My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 29. Test First



Mata saling memandang, tak kiranya bukan sebagai hal yang di anggap main-main. Zen sedikit bergidik dengan enam sepasang mata yang melihatnya, baik itu dari ekspresi yang sulit di artikan. Tak kurangnya juga hal yang akan di ia artikan menjadi sebuah tantangan yang akan menarik.


“Mari kita mulai tes pertama Zen Arnold Van Charlotte,” ucap Seorang pria berumur tiga puluhan dengan pedang di sampingnya, berambut merah gelap dengan mata hijau terang yang menghiasi.


“Aku di kenal dengan Instruktur Levis, spesialis pada bidang Kesatria maupun Martial Art ataupun Fighter Art,” ujarnya.


“Tes pertama yang kamu berikan cukup simple untuk di cerna, kamu hanya bisa menjawab pertanyaan yang kami berikan” jelasnya.


“Yah... aku mengerti Instruktur Levis." Nada cukup superior dan juga tegas.


“Sepertinya kamu sangat bersemangat anak muda, Itu lah namanya jiwa Masa Muda,” ucapnya Lantang dari Instruktur Guld.


“Sudahlah kamu Guld mari kita mulai saja,” ujar Ssorang yang menenangkan pria berotot itu.


Sedikit Informasi saja Gulder Von Hernandez atau Instruktur Guld berspesealis pada bidang Adventure and Survival dalam jurusan militer. Di sini mempelajari berbagai ilmu bertahan hidup di alam liar yang sangat di lakukan para petualang dan juga beberapa hal yang harus di hadapi dalam keadaan darurat. Berpatokan pada keadaan militer yang sebenarnya, alam liar, bertahan hidup! ataupun hal yang terkait, misal makanan untuk bertahan hidup, di bawah ketiadaan yang mendukung satu sama lain, untuk itu sendiri.


“Semua Pertanyaan ada Sepuluh dari masing-masing kami yang memberikan,” ujar seorang perempuan berambut Hitam panjang, mungkin saja ia salah satu dari mereka mempunyai kedudukan yang sama.


“Siapa yang memulai duluan??” tambahnya


Seorang perempuan yang nampak menutup matanya tidak! lebih tepatnya matanya memang tertutup, duluan berbicara, mengajukan pertanyaan yang ingin ia sampaikan. Sebuah Pertanyaan yang ujarkan kepada Zen yang cukup susah, Zen akui itu.


“Menurutmu bagaimana, apa yang harus di perhatikan jika menggunakan Sihir,” tanyanya.


Zen sedikit diam, Bukan dia karna tidak bisa menjawab, pertanyaan yang sedikit umum namun tak bisa ia ekpektasikan. Ia menenangkan pikirannya jauh kesana dengan menghela napas dalam-dalam.


“Aku tak tau jika jawabanku ini dapat memuaskan akan hal pertanyaanmu itu, Instruktur Vena,” ujar Zen


Ia alihkan untuk menatap semua Instruktur utama yang ada berjumlah. “Aku Cukup bingung untuk menjawab,” ucap Zen menjeda.


“Tapi akan ku usahakan.”


— Hening sesaat...


“Huh...”


“Jika Kita menggunakan Sihir, yang harus di perhatikan atau menjadi hal umum memang Spell maupun kapasitas yang kita gunakan, tapi manurutku itu hanya sebagai hal yang mendukung dari Hal utama yang harus di perhatikan.”


“Apa itu?” Tanya Instruktur Vena Balik.


Bisa dikatakan hal yang di jelaskan Zen tadi adalah hal umum yang tertera di buku maupun di jelaskan kebanyakan orang. Tapi semua yang di tanyakan, pernah di alami Zen sendiri. Dan semua itu Zen sedikit membantah penjelasan yang tak menjamin itu.


“Konsep!!” jawab Zen.


“Imajinasi yah,” balas Instruktur Vena seperti menanyakan maksud ulang.


“Bukan... tapi Konsep.”


“Aku tak mengerti apa yang kamu maksud, tapi kenapa kamu bilang Konsep,” katanya.


