My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 16. Mengejutkan



Suasana yang tenang dan juga damai dirasakan seorang pria yang berdiri di kaca yang besar nan lebar, sambil menyesap minuman yang ia pegang, menambah kesan Relax yang ia rasakan. Pria dengan rambut merah yang mencolok tergerai yang terlihat cukup panjang jika menggunakan centimeter sebagai patokan ukurannya. Jubah yang panjang tergerai begitu saja dengan lambang Guild Asosiasi yang terjahit dengan rapi di belakang jubahnya sendiri, sekilas seperti baju yang sama dengan lambang yang berada di ujung pada bendera Asosiasi Guild Petualang sendiri.


Tok..


Tok..


Tok..


“Tuan ada yang ingin saya sampaikan,” kata seseorang dari balik pintu yang di tutup.


“Masuklah,” ujarnya yang masih membelakangi.


“Salam Hormatku Guild Master,” ucap Perempuan yang terbilang sangat cantik yang menjadi pelaku mengetuk pintu.


“Apa yang ingin kamu sampaikan Alice,” Balasnya masih dalam posisi yang sama.


“Ini Soal Teman anda Tuan Gazel yang ingin berkunjung.”


“Benarkah....betul juga yah, persiapan semua yang ada menyambut mereka.”


"Akan saya Laksanakan Guild Master,” balasnya langsung beranjak pergi.


Guild Master Ren merupakan salah satu pemimpin Guild master cabang yang tersebar di seluruh wilayah ras Human yang ada. Guild master sendiri dipilih bukan karna Pangkat seperti jendral yang di berikan oleh Raja maupun kaisar, walau masih begitu di pertimbangkan soal kekuatan maupun pengaruhnya. Tak kala itu langsung diangkat menjadi jendral, melakukan dengan kerja keras atau dari nol tingkat dasar. Orang mungkin berpikir jika Asosiasi Cabang selain kota-kota besar misalnya Aliance City yang ada cukup lemah atau tak berpengaruh, tapi sebagian Asosiasi yang tersebar begitu mempengaruhi semua aspek Kehidupan Masyarakat yang terbilang cukup dinamis.


Pengaruh dan juga kekuasan begitu familiar dan juga makanan sehari-hari bagi orang yang memiliki jubah kebesaran – sangat melekat dalam masalah Jabatan hingga tak kiranya banyak sekali penyalahgunaan wewenang hingga begitu merugikan. Tapi bagi Asosiasi Guild petualang sendiri Aturannya terbilang simple Hanya dengan kata-kata yang di jadikan moto setiap petualang itu sendiri, "all are Equal or Equivalent" atau; semuanya adalah sederajat atau setara.


Jika di jabarkan istilah tersebut: semua orang seperti Bangsawan, para kesatria, jendral, rakyat jelata, para pedagang maupun profesi apapun yang di miliki bahkan perbedaan Gender sekalipun dianggap setara tanpa membeda-bedakan, sifat dan sikap Humanisme yang sangat tinggi. Itulah sebabnya tidak ada acara penghormatan lyang terlihat berlebihan walau itu bangsawan sekalipun, hanya orang kuat yang akan di Hormati disini.


***


Pandangan jika orang melihat, terdapat ruangan yang bernuansa mewah dengan corak berwana gold yang terang dan Begitu menyilaukan bila mana sinar matahari secara tak sengaja memenuhi ruangan. Tampak dua orang yang begitu di kenal berbicara secara pribadi mengenai suatu hal yang nampak serius. Ernest sendiri yang yang terbilang mengajak diam-diam ayahnya membicarakan suatu urusan, bukan suatu urusan melainkan suatu permintaan yang tak harus ayahnya menepatinya.


“Ayah Sebenarnya aku masih ada permintaan.”


“Apa yang kamu mau...bukanya kamu sudah mendapat apa yang kamu inginkan.”


“Soal itu sih...bukan aku menginginkan, tapi Zen Sendiri.”


“Aku sebenarnya memberitahu paman Ren jika ayah akan berkunjung dalam waktu dekat ini, dan hari ini sudah menjadi jatuh temponya,” lanjutnya.


“Oh...jadi kamu menyuruh ayahmu ini bertemu dengan paman Ren?” ujarnya.


“Begitulah ayah,” balasnya.


“Baiklah kalo begitu.”


...


Terlihat Hendric dan juga Zen duduk di sebuah pohon yang sangat rindang yang berada di Taman samping kediaman utama dan menjadi pusat dari semua tempat yang ada di kediaman Liqued, angin sepoi-sepoi membuat rambut halus mereka bergerak kesana-kemari, hingga mereka di buat begitu nyaman berada di sini. Entah sudah berapa menit berlalu mereka di buat menunggu oleh kedua Anak dan orang tua itu. Masalahnya mereka terlihat mencurigakan ketika berbicara Secara privasi seperti yang ada.


“Aduh kok lama sekali,apa yang mereka lakukan,” gerutu Hendric yang menguap karna suasana nyaman yang di rasakan.


