
“Lihatlah, bagaimana anak yang membuat kamu terjaga saat ini, bertindak.”
“Sungguh di luar ekspektasi.”
“.....”
Istruktur Vena yang dari tadi memperhatikan pun sama, ada rasa yang aneh tak dapat di jelaskan. Namun demikian, hal tersebut adalah sesuatu hal yang tidak pernah ia rasakan selama ia hidup di dunia ini, sekedar apa yang menjadi tuntutan sekarang ini ia kerjakan. Entah itu barangkali hal serupa yang di alami oleh Jendral Lucas, mengenai sosok Zen.
Ia pun menyadari jika Zen mempunyai bakat luar biasa, di luar ekspetasi banyak orang—dapat dengan mudah menebak hal di suguhkan terbilang sulit seperti sihir tipe Controller [Magic Slow Of Objects] yang Ia desain sedemikian rupa. Hal ini juga bukan berarti, sihir ini tak dapat di pecahkan selak beluknya maupun teka-teki yang tertera, hanya saja hal tersebut bukan sembarang orang dengan mudah memecahkan aktivasi sihir ini—itu pun terbukti jika Hendrick sebagai salah satu tipe sensor yang dapat merasakan [Mana] atau selebihnya dari pembawaan Compement nya itu sendiri dan lebih terbukti lagi seperti kejadian oleh Near tak dapat melakukan sihir ini secara semestinya.
Tapi patut di acungkan jempol kepada pemuda berambut putih itu yang pemikirannya di katakan luas akan hal yang di pikirkan sempit seolah-olah tak ada jalan keluarnya, dan lagi patut di acungkan di acungkan lima jempol bagi dua pemuda, yakni Hendrick dan juga Near tak menyerah goyah sedikitpun.
Bagi orang yang dapat menganalisis dengan mudah semua aktivitas sihir, hanya Marksman terkuat yang sekarang ini di kenal dan juga salah satu pemimpin dari organisasi Aliansi Ras Manusia atau Rhei. Salah satu Magic Uniquenya yang di katakan [Delusiion Gram] yang pembawaan dari unique skill yang ia punya yang di kenal Grafik A Matematikawan—Compement Cukup unik maupun langka.
Jika kalian membandingkan semua itu dengan Zen, maka hasilnya Zen masih lebih unggul dalam analisis objek baik itu aktivitas sihir dengan salah satu jendral dalam Rhei yang di juluki sebagi Marksman terkuat, disebabkan Zen mempunyai Zenos sebagai sistem Analisisnya. Namun demikian, hal tersebut tak di pungkiri, jika Marksman terkuat tersebut dapat menutupi masalah demikian dengan pengalaman bertarung yang selama ini pernah ia jalani bahkan sudah bergandrungi di bidang ini; Tapi ini semua hanya sebagai asumsi saja akan kemampuan yang sebenarnya—tak tau kapan dua individu itu di pertemukan dalam duel, menentukan siapa pemenangnya dan menjadi penentu dari rasa penasaran.
“Apa yang akan kamu lakukan sekarang Vena,” tanya Instruktur Hagrid.
“Tentu saja, menyudahi semua ini, sudah cukup bagiku melihat ini semua,” ujarnya.
“.....”
“Aku pergi dulu Hagrid.”
Instruktur Hagrid hanya mengangguk akan apa yang di sampaikan perempuan dengan sikap tenang itu. Ia sekarang ini, di tugaskan oleh kepala akademi, memantau apa yang di lakukan oleh Zen. Walau sebagai Instruktur utama, Instruktur Hagrid terbilang cukup bebas tak terbatasi oleh waktu maupun hal-hal lain membatasinya, namun Justru hal tersebut membuat ia di tugaskan akan sesuatu penting lainya, sehingga ia jarang di akademi.
“Akan ku tunggu perkembangan mu selanjutnya Zen,” gumannya pelan lalu menghilang seketika.
***
“Bagus kalian sudah berusaha, aku anggap kalian lolos dalam praktek kali ini, tapi...aku akan memberitahukan kalian dulu, jika pertemuan selanjutnya, akan lebih susah, lebih dari ini,” ujarnya.
“Kami mengerti, Instruktur Vena.”
“Silahkan Istirahatkan tubuh kalian, semoga hari kalian menyenangkan,” ucapnya.
Sudah berlalu, rombongan dari murid-murid kelas the Golden Egg tadi membubarkan diri secara bersamaan, dengan tujuan yang sama dalam pikiran masing-masing; Yakni: mengistirahatkan tubuh masing-masing di kasur empuk di kamar asrama mereka. Itu pun juga sama di rasakan oleh Zen maupun Hendrick, seharian penuh melakukan latihan menguras [Mana] ini, tapi...ada dampaknya sendiri sebagai murid salah satu kelas yang di Investasikan oleh empat pilar kekaisaran ras manusia. Mereka mengetahui secara pasti jika sihir itu sangatlah rumit bahkan bisa saja di luar Ekspetasi.
