My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 77. Pesta Gelaran



Melamun tak jelas, dengan arah pandangan yang jauh di luar sana–tak bisa di tebak, sama sekali tak bisa di tebak bagi orang yang melihat dari tampang rumit dari Zen tunjukan. Raut mata yang seakan terasa bosan, mungkin itulah yang di rasakan oleh Remaja Berambut Putih Salju ini, ia menatap sayu jendela kelas berbentuk segi empat memanjang ini; notabenenya Instruktur Anatia, tidak masuk di karenakan ada sebuah wewenang yang mengharuskannya untuk mengerjakan – waktunya tepat bertepatan.


Tak lama setelah itu. “Apa yang kamu lamunkan Zen, kamu terlihat tidak bersemangat,” ucap Hendrick saat ini menepuk pundaknya.


Malas membalas, ia lebih memilih diam tanpa menatap—masih keadaan yang sama. “Aku juga tak tahu,” jawab Zen cukup singkat xari biasanya.


“Hah.. baiklah.” Ia menduduki di sebelahnya. “Aku cukup penasaran dengan satu hal, bagaimana dengan hak patenmu, apa mereka akan memberikannya setelah kamu memutuskan, pilihanmu itu.”


Seperti yang sudah di sepakati antara kedua belah pihak yang bersangkutan, pihak delegasi masing-masing, Kota Anthoinerei, ataupun Mega Corporation, untuk membahas jalinan yang ada tanpa terkecuali objek yang di bahas: Magic Tool Genitor yang ia buat. Kesepakatan harus di tentukan, setelah selesainya sebuah acara yang waktu dekat ini akan di gelar, dan Zen sama sekali tak tahu itu secara spesifik. Ia sudah memantapkan pilihannya, sesuai pertimbangan yang di tentukan oleh Zenos sendiri – tak kurang atau tak lebih di atas rata-rata kemungkinan dari keuntungan yang di dapat oleh Zen setelah di perhitungkan maupun di evaluasi oleh Zenos.


“Sepertinya begitu. Aku berharap, semoga lebih cepat lagi hatiku untuk memilih.”


“Haha... kamu bisa saja.”


“Ngmong-ngomong, setelah ini, pelajaran dari Instruktur Anatia, apa yang kamu lakukan.”


Zen menatap Hendrick bingung, yah, ia bingung, apakah anak ini tidak menyadarinya atau mengingat perhatian waktu itu, bahkan sudah jelas sekali ada dia di situ secara terang-terangan. Menjawab malas. “Kamu lupa yah Hendrick??”


“Maksudnya?” jawabnya aneh.


“Huh... kamu tidak ingat sebelumnya, apa yang di katakan oleh Lusi itu, jika setelah ini Instruktur Levis menyuruh kita berkumpul kan?”


“Ahh... aku lupa. Hehehe...”


Zen memutar kedua bola matanya malas, ia benar-benar tak dapat mengintegrasikan apa yang di tawakan oleh Anak Berambut Coklat ini, tak mudah juga ia mencerna, seolah memang tak sinkron sekali. Menghela napas panjang, lalu kembali menatap jendela yang kini, mentari yang sekiranya sudah berada di jalur kulminasinya — terik akan cahaya dengan desiran angin sepoi-sepoi yang lumayan sejuk — di terpa-terpa di balik jendela terbuka cukup lebar ini – di posisinya yang paling pojok, berundak-undak di atas sana.


Merasa ada yang datang, irisnya ia alihkan pada seorang perempuan yang menatapnya sulit di tebak – padangannya jatuh begitu saja bertanya-tanya, dengan rambut coklat muda dengan gaya rambut skroll, sudah biasa nagi kaum bangsawan, kini menatapnya — memegang sesuatu. Ia berjalan mendekat, lalu mensejajarkan posisinya menghadap mereka berdua masih bingung. Guinevere hanya menatap mereka berdua dengan tatapan mengabaikan—tentu iris intensnya menatap mereka berdua.


