
Dua anak berbeda usia menyusuri setiap jengkal pintu masuk lorong kediaman yang ada lorong koridor yang memanjang dengan tiang-tiang penyangga, terpahat ukiran di berbagai sisi – lambang kebanggaan keluarga Charlotte. Hanya mata yang indah mereka, menikmati keindahan buatan manusia itu, yang satu berambut putih dan matanya yang kontras dengan warna Bbru langit yang terlihat tapi mempunyai kesamaan sama-sama biru dan satunya lagi berwarna hijau yang begitu terang seperti benda Mahal yang sangat langkah di dunia ini yaitu Zamrud.
“Kak ayo Cepat.” Tarikan anak itu yang tak sabaran.
“I-iya,” jawab anak berambut putih. Yup, dialah Zen bersama dengan Susan.
Ruangan yang begitu besar terlihat di mata biru Zen, dalam hatinya hanya bisa terkagum-kagum akan apa yang ia lihat. Cukup membuktikan bahwa keluarga Ini disebut keluarga berpengaruh bukan. Zen hanya menatap bunga mawar, di semua sisi, di tanam di tepi tak ada bunga lain, tentu ia mengerti jika bunga mawar adalah kebanggaan dari keluarganya Susan itu sendiri – seharusnya begitu.
Keluarga Charlotte merupakan salah satu keluarga dari pilar ras manusia, keluarga bangsawan dengan julukan sang “Bunga Mawar Mekar” ini. Zen Cukup bingung dengan Keluarga yang satu ini, begitu sopan dan juga santun. Ia masih tak percaya walau ragu-ragu, apakah ini hanya di ibaratkan “katak di balik tempurung” atau benar -enar asli tanpa topeng di baliknya.
Ia tak bermaksud mencurigai atau tak percaya kepada Keluarga dari seorang yang menyelamatkannya – bisa di bilang begitu. Ia tau bahwa sikap bangsawan begitu munafik yang menutupi sifat asli mereka dengan bersikap manis maupun menjilati yang lebih tinggi dari mereka hanya keuntungan semata. Benar-benar sifat Munafik yang sebenarnya, kendati begitu, itu hanya referensi yang ia tahu saja, karena bangsawan itu mutlak tak dapat di bantai, jika tak yang sederajat dengannya.
Walaupun ia begitu was-was, terkadang ia merasa hangat seperti sebuah Keluarga sebenarnya yang ia tak pernah rasakan dulu. Kenangan pahit yang tak ingin ia ingat dan teror baginya di kehidupan dulunya.
Tampak dua orang gender berbeda, seorang perempuan berambut pirang dengan mata hijau zamrud nya dan seorang lelaki sama sepertinya tapi berambut sedikit Coklat dari kejauhan.
“Kak Isabella... kak Hendrick,” teriak Susan yang langsung berlari memeluk seorang perempuan sekitar delapan belas tahunan, berlari menghampiri.
“Wah.. lihatlah kau sudah besar yah Susan," ucap Isabella langsung membalas pelukan dari seorang Susan.
“Seperti biasa yah... sikap manja tak pernah berubah Susan,” ucap seorang di belakang mereka.
“Kak Hendirck!!” Langsung melepas berbalik memeluk seorang yang bernama Hendrick.
Keluarga yang sebenarnya adalah keluarga yang saling memberikan kasih yang membutuhkan dan juga memerlukan bahkan jika itu terkadang melewati Batas ataupun Hukum alam sekalipun. Tapi benarkah arti keluarga sebenarnya seperti itu. Mengesampingkan dulu!!!!
Di lain sisi Zen yang memperhatikan tiga saudara yang begitu harmonis hanya tersenyum. Semua kecurigaan maupun rasa tak percaya itu hilang seketika, cukup sebagai bukti terhadap kejadian ini bahwa mereka keluarga bangsawan yang berbeda.
Seorang pria paruh baya, yah, Paman Sebastian masuk bersama Hend, pelayanya, seketika terdiam melihat pelukan rasa rindu yang mendalam dari ketiga anaknya itu yang melepas rindu mereka masing-masing, sudah lama tidak bertemu.