“Hah....Ini benar-benar melelahkan,” desah Hendrick sambil meregangkan kedua tangannya dengan menjulurkan ke atas.
“Sudah berapa kali kamu mengucapkan, hal yang sama berulang kali seperti itu,” balas Leonhart.
“Entahlah...” jawabnya acuh, dengan mengangkat kedua tanganya sejajar dengan bahu seolah-olah mengatakan ia tak tau.
“Kalo di hitung-hitung sih, mungkin sudah lima kali,” ujar Zen.
“Sungguh benar apa yang di katakan para perempuan, kamu itu laki-laki pemalas Hendrick,” ucap Peter yang mengejek.
“Aku tidak seperti itu, sialan...” sembari berdecak sebal.
Near yang melihat semua itu, hanya tersenyum tertawa akan apa yang di lakukan oleh kedua temannya ini, jujur saja ia akui, ia sangat nyaman atas keberadaan tiga orang di sisinya. Tapi berbeda hal lain yang di rasakan pada Zen, ia merasakan sosok misterius yang dominan dari yang di rasakan, rasa hangat yang menyeluruh dari tubuh Leonhart seolah-olah tak sebanding dari sosok Zen. Namun demikian, rasa penasarannya tak akan membuat ia dengan nekat, membobol secara paksa privasi orang, di sebabkan Near sendiri sangat menjunjung Privasi dari masing-masing Orang; Beranggapan jika privasi adalah hal yang tak patut untuk di sebar luaskan, hal yang sangat ia ingat apa yang di ajarkan masternya.
“Apa yang akan kalian lakukan selanjutnya?” ucap Near yang bertanya pada ke empat teman itu.
“Tentu saja tidur, da-----” ucap Hendrick membalas tapi terpotong oleh ucapan seseorang dari belakang mereka.
“Bolehkah kami bergabung bersama kalian.” Terdengar di telinga.
Rombongan yang berkisar empat orang laki-laki yang di katakan sekelas itu, berjalan mendekat kearah mereka. Orang-orang itu adalah Lumire, Morlex, Gaznel dan juga Erwin, entah kenapa keempat orang tersebut bisa satu kelompok seperti itu, tapi ini sekilas benar-benar aneh untuk di pikirkan lebih lanjut.
“Eh...Erwin, apa yang kamu ucapkan---”
“Bolehkah kami bergabung, dengan kalian” Ucap Gaznel yang mengulas kembali maksud mereka sebelumnya.
“Atau lebih tepatnya menjadi teman kalian,” tambahnya.
“Eeeee.......”
Flashback sebelumnya.....
Di Lorong bercabang, terlihat seorang laki-laki berambut biru muda keputihan terang menatap secara sembunyi-sembunyi, kearah sekelompok orang yang sedang mengobrol singkat dengan sesama mereka. Terkesan tanda tanya apa yang ia lakukan, tapi sedikit berbeda dengan hal-hal negatif yang di lakukan oleh nya, bahkan itu di anggap sebagi rasa gugup aneh kelihatannya. Walau tak bisa di simpulkan secara logika dari tampangnya sendiri—tapi, ini benar-benar mungkin saja terjadi.
Laki-laki itu di kejutkan dengan beberapa orang yang sama denganya dari arah seberang, nampak dua orang terlihat mengawasi apa yang sama ia lakukan, tapi ia sedikit mengeryitkan tak mengerti apa makna yang di sematkan bagi pemuda yang di kenalnya itu.
“Gaznel, Morlex? Apa yang kalian lakukan.”
“Eh...Erwin, tunggu-tunggu apa yang kamu lakukan,” Jawabnya masih sama dari Erwin keluarkan.
“Jangan bilang kalo, kamu juga....”
“Apakah kalian juga sama?” Ucap Erwin bingung.
“Eh.....Jadi, kamu juga sama dengan kita berdua.” Seakan tahu, seolah-olah otak keduanya terhubung satu sama lain.
“Sudahlah, apakah kamu ingin bergabung dengan kelompok mereka.”
“Hmm...yah, aku cukup penasaran, tidak, tidak sangat penasaran,” ujarnya.
“Hmm..Baiklah, tapi apakah mereka akan menerima kita juga, mungkin mereka masih mempunyai dendam waktu Insiden Instruktur Anatia yang lalu.”
“Aku pun berpikir seperti itu,” ucap Morlex, namun tiba-tiba.
“Apa yang kalian lakukan, sekarang ini!!!” ucap seseorang yang mengagetkan ketiga orang itu, ia menepuk punggung Erwin sehingga sang empu terkaget-kaget di buatnya bersama dengan orang yang berada di seberang.
“Eh, Lumire, kenapa kamu datang tiba-tiba seperti itu,” ucap Morlex.
“Sialan kau....Lumire, kau mau buat aku jantungan yah....”
“Tidak kok.” Lalu merubah Eksperesi dengan raut wajah Horor. “Apa yang sedang kalian lakukan,” mendekat wajahnya ke arah Erwin.