“Ini...” Menyodorkan sebuah amplop tak tahu apa isinya.


“Apa ini!” balas Hendrick bingung.


“Sekiranya, kalian buka dulu bukan,baru menanyakan.”


“Heh? yah, itu kelihatan masuk akan,” ucap Hendrici sesegera membukanya.


Namun, ada sebuah tangan yang mencela apa yang ia kehendaki ini. “Apa? Bukanya kamu tadi...” Menatap Zen bingung.


“Setidaknya tidak di sini bukan,” ujarnya, lalu menatap Guinevere yang tersenyum tipis kearahnya. “Kami akan melihatnya setelah menyelesaikan sesuatu yang harus kami urus dulu. Kami akan meminta bantuan anda Nona Barekyu untuk menjelaskan.”


“Hmmm... itu memang keputusan yang baik.Waktunnya memang sedikit berhimpitan dengan apa yang telah di janjikan oleh Instruktur Levis kan. Sampai jumpa di arena.” Langsung berjalan pergi.


“Untunglah, alasan yang bijak,“ batin Zen.


***


Ruangan yang sangat luas dengan luasan bidang datar batu bata tua menghiasi, terhubung dengan lorong bawah tanah yang langsung dengan susunan ruang dari Pohon di sebut yang paling besar nan tinggi dengan diameter rata-rata di atas dari pohon-pohon yang berjejer, kota Elvazayson ini. Tempat paling bawah dari Temple the Foresty. Nampak sekelompok orang tak mengharuskan di katakan berkenan dalam hal objektif seperti yang di terka-menerka, bertautan dengan seorang individu Perempuan Elf yang tersenyum tipis di kala Spell Magic yang saling berhimpitan baik itu bersifat ofensif ataupun defensif, Rune sihir yang saling tumpang tindih, menghujani targek menediakan Sang Ratu Elf ini.


“Kalian seperti sangat serius,” lantang dari Sang Ratu Elf berucap.


“Kami tak akan kalah kali ini Yang Mulia.”


Sang Ratu Elf tersenyum melengkung, menanggapi kata dari remaja Elf Perempuan yang menggunakan busurnya yang siap di tembakan. “Hmmm... menarik, tunjukan latihan kalian selama ini kepadaku!”


“Baik..!!!” ujar mereka semua serempak.


[Marksman Art Magic]; Attack the Ice Arrow “Durabel”


Busur panah yang di sebut sebagai “Durabel” ini, seketika memanifestasikan tiga panah es dalam satu kali tarikan; busur yang di katakan sekelas [Rare Item] dalam Atribut senjata sihir tak akan di ragukan lagi, dalam segi implementasinya sangatlah hebat. Sesuai pemikiran dari sang pengguna, ia mengimajinasikan memunculkan apa yang ia mau sesuai dengan karakteristik yang ia miliki, [Magic Elemental] berelemen es sebagai sihir elemenya, menerjang dengan kecepatan super cepat menargetkan lawan mereka saat ini.


Tak hanya itu, tiga orang remaja Elf laki-laki pun menyerang secara bersamaan, meningkatkan acceleration atau menggunakan spel sihir, sebagai awal percepatan pun tak terlewatkan. Edmund dengan wajah santainya di katakan sebagai wakil Squad ini, dan lainya, Demian yang menggunakan long sword mengarahkan long sword nya satu lawan satu secara bersamaan menerjang Sang Ratu Elf yang mereka anggap sebagai orang terhormat seantero Elf kingdom dan lagi Master mereka, dan terakhir Eldmessh yang menggunakan rapier, menerjang tanpa celah saling mengadu serangan—saling tumpang tindih satu sama lain.


