
Di satu ruangan yang terlihat berkesan dan juga berkelas, ada undakan yang memanggung dengan jarak ukuran tinggi lantai tiga inci dari dasar lantai marmer itu. Dua orang perempuan, yang satu berdiri di samping memegang beberapa lembaran yang masih harus di selesaikan dan satu lagi duduk dikursi sedang menulis diatas perkamen dokumen-dokumen itu, serius dengan pekerjaannya.
“Instruktur Kesna, semua persiapan telah selesai, para cendikiawan terkenal termaksud Master anda akan berpartisipasi dalam pameran yang akan di gelar,” ucap Sekretarisnya.
“Bagus Alier, kerja bagus, aku tak menduga jika Profesor Vesta akan berpartisipasi juga.” Masih bergulat dengan lembaran di atasnya.
“Yah, anda benar Instruktur Kesna, ia sepertinya ingin melihat bagaimana kemampuan generasi muda sebenarnya.”
“Seperti wataknya...” ucapnya membalas.
“Hahaha, anda benar sekali...” ucap Alier yang tertawa ringan.
Jika dilihat hubungan keduanyaa sangatlah dekat, dikatakan jika perasaan Alier memandang Instruktur Kesna sebagai seorang yang lebih berpengalaman atau bisa lebih dari katakan sebagai seorang senior dan junior; dan semua itu pun tak terlewat akan keduanya, sama-sama berasal dari kota yang mungkin dievaluasi dari Alliance City hampir setara: bagian tenggara yang jaraknya dengan Alliance City hampir menyentuh kecepatan kuda selama tiga hari ini ketika menggunakan wagon – kecepatan ambang. Sebuah kota berdiri dengan benteng yang tak kalah impresif dengan yang ada di Alliance City, kota yang teknologinya secara totalitas di jadikan sebagaimana penemuan dan juga aset yang tak di pungkiri, begitu di banggakan maupun sangat penting bagi kedudukan ras Human di Etherna World.
Hampir semua orang tahu, bagaimana kecanggihan yang ada di kota itu, namun kendati begitu tak ada yang di bebaskan bagi kota yang dijuluki tanah cendikiawan ini, tak seperti Alliance City bersifat liberal dan juga humanis, mereka lebih cenderung selektif penduduk akan tinggal di kota ini, yah, karna pada dasarnya yang tinggal di kota ini hanyalah orang-orang mempunyai kehebatan dan juga status di akui seluruh pemerintah Human.
Instruktur Kesna memberhentikan kegiatan menulisnya, mendongak kepalanya menatap Alier yang bingung sebelum ia alihkan. “Aku sudah tidak sabar dengan pameran kali ini, sepertinya ada sesuatu lebih menarik dari pameran-pameran yang di lakukan sebelumnya,” ucap Instruktur Kesna menatap kearah langit-langit ruang dengan senyumannya.
“Aku ingat namanya Zen..tak kukira, ada bakat tersembunyi seperti itu,” ucapnya lagi.
***
“Haichhuuu...”
“Siapa sih yang membicarakan aku...” ucap Zen menggaruk hidung dengan jari telunjuknya.
Menutup buku yang sedang ia baca. “Apa yang tadi Hendrick bilang yah..” beranjak dari tempat duduk yang duduki.
Mungkin sudah berlalu dua jam lebih antara pertemuan Hendrick dan Zen di kelas sebelumnya, pada pelajaran Instruktur Anatia. Zen lagi-lagi menjadi bahan presentasi, di ajukan oleh semua kelompoknya – para Lelaki, Zen juga agak sedikit kesal dengan dalih tak bertanggung jawab itu, namun ia hanya pasrah walaupun masih ada raut sedikit kesal di dalam hatinya. Menjelaskan beberapa tugas yang diberikan oleh Instruktur Anatia sebelumnya–pada waktu hukuman antara perempuan dan juga laki-laki akibat Perdebatan di depan Instruktur Anatia.
Zen yang di katakan kompeten dalam semua hal itu, banyak orang mengakui bahkan Instruktur Anatia pun hal sama demikian, sedangkan sang empu sendiri tak merasa demikian, ia hanya merasa cukup dengan dirinya saja, walaupun hal itu agak ambigu untuk di katakan. Kendati begitu, hal ini seakan menandakan jika Zen menjadi seorang makhluk tak terlalu berlebih atau hal untuk menunjukkan mencoloknya terhadap sesuatu yang dominan untuk di keluarkan, sebatas popularitas semata.