“Memang konsep cukup terbilang rumit, tapi sihir sangat bergantung dengan hal ini, baik itu tipikal apapun. Ini berbeda dengan imajinasi; misalkan saja kita memindahkan benda menggunakan Sihir Tipikal Controller untuk memindahkan dari satu tempat ke tempat lain tanpa memperhitungkan jarak yang benar dengan Koordinasi yang tepat, akan menyebabkan [Mana] yang kita keluarkan akan lebih besar dari apa yang sebenarnya dan terbuang percuma. Jadi orang yang menggunakan Sihir Tingkat Tinggi apapun ia tak akan kelelahan jika menggunakannya dengan memperhitungkan konsep yang benar,” jelas Zen.


“Menarik.. benar-benar menarik, tapi... apakah kamu bisa membuktikannya,” ucapnya mengerut dahinya, memastikan kalau ini adalah hal yang tak membual di ujarkan oleh Remaja Berambut Putih Salju ini


“Yah...Aku bisa membuktikannya,” Zen berucap.


Zen mengangkat satu jari telunjuk sebuah, titik es beku bermain-main di atas telunjuknya.


“Aku mempunyai Sihir Element Es! Aku bisa saja membekukan ruangan ini menjadi Ruangan beku, untuk membuktikan hal ini,” ujarnya.


Tanpa ada persetujuan dari semua yang ada, langsung saja ruang tersebut membeku dengan sendirinya bahkan tujuh instruktur di dalam dibuat cukup kaget bukan main, apa yang di lakukan Zen namun dengan mode tenang di sembunyikan. Bahkan si penanya sendiri hanya diam terpaku akan kejadian ini, Zen mengeluarkan magic pembekuan area berskala besar salah satu sihir tingkat tinggi tipikal Elemen Es yang sangat susah di kuasai banyak orang, bahkan para Jendral berpengaruh sekalipun. Zen cukup mendedikasikan selama seminggu ini mempelajari karakteristik sihir yang ia miliki, dengan bantuan Zenos sudah pasti tak terlepas akan pembelajaran dari Commander Lukas sebagai Sang Master.


Konsep sihir yang di gunakan Zen ketika menggunakan Magic Freezing Large-scale Area; ia memperhitungkan semua keadaan yang ada dulu menggunakan sihir Indentivikasi dari division baru memikirkan berapa derajat yang akan ia manipulasi dalam Temperatur, ini lebih kebentuk antara menggabungkan sihir tipikal dan juga Unique Magic dalam waktu bersamaan.


“Jika kalian menggunakan konsep yang benar, bisa saja kalian menciptakan [Unique Magic] dari hasil pemikiran konsep kalian yang berasal dari sihir yang kalian miliki,” jelas Zen menarik kembali sihir yang ia implementasikan saat ini.


“Aku tak pernah memikirkan Hal ini, bahkan selama aku hidup,” ucap Vena tersenyum Lembut.


“Selamat kamu lolos dari pertanyaan yang ku berikan," tambahnya.


“Terimakasih Instruktur Vena,” ucap Zen menunduk Hormat.


Tak berlangsung lama Seorang Pria Kekar yang mengajukan pertanyaan, Yah... dia adalah Instruktur Guld. Gaya rambut cepak berwarna putih keputihan, namun masih ada warna pirang di helaian rambut yang ada.


“Benar, benar! Jawaban yang sangat-sangat tidak di perkirakan banyak orang , kamu sangat pandai memecahkan masalah Nak,” ujarnya.


“Aku tidak seperti itu , Aku hanya kebetulan hal itu sudah pernah aku alami sendiri, dan entah kenapa aku bisa menjawab,” kata Zen menjawab jujur.


“Hahaha... kamu sangat merendah Nak,” katanya lagi.


"Tapi, apakah kamu bisa menjawab pertanyaan ku ini?” tambah Istruktur Guld ia ubah dalam mode yang serius dengan cepat.


Glup...


"Akan ku usahakan Instruktur Guld.” Menelan salivannya menatap diam.


“Hmmm... pertanyaanku berhubungan dengan spesialisasi aku juga, sebagai Mantan petualangan. Baiklah.. jika kamu berada di alam bebas, tak mempunyai apapun yang kamu punya adalah nol besar tak ada sama sekali, bagaimana kamu bertahan hidup?” tanyanya menatap serius.


“Eh? pertanyaan yang sangat mudah, namun jika di lihat dari wataknya... baiklah!!”