[Assassin Art]; Stealth


Di lain sisi Elder dengan dengan gerakan assassin pun tak terlewatkan — mengamati alur yang terjadi, mengevaluasi dengan saksama. Ia cukup kaget dengan [Martial Art] Masternya ini, sangat menakjubkan tak dapat di sangkal — menghindari semua serangan dengan mulus–gerakan anggunnya. Ia benar-benar sudah mengekspektasikan apa yang ia lihat ini adalah memang sangat terbukti, tak menyangka jika ada seorang subjek yang sungguh menguasai dalam dirinya dua kemampuan secara bersamaan, sebagai esensi dari kesempurnaan kekuatan yang berarti — sebagai sosok perempuan.


“Gerakan Kalian berdua, cukup meningkatkan pesat... sepertinya kalian berlatih sangat sering selama ini.”


“Itu tak perlu di hiraukan master, lebih baik fokuslah pada pertempuran ini,” ucap Edmund menggunakan Pedang tipe sedang.


“Ooo... baiklah, kalo begitu.” Mereka berempat mundur secara bersamaan.


“Seperti yang kalian mau kan.” Seringai tipis ia keluarkan.


Mengarahkan tangan tinggi-tinggi masih dengan seringai yang tajam.


— “O chumhacht mhór na gaoithe ní ghlaoim ort ach an pionós a ghearradh ort mar bheatha iomlan.”


“Menghindarlah kalian bertiga!!!”


“Ckkk... tidak akan sempat.” Mereka bertiga berpikir yang sama.


Sebuah keanehan pun terjadi, tak ada tanda-tanda dari terbentuknya pola manifestasi dalam portal rune sihir, itu membuat mereka heran setengah mati, membuat secara tak di sangka menatap apa yang terjadi di sudut pandang spektis di kala bersamaan. Namun beda halnya dengan seseorang yang tersenyum merekah, menatap apa yang terjadi, ia sama sekali tak menyangka kebingungan dari apa yang ia lihat, merasa terhibur dengan koordinasi formasi mereka yang sudah kacau balau.


“Jangan gagal fokus kalian,” ujar Ratu Evana menatap mereka semua.


Ruanga lingkup yang meluas, tiba-tiba gumpalan angin yang saling menyatu dengan putaran yang konstan—tornado angin tak terduga termanifestasi di tengah-tengah kebingungan, membuat mereka secara bersamaan menatap hal yang tak terduga ini. Secara tak terduga pun ledakan angin di tiga sisi secara beruntun membuat tekanan udara lebih di katakan menekan dari sebelumnya, menghempaskan semua yang ada.


“Elivia!!! Amanda!!!” teriak Mia.


“Ya!!!”


Sihir berrier yang secara langsung di buat oleh dua perempuan Elf yang mencolok ini, berpatokan pada warna rambutnya. Melingkupi tiga orang secara bersamaan, lebih tepatnya mereka semua, setidaknya untuk meminimalisir apa yang di akibatkan. Hempasan gelombang angin yang berkekuatan ribut menerjang sihir barrier yang di buat, namun sepertinya hal itu cukup membantu mereka, walaupun sihir berriernya rusak seperti kaca pecah.


“Kalian semua bersiaplah..!!!” Teriak dengan lantang.


Remaja perempuan elf, Mia Exonia yang kali ini benar sungguh-sungguh bertekad untuk mengalahkan Ratu yang sudah sekian hampir tiga bulan mengajarkan mereka menjadi pasukan terkuat selama generasi yang ada. Sebagai leadership dalam Squadnya sendiri, Seven Pride of the Elves, ia cukup mengemban tanggung jawab yang takkalah siap seperti halnya kata Commander yang lain. Ia mengagguki wajahnya di kala, seorang remaja Elf sekiranya berumur sebaya menatapnya, menyiratkan sesuatu. Elder hanya mengangguk setia, sekiranya mereka semua paham rencana yang di susun oleh orang yang ahli dalam hal ini, Edmiass Dwarzes Sang ahli strategi dalam kelompok mereka.


“Sekarang!” Aba-aba menyerukan.


Tiga orang petarung jarak dekat, Edmiass, Edmund ataupun demian yang telah di tentukan secara bersamaan mundur kearah belakang tiga arah jarum jam yang hanya berjarak tiga hasta membantuk arah kompas yang terikat satu sama lain, dengan pandangan serius bulir keringat sebesar jagung pun nampak di wajah mereka.