“Aku tak tau mereka sedang apa...mungkin saja itu berhubungan dengan permintaanku sendiri,” ucap Zen yang terlihat tenang.


“Tapi ini kan lama sekali...aku tak kuasa menahan rasa kantukku ini,” ujarnya langsung membaringkan badanya di atas kursi yang terbilang cukup lebar untuk menampung Dua remaja itu.


Zen sendiri terlihat tenang, merasakan sensasi angin yang begitu ia suka. Ia merasa sedikit bernostalgia dengan suasana seperti pedesaan yang begitu ia impikan.


“Kalian sudah menunggu lama yah,” ucap Ernest yang mendadak muncul.


“Yah...apakah Urusan dengan ayahmu sudah selesai?” ucap Zen.


"Sudah, soal masalah pemintaannmu itu, ayahku telah menyetujuinya. Mungkin beberapa menit lagi kami akan menuju di guild Asosiasi."


"Jadi Ayahmu akan pergi Ke Asosiasi Guild" Tanya Zen balik.


“Aku tak habis pikir, orang sibuk seperti Paman Gazel akan meluangkan waktunya,” tambah Zen.


"Hmmm... Sebenarnya ia akan bertemu dengan seseorang. Kamu sudah tau kan paman Ren, dia lah teman dari ayahku."


“Jadi dia akan bertemu dengan paman Ren, bukanya paman Ren Itu, Guild Master bukan.”


“Hmmmm, itu benar, ayo bergegas.”


Entah karna pikiran Seperti apa, Zen sebenarnya bisa saja meminta Zenos menganalisis semua kapasitas mananya tanpa bantuan alat, tapi ia ingin memastikan sesuatu yang begitu membuat ia penasaran. Sebenarnya ia mempunyai berbagai asumsi dan juga tesis yang ia pikirkan dalam otaknya, berbagai Asumsi itu melibatkan [Mana], ini soal peningkatan dan juga penurunan kadar [Mana] yang ia miliki, seberapa cepatlah Generasi mananya setiap per sekon dan bagaimana [Mana] nya bereaksi dalam sebuah alat sihir. Masih banyak sekali pertanyaan pertanyaan dalam benaknya.


“Hoammm...hei Ernest kenapa kamu ada di sini, bukanya kamu bersama paman Gazel,” ucapnya yang mengucep-ucep bola matanya.


“Sudah selesai,” jawabnya singkat dan jelas, terlihat raut wajah kesal.


“Sudahlah kalian berdua,” ucap Zen yang melerai apa yang mengganggu ketenangannya.


“Salam Tuan Muda, ayah anda telah menunggu Tuan muda dan juga teman-teman Tuan Muda sekalian.”


“Ohh..paman Gestel, cepat ayahku sudah menunggu.”


Mereka semua beranjak secara bersamaan, kepala pelayan Gestel memandu mereka dengan sangat sempurna. Sikap telaten pelayan terlihat jelas dari semua apa yang di lakukan, baik dari penuturan maupun sikap personalnya.


“Sudah sampai Tuan Muda,” ujarnya.


“Sepertinya kalian membuatku menunggu lagi,” ucap Tuan Gazel yang berdiri di samping kereta kuda.


“Ayo cepat masuk.”


“I-Iya,” jawab mereka serempak.


***


Di satu sisi, seorang perempuan dengan Rambut panjang berwarna Hitam dengan mata Birunya berlari dengan nafas yang memburu, ketergesaan itu membuat Tuan yang ia hormati kebingungan, ia tak pernah sama sekali melihat Sekretaris pribadinya ini bersikap seperti itu, sifat yang tenang dan juga telaten dalam berbagai hal melekat pada kepribadiannya.


“Ada apa Alice?” tanyanya.


“Tuan mereka telah sampai dan sekarang ini berada di Ruang tamu yang di persiapkan.”


“Siapa maksudmu?” ucapnya kebingungan.


“Sahabat anda, tuan Gazel...dan mereka lagi menunggu.”


“Benarkah..ayo kita temui mereka,” jawabnya yang masih tak percaya.


“Iya Tuan,” balasnya.


Sementara itu rombongan Zen sendiri yang duduk diam di sebuah Ruangan yang telah di persiapkan seorang Resposionis yang pernah menyabut mereka, cukup bagi mereka mengenali Resposionis yang penampilannya sangatlah mencolok. Ruangan yang terbilang lebih kecil seukuran dengan kamar yang di sewa namun lebih besar dari itu; ada beberapa pajangan yang terletak dengan rapi di atas meja. Pewangian bunga Lavender sangat tenang tercium memenuhi Indra penciuman, sungguh terasa tenang bagi orang yang merasakannya.


Kreak...


Suara pintu yang terdengar, sosok yang di ketahui yang kedudukannya setara dengan para Jendral – Guild Master Ren terlihat Dan seorang Resposionis yang segera di ketahui sebagai tangan kanannya.


