My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 78. Tantang-Menantang



Dua orang pria yang terlihat berumur dua puluh tahunan keatas saling menatap, bukan menyiratkan tatapan tajam saling mendominasi atupun tatapan rumit seperti yang sulit di artikan. Kalau saja hal itu membuat seseorang yang melihat di tengah-tengah ini, maka hal ini ia seakan tak di anggap, angin lalu saja, karena tak ada apa-apanya jika di bandingkan. Yang satu bersurai hitam dan satu lagi bersuarai merah gelap lebih kearah crimson. Tatapan bermaksud saling memahami pikiran ini, apa yang di pikirkan seakan-akan pertarungan argumen yang di lakukan lewat pikiran tanpa ada pembicaraan dari mulut ke mulut. Walaupun sekiranya, tatapan sedikit tajam menelisik tak terlepas juga.


“Apa yang membuatmu ke sini Instruktur Levis, apakah ada hal penting yang ingin kamu bicarakan,” kata Instruktur Hagrid sembari menatap pada gelas minum teh yang ia isi dengan gula lalu ia aduk dengan santai.


“Aku dengar anda Instruktur Hagrid, sedang di tugaskan untuk mengawasi murid dari kelas the Golden Egg bukan, aku hanya ingin meminjam data anda selama ini untuk di lakukan bahan evaluasi lebih lanjut,” ucap Instruktur Levis.


“Jika anda berkenan,” tambahnya tadi sedikit


menjeda.


Meletak sendok yang selesai di persiapkan, merasa jika sudah cukup merata. “Di minum dulu,” kata dari Instruktur Hagrid.


“Hmmm... aku tidak yakin jika data yang aku tinjau sendiri dapat memuaskan anda.”


“Terimakasih, jika anda beranggapan seperti itu. Aku bukan untuk berhubungan dengan penasaran, kebentuk referensi saja, jadi tak perlu apakah itu memuaskan ataupun tidak.”


“Ooo.. itu sepertinya lebih baik bukan.”


— Hening sesaat...


“Namun... aku punya satu syarat...”


Instruktur Levis mengangkat satu alisnya, tak menduga jika seseorang yang di depannya saat ini, bisa perhitungan juga tak seperti sifat yang ia miliki selama ia kenal. “Aku akan memenuhi syaratmu itu.”


“Baguslah...” Menatap di iris masing-masing menjeda beberapa saat. “Apakah kamu pernah bermain game, menarik?!!” Tersenyum di kala kebingungan menghampiri bagi Instruktur Levis, menerka-nerka maksud dari orang ini.


***


“Menggendalikan [Martial art] dan juga [Fighter Art] secara efesien dan efektif bisa di nilai susah-susah gampang-sulit. [Mana] bisa saja menjadi stamina sedangkan stamina bisa saja menjadi mana, seolah-olah dapat tergantikan tanpa di sadari walaupun itu adalah ungkapan yang bear tidak absurb. Pada keuntungan dan juga kerugiannya memang, itu tak ada masalahnya, namun jika ingin menggunakan keadaan yang lebih efektif seperti di rasakan untuk menguntungkan dalam waktu bersamaan dalam keadaan apapun, maka kuncinya harus mengendalikan secara sempurna.”


Berjejer memanjang dengan sikap sempurna memang di lakukan oleh para compement muda ini. Menghadap pada seorang Instruktur sikap superiornya ia tunjukan di kala penjelasan sudah beberapa menit yang lalu ia utarakan. Instruktur Levis atau instrukstur yang berspsealis pada bidang [Martial Art] dan juga [Fighter Art], dengan wajah cukup sangar ia tunjukan dengan gaya rambut menyisir kebelakang, rambut merah gelap dan juga iris mata hijau seakan mengintimidasi, cukup di rasakan oleh Zen sendiri namun Sang Empu berambut putih ini tak mempedulikan. Jika membandingkan dengan Instruktur Hagrid, sekiranya mereka mempunyai aura yang sama.


“Jika hal ini menjadi sebuah bentuk pengendalian stamina cukup baik, di kala penggunaan [Mana] yang tak memungkin kalian,” jelasnya menatap mereka, kembali menatap pada posisi yang sama.


