
“Masuklah.”
KREAK....
“Salam Hormatku Master dan...kepala akademi,” dengan posisi penghormatan sembari mengalihkan kepala akademi yang tersenyum kearahnya
“Selamat datang Zen, bagaimana dengan kelas yang kamu tempati, apakah nyaman untukmu,” tanya kepala akademi dengan tersenyum.
“Lumayan,” jawab Zen berusaha mengalihkan pandangannya.
“Apa yang ingin anda bicarakan master,” Tanya Zen langsung to the Poin.
“Bukan aku yang ingin membicarakan sesuatu denganmu Zen, tapi...kepala akademi.”
“Maksdn---.”
“Yah..di sini kamu akan membahas beberapa hal secara pribadi dengan kepala akademi atau lebih tepatnya saya,” ujarnya.
“Apa-apaan sih pak tua ini,” batin Zen dengan dahi mengerut.
“Baiklah, aku keluar dulu,” Jendral Lucas beranjak dari tempat yang ia duduk.
Ia melangkah dengan pakaian Armord nya, lalu menatap sekilas kearah belakang lebih tepatnya kearah kepala akademi Phyterus, tapi ia alihkan menatap Zen yang sedang dalam posisi bingung; Tak berlangsung lama pintu tertutup meninggal dua sosok yakni Zen dan Pria paruh baya.
BUMM.. ( Suara Pelan )
Hening menjalar di setiap pendengaran dari ruangan yang ada, hanya saja jika dengar – terdengar hanya suara cairan yang di tuangkan dari atas teko sebagai wadahnya, kearah gelas di atas meja.
“Apakah kamu mau Zen,” ucap sang empu yang melakukan itu semua menyodorkan teh yang telah siap untuk di teguk.
“Bisakah langsung pada intinya saja, kepala akademi.“
“Kamu benar-benar tak sabaran ya, Zen”
“Tapi, jika kamu mau begitu...tak ada salahnya juga,” ucapnya ringan.
Wajah Zen sedikit menahan, ia benar-benar tak tahan lagi dengan orang yang ada di hadapannya, walau ia adalah kepala akademi atau orang penting sekalipun.
“Jika..tidak ada masalah penting lagi, aku akan keluar bertemu master dan mengatakan jika semua telah selesai” Ucap Zen sembari memutarkan badanya.
“Apa kamu tidak penasaran siapa yang memberikan Telur naga itu,” Ucap pak tua dengan menyeruput teh dengan santai.
Langkah Zen terhenti, ia berbalik melihat pria tua itu yang sedang menyesap teh dengan tenang, sembari menutup mata seolah-olah menikmati apa yang ia lakukan sekarang ini.
“Sepertinya kau cukup penasaran bukan.”
“Bisakah kau jelaskan pak tua” Ujar Zen berdecak sebal yang selama ini ia tahan.
“Hoho... bagaimana nih, aku tak suka jika seseorang menyebutku seperti itu, dan lagi orang tersebut meminta sesuatu dari ku bahkan sangat berharga,” ucapnya.
“Hah....” Menghela napas lelah. “Bisakah anda jelaskan Instruktur Etnest,” lanjut Zen.
“Hm...begitu dong.”
“Baik kita mulai dari mana yah” Tambanya sembari memegang Jenggot panjangnya.
“Baiklah, bagaimana jika kamu duduk dulu disini, bukanya lelah berdiri terus bukan.....”
“Yah, Anda benar juga Instruktur Etnest.”
“akan ku jelaskan, tapi.... sebelum itu bisakah aku melihat naga kecil itu dulu, aku yakin jika ia telah menetas bukan!”
Zen mengangakat satu alisnya, ia seakan tak percaya dengan deteksi dari pria tua di depanya ini, walau itu telah di samarkan oleh Zenos sendiri, namun pria tua itu telah bahkan begitu mudah mendeteksi sesuatu dengan ke akurat di atas 85% dan itu pun di jamin oleh Zenos.
[Menjawab; Pria tua di depan anda ini bukan menggunakan Magic Deteksinya, tapi berdasarkan intuisi ia sendiri, dengan kata lain ia sama sekali hanya menebak berdasarkan pikirannya saja].
“Hah.....”
“Tidak....” Sembari memegang kepalanya; Sekarang ini ia benar-benar salah sangka dengan pria tua di depannya, yang tadi sedikit memuji atas kehebatan yang ia sangkal alami darinya.
“Sialan kau Zenos” Umpat Zen dalam hati.
Zen terlihat di luar hanya senyum-senyum cengesan menatap pria tua di depannya, tapi di dalam hatinya hanya bisa mengumpat.
“Noir......”
Suara pelan yang keluar dari mulut Zen, tak berlangsung lama terlihat pusar-pusaran ruang di pinggir tempat pemuda berambut putih itu duduk, lingkaran Rune berwarna Hitam tercipta di setiap mata memandang. Sosok Eksistensi naga yang di katakan sebagai ras terkuat, keluar dengan tubuh ukuran sekiranya sepuluh inci yang terlihat, belum warnanya yang begitu mencolok yaitu hitam pekat seperti warna Rune nya sebelumnya.
