
Zen menatap segerombolan Horned Bull Wind yang berlari dengan keempat kakinya kecepatan maksimum. Hewan beast berjenis banteng itu menargetkan mereka semua menjadi sasaran tanduk besar dua yang mereka miliki, dengan kecepatan yang bukan main. Dengan menyematkan nama angin, julukan masing-masing beast tersebut, tak di pungkiri jika Kecepatan mereka bukanlah wajar seperti banteng normal yang ada.
“Menghindar semua,” seru Leonhart dengan mengambil posisi kuda-kuda.
Zen dengan inisiatifnya, membuka tanganya yang setengah seolah-olah menggenggam objek – membuat bola api kecil dengan radiasi panas di atas empat ratus derajat Celcius. Sebelum mengarah pada targetnya yang sekarang ini menjadi ancaman, menatap di iris biru samudranya, bola api kecil yang ia buat ini. Dengan gerak kecilnya, gerakan hempasan dengan tenaga yang cukup hingga bola berwarna orange kemerah-merahan itu bergerak di udara kearah segerombolan Horned Bull Wind Itu.
“Magic Elemental....The Flame Stronger....”
Swuss...
Buff...
Hempasan angin dan juga ledakan besar memenuhi target semua banteng bertanduk itu, dengan bukti kawah besar setelah ledakan dan hempasan angin menerawang terjadi kala ini. Tak tanggung-tanggung tak ada yang selamat ketika terkena api dengan panas radiasi hampir menyentuh lima ratus derajat Celcius itu. Tak dapat berkata-kata, seakan bungkam dengan kejadian mereka lihat, hanya kata terkejut “Eh” yang keluar dari mulut masing-masing. Tak menyurut perhatian, Zen menatap mereka semua heran, bahkan Lumire saja mempunyai Magic Elemental tingkat tinggi itu tak percaya bagaimana apa yang di buat remaja ini – membuat ia penasaran akan Identitasnya; walau sihirnya adalah sihir dasar namun benar-benar menakutkan.
“Kalian waspadalah,” ujar Zen memperingati mereka.
Buyar dengan keterkejutan mereka, dengan cepat mengubah pikiran masing-masing fokus medan pertempuran yang mereka alami ini, tak ada apa-apa yang terlihat; Horned Bull Wind Itu yang sekirannya berjumlah lima puluh ekor, mati secara mengenaskan menjadi abu yang kini menyatu dengan tanah padang rumput hijau itu — terlihat menjadi objek kawah besar berdiameter mungkin dua puluh meter jauh dari posisi mereka saat ini, sebelum banteng kecepatan angin itu sampai di koordinat mereka saat ini.
“Kamu benar-benar ganas saudaraku,” ucap Hendrick dengan senyum masam yang ia perlihatkan.
Namun hal berselang dengan meredanya pertempuran mereka saat ini, padang rumput bergetar, kedua kaki yang menjadi penopang agar keseimbangan badan tetap terjadi, goyah akibat getaran bumi di bawah mereka. Tanah-tanah bergerak secara sistematik melayang membentuk makluk terkeras – akan menjadi lawan mereka semua. Makhluk yang di juluki sebagai Golem, dengan struktur tubuh dari tanah coklat menatap tajam dengan bola mata kuning terang menyala.
“Apa ini sudah berakhir.....” ucap Peter.
“Sepertinya belum,” ujar Erwin
Krek....
Busss....
“Apa lagi ini...”
“Morlex jangan suka mengeluh,” ucap Guinevere.
“Bersiap-siaplah semua....” teriak Leonhart.
Groaaa......
“Itu adalah Golem...” teriak Esline.
Tangan Golem yang besar nan kokoh menghempaskan udara dengan kuat di sekitarnya, angin kejut secara tak terhingga menerpa mereka semua. Serangan dengan posisi gerakan horizontal itu, tak terlalu menyudut mereka semua, namun harus mengeluarkan usaha lebih, agar tak berdampak pada masing-masing. Tentu bagi orang yang cukup baik dalam sihir tipikal Controller akan menggunakan sihir barrier melindungi masing-masing. Namun respon mereka beragam ada yang menggunakan refleks tubuh agar menghindar ada juga menggunakan sihir element bertahan dan lagi ada juga yang menggunakan opsi pertama; walau sihir Controller cukup rumit di gunakan, tapi secara totalitas mereka menggunakan sihir barrier agar bisa selamat dari serang cukup kuat ini.
Swuss....
Bammm....
“Kalian tidak apa-apa kan,” tanya Leon dengan sikap pedulinya sangat melekat.
“Ya, kita semua akan melawan Golem sialan ini,” ucap Lumire.
“Lebih baik kita berkerjasama saja...” ucap Esline; ucapannya membuat mereka menatap pada perempuan berambut kuning terang itu.
“Aku setuju, aku sudah memikirkan semua ini, entah kedepannya seperti apa, tapi jika di lihat dari hal yang kita alami barusan, cukup membuktikan jika ujian yang di berikan tak akan mudah,” ucap Zen.
“Aku pun setuju, lebih baik kita berkerjasama sama saja,” ujar Guinevere.
“Itu tak perlu di ucapkan lagu bukan, lihatlah situasinya gimana..” teriak Hendrick.