Menghela napas panjang. “Jika seperti itu, aku hanya menggunakan atribut alam bebas yang ada, tapi itu hanya dalam keadaan yang cukup sulit bukan yang tersulit.”


“Itu memang pemikiran benar, namun...” ucapnya terhenti.


Zen menginterupsi pembicaraan dari Instruktur Guld. “Kalau misal mana kita telah habis karna Kondisi kita itu sendiri, maka yang harus kita lakukan adalah..... mati di tempat,” ucap Zen yang serius.


— Hening...


“Apakah itu jawabanmu Zen.” Instruktur Kesna memastikan.


Zen menatap mereka semua yang ada lekat. “Ya!!!”


— Lagi-lagi hening...


“Hahahaha... tak pernah habis kupikir jika Seorang akan menjawab pertanyaan ku seperti ini.”


“...”


“Selamat kau lulus, Nak” katanya.


Zen ternilang sangat kaget enggan untuk Taka bertanya namun ia urungkan. Entah apa yang membuat ia memutuskan secepat itu, tapi yang terpenting sekarang bukanlah hal ini yang harus di pikirkan.


“Terimakasih Instruktur Guld,” jawab Zen yang agak ragu. Padahal ia kira jawabannya tak di terima, memang lah Aneh apatis saja, toh, jawabannya juga masuk akal bukan.


“Benar-benar jawaban yang mengejutkan, tak ku kira ada orang yang begitu berani menjawab seperti itu, tapi... Jangan main-main dulu di sini,” ucap Seorang yang menggunakan pedang, dia adalah Instruktur Levis yang tanpa melakukan Basa-basi langsung to the poin.


“Aku akan bertanya padamu Zen, jika dalam bertarung satu lawan satu dengan orang yang lebih kuat dari mu, Apa yang akan kamu lakukan, Dan... berapa Presentase Kemenangan yang akan aku peroleh.”


"Hmmm... Jika seperti itu, Aku hanya bisa berdiam diri".


"Berdiam diri apa maksudnya, apakah kamu akan berdiam diri hingga kamu kalah. Jangan main-main Nak, aku bukan Instruktur Guld," Ucap Instruktur Leksnes bingung ada rasa kekesalan juga.


“Jangan di ambil hati dulu Levis, kita belum lihat bagaimana maksudnya kan,” ujar Instruktur Guld.


“Salah....Instruktur Levis, aku bukan berdiam diri seperti yang anda maksud tapi.. berdiam diri untuk bersikap tenang.”


“Tenang yah?”


“Dan selanjutnya menganalisis setiap gerakan yang di lakukan oleh Lawan, hingga menemukan kelemahan maupun Kelebihan yang di si Tunjukan, cukup akan informasi maka lakukan strategi tak terduga,” tambahnya.


“Kamu cukup licik rupanya Zen Arnold Van Charlotte.”


“Entah... Dan untuk berapa Presentase untuk kemenangan, tapi yang pasti peluangnya di atas 60% jika aku yang melakukannya” ucap Zen. Ia percaya dengan jawabannya.


“Bersikap Tenang yah.... cocok seperti seorang Kesatria," Ucap Instruktur Levis menoleh menatap secara intensif kearah Zen yang duduk diam menatapnya bingung.


“Hmm.. selamat kamu Lolos,” ujarnya dengan nada menyemangati Zen, tapi Zen sendiri hanya tersenyum membalas.


“Terimakasih Instruktur Levis.” Menunda hormat seperti sebelum-sebelumnya.


Entah sudah berapa lama waktu Zen menghabiskan untuk menjawab semua pertanyaan yang di lontarkan, menurutnya pertanyaan ini hanya untuk mengasah kemampuan membaca keadaan, baik Itu sifat yang mencari ciri khas masing-masing Instruktur. Dan itu terbukti dengan Jawaban Zen yang tak terduga ketika menjawab pertanyaan Instruktur Guld yang agak Sulit itu.


“Hohoho.... sepertinya Anak Angkat Keluarga Charlotte sangat pintar bukan lagi pintar rupanya namun cerdas.”


“Sekarang kamu harus menjawab Pertanyaan dari Instruktur Wei Tua ini.” Pria tua memakai setelan baju lap


“Baik Instruktur Wei,” balas Zen.