“Sudah Lama sekali kita tidak bertemu Gazel.” Suara yang terdengar di hadapan mereka semua.


“Seperti biasa Ren Zold Varnes,” balasnya yang tersenyum hangat.


Kedua Orang yang di sebut teman lama itu bertemu membicarakan sesuatu yang menurut Zen, Hendrick maupun Ernest terlihat membosankan. Pebicaraan dua orang pria paruh baya; seperti masa pengalaman dulu waktu muda, seolah-olah sikap mereka berubah menjadi seratus delapan puluh derajat. Sehabis menceritakan dengan tema “masa muda dulu,” lanjut cerita langsung tertawa terbahak-bahak Karna cerita pengalaman yang menurut mereka itu lucu. Ada juga membanggakan karna keberhasilan dan terakhir saling menghujat satu sama lain dan tertawa bersama-sama, sungguh Aneh bukan main. Benak ketiga pemuda bertanya dimanakah Sikap Tegas mereka tunjukan selama ini?


“Ayah bisakah Kamu menempati permiantaan mu itu,” ujar Ernest yang menggangu suasana Nostalgia mereka.


Entah sudah berapa lama mereka berbicara seperti itu, membuat ketiga remaja yang sama umur itu di buat hanya geleng-geleng kepala.


"Hei Ren, anakku ingin meminjam Tempat pengetesanmu manamu itu" ujar Tuan Gazel.


“Tak masalah, Alice akan menemani mereka kesana,” balasnya


“Alice pandu mereka,” ucap Guild master Ren.


“Baik Tuan.”


“lewat di sini Tuan-tuan sekalian,” ucapnya dengan sopan.


Beranjak dari tempat duduk yang mereka duduki, lekas mereka bertiga berjalan mengikuti langkah kaki Resposionis itu, hal ini lah yang terbaik untuk bebas dari Pembicaraan para Pria tua ini di depan mereka yang sedang bercengkrama. Sudah seharian penuh Zen maupun Hendrick meninggalkan Kediaman, tapi semua itu tak terlepas dari ijin dari Paman Sebastian sendiri.


“Kita akan di bawa kemana,” tanya Hendrick yang berbisik ke telinga Ernest, kebetulan berada di sampingnya.


“Aku juga tak tau” balasnya


“Ikut sajalah...mungkin tempatnya sendikit tersembunyi.”


Terlihat Dua pintu besar ganda yang berbentuk persegi lima yang di atasnya menjadi sudut atasnya. Lorong yang di telusuri tak meninggalkan jejak pencahayaan yang tampak cukup minim bagi mata untuk melihat, hingga mereka Resposionis itu berdiri di depan pintu sembari mendorong dengan pelan sehingga suara pintu khas memecah gendang telinga.


“Di sini tempatnya, silahkan.”


“Jadi ini tempatnya...terlihat cukup rahasia,” ucap Hendirck.


“Ayo kita masuk.”


Sang Respionis hanya mengikuti dari belakang, hingga terlihat ruangan Seperti arena dengan beberapa tempat yang di sebut sebagai pengujian Mana sendiri. Nampak seperti Termometer berskala besar dengan Garis Warna yang mewakili seberapa jauh Tingkatan seseorang. Perlu di ketahui juga kapasitas mana standar sekitar 5000 kebawah sedangkan terbesar 15.000 keatas. Itu sebenarnya hanya Teori belaka belum di sebut sebagai hukum tetap yang berlaku karna banyak argumen dan perbedaan pendapat para Sarjana Sihir ternama.


Jika Kalian bertanya benda seperti Termometer itu berasal darimana? Semua benda itu berasal dari Plpara Bangsa Dwarf sendiri, para Insinyur Dwarf sendri lah yang membuat Teknologi Canggih seperti itu, karna para Dwarf sendiri termaksud dalam Pihak Netral dalam Perdagangannya dengan menjalankan perdagangan Bebas semua para ras.


“Silahkan Taruh tangan kalian di atas lingkaran bulat berwarna Transparan...disini,” ujarnya yang menunjuk lingkaran bulat yang di maksud.


Alice atau Sang Resposionis termaksud lulusan Sarjana sihir yang ahli dalam bidangnya, lulusan terbaik dalam bidang magic yang berkerja di bawah langsung Asosiasi Guild petualang yang mendampingi Guild Master Ren sebagai seorang Sekretaris dan juga tangan kanan yang dapat di andalkan.


Zen melengkungkan bibirnya, seolah-olah tujuannya telah tercapai. Ia sebenernya mempunyai Tujuan lain melakukan semua ini, bukan karna ingin menguji kapasitas mana yang ia punya. Alasan yang di berikan Zen sendiri terbilang masuk akal karna kelangkaan Alat ini sendri di pasaran – itu juga berhubung dengan Produksinya yang terbilang minim.


Ia menyodorkan tanganya kearah Lingkaran sederhana dengan mengalirkan sedikit Mana dalam bentuk Division, tersenyum bahagia lah Zen.


“Ini Bukanya....”