
Sinar Terang benderang, Menghujani dengan menyeluruh semua apa yang akan ia terangi, Gelapnya malam berganti menjadi sinar Fajar dari Timur, Warna pekat yang sudah di ketahui di tandai dengan Sinar kuning keemasan di balik dua bukit di atas 600 meter, Menara-menara tinggi yang juga tak luput dari sinar mentari pagi itu, Jendela bangun yang di pergunakan sebagai tempat masuknya cahaya, Juga tak luput dari semua itu. Membangunkan sosok yang tertidur pulas tanpa gangguan di kamar Asramanya. Zen yang di persilahkan Untuk beristirahat setelah Lulus dari test pertama, Kamar Asramanya berada di lorong yang paling sepi yang pernah ada, Memang Akademi sendiri telah mempersiapkan semua keperluan para murid tanpa membeda-bedakan; Menjunjung akan aturan yang harus di taati.
Zen saat ini Hanya di katakan sebagai Murid sementara yang sama halnya dengan murid Undangan dari akademi yang lain, Tapi di perlakukan cukup Istimewa menurutnya walau berbeda dari pandangan orang lain, Entah karna apa sampai-sampai di perlakukan seperti itu, Entahlah Zen tak tau dengan situasi ini. Bukan karna tidak tau pasti, Tapi malas berpikir di Otaknya.
Zen bangun dengan Keadaan yang letih, Bukan hanya berdampak pada Fisiknya yang duduk seharian kemarin tapi lebih parahnya Otaknya yang berpikir terus-menerus tanpa jeda menjawab semua pertanyaan yang menguras mental itu. Hari itu yang baru pertama kali membuat ia lelah seperti ini, Batin Zen merontak di tuntut untuk beristirahat, Ia berjalan sekiranya seperti Zombie dengan mata Sayunya terlihat di bawah kelopak matanya.
Sally yang di sebut sebagai tangan kanan dari kepala akademi di tugaskan Untuk mengorientasiakan Semua hal mengenai Akademi kepada Zen, Baik itu lingkungan aturan maupun Hal-hal penting yang harus di ketahui. Sepertinya Tugasnya akan di mulai sebentar lagi.
Seorang pemuda Keluar dengan Baju dari koper telah ia persiapkan dan memakainya, Lumayan Cocok bagi pemuda itu, dari balik pintu besar berwarna Coklat sang pemuda, semua kelelahannya ia sembunyikan di wajah yang datarnya itu, Ia keluar dengan langkah pelan dan di kagetkan dengan orang yang begitu ia kenal.
"Nona... Sally" Beo Zen bingung.
"Halo...Zen, Selamat yah Atas Keberhasilan mu itu".
"Yah..." Terlihat Zen lebih bingung lagi.
"Kamu Ini..Ayo Cepat kita keliling Akademi".
"Jangan bilang kamu" Ucap Zen terhenti.
"Jangan bahas itu lagi" Potongnya langsung menghadap ke belakang.
Mereka berdua berjalan seperti biasa, Nona Sally dengan rambut Ungu itu terlihat menjelaskan Semua yang ada baik itu peninggalan berupa Foto yang ada di dinding dan juga beberapa hal di sepanjang Lorong yang di Lewati, Zen Cukup mengerti dengan semua penjelasan yang di sampaikan, Walau Begitu ia tak perlu menggunakan Pemandu dalam memperkenalkan semua yang ada karna ia mempunyai Zenos bahkan penjelasannya lebih lengkap lagi. Ia dengan tak tau malunya diam-diam mengidentifikasi semua yang ada sepanjang Wilayah Akademi, Jadi ia seperti di luar kepala saja jika berjalan sendiri tanpa panduan.
Mereka berdua menyusuri setiap Jengkal Akademi, Sepertinya ini adalah keberuntungan Zen, Perpustakaan Akademi sangatlah dekat dengan Asrama yang ia tempati. Nona Sally berkata jika perpustakaan ini sangat Tua, Bahkan lebih tua dari Umur Akademi itu sendiri, Di Ibaratkan seperti umur umur Jangung jika di bandingkan dengan bangunan tua yang lain. Umurnya mungkin sudah lebih 1000 tahun, Walau begitu tak terlihat sama sekali material penopang perpustakaan Tua atau rapuh termakan umur.