“Hmm... jika kamu Zen menjadi seorang Alchemi, apa yang kamu rasakan, bagaimana pendapatmu arti dari Alchemi itu sendiri?" tanyanya.


Zen sedikit bingung dengan pertanyaan yang di utarakan, sepertinya ia harus berpikir Cukup keras lagi.


“Entahlah Instruktur Wei Pertanyaan seperti ini, Sulit di jawab oleh ku sendir,i” jawab Zen.


“Oh...Jadi kamu tidak bisa menjawab yah, Hati-hati loh. Bisa saja kamu tidak lulus Zen, Hohoho...." Tawa khasnya menggelar.


“Maaf Instruktur Wei walau aku bukan seorang Alchemist akan semua itu, tapi aku mempunyai pendapat sendiri, jadi... jika ada kesalahan mohon di koreksi dan harap maklum"


“Aku penasaran dengan pendapatmu Zen" Ujarnya balik. “Coba kamu jelaskan saja, aku pendengar yang cukup baik.”


Mengangguk kepalanya. “Hmm... mungkin yang pertama seorang Alchemi rasakan adalah Rasa tanggung jawab yang di pikul dalam satu pikirkan, tapi tidak bagiku..."


“Yah.. itu memang yang kami pikirkan, sebagai seorang Alchemist selama ini. Kami sudah merasa jika kedepannya nanti Alchemist akan bermanfaat bagi banyak orang — membebani pikiran.”


"Aku akan memanfaatkan Kemampuan Alchemi ku untuk mencari Uang banyak-banyak," ucap Zen Jujur.


“Hohoho.... kau memang anak jujur Zen.”


Memang Bisa di katakan Jika Membuat ramuan dan di perjual sangat lah mahal untuk di transaksi, Alchemist dan juga Blacksmith adalah dua kemampuan yang hanya di dapat oleh orang yang mempunya bakat khusus dan juga langkah. Ketika menjual Low Potion yang di perjual belikan, hampir seribu Gold lebih dalam satu botol, begitu pula dengan Senjata yang di buat para Blacksmith terkenal misalnya para Dwarf.


“Sedangkan soal mengenai arti dari Alchemi sendiri menurutku adalah sebuah Filsafat turun temurun dari leluhur yang telah ada.”


“Kenapa kamu berpikir jika Alchemi sendiri, adalah sebuah Filsafat,” tanyanya balik.


“Yah... karna sebuah pemikiran Turun-temurun yang terkandung dalam Ilmu Alchemi terdapat.... Kalimat 'Selamatkan orang itu lebih baik bukan, walauoun setidaknya hal itu jarang di pakai bagi orang Alchemist itu sendiri, ” ucapnya yang tersenyum.


Instruktur Anatia sendiri mendengar semua penjelasan yang di utarakan Zen Sangatlah murni dan juga jujur hasil dari pemikirannya sendiri. Jujur saja Ia tak pernah bertemu dengan orang yang berpikiran dewasa setingkat ini walauoun hal itu bisa ia samakan dengan Issabella van Charlotte. Jujur saja ia sangat terkejut dengan jawaban-jawaban di ia ucapkan Zen, pertanyaan yang di lontarkan juga sangat menguras pemikiran ini namun bisa ia atasi.


Para Instruktur saling memandang satu sama lain, mereka tersenyum hingga membuat Zen di buat mengangakat satu alisnya, Zen tak tau apa maksud dari senyum yang di tunjukan. Cukup baginya yang tak mengerti perasaan perempuan saja, oleh sebab itu jangan terlalu mempersulit dirinya mengartikan semua itu bukan.


“Sepertinya sudah tidak ada lagi yang ingin bertanya benarkan Ketua," ucap perempuan Berambut Hitam, Ia di kenal dengan Istruktur Lorita.


"Yah.. benar sekali Lorita"


“Aku pun juga begitu, jujur saja aku sangat menyukai dengan pemikiran kamu Zen,” Beo Instruktur Kes.


“Sekarang Zen, kamu telah lulus dengan Ujian pertama, dan dua hari lagi kamu akan mengikuti ujian kedua yang lebih sulit dari ujian Pertama.”


“Dan untuk terkahir ini, saya Ucap Selamat atas keberhasilan nya Zen Arnold van Charlotte!!!!”


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=