Di kamar asramanya sendiri, Zen sedang menatap dirinya, tak lagi memakai jubah akademi. Ia menggunakan pakaian sehari-hari, sederhana seperti pakaian rakyat biasa non-bangsawan memakainya, berwarna putih polos dengan celana panjang legam yang terlihat serasi dengan pola biru di pinggirnya, cukup baik setelan baju yang ia kenakan. Ia mendekat di area pintu yang saat ini, masih tertutup, namun tertahan dengan sebuah keanehan di hadapannya, sebuah objek kehitaman termanifestasi di hadapannya saat ini, tentu Zen sedikit terkejut tiba-tiba dengan keadaannya–membetuk sebuah tulisan informasi yang cukup de javu dengan benda kehitaman terlihat.
“Ini bukanya Magic Ilustration, dari Near,” ucap Zen bingung.
- Isi tulisan : “Bertemu di Phyterus park sekarang juga.”
“Kenapa Near menggunakan hal yang repot seperti ini.”
“Huh...lagi-lagi, aku yakin ini semua dari Hendrick,” ucap Zen lagi.
...
Sementara itu, di tempat yang berbeda pula, Near yang telah selesai menggunakan [Magic Ilustration] nya menatap Hendrick datar, padahal ia hanya mengikuti anak ini – tanpa persetujuan langsung darinya, dan terpaksa ia di manfaatkan oleh anak berambut coklat di depannya ini, menatapnya dengan senyum cengengesannya.
“Apa sudah selesai Near,” ucap Hendrick.
“Ya... aku baru tahu kalo kamu itu orang yang cukup pemaksa Hendrick,” jawab Near tenang.
“Hehehe, maaf, maaf. kita kan teman..”
“aku pun tahu itu, tidak ada namanya teman jika suka di manfaatin bukan.”
“Sudahlah, bukanya kita kesini bertemu dengan temanmu Hendrick,” ucap Leonhart.
“Ya, itu sana orangnya, ayo kesana...”
Dengan langkah pasti yang sedikit cepat, berjalan mendekat kearah seorang remaja laki-laki yang duduk di tepian pohon di deretan sebelah kanan, ia terlihat melamun akan sesuatu. Ernest yang tak menyadari akan kedatangan rombongan Hendrick pun, sedikit tak merespon apa yang di teriakan oleh anak berambut coklat berjalan kearahnya.
“Hei Ernest, apa yang kamu lamunkan sih...aku sudah memanggilmu dari tahu...” ucap Hendrick yang dekat di depannya.
“Eh...Hendrick, rupanya kamu yah..maaf, maaf, aku tidak dengar sama sekali, boleh kamu ulang.”
“Tidak, langsung keintinya saja, apa yang membuatmu memanggilku kesini.”
“Yah...soal itu sih...” ucapnya ragu-ragu.
“Apa ha?? Jangan membuatku penasaran.”
“Begini dengar baik-baik.” Menatap serius.
Ernest saat ini bertemu dengan Hendrick sedang membicarakan masalahnya saat ini, yah, walaupun tidak ada kemungkinan untuk menyelesaikan masalahnya, ada juga Near, dan Leonhart yang menatap dua orang sedang membicarakan sesuatu menurut benak masing-masing itu adalah sesuatu yang penting. Hendrick menyimak dengan jelas apa yang di utarakan oleh Ernest, dan pada akhirnya...bukan sebuah solusi, malahan yang ia dapatkan adalah tawa terbahak-bahak sampai keluar air mata dari anak berambut coklat ini.
“Hahahaha....maaf, maaf, itu memang lucu tahu....aku tidak mengira jika kamu sendiri akan bernasib seperti itu.”
“Terserah, jadi...apakah kamu ada solusinya.”
“Hmmmm....kalo di pikir-pikir ceritamu aneh juga, mungkin Zen bisa membantumu,” kata Hendrick menatap tersenyum.
“Jadi, dimana dia sekarang, apakah dia tidak datang, kan sudah kubilang ka----”
“Siapa yang tidak datang???” Suara terdengar dari arah belakang dua orang itu.
“Huaaaa....Zen!!!”
“Kamu membuatku terkejut setengah mati...”
“Hehehe...maaf, maaf, kalian terlihat serius.”
“Hei kalian berdua, aku tahu kalian yang merencanakan ini bukan!” ucap Hendrick.
“Terutama kamu Near, kamu pasti menggunakan Manipulation ilusimu Itu, supaya aku tidak sama sekali mendeteksi keadaan disekitarnya,” ucap Hendrick yang kesal.
