingga menyerupai Sosok Seperti Prajurit Kesatria dengan Perisai besar berwarna Silver di tambah dengan pedang besar berwarna senada di Area belakang Jendral Lucas.


Zen memandang semua itu juga tertegun, Ia tak habis pikir Jika [Unique Magic]; Manipulation Of Mercury akan sekuat ini bahkan dalam Segala Pertahanan maupun segi Menyerang terlihat. Tanpa sadar....


"Zenos Bantu Aku...." Lirih Zen pelan.


[Di Mengerti].


[Pengaturan Ulang Di Mulai].


0%...25%...50%...75%...100%


[Pengaturan Selesai].


[Pandua Di Mulai].


Zen mendengar Suara Datar sistem di Otak pikiranya, membuat ia bertanya-tanya ada apa ini. Kesadarannya langsung saja buram, bukan karna ia Pingsan atau yang lain, Tapi kesadarannya Di Gantikan Oleh Zenos. Dengan kata lain, Zenos lah yang mengambilKesadaran Zen saat ini, Zen yang tanpa sadar. Mata Zen berwarna Biru tadi berubah seperti Sebuah Mata sistem yang menandakan Jika Zenos telah menggantikan Zen sepenuhnya, Ia memandang Jendral Lucas Datar.


Perlu di ketahui Jika Zenos adalah Sistem pikiran yang satu pemikiran berbeda atau Bisa di katakan Jika di dalam Tubuh Zen mempunyai Dua pemikiran dalam raga yang sama. Itulah kelebihan dari Zenos, Zenos yang di sebut sebagai Sebagai Sistem Analisis mempunyai pemikiran berbeda dalam Segi Kecepatan berpikir bahkan Lebih Besar dari Zen. Wajah Zen memandang Jendral Lucas tanpa Ekspresi, Karna demikian pada dasarnya Zenos tak mempunyai Emosi seperti Hal Robot yang Selalu mengikuti Tuanya, tapi kelebihan dari Zenos; Ia bisa menentukan Semua tindakannya sendiri tanpa ada campur tangan.


Menyodorkan tanganya lalu, Spell ia Ucapkan Terselesaikan lah pertarungan semua ini.


Sihir yang menguraikan semua materi yang ada, Hingga habis begitu saja. Sihir Unique Zen miliki yaitu [All Materi] memanipulasi semua Karakteristik baik Struktural maupun Penyusunnya, Magic seperti [Mana] Destroyer tapi berfokus pada sebuah materi pada Sihir berkomposisi, Karna pada dasarnya jika Semua sihir Elemental adalah Sihir Menciptakan atau Memanipulasi semua Element yang tak di pungkiri jika Elemental adalah Materi juga. Materi Di Definisikan sebagai segala sesuatu mempunyai Massa dan menempati Ruang, Maka semua Manifestasi dari sihir Elemental sendiri Zen dapat memanipulasi semua sihir Elemental yang Ada.


Penguraian Terjadi, Prajurit raksasa melayang berada di belakang Jendral Lucas menghilang begitu saja, membuat Sang Empu sendiri di buat terkejut kebingungan dan bertanya pada Dirinya apa yang terjadi?.


Zen menghilang membuat Jendral Lucas lebih kaget lagi, Tepat berada di atasnya. Entah dari mana Jeratan Kawat menjerat, Kawat itu dengan Cepat mengikat dari segala sisi dan Jendral Lucas sebagai patokan, membuat ia tak bergerak sama sekali.


[Asassin Art]; No Bakujin


Zen atau lebih tepatnya Zenos mendekat menghampiri Jendral Lucas, Wajahnya datar seperti Tembok melangkah dengan mendekatkan tanpa berbicara sedikit pun


[Target Telah Di Konfirmasi].


[Operasi Selesai].


Zen tiba-tiba berhenti tepat berada dua jengkal dalam posisi Jendral Lucas berlulut diam, Penguasaan Zenos pada dirinya langsung menghilang dan kembalilah sosok Zen. Tapi....Zen yang kehabisan [Mana] di tambah Kelelahan Mental Jatuh tanpa sadar tepat di bahu Jendral Lucas.


"Maaf..." Kata terakhir yang di ucapkan Zen sebelum ia pingsan.


Kepala Akademi melihat semua itu langsung turun tangan ketempat kejadian, Ia menghilang seperti sosok Asassin dan muncul di tengah Arena tepat Jendral Lucas maupun Zen berada.


"Apakah Kamu Sudah melihat semua ini, Ketua Guild Petualang" Ujarnya agak besar memandang Sosok Zen yang pingsan.


"Yah...Benar sekali kepala Akademi" Suara perempuan dari seberang belakang Kepala Akademi.


"Jadi Bagaimana Keputusanmu apakah kamu..." Ucapnya terpotong.


"Tidaklah... Bagaimana mungkin melihat Bakat muda seperti ini di sia-siakan saja".


"Lebih Tepatnya aku akan merahasiakan semua ini" Tambahnya.


"Tapi bukanya Kamu Sudah memproyeksikan Semua ini".


"Tenang Saja...Aku sudah Memutuskan semua sambungan Proyeksi di tempat ini".


"Dan Lagi Rawatlah dia baik-baik kepala Akademi, Aku tak pernah sama sekali melihat Bakat muda Seperti ini" Saran Perempuan berambut Hitam Kelam itu.


"Yah..Aku akan selalu mengingat Saranmu Pemimpi Asosiasi Guild....Nona Ernelia De Vasgard".


"Hmmm...Ayo kita pergi Angel".


"Baik Pemimpin..." Jawabnya mengikut Tuanya melangkah pergi meninggalkan Arena.


Tinggal mereka berdua Jendral Lucas dan kepala Akademi Esnet De Pyhterus. Kepala Akademi memandang Wajah Jendral Lucas melamun ia tersenyum hangat.


"Terimakasih Lucas...."


"Tidak..tidak, Aku lah yang harus berterima kasih, Karna ini semua rencana yang kamu susun untuk kebaikan Zen".


"Aku pernah berpikir...apa kah kamu merasakan Hal yang sama dari Zen Jendral Lucas".


Jendral Lucas Tertegun, Ia kiranya hanya dirinya saja merasakan semua ini dari Remaja Berambut putih itu.


"Benar...Kepala Akademi aku pun juga sama merasakan...Tapi Entah kenapa, aku... ini juga tak dapat di jelaskan Secara logika" Jawab Jendral Lucas.


"Jika seperti itu...Lebih baik, Biarkan waktu yang menjawab" Balasnya tersenyum.