My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 6. Zenos Sang Pemandu



Disudut perpustakaan terlihat Seorang pemuda menggunakan kaca mata Tebal membalik buku yang ada di hadapannya itu. Entah apa yang ia cari hingga terlihat dari Ekspresinya saja begitu semangat seolah olah ia mendapat sesuatu barang berharga.


"Permisi Tuan, barang yang anda pesan telah Datang."


"Benarkah..ayo bergegas jemput barangku" Dengan Cepat menutup buku lalu menyimpan di Rak yang berjejer.


Namanya Ernes Van Liquen,seorang penggila Bioteknikal. Bioteknikal sendiri adalah pemanfaatan Unsur Enzim maupun makluk Hidup dengan Jenis Teknologi. Walaupun berbeda Dengan Bumi, lebih ke penggabungan antara Sihir dan juga Sains.


Ini dapat membuktikan bahwa, dunia atau lebih tepatnya Etherna World tak begitu Minim akan Ilmu pengetahuan. Walaupun Pengetahuan sendiri di gabungkan dengan Alat sihir hingga begitu Efektif ketika di gunakan. Sedangkan Bioteknikal sendiri paling banyak berhubungan dengan Unsur maupun Reaksi reaksi Kimia yang terjadi.


"Hahahaha...lihatlah akhirnya Penelitian terakhirku akan selesai" Ucapnya yang penuh kegembiraan.


o0o


Disisi Lain Zen memutuskan untuk memasuki kamarnya, terlihat di wajahnya yang begitu Kebingungan melanda padanya. hingga ia memutuskan untuk membaca Buku yang belum ia selesaikan kemarin malam yang ia baca.


"Ahkk..aku tidak Bisa berpikir" Katanya yang begitu Frustasi.


Rasa penasaran yang melanda padanya membuat ia Frustasi, masih berpikir tentang Suara yang berbicara padanya. Tanpa sadar otaknya berpikir sedikit lebih keras hingga membuat ia kehilangan kesadarannya.


[Host Telah Terdeteksi]..


Suara yang begitu Familiar dan juga betapa ia pikirkan beberapa waktu lalu menggema di pikiranya, hingga ia di buat Kaget. Zen secara spontan melompat dengan Umpatan-umpatan yang ia ucapkan.


"A-apa itu tadi."


[Permintaan Diterima].


[Menggunakan Analisis Data].


[Sistem Pemandu telah Di konfirmasi].


Ucapan berturut-turut terdengar di pusat pemikirannya. Zen tak tau apa yang terjadi hanya melongo terdiam beberapa saat. Sistem Virtual yang begitu jelas di pikiran Zen membuat ia melihat dengan mata tak percaya.


[Misi telah Di aktifkan].


[Proses penyelesaian Misi 0%].


"Siapa kamu? kenapa kamu berbicara kepadaku" Tanya Zen.


[Permintaan Diterima].


[Sistem Pemandu yang di berikan Dewa kepada anda untuk menyelesaikan misi yang di tugaskan].


Tertera penjelasan yang begitu jelas yang terpampang di pusat kesadarannya itu, Zen seakan melongo tak percaya dengan kenyataan yang ada di depanya.


[Apakah Host akan memberikan Nama kepada Sistem].


Masih dalam posisi terkejut, mendengar suara yang di arahkan padanya membuat semua keterkejutannya seketika buyar. Permintaan begitu simple Bukan, hanya sebuah nama. Tapi, apakah kalian pernah berpikir jika Nama begitu bagi sebagian makluk hidup, tentu saja bukan Ras yang mempunyai kesadaran seperti manusia.


"Nama ya..." Jawabnya sambil mengelus dagu dan menatap keatas berpikir.


"hmm..bagaimana Kalau Zenos" Guman Zen.


[Permintaan Diterima].


[Sistem Pemandu Berevolusi menjadi Analysis Sistem].


[Pembaharuan selesai].


[Analysis Sistem berganti Nama menjadi Zenos].


"Hah..."


Kedua Rahang nya seakan terbuka Lebar menganga tak percaya sekaligus bingung. Jika suara yang tak di kenal menyebutnya sistem walau tak terdengar ia menyebutkan, seperti sebuah sistem Game virtual saja.


"Apa-apaan ini...terlalu O.P banget" Guman Zen tak percaya tapi ia tahan.


"Sistem..siapakah anda sebenarnya"tanya Zen ragu-ragu


[Dimengerti].


[Saya Adalah pemandu Anda menyelesaikan Misi yang di berikan,Dewa telah menciptakan saya agar dapat memberikan penjelasan selama misi Berlangsung maupun kehidupan Anda sekarang].


