My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 62. Pembicaraan



“Ehh...Zen, kenapa kamu di belakang kami semua..bukanya..kamu tadi...”


“Tadi apa? aku tadi di belakang kalian kok,” ucap Zen.


“Loh Aku melihat kamu di depan kami tadi, ap--”


“Masa sih, aku tidak merasa demikian, walaupun jujur saja aku sedikit mendengar apa yang kalian bicarakan...” ucap Zen dengan senyum penuh arti.


“Haha...” Spontan suara tawa garing, yang di paksakan dari mereka semua.


Zen sejujurnya tadi berada di depan mereka, namun ia cukup penasaran dengan apa yang mereka lakukan yang berada di belakangnya, kala ini. Mereka seakan membahas sesuatu yang entah itu apa, dan setelah ia mendengar namanya saat itu sebut, penasarannya sedikit bertambah dari sebelumnya. Ia pun memutuskan untuk menyelinap menghilang di belakang mereka, tanpa di sadari, sembari mendengar apa yang mereka ucapkan di kala keberadaannya yang sedikit remang-remang di sembunyikan.


“Aku jalan duluan yah, jika kalian penasaran dengan identitas orang itu, kamu bisa tanya Hendrick, dia tahu orangnya...” ucap Zen.


“Eh..ti--dak, aku tidak tahu..” jawab Hendrick yang gugup.


“Jangan mengelak lagi Hendrick, kamu itu sudah menyembunyikan sesuatu yang besar dari kita semua,” ucap Peter serius.


“Eh? maksudnya?”


Hendrick menatap Zen tanda tanya, di saat Zen hanya menatap dengan senyum liciknya. “Zen apa yang kamu lakukan, kamu ingin aku menjadi kambing hitammu itu.” Hendrick menggunakan telepati.


“Aku peringatkan padamu Hendrick, jangan memberitahukan pada orang semua yang kulakukan sebelumnya, atau tidak, aku tidak ingin menjadi penyelamatmu lagi,” jawab Zen.


“Jadi ini adalah hukumanmu..”


“Tapi...aku kan tidak melakukan hal itu, walau sedikit sih..”


“Itu sama saja tau....”


“Kalo gitu apa yang harus kulakukan, untuk mengatasi semua ini.”


“Tentu itu urusan kamu...aku berikan saran saja, lebih baik kamu bilang jika orang itu sahabatmu...”


“Tapi i---”


“Hendrick apa yang kamu lamunkan, jangan membuat kami menunggu, cepat bilang!”


“Semoga berhasil Hendrick, dah..” Berjalan pergi sebelum berucap lewat transfer pikiran di telinga Hendrick.


“Jadi kamu mau aku menanggung hal merepotkan seperti ini,” tanya sekali lagi.


“Begitulah, semangat!!! Hahaha...”


“....Untunglah terselamatkan....aku hari ini benar-benar lelah tapi harus menjelaskan hal-hal yang merepotkan seperti itu, semoga saja saudaraku itu tak melakukan hal yang aneh-aneh lagi...dan terima kasih membantuku.” Senyum cengesan yang terlihat padanya.


***


Di perpustakaan Anion, rak-rak kayu berjejer dengan susunan buku, kesan dalam pada abad pertengahan wajar untuk terlihat. Di sudut ruangan, dengan meja kayu panjang, duduk seorang anak lelaki yang bergulat dengan buku-buku dengan serius ia baca, sesekali ia membalikkan kertas yang sedikit kasar itu, membaca dengan perlahan dan juga saksama. Ernest terlihat serius membaca, walaupun sebenarnya ia cukup bosan dengan kegiatannya selama ini ia jadikan rutinitas. Ernest mengambil, kembali buku tersusun meninggi di meja hadapannya ini, namun ia terhenti ketika seorang perempuan berambut pirang dengan mata yang hampir serupa berwarna kuning, sedang berdiri dekatnya saat ini.


“Ela? Apa yang kamu lakukan disini?” Hendrick mengeryitkan dahinya.


Ella sedikit tersenyum tipis, ia mendekat secara perlahan lalu duduk jarak dua kursi yang kini cukup dekat dengan Ernest duduk sendiri. Tak kiranya juga, walaupun Ella tak cukup dekat dengan Ernest, tapi ia sering menjumpai anak berambut kuning terang ini, di laboratorium akademi dan juga perpustakan Anion.


Perempuan yang bernama Ella itu juga adalah seorang yang sekelas dengan Ernest, walaupun tak sedekat dengan orang pikirkan, namun ada yang menghubungkan mereka dalam kesamaan – hobi hal-hal yang berhubungan dengan mekanis dan kimia, tentu tak seakut Ernest sendiri. Yah, Ernest di katakan salah satu dari sekian remaja berbakat yang di diketahui menjadi seorang murid dalam kelas yang di juluki “Elmest Silva.” Hampir sebagian murid akademi tahu, kelas yang dihuni oleh orang-orang berotak IQ tinggi ini; sudah menjadi hal lumrah mereka dalam berpikir dan memecahkan suatu masalah hingga di acungkan jempol sebagai arti penilaian, dan juga dua bakat langka tertanam–sangat susah di pelajari, yakni Alkimia dan Blacksmith — di huni oleh lima belas murid itu.