“Aku masih kurang mengerti, entah karena memang ini ada hubungannya atau pun kaitan sendiri dalam [Mana] sendiri, apakah kita dapat menggabungkan antara [Mana] dan juga stamina saling mempengaruhi di kala bersamaan?” Pertanyaan yang di berikan oleh Lumire.


“Hmmm... itu memang pemikiran bagus Tuan Paxley, jika kita dapat mengintegrasikan lebih lanjut lagi antara keterkaitan dalam konsep [Mana] sendiri, setidaknya kita bisa menciptakan teknik martial art lebih efesien dan juga efektif atau pun seni bertarung jarak dekat juga.”


“Hmmm... aku sedikit ada gambaran,” kata Lumire menanggapi


Mana dan juga stamina adalah dua hal yang sangat berkaitan satu sama lain, kausalitas itu lah mungkin yang lebih cocok untuk di maknai. Hubungan sebab-akibat yang tak kiranya mempengaruhi satu sama lain, membuat dua komponen dalam tubuh individu ini seolah-olah menjadi satu, sama halnya darah. Stamina mungkin saja di definisikan oleh banyak orang adalah kalori dalam suatu usaha, yang membuat suatu individu dapat bertahan dalam suatu keadaan – bentuk imunitas tubuh ketika melakukan aktivitas yang membebani.


Kendati hal itu, satu sama lain berkaitan namun itu bukan menganggap jika stamina dan juga mana mempunyai tujuan dan fungsi yang sama. Stamina bisa saja menyelaraskan fisik dalam melakukan gerakan atau pun hal yang anggap berat untuk di lakukan, dan itu berlaku bagi orang normal tidak bagi orang yang tidak normal sama sekali lebih mewakili kata absurb.


“Aku masih tidak mengerti Instruktur Levis, jika kalau apa yang kita gunakan seperti demikian, apakah hal itu sama seperti penggunaan [Mana] dapat kita ketahui—cara division,” Tanya Hendrick sembari mengangkat tangan kanannya.


“Hmmm... sepertinya tidak, penggunaan stamina seperti halnya waktu yang relatif tanpa di sadari walaupun tidak ada perubahan menentukan sih.”


“Keadaan yang memungkinkan sewaktu-waktu seakan tak dapat melakukan karna kehabisan mana atau pun stamina, namun stamina di sini di rasakan jika seorang individu tak dapat berbuat apa-apa secara di tak di sadari oleh pikiran hanya dapat di rasakan. Mungkin itu perbedaan yang signifikan tentunya,” tambahnya lagi.


Mereka semua mengangguk puas menyimak dengan jelas penjelasan yang terperinci ini, merasakan tak sia-sia juga mereka mendengar. “Baiklah... seharusnya ini cukup, kita mulai pelajaran sebenarnya!!”


“Apa itu Instruktur Levis...” ucap Hendrick dan juga Kevin yang tertantang.


“Hmmm... kalian berdua sangat bersemangat yah...”


“Tentu saja, ketika aku mendengar apa yang kamu jelaskan dari tadi. Aku ingin cepat-cepat ingin mencobanya, sudah kususun ini,” jawab Hendrick sembari melipat kedua tangannya di dada.


“Oooo... aku merasa tersanjung Tuan Charlotte.”


“Kamu jangan terlalu percaya diri dulu Hendrick, aku juga begitu kok,” kata Kevin.


“Hehe... kalo begitu aku tantang kamu Kevin, gimana? kamu mau kan. Hehe...”


“Seharusnya aku yang menantang kamu bodoh,” sarkasnya pada Hendrick.


“Ayo!!! Siapa takut. Aku sangat percaya kalo aku menang.”


“Aku juga begitu.” Membalas menjawab.


Mereka semua yang melihat dua orang yang sudah terkenal sikap “Bar-barnya” itu, melakukan pertengkaran yang benar-benar tidak berstandar dan juga konyol di depan mereka. Banyak ragam ekspresi yang di tunjukan, ada yang menatap datar khususnya semua perempuan, menatap apatis saja tak peduli, dan terakhir memperkeruh suasana agar lebih ricuh, oleh Erwin seorang yang tertawa terbahak-bahak.