“Ayah...!!!” teriak mereka bertiga serempak.
“Kalian sudah dewasa yah Isabella, Hendrick,” ucanya dengan tersenyum tulus.
Susan yang dari tadi bernostalgia dengan kakaknya kaget, Seakan-akan lupa sesuatu. “Yah...Kak Zen.” Ia melirik di sekitarnya terlihat seorang Remaja yang masih terdiam seakan mematung.
“Kak... perkenalkan! Dia kak Zen,” ucap Susan sambil menunjuk kearah Zen.
“Kak Zen ini kakak-kakakku, Tambahnya.
Terpatri jelas. “Hallo...“ ucap Zen dengan senyum canggung dengan lambaian tanganya.
“Wah... tampan sekali,” ujar Isabella langsung memeluk Zen.
“Kakak... jangan peluk Kak Zen. Kak Zen hanya punyaku,” ucap Susan yang cemberut nampak imut.
Tapi Isabella tak mau melepas pelukannya dari Zen sedangkan Zen hanya tertawa canggung lebih canggung dari Ia perlihatkan sebelumya Ini adalah pertama kalian, seorang perempuan memeluknya, ia merasa tersedak dan sesak napas secara bersamaan, ia berusaha tahan, di tambah lagi pelukan dari Kak Isabella sangatlah erat membuat ia tambah sesak. Mau menolak, tentu tak bisa bukan! mau tak mau ia harus relakan saja.
“Kakak...” teriak Susan.
“Iya..iya..iya,” jawab Isabella pasrah.
Hendrick yang melihat kebiasaan buruk kakaknya hanya tersenyum masam. Serasa sifat pedofil tapi melekat pada seorang perempuan atau lebih tepatnya melakat pada kakaknya, aneh bukan. Sambil melangkah maju kearah Zen yang masih tersenyum canggung sembari menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal.
“Yo... namaku Hendrick, salam kenal,” ucapnya sambil menyodorkan Tangannya memberikan Salam ala lelaki.
“N-namaku Zen,” jawab Zen agak sedikit gugup – membalas.
“Tidak usah gugup seperti itu Zen, ayo kita tinggalkan dua perempuan itu,” melirik Isabella dan juga Susan yang berdebat mengenai Zen – beradu Argumen.
“I-iya,” balasnya.
***
Di dunia luar sendir khususnya untuk ras manusia, keluarga Charlotte sangat di agungkan sama dengan keluarga besar yang lain, keluarga dari jenis kekuatan generasi ke generasi ini, selama turun temurun masing di katakan sama kuat dengan pendahulunya dulu. Jika saja, seorang kelurga Charlotte, di ibaratkan, seratus Magic Master tipe Burst Demage jika kemampuan maksimalnya.
Langkah kaki dua orang pemuda itu menyusuri semua apa yang ingin di telusuri, baik perpustakan maupun ruang utama keluarga. Rasa semangat di wajah seorang pemuda, dan satunya lagi hos-Hosan dengan apa yang mereka lakukan. Zen sebenarnya sangat tak kuat dengan sikap hiperaktif yang ditunjukan Hendrick, sekedar hanya untuk menunjukkannya semua yang ingin ia tunjukan, namun Remaja Berambut Putih ini hanya tertawa tanpa maksud tersembunyi itu sendiri, ia yang di tarik-tarik mengikuti langkah Hendrick – sudah mungkin dua jam mereka berkeliling.
“Apakah boleh kita istirahat sebentar Hendrick.” Zen yang terlihat nadanya yang begitu memburu menghela nafas.
“Ayolah...kita belum pergi ketempat yang menjadi yang ingin kutunjukan padamu,” jawab Hendrick yang sedikit kecewa.
Bagaimana tidak dari tadi mereka hanya menyusuri kediaman yang begitu luas ini dengan menggunakan kedua Langkah kaki mereka. Bahkan kaki Zen sedikit demi sedikit menjadi lemas seketika karna terlalu di paksakan, sedangkan orang di depannya ini hanya tersenyum gembira sambil melangkah kakinya lebih cepat dari Zen. Zen dengan super inisiatifnya melangkah untuk menyusul Hendrick beberapa meter di depannya.