“Hmmm... ingin menyerangku secara bersamaan yah, emang itu bukan tindakan yang naif di situasi seperti ini?” Tersenyum melihat mereka.


“Kami akan resmi hari ini juga Master!!” kata Elder yang sudah berdiri di dekat Mia.


“Ooo.. kamu sangat bersemangat sekali Bocah Asilon, baiklah... serang aku sekarang juga!!!”


“Namun... hal itu kita jeda dulu, banyak masalah performa kalian ketika melawanku, koordinasi kalian cukup lumayan, aku cukup menyanjung kalian.” Berhenti menjeda, sekali menatap mereka. “Jika kalian menggunakan pertarungan yang saling tumpang tindih seperti itu, hanya kalian dapat, hal yang tak kalian terorganisir seperti tadi. Aku cukup kagum dengan serang beruntung kalian, namun tidak saling mempengaruhi satu sama lain. Hmmm... di lihat-lihat juga, kalian juga bertambah sangat pesat dalam atribut kalian sendiri, lebih mencolok adalah memahami diri kalian sendiri.”


— Hening sesaat...


“Kami mengerti Master!!!”


“Jadi, hari ini kalian kalah total, seperti yang kujanjikan jika kalian tidak dapat mengalahkanku maka peresmian squad kalian akan tertunda sampai tiga hari kedepan sampai benar-benar berhasil mengalahkanku, karena di luar sana melawan orang kuat itu adalah hal lumrah jadi kalian seharusnya menjadi yang terkuat dan mengalahkan yang terkuat. Istirahatkan tubuh kalian, aku menunggu apa yang kalian siapakan tiga jari kedepan!!” ucap Ratu Evana yang menatap mereka tersenyum.


“Baik!!!”


***


Di koridor lorong yang menghubungkan antara portal lift teleportasi dengan the Salivon of Arena, Zen dan juga Hendrick berjalan santai seperti biasa, seolah-olah sudah biasa bagi mereka memasuki tempat yang di rahasiakan ini. Hendrick sesekali menatap Zen yang tatapan serius pandangan arah depan sana, tak mengharuskan menatap samping orang yang berjalan bersamanya.


“Hei Zen, apa kamu tahu isi amplop ini??” Menatap amplop yang ia pegang.


Seolah-olah tersadar akan pemikirannya yang mengharuskan, menatap Hendrick yang melihatnya menunggu jawaban. “Aku tak tahu, sama sekali tak tahu. Namun aku cukup tahu informasinya sedikit.”


“Informasi? apakah hal ini pernah di bicarakan?” Menanyakan balik menatap serius amplop yang ia pegang.”


“Entah juga, aku hanya tahu jika sebentar lagi setidaknya beberapa hari kedepan, Akademi pyhterus akan mengadakan gelaran pesta malam sebagai penyambutan atas keberhasilan dari event yang di gelar,” jelas Zen.


“Hmmm.. aku mengerti sekarang, mungkin itu jawabannya.”


“Aku pun menganggap seperti itu.”


“Jika demikian, aku hanya bisa mengikuti alurnya saja kan... Kita tunggu saja beberapa hari kedepan,” tambah Zen.


“Ya, ya, yah. itu memang hal yang terbaik.”


“Namun aku masih bingung, kenapa kamu bisa tahu Zen?? dan kenapa juga hal ini kamu bilang infomasi tak bilang kamu tahu saja.”


“Karna aku tahu dari orang. Sudahlah.. ayo bergegas, sepertinya mereka menunggu.”


“Kamu membuatku kesal Zen!!”


“Oooo.. aku tak bermaksud seperti itu.”


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Note;


Rate nya dong 🙏


Aku hanya ingin bilang bisa kalian rate novel gw, rate-nya rendah sekali. Authornya sedih banget tahu nggak😭