“Kalian berdua itu seperti anjing yang ngamuk saja yah,” kata Erwin yang masih dalam modenya.


Mereka berdua mengalihkan padangan ke arah yang sama, memelototi pada orang yang bicara tadi. “!!!!”


“Eh? Apa? Benarkan...” ujarnya bingung, tanpa ada rasa bersalah pun.


Zen menatap semua itu hanya menghela napas di paksakan, seharusnya Erwin itu lebih peka bukan dalam situasi ini. “Huh... sudahlah, ini juga tak mengangguku,” menolong gumam pelan, tanda di dengar oleh orang pun.


“Sudahlah... kalian berdua, bagaimana kalo kita memainkan permainan saja.” Instruktur Levis melerai.


Kali ini mereka semua seakan tertarik perhatian, menatap Instruktur Levis yabg menatap lekat-lekat. “Permainan??” beo mereka bersama tak terkecuali Zen sendiri.


“Yah, permainan, setidaknya ini ada hubungannya dengan pelajaran utama hari ini.”


***


“Kalian mengerti kan penjelasannya, intinya kita yang memilih, orang yang di tantang pun tak dapat mengelak sama sekali, dan itu jika mengelak, mutlak harus melakukan,” ujar Instruktur Levis lantang.


“Kami semua mengerti...!!!!” serempak.


“Baiklah, sebagai penerimaan yang pertama atau lebih tepatnya sebagai menghormati dua orang yang sudah bersiap-siap ini. Hendrick! Kevin! Kalian boleh menggunakan senjata apapun, jika ada yang mengatakan menyerah ataupun terpojok dalam keadaan apapun, maka itu lah pihak yang di anggap kalah. Mengerti kalian berdua...”


“Baiklah... Mulai!!!!”


Swusss...


Hendrick yang sudah bergerak duluan dengan tumpuan percepatan angin ini, ia kendalikan cukup maksimal membuat kecepatannya bertambah, di tambah penguasaan penuhnya terhadap pengendalian pikiran dari Compement pasifnya, membuat ia bisa saja mengendalikan dua atribut secara bersamaan, walaupun hal itu sekiranya lumayan juga ia kuasai, bisa di katakan ambang rata-rata. Dengan sebuah belati yang sudah persiapkan tadi. Yap, Hendrick menggunakan belati yang di berikan oleh Ernest sewaktu menemaninya mengambil pesanannya waktu itu di cabang gedung Asosiasi Guild Petualang, sebagai hadiah keduanya yang sudah di janjikan. Ia merancang belati ini, sesuai dengan keefektifan dan efesiensinya seperti yang ia inginkan.


Jika kalian bertanya, Zen merancang seperti apa bentuk dari senjatanya waktu itu di atas perkamen, maka benda itu adalah pistol yang sudah ia memodifikasi, ia tak tau harus merancang seperti apa, toh, kata Ernest juga bilang itu terserah mereka sendiri. Namun, Zen sudah yang menaruh penjelasan yang sejatinya adalah benar sesuai yang pernah ia lihat sewaktu dulu. Setidaknya ia menyimpan semua itu di storage magicnya dengan benar.


Dengan belati yang di pegang Hendrick, menyelaraskan gerakan lurus lalu berputar menyapu, tiba kearah belakang yang sedari tadi Kevin hanya berdiam diri. Dengan inisiatifnya ia ingin mendekatkan ujung belati itu di leher dari kevin agar Sang Empu sendiri menyerah tanpa syarat. Gerakan diagonal, menyusup dengan sempurna kearah Kevin yang sedari tadi diam tanpa di sadari Hendrick jika Kevin yang tertunduk menampilkan senyum nyengirnya, merencanakan sesuatu.


“Menyerahlah Kevin, kamu sudah kalah,” ucap Hendrick dengan nada tersenyum.


“Kalah? Seperti kamu sudah salah sangka yah Hendrick.” Masih dalam keadaan tertunduk, wajahnya menggelap.


Zrett..


Zrett..