Pada kejadian sebelumnya, Near dan Leonhart sudah mengetahui keberadaan Zen yang datang beberapa menit sebelum perbicangan kedua orang itu–ia menatap mengkonfirmasi Hendrick serius, bukan serius melainkan tertawa terbahak-bahak yang ia tunjukan, dan itulah kesempatan sesuai insting assassinnya terbilang tepat menentukan, untuk membalas kejadian sebelumnya sedikit ia simpan–tentu saja semua itu langsung di tanggapi oleh Zen yang mengerti rencana dari Near, menggunakan Magic Ilusinya, agar mentransparan hawa keberadaan Zen, yang tanpa sadar bisa di deteksi oleh Hendrick, dan Leonhart sendiri hanya tersenyum akan tingkah dua orang ini.
“Ketahuan yah, itu sih pembalasan...jadi, kita impas bukan,” jawab Near.
“Kenap Peter tidak ikut...” tanya Zen.
“Aku juga tak tahu...”
“Baiklah, mari kembali ke pembahasan utama, Ernest, kenapa kamu memanggil kami berdua...” ucap Zen meminta penjelasan
“Pfffffft.....”
“Diam kau Hendrick...”
“Begini Zen, aku sebenarnya...dari Instruktur Wei memberikankau sebuah request, mencari seorang kandidat yang nanti akan berpartisipasi dalam sebuah pameran.”
“Kandidat? Pameran? Apakah ada yang seperti itu..” ucap Zen.
“Hmmmm, sepekan lagi para petinggi dari kota Antoinerei atau kota para cendekiawan, mengadakan sebuah event yang sering digelar dalam setahun sekali, dan akademi Phyterus sendiri menjadi tuan rumahnya.”
“Dan kemungkinan, sepuluh perwakilan dari corporation terbesar yang di miliki ras manusia, mungkin akan berpartisipasi dalam event kali ini, dan tentu perusahan dari ayahku juga,” jelas Ernest.
“Antoinerei yah... sepertinya aku pernah membacanya,” batin Zen yang memegang dagu.
Kota Antoinerei adalah salah satu kota yang fungsi dan tujuannya sama dengan Alliance City (A.C), walaupun berpatokan pada kedua kata itu juga salah untuk mengartikan hal demikian – Fungsi dan tujuan. Di ketahui oleh kebanyakan orang, kota Alliance City di buat untuk keberlangsungan kehidupan ras Human yang ada, tanpa memandang rasis, atau hal-hal yang saling bertolak belakang dalam ideologi atau pun pandangan yang meyakini; dengan kata lain jika Alliance City sendiri adalah kota yang bersifat liberal atau bebas dari semua aspek yang ada–tentu bukanlah kejahatan atau hal yang berpandangan pada teror; sedangkan kota Antoinerei menjadi tolak ukur kemajuan dari peradaban bangsa manusia dalam hal teknologi maupun Magic Equipment, dan disinilah berkumpulnya para cendikiawan-cendikiawan sihir maupun Ilmuwan terkenal, menjadikan kota ini menjadi rumah mereka.
Penjelasan demikian adalah hal yang di baca oleh Zen juga, ia cukup bingung untuk mengartikan kehidupan di Etherna World, seperti pada saat ia masuk di Alliance City — Penasaran dengan kehidupan yang penuh sihir ini. Anak berambut putih itu meyakini, jika di Etherna World sendiri masih menyimpan hal-hal yang penuh mesteri, tak terpecahkan ataupun abnormal lain. Walaupun keyakinan itu tersebut masih belum ada titik terang, di lakukan oleh kebanyakan orang.
“Jadi, apa hubungannya...”
“Bisakah kamu mencari kandidat yang tepat atau....ka----” ucapanya terhenti.
“Hei..Kalian...“ teriak seseorang yang balik punggung mereka.
“Peter...” ucap bersamaan terkecuali Ernest.
“Aku mencari kalian kemana-mana tahu, padahal disini...”
“Kamu kemana saja Peter..”
“Tadi ada urusan sedikit, namun ada satu hal, aku ingin memberitahukan sesuatu pada kalian, khusus untuk kamu Zen,” nada ucapnya berubah menjadi serius.
“....” (Hening tak menjawab)
“Aku melihat jika kamu terdaftar dalam pameran yang sepekan lagi akan dilakukan..” ucap Peter.
“Apa!!!!!”
To be continue
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=