Zen dengan rasa penasarannya menggunakan Zenos dengan Sistem Analisisnya untuk mengetahui kenapa Perpustakan satu ini tak termakan umur, Zen di buat terkejut dengan Pernyataan dari Zenos. Mungkin inilah kenapa bangunan Tua ini seperti umur para Elf bahkan lebih tua lagi.
Sebuah penghalang Sihir yang sudah di pergunakan selama seribu tahun tapi tak di ketahui Jenis Tipikal sihir seperti apa yang di pergunakan. Hingga materi-materi bangunan yang ada Seperti baru di buat atau di resmikan. Tapi menurut pandangan Zen sendiri, Itu adalah Tipikal sihir dari Sealing Magic; Cara kerjanya, Sihir tersebut menyegel materi-materi yang ada agar tak termakan umur sama sekali, walau pun begitu ia tak tau kenapa, Bagiamana bentuk Konsep maupun imajinasi yang di pergunakan, Ini memang terbilang sulit itulah Menurut Zen.
"Nona Sally bisakah kamu, Jelaskan kenapa Perpustakaan Anion bisa seperti ini" Tanya Zen bingung atau pura-pura bingung.
"Kami pun Juga para penyihir yang ada juga tak tau, Kenapa sampai bisa seperti ini...ini adalah hal langkah bahkan menjadi sebuah misteri bagi Umat manusia" Jelasnya.
Sudah ribuan bahkan puluhan Para Mage manusia tak dapat menyimpulkan satu kesimpulan yang kuat mengenai hal ini, Hanya peraduan Argumen dari berbagai pihak yang tak di pungkiri hanya berbeda pendapat belaka. Tapi semua di Argumen kan juga tak dapat di buktikan Kenyataan maupun Fakta yang ada, Hanya pendapat dari pemikiran semata.
"Jadi...mereka Tak mengetahui Jika ada Transparan tipis yang menyatu di Udara menyelimuti Perpustakaan ini" Batin Zen yang terus menyimak semua penjelasan dari nona Sally.
Zen yang kurang pengetahuan Sejarahnya, Tak tau siapa di balik dari sihir ini. Tapi ia betul-betul di buat Jempol lima jari dengan orang di balik Magic Sealing ini, Entah bagaimana bisa ia bisa mengontrol sihir ini hingga dapat bertahan lebih dari seribu tahun. Ini adalah sihir yang membuat Zen terkagum dengan pemikiran maupun manipulasi yang setingkat kemampuan dewa.
"Ayo Zen kita pergi ke halaman pusat".
"Yah" Respon singkat Zen.
Seperti biasa menyusuri setiap Lorong yang ada, Lorong-lorong panjang yang di terangi oleh pencahayaan dari Alat sihir, Hingga sebuah pusat dari lorong itu terlihat, Mungkin ini di katakan bahwa ini berada di tengah-tengah Akademi, atau pusat dari Akademi. Sebuah Taman Hijau yang luas yang di batasi bangunan berbagai sisi, dengan Patung Patung Taman yang banyak murid akademi kunjungi untuk di ambil beberapa info yang tertera; Di buat karya Ilmiah.
Zen sedari tadi berada di belakang hanya mengikuti di mana arah Nona Sally melangkah, Ia mendekat di sebuah patung yang di bawahnya ada pancuran airnya yang terlihat indah. di Tambah dengan patungnya yang memang pedang terbuat dari batu, Menampilakan kesan yang Gagah berani dari sosok patung yang di pahat.
"Apakah..Kamu pernah mendengar Arturh De Camelot Zen?" Ujarnya seakan bertanya pada Zen di belakang.
"Hmmm...Aku pernah membacanya di sebuah buku Sejarah".
Arthur yang di kenal dengan sebutan King Of The King, Raja dari semua para raja itulah anggapan bagi ras manusia. Ia lahir Tahun XII Kalender Hipsida atau kalender kuno yang di pakai generasi pertama sebelum semua ras terpecah belah, itulah yang di baca Zen. Umat manusia percaya bahwa jika Arthur adalah Seorang Pahlawan yang kirim Tuhan agar mempersatukan maupun menjaga Kedamaian dunia ini, Walau anggapan itu hanya di anggap sebagai bualan belaka bagi ras lain.
"Sekarang Zen Tugas kamu adalah, Menguasai semua Aturan Akademi" Ujar Nona Sally.
"Bukanya aku belum resmi masuk Akademi bukan".
"Yah,Aku tau...Tapi ini semua perintah dari Kepala Akademi" Balasnya.
"Baiklah.."Jawab Zen pasrah.