“Ernest, Instruktur Wei memanggilmu,” ucap Ella menatapnya.


“Memanggilku untuk apa?” jawabnya.


“Tidak tahu, mungkin ada sesuatu yang ingin dibicarakan denganmu, aku hanya di suruh menyampaikan padamu saja, tak lebih dan tak kurang.”


“Apakah ada sesuatu yang penting..” tanya Ernest kembali.


“Mungkin saja, aku tidak tahu pasti, lebih baik kamu bertemu denganya dulu. Instruktur Wei lagi di laboratorium pribadinya.”


“Huh...apakah kamu bisa menggantikan saja, aku sedikit letih,” ucapnya dengan helaan napas berat.


“Itu tugas kamu, jangan melerai, seharusnya kamu perbiasakan bukan, makluk berbakat.” Senyum terlihat di wajahnya.


Ernest yang melihat senyum dari Ella merasa di ejek, yah, senyum yang indah itu jika di evaluasi oleh para kaum Adam, mungkin mereka akan salah tingkah, terkecuali Ernest dan kelompok Zen atau kalangan-kalangan lain, tak terlalu mengesankan untuk dianggap. Perempuan berambut pirang juga menganggap Ernest, tak seperti pria-pria lain yang cukup tergila-gila dengan wajahnya, jadi ia lebih leluasa berteman seseorang bukan mengharapkan


“Ya aku tahu, senyummu itu sangat mengesalkan tahu.”


“Kenapa kamu bisa tahu aku disini, apakah aku pernah bilang padamu...”


“Entahlah, pikir saja sendiri..”


“Kamu itu memang aneh...tapi tak merepotkan juga dengan temanku itu,” ucapnya kemudian di dalam hati.


“Cepatlah instruktur Wei menunggumu..”


...


Di suatu tempat, bukan melainkan ruangan yang alat-alat yang lumayan. Seorang pria paruh baya yang lumayan tua namun masih bisa melakukan hal yang lumayan juga, terlihat iseng ia coba, berupa cairan di tuangkan beberapa benda yang sekarang ini, ia fokus kerjakan. Dengan menggunakan kaca mata tebal, ia lakukan hanya mencampurkan beberapa bahan-bahan yang salin memproses itu, terlihat di iris matanya. Perubahan pun terjadi apa yang ia lakukan, tersenyum senang girang sebagai respon apa yang selama ini kerjakan telah mencapai kesempurnaan dalam tanda kutip selesai.


“Akhirnya..akhirnya penemuanku...hahaha, ini sungguh tak terduga sama sekali.”


Instruktur Wei saat ini sedang melakukan uji coba dari hasil observasi yang ia lakukan sebelumnya – menggunakan bahan-bahan yang cocok untuk membuat potion dengan Ekstrak yang hampir dua persen lagi mencapai 100%. Itu pun tak tanggung-tanggung, mengorbankan sepenuhnya baik dari waktu luang maupun materi lain, ia korbankan untuk penelitiannya ini. Walaupun sebenarnya masih, ada dana yang di keluarkan bagi penelitiannya namun, ia merasa itu tak cukup bagi penelitian yang ia habiskan ini.


“Akanku namakan Potion ini, High Potion.”


Bahan-bahan yang di gunakan juga sangat sulit dan cukup langka di temukan di pasaran. Ia temukan ini bisa di bilang disengajakan atau tak di sengaja jika di umpamakan, orang yang menjualnya juga memberikan jawaban yang cukup minim namun penuh keyakinan seakan-akan merahasiakan sesuatu untuk di katakan — ia juga tak mempersalahkan hal demikian. Tanaman yang di jual di katakan bernama Hippocote, salah satu bahan obat yang lumayan langka, hanya di temukan di pedalaman hutan Alfheimr, yah, hutan tersebut menghasilkan berbagai ragam jenis obat salah satunya adalah Hippocote, karna unsur [Mana] di teritori itu lumayan besar dan murni untuk tanaman yang dapat adaptif sihir – sangat cocok dengan tanaman jenis demikian.


Walau pada dasarnya juga, tanaman obat seperti ini juga di temukan di tempat yang sulit di jangkau, tanda kutip bukan teritori Hutan Alfheimr. Tetapi kualitasnya sangat terpaut jauh semestinya, kendati yang hasilkan Kuantitasnya yang lumayan. Di Etherna World sendiri, negara yang melakukan produksi massal potion, di ketahui hanya Kekaisaran Dwarf, Bangsa Witch dan manusia, tapi desas-desus mengatakan jika kerajaan Elf pun juga sama, melakukan hal produksi potion yang lebih berkualitas, dari banyak beredar di pasaran – tentu hal itu hanya rumor yang tak dapat di pastikan, di sebabkan Elf Kingdom adalah negeri tertutup jadi tak dapat di pastikan kebenarannya.