Tiba-tiba, di lihat dari kedua iris coklatnya Hendrick menatap percikan-percikan listrik bertegangan tinggi dengan konsentrasi yang menyengat, membuat Hendrick sendiri serasa kebas ketika mengenainya – jaraknya sangat dekat ini. Lalu, secara bersamaan, tiba-tiba juga, sebuah portal rune sihir berwarna biru tua termanifestasi di atas mereka berdua berukuran sedang.


“Jangan-jangan, kamu...”


“Yah, aku sudah merencanakan ini. Makanya kamu tuh, jangan pernah menganggap remeh orang.”


[Magic Elemental And Manipulation]; Lighting Magic Destroyers


Hendrick terbelalak matanya. “Kau...”


Bufff...


***


Jauh pandangan disana, terlihat semua compement muda ini, menatap cukup serius perlawan keduanya. Mereka sama-sama berpikir, jika Kevin yang di katakan bodoh itu, dapat merencanakan sesuatu yang mengelabui orang seperti Hendrick, walaupun sih itu wajar karena Hendrick sendiri mempunyai sikap ceroboh yang melekat padanya — tak berpikir sesuai juga, sebelum bertindak. Instruktur Levin, yang menjadi wasit pun hanya tersenyum dengan petir yang dahsyat itu, menghampiri Hendrick yang tak siap dalam posisinya, namun ia juga tahu jika anak ber-compement [Inner Feeling] itu dapat menghindarinya, Karena mengandalkan kemampuan sensoriknya juga.


“Hmmm... lumayan juga, kemampuan mengionisasikan dalam tempo yang singkat sangatlah tak mudah. Pengendalian tipikal Magic Controller-nya lumayan juga,” katanya tersenyum.


”Namun... ini sudah melenceng dari pelajaran bukan.” Tersenyum masam.


Di kala menatap dengan pandangan menilai, Zen menonton semua pertunjukan dari kedua orang bertarung ini. Ia lumayan berdeduksi di dalam pikirannya, Hendrick mempunyai kemampuan yang terbilang sangat hebat namun sikap cerobohnya juga menjadikan ia bisa saja kalah dalam poin-poin penting seperti ini, tapi itu juga tertutupi oleh magic sensorik dari compementnya sendiri sedangkan Kevin, Zen cukup terkejut, anak bersurai rambut biru tua ini dapat merencanakan hal yang terbesit secara tak terduga seperti, serasa dia tak pernah mengenal orang yang idiot ini.


“Aku tak mengira jika mereka berdua akan seserius ini.” Menatap tanpa menyadari jika ada lima prang menatapnya, secara bersamaan memperhatikan.


Merasa jika ada yang menatapnya, cukup risih memang, mengalihkan pandangan menatap satu-satu. “Eh... kenapa?” ucapnya bertanya.


“Aku ingin melawanmu Zen, apakah kamu ingin menerima tantangaku,” kata Leonhart dengan pandangan serius yang berada di sampingnya saat ini, dua bangku.


“Maksudnya??” Zen tidak mengerti sama sekali.


“Kamu akan tahu nanti,” menjeda. “Dan lihatlah mereka berempat, sepertinya sama denganku.” Tersenyum kearah Zen yang mengangkat satu alisnya.


Zen alihkan pada empat orang yang menatapnya serius, seolah-olah menghayal, Near, Lumire, Lekness dan juga Guinevere menatapnya intens. “Jadi mereka yah, apa mereka sama denganmu Leon?”


“Sepertinya begitu.”


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Note;


Untuk kedepannya, setidaknya satu minggu ini aku sepertinya nggak updet, lagi mau revisi dari chapter pertama yang kata-katanya ada typo, ataupun penambahan kata-kata, penulisan yang tidak sesuai dengan aturan yang serasa tak enak di baca maupun nama-nama tokoh yang sudah melenceng, seperti Peter gw nggak sadar udah ganti jadi Kevin, jadi kalian jangan bingung yah.


Namun hal itu bisa saja berubah, ketika udah selesai revisi dengan benar. Terimakasih yah udah baca Novel gw ini. Hehehe😊😊😊