“Luman juga kamu nak...tak kusangka ia akan sebesar ini, padahal baru beberapa minggu sebelum aku berikan padamu” Mengamati dengan saksama.
“Jadi, bisakah anda jelaskan lebih lanjut, kenapa anda memberikan ini semua kepadaku, kepala akademi”
“Menjawab yah.... sepertinya aku lupa” menggaruk-garuk kepala belakangnya.
“Hah? Jika anda seperti itu lagi, tak segan-segan akan ku------”
“Tidak...tidak aku hanya bercanda.” Candaan ringan yang ia buat.
Dari arah jendela berbentuk segi lima, berada pada posisi kanan dua orang itu berbicara, nampak sosok berdiri dengan bijaksana dengan wajah yang dingin yang ia Pertahankan menatap dua orang terpaut jauh umur itu, ia menatap sangat datar seolah-opah tak berekspresi.
“Kamu masih suka bercanda seperti itu Kepala akdemi,” ucapnya.
“Oh...rupanya Hagrid yah, maaf, maaf, mari kita lanjutkan,” dengan nada cengesan nya.
Zen menatap Instruktur Hagrid terkejut, ia tak merasakan ada hawa keberadaan di ruangan ini kecuali dia sendiri dengan kepala akademi, walau rasa samar sedikitpun ia tak merasakan, benar-benar aneh. Walau tak mungkin juga begitu, tapi ini sungguh membuat remaja berambut putih itu kaget bukan main.
Instruktur Hagrid menatap naga yang terbang di sekitar anak Zen, “Noir...Yah, nama yang lumayan bagus” Kata Instruktur Hagrid.
Zen cukup yakin, dengan asumsinya sendiri— ia menatap dengan serius Instruktur Hagrid yang menatap naga itu atau Noir dengan Eksperesi yang aneh, lagi dan lagi Zen tak dapat mengartikan Eksperesi Rumit itu. Kendati begitu, jujur saja Zen mengekspetasikan dengan dugaanya saat ini, walau ia tak yakin; Jika Noir sendiri ada hubungan secara mendalam dengan Pria berambut hitam silver panjang ini.
“Kamu harus tau Zen, jika naga itu bukan dari aku, tapi dari Instruktur Hagrid.”
“Walau secara tak mungkin, tak mendapatkan naga seperti itu dan butuh pengorbanan, tapi sepertinya itu sangat cocok menekan kekuatan yang kamu miliki.”
“Dan lagi....Ini sudah menjadi, tugas kami berdua sebelumnya,” ucap Instruktur Etnest ringan seperti sebelumnya.
“Maaf....aku sebenarnya sungguh tidak mengerti dengan apa yang kalian bicarakan, apakah ini semua ada hubungannya denganku?”
“Itu benar sekali Zen,” ucap Instruktur Hagrid yang mengarah padanya.
“Tapi, itu semua tidaklah penting sekarang ini, kita bicara hal yang lebih serius, kenapa kamu mempunyai itu semua?” Tanya Instruktur
“Compement...Natural....Law, benar-benar sungguh mengejutkan” Tambahnya.
DEG...
DEG...
Jantung Zen memompa darah lebih cepat dari sebelumnya, kedua iris matanya bulat lebar tak menyangka Seolah-olah tak percaya, hal yang ia sembunyikan selama ini di ketahui dengan mudah.
“Orang ini tak seharusnya aku remehkan” Batin Zen
“Dan kenapa...Ia bisa tau?” Ujarnya dalam Hati.
Cukup membingungkan untuk di jelaskan, kenapa dua orang ini dapat mengetahui dengan jelas seseorang yang mempunyai Compement sama halnya dengan Compement orang lain, seharusnya untuk mendeteksi Compement sendiri tak lain dan tak bukan harus menggunakan Artefak yang di sebut dengan julukan tersohor di kenal banyak orang The Truth Of Status yang kelangkaannya bisa di bilang lebih jauh dari Termometer pengukuran mana yang di buat bangsa Dwarf.
Dengan tatapan tajam yang di tunjukan Zen secara terang-terangan, ia sungguh tak dapat berpikir Secara jernih setiap ia memikirkan sesuatu, kedua tangan Zen memegang dengan Erat jubah baju Akademi yang ia pakai.
“Sudahlah Hagrid, bagaimana kalau kita mendengar penjelasannya dulu.”
Zen merasa semua itu seakan berbalik menanyakan semua itu padanya, bahkan rasanya ia seakan di permainkan, tapi di lainya sisi, ia tak dapat mengelak semua hal yang terjadi padanya sekarang ini; Di Umpamakan seolah-olah kucing tertangkap basah.
Diam menatap dua orang di hadapannya, Zen hanya bisa mematung sembari memandang kebawah dengan cara menundukan kepalanya. Terkadang hal yang tak terduga memang tak dapat di hindari, walau sudah berusaha sedemikian mungkin; Dan hal itu pun terjadi oleh remaja beriris biru laut ini.