"Jadi siapa Dewa yang menciptakanmu" Tanya Zen dalam pertanyaan kedua


[Tidak Tau].


Jawaban sistem yang begitu datar membuat perasaan Zen sedikit terluka ditambah lagi kata terakhir yang ia ucapkan dengan nada sedikit penekanan membuat urat kekesalan Zen timbul. Ia tak pernah sama sekali sedikitpun berbicara dengan seseorang yang nadanya datar seperti Tembok.


"Apa-apa nih Sistem" Batin Zen cukup kesal.


[Nama saya bukan sistem,saya telah berganti menjadi Zenos].


"Hah..." Ucap Melongo.


"Apa-apaan ini..dia membaca pikiranku bukan" Batin Zen dengan kekesalan.


TOK...


TOk...


TOK...


Bunyi ketukan pintu berulang kali terdengar, menoleh kearah suara yang terdengar itu.seorang berbicara yang sangat di kenal Zen.


"Kakak Zen...apakah ada di dalam."


"yah...Ada apa" Ucap Zen dari dalam Ruangan.


"Aku...kak Isabella dan kak Hendrick Rencananya sekarang ingin berkeliling ke kota apakah kakak Mau ikut" Tanya Susan.


"Hmm..Kota yah" Guman Zen.


"Yah Saya ikut" Ucap Zen.


"Bersiap bersiaplah Kak setengah jam lagi kami akan pergi" Jawab Susan.


Tak terdengar suara sama sekali dari dua sosok itu yaitu Zen maupun susan. Mengira tak ada Respon Sama sekali, Susan melangkah kakinya meninggalkan kamar yang di tempat Zen, sedangkan Zen masih berkalut dengan pikiranya itu ingin menjumpai Susan yang ada di balik pintu kamarnya.


"Heh..mana orangnya" Ucap Zen yang terfokus kearah Lorong yang terhubung dengan posisi kamarnya.


"Hah... sudahlah" Menghela napas pasrah.


Setelah mendengar ucapan dari Susan, Zen bergegas menyiapkan dirinya mengikuti mereka, kakak beradik itu yang rencananya berkeliling kota setengah jam lagi. Sambil cekatan mengotak-atik bajunya yang di borong oleh Susan tempo hari itu. Hingga setelan Kaos berwana putih polos yang senada dengan Rambutnya dengan celana berwana Hitam yang nampak cocok dengan baju putih Senada menjadi Fokusnya.


"Ini nampak Cocok" Ucap Zen yang mengangkat baju yang telah ia pilih, menempel di tubuh depanya seolah berpikir apakah ini Cocok.


Terlihat Kaca Besar sosok Zen memandang wajahnya dan juga pakaianya yang begitu Rapi tapi tidak dengan Rambut putihnya yang begitu berantakan. Ia juga tak mempermasalahkan Rambutnya itu, terkadang ia juga merasa kesal disebabkan Rambutnya yang begitu mudah berantakan karna Angin semata.


Ia menutupi Pintu kamarnya bergegas turun kearah pintu Gerbang. Langkah kakinya tak segan segan berhenti takjub melihat apa yang di sekelilingnya, terlihat tiga orang kakak beradik dengan Hijau Zamrud yang nampak sama pada Iris mereka membuat orang memandang iri akannya.


"Yo...Zen" Sapa Hendrick seperti Biasa.


Langsung saja Susan dengan kecepatan terbaiknya menerjang kearah Zen, memeluk erat pada Sosok berambut putih yang ada di depanya.


"Kakak Zen.." Ucapnya tersenyum.


"Eh...kenapa Susan" Jawabnya kebingungan.


Sedangkan kedua orang Hendrick dan juga Isabella hanya tersenyum melihat dua sosok itu. Tak terasa Kereta kuda yang sudah Di siapkan Paman Dalton.


"Hei kalian berdua ayo Cepat masuk keretanya sudah Datang."


"iya-iya kak kenapa kak isabel Begitu Cerewet" Ucap Susan nampak kesal.


"Ayo kak" Sambil menyodorkan tanganya kearah Zen sedangkan ia yang melihatnya hanya tersenyum sehingga kadar tampangnya itu meningkat jika di pandang. Sehingga Susan yang melihat itu wajahnya begitu memerah seperti Tomat bahkan sampai di telinga imutnya.


"iya.." Membalas uluran tangannya.


Susan dibuat gugup akannya,sosok Zen hanya menatap Lurus tak berkedip, tak menunjukan respon apapun yang ia lihat pada Susan sehingga ras canggungnya cepat teratasi.


"Huh..Untung saja" Sambil menghela napas.