Tok...


Tok..


Suara terdengar, langsung pria paruh baya itu menghentikan kegiatannya, menjadi indikasinya saat ini. Ia pun merasa cukup terganggu, dari suara pintu yang ketuk itu, namun ia dengan cepat menaruh gelas tabung kaca berbentuk lengkungan memanjang di samakan dengan gelas kimia, dengan langkah yang pasti sesegera melihat melihat siapa gerangan. Pria paruh baya itu, membuka pintu yang kala ini tertutup, sedikit pelan namun ada rasa Impresif pada saat ketika mendengar, orang yang berucap di balik pintu di depanya.


“Instruktur Wei...apakah anda di dalam.”


“Ernest, apa yang kamu lakukan disini..apakah ada yang ingin kamu bicarakan?”


“Maaf Instruktur Wei jika saya mengganggu anda, tapi...bukanya anda memanggil saya..” ucapnya bingung.


“Ya, aku lupa, maaf, maaf, ayo masuk, kita bicarakan di dalam,” ucap Instruktur Wei.


“Hmmmm...”


Nampak mereka berdua duduk saling berhadapan, di deretan kursi di samping ruangan, di desain di sengajakan itu. Ernest tak tahu, kenapa ia di panggil menemui Instruktur Wei yang terbilang salah satu Instruktur yang mengajar di kelasnya – khusus untuk mereka, dan orang pun juga tahu bagaimana watak dari Instruktur yang satu ini.


“Begini Ernest, aku ingin kamu mendaftar dalam salah satu event yang diadakan setahun sekali ini.”


“Event?” beo Ernest.


“Ya, Eventnya akan di mulai sepekan dari sekarang...apakah kamu mau...”


“Sepertinya tidak, aku masih ada beberapa yang terbilang berat untuk di lakukan, dan tentu saja hal ini mengakibatkan waktu luangku tak banyak, apalagi harus menyiapkan penemuan dalam waktu sepekan, itu cukup singkat Instruktur Wei.”


“Jadi kamu menolak,” ucap Instruktur Wei sedikit kecewa.


“Tentu saja aku menolak, hal itu seakan mengekang kebebasan tahu...” jawab Ernest.


“Baikalah jika begitu...sebagai gantinya kamu menolak, kamu harus mencari orang yang pas, Ernest.”


“Hah? Aku?”


“Ya, kamu..” Tunjuknya.


“Ta----”


“Tidak ada penolakan sama sekali Tuan Liqued..”


Ernest melongo tak percaya, bagaimana bisa jika ini ditimpahkan padanya, realita apa yang membuat begini coba?? jika begitu ia tahu sedari tadi, tak seharusnya ia dengan langkah yang terbuang itu, menemui Instruktur satu ini, membuang-buang tenaga saja. Tapi..yah mau bagaimana lagi, nasi menjadi bubur–itulah yang dirasakan Ernest sekarang.


“Ya, saya mengerti..” Lesu menjawab.


***


Di koridor jalan utama, selalu berlalu-lalang murid-murid akademi dengan jubah mewakil kelas mereka dengan masing-masing warna maupun lambang mencolok, tidak lupa juga lambang akademi yang berada tepat di samping bahu kanan jubah yang dikenakan. Ernest yang berjalan dengan langkah malas, dengan kepala sedikit merunduk, tak perlu di pertanyakan apa yang dipikirkan anak ini, yang jelas ada hubungannya dengan ucapan dari Instruktur Wei sebelumnya.


“Kesialan apa lagi yang menimpaku ini, Dewi Fortuna,” gumanya lirih dengan perasaan frustasi dibuat-buat.


“Ah..itu dia, sepertinya mereka dapat membantuku...”


“Tapi menurutku ia sedikit lebih cocok...apa perlu dia saja.”


“Lebih baik aku menjadikan dia saja..”


“Hahaha...jenius Ernest, jenius..hal sekecil ini akan di selesaikan begitu mudah.”


Orang yang berlalu-lalang yang melihat jelas tingkah dari Ernest pun heran, apakah di orang yang tak waras? Namun hal itu di sangkal dengan melihat baju akademi yang ia pakai, apalagi lambang dari kelas “Elmest Silva” di katakan di diami orang-orang berbakat di dalam situ. Perilaku mencemoh dan juga memasang wajah aneh, nampak orang yang lewat, sebagai respon masing-masing.


“Hahahha...maaf, maaf...” Ketika baru sadar apa yang ia lakukan.


“Aku lupa tempat yah...hehehehe,” batinya sembari menggaruk pipinya dengan telunjuk yang tidak gatal.