“Mari kita serang dia..”
“Kalian harus ingat jangan terlalu memaksakan diri, hingga menguras [Mana] kalian, entah situasi apa yang terjadi jika hal itu kalian lakukan,” peringat Zen.
“Hmmm....ayo kita serang Golem sialan ini.”
Leonhart mengeluarkan Long Sword dari Storage Magicnya, berlari dengan Acceleration yang ia keluarkan, cukup cepat di mata Zen tapi tidak dengan orang-orang yang melihat, bahkan sangat cepat di benak masing-masing. Remaja berambut pirang itu, masih dengan Acceleration nya, menaiki tangan Golem besar; balutan Magic Light di Long Sword yang ia miliki, menyerang dengan hempasan tebasan besar menebas Golem tanah di bagaian depan lehernya.
[Sword Art Magic]; The Light Swordman The Logger.
Swuss...
Busss...
Sabetan tajam, mengenai tepat leher sang golem. Namun demikian hal itu tak sesuai dengan ekspektasi, serangan demikian hanya menggores membentur sang leher Golem, tetapi menyatu sedia kala. Leonhart sudah mengekspetasikan, bahwa ini tidaklah mudah, pertahanan yang di miliki Sang Golem, harus ia acungkan jempol terhadap sihir cahaya yang ia miliki, tetapi sebenarnya ia juga hanya menaruh sebagian kekuatan yang ia miliki, menyerang sang Golem.
“Sepertinya, ia benar-benar bisa melakukan regenerasi tubuhnya....” ujar Lumire.
“Apakah kalian ingin membantu kami, wahai para perempuan,” teriak Lumire.
***
Di ruangan, yang kini nampak dua orang tersenyum penuh makna, di sebuah proyeksi yang kini hadapan mereka. Mengamati secara pasti setiap apa yang di lihat, tak ada komentar ketika menonton hal demikian, tetapi terlihat di wajah mereka masing-masing kelihatan menikmati setiap di tunjukan. Dua orang itu dengan santai menyesap teh dengan uap yang masih secara semestinya naik keudara, di gelas yang mereka pegang; seorang menyudahi acara nyesapannya itu, menyinggungkan senyum terlihat di wajahnya.
“Apakah ini semua tak terlalu berlebih-lebihan Instruktur Guld.”
“Entahlah, namun lihatlah kepala akademi, bukankah ini adalah hal yang sungguh menghibur bukan.” Masih menyesap dengan santai teh hangat yang di nikmati.
“Hmmm, kau benar juga, tidakkah kamu ingin melakukan hal yang lebih ekstrim lagi.”
“Seperti menarik, kita coba dulu apa yang kamu sarankan.” Dengan gerakan santai menaruh gelas teh hangat, di atas meja kayu di antara papan proyeksi dan juga kuris lebar, menjadi tempat duduk dua orang itu.
“Baiklah...mari kita mulai, hal lebih ekstrim.” Petikan jari terdengar di telinga, gema suara terdengar di ruangan. “Thinkg...”
Di katakan Instruktur Guld memegang penuh Control sepenuhnya dari proyek sistem ruang satu ini, berada di tangannya tak di pungkiri bisa saja ia dengan pikiran main-main, mengambil hal yang untuk memenuhi hasrat kebiasaanya sendiri. Sesuatu yang sungguh, tak harus berada di pikiran orang yang sudah berumur; masa muda yang selalu ia agung-agungkan — pria yang sangat bersemangat.
***
“Apa lagi coba ini semua,” menatap puluhan Golem mengepung mereka semua.
“Ini tak ada habisnya...” ucap Peter.
“Zen kenapa dari tadi kamu hanya diam, tak berbicara, apa ada yang salah?” ucap Rena.
“Aku hanya berpikir saja, apakah sudah selesai,” tanya Zen.
“Kamu itu tidak lihat yah, kami ini kesusahan tau....”
“Huh...baiklah, sekarang giliranku...”
“Gilaranku? jangan-jangan kamu---”
Zen dengan acceleration nya, berlari dengan katana di samping – di pegang, di biarkan dilunjurkan dengan awal untuk menebas golem-golem yang ada. Magic Elemental yang ia buat di baluti Elemental api, yang temperaturnya kapan saja bisa ia naikin. Zen menatap semua yang ada, menjadi targetnya, untuk mencoba sihir yang ia punya. Pemuda berambut putih itu, dengan lincahnya memasuki dan tiba-tiba berada di posisi jauh di depan sana.
[Sword Art Magic]; Amaterasu Of.....A, Samurai
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
[1]
Name : Esline XE. Lezier
Age : 16th
Iris Colour : Gold
Skin Color : Putih bersih
Hair Colour : Kuning Terang
Affilition : Holy Gereja Barat
Unique Skill (Compement) : The Virgo Of Wisdom
Second Skill : Rune
Unique Magic : Manipulation Rune Magic; Magic Desintegration.
A Spesialis : Magic Master (Burst Demage)
Magic Elemental : Holy; Light
Mana Capacity : S+
Tipikal Magic
• Magic Element and Manipulation : S+
• Magic Controller : AS-
• Summoning Magic : F (Tidak ada)
• Sealing Magic : C-