Hal tersebut membuat Sang Empu bergidik buluk kuduknya, seolah-olah benar-benar melihat Hantu bermuka seram di depanya. Ia mengangkat kakinya mundur selangkah, hingga menempel di dinding lorong yang menjadi tempat sedari tadi ia lakukan.
“Hiiiiiiiii...!”
“Jangan buat, tatapan seperti itu,” ujarnya.
“Ayo... sepertinya mereka tak pergi jauh, disana....ayo!!,” ajak Morlex.
“Aku ikut!!!” Seseorang berbicara.
“Apakah kamu juga sama?“
“Terserah kamu saja.”
“Ayo....”
Flashback Off.......
Lumire saat ini, berjalan bersamaan mereka, melangkahkan menapaki lorong asrama yang di khususkan bagi kelas mereka di distrik laki-laki. Ia berjalan sejajar dengan Erwin, berada tepat belakang Zen dan juga Hendrick yang masih melangkah, dengan candaan ringan dari Hendrick dan di respon singkat nan jelas oleh Zen. Iris biru tuanya menatap arah Zen, tepatnya berada di pangkal leher dan juga punggung Zen, mungkin mereka melihat Lumire seperti melamun sambil berjalan, tapi hal tersebut ada benarnya dan juga ada salahnya; Tak mengerti apa yang di pikirkan, tapi ini terlihat jelas jika ia sedang berpikir mendalam akan sesuatu, entah itu apa hingga anak terbilang berbakat ini berpikir seperti itu.
‘Siapa kamu Sebenarnya, Zen Arnold Van Charlotte!!!!‘
***
“Lagi lagi, hari yang sama, melelahkan, apakah tidak ada hari yang tenang dan juga damai,” desah Zen sedangan membagikan tubuhnya.
“Sepertinya kamu sangat kelelahan, Zen...” ucap Seorang entah itu siapa.
“Hidup damai dan tidak merepotkan, apakah itu yang menjadi moto hidupmu?”
“Istruktur Hagrid!” Zen terkejut bukan main, lalu serentak.
“Aku di tugaskan Instruktur Etnest, untuk selalu mengawasi mu,” Ucapnya santai.
“Jika kamu merasa bosan, kamu bisa mengikuti ku, pergi ke suatu tempat yang menarik,” ujarnya, namun tak ada kata sungguh-sungguh.
Zen terlihat mempertimbangkan apa yang di ucapkan oleh sosok yang satu ini. Walau tak di pungkiri tidak ada jejak kebohongan atau hal-hal udang di balik batu yang secara struktural, namun di satu sisi ia tak dapat bahkan tak mengerti dengan tampak dingin aneh seperti tembok. Jujur saja Zen paling tidak suka berbicara dengan orang aneh seperti demikian, yah....Contoh nyatanya sih: Zenos.
“Baiklah....”
Instruktur Hagrid berjalan mendekat di posisi Zen saat ini, tak di pungkiri Zen tak dapat menebak secara pasti apa yang di lakukan oleh Instruktur Aneh menurutnya, yang setingkat keanehan Instruktur Etnest selaku kepala akademi, pikirnya. Namun demikian hal tersebut, membuat ia sedikit penasaran, oleh tingkah Instruktur satu ini; Justru hal yang paling ia benci, dan itu secara pasti adalah rasa penasaran yang kala ini muncul.
Ia memegang pundak Zen yang sejajar secara Horizontal dari arah kanan saat ini. Zen mengerjap matanya dua kali, memastikan apa yang di lakukan Instruktur satu ini, hal yang berbeda dengan apa yang ia Ekspetasikan tentunya. Lalu....Menghilang!!!!
“Ehhhh.....”
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Name : Lumire De Paxley
Race : Human
Age : 16th
Skin Color : Putih Bersih
Iris Color : Biru Tua (Indigo)
Hair Color : Biru Ketua-tuan
Affilition : Zugen Empire
Unique Skill (Compement) : The Lord Of Void
Second Skill : Teleportation
Unique Magic : Manipulator Ruang; Magicula
Martial Art : Fighter Art
A Spesialis : Magic Master (Burst Demage)
Magic Elemental : Dimension
Mana Capacity : A+
Tipikal Magic
• Magic Element and Manipulation : S
• Magic Controller : A+
• Summoning Magic : F (Tidak ada)
• Sealing Magic : B+
Name : Anatasya Von Izekiel
Race : Half-Witch
Age : 16th
Skin Color : Putih Susu
Iris Color : Ungu Indigo
Hair : Ungu Tua
Affilition : Elbasta Empire
-Unique Skill (Compement) : The Sonic (Pasif); Magic Of Race Witch (Aktif)
- Second Skill : Sihir Witch; Pembatalan Nyanyian
- Unique Magic : Gangguan pikiran; Pembatalan Mantra Sihir
- A Spesialis : Magic Master (Half-Witch)
- Magic Elemental : Wind
- Mana Capacity : S+
Tipikal Magic
• Magic Element and Manipulation : B+
• Magic Controller : S+
• Summoning Magic : F (Tidak ada)
• Sealing Magic : B+