“Cepatlah kita sudah mau Sampai,” teriak Hendrick dari arah depan.
“Ah... iya,” balas Zen yang sedikit menstabilkan nafasnya.
Sambil berjalan sedikit berlari dari kaki Zen pijakan. Walaupun ia merasa tak sanggup, tapi rasa penasaran juga dalam benaknya terhadap apa yang akan di tunjukan Hendrick setelah ini. Beberapa detik kemudian langkah Zen berhasil menyamai langkah Hendrick; Hendrick hanya tersenyum melihat Zen di sampingnya – berhenti di sebuah Pintu Cukup besar untuk ukuran sebuah pintu.
“Sudah sampai... ayo.” Sambil memegang tangan Zen begitu Saja.
Kreak...
Pintu besar yang seukur lebih besar dari pintu-pintu sebelumnya, di bagian samping tepi pintu terukir, masih sama dengan lambang keluarga Charlotte begitu di muliakan sama halnya sebelumnya. Suara bukaan pintu terdengar, cahaya yang begitu terang merembes mata biru Zen hingga membuat ia tak sadar menghalangi cahaya yang masuk ke matanya secara berlebihan itu. Ia melihat secara saksama apa yang ada di depannya hingga membuat matanya membulat seakan kaget dan juga terkagum kagum secara bersama. Senyum merekah mereka berdua, yang satu hanya bisa terkagum, dan satunya seolah-olah bangga dengan apa yang ia lakukan.
“Ini bukanya...” ucap Zen
“Bagaimana? indah kan.”
“Iya... indah sekali.” Mata Zen berbinar.
“Dulu ini merupakan tempat ibuku, ia sangat suka merawat bunga berbagai jenis. Ia tak pernah bosan-bosanya membeli bunga yang menurutnya menarik.” Nadanya yang terlihat sedikit kesedihan
“Sifatnya yang selalu tersenyum terhadap semua orang sehingga orang yang berada di sekitarnya merasa hangat akannya,” tambahnya
“Ibumu memang benar-benar Hebat yah,” ucap Zen yang masih memandang lekat-lekat apa yang ada di depannya.
“Yah... ibuku memang hebat,” jawabnya dengan nada sendu.
“Jadi, Ibumu dimana?” Tanya Zen sambil melirik kearah Hendirck.
Seketika itu saja tubuh Hendrick mematung langsung menundukan pandangannya kearah bawah. Zen sama sekali tak dapat menerka apa yang terjadi pada Hendrick, apa yang terjadi padanya?
“Hendrikc, apa ada yang salah?” kata Zen memastikan.
Hendrick menatap Zen tak terbaca. “Tidak apa-apa. Ibuku yah..., ibuku beberapa bulan belakangan ini sakit-sakitan hingga ia harus beristirahat.”
“Eh... maaf aku tak tau,” ucap Zen kebingungan atas kebodohannya itu. Ia bisa menyimpulkan jika Hendrick adalah seorang yang sangat sensitif jika ada seseorang yang membicarakan ibunya.
“Tidak apa-apa kok, sepertinya rasa sakit di dadaku sedikit berkurang,” ucap Hendirck yang tersenyum.
“Sebenarnya aku tak pernah merasakan hangatnya keluarga, walau terkadang aku ingin merasakannya,” kata Zen yang tersenyum masam.
“Eh?”
Mendongakkan kepalannya menatap berbagai jenis ragam bunga, tergelantung di kaca tebal yang menerangin–cahaya masuk. “ketika aku melihat keharmonisan dan juga kasih sayang seorang keluarga dari kalian, aku merasakan sedikit bahagia seakan kasih sayang keluarga yang kalian tunjukan dibagikan kepadaku juga,” ucap Zen.
Hendrick yang melihat kesedihan dari mata Zen merasa sadar juga di hatinya. Menurutnya ia adalah orang yang tak pernah beruntung di dunia ini ketika melihat kondisi ibunya, tapi masih ada orang yang lebih tak beruntung darinya yang tak pernah merasakan kasih sayang orang Tua seperti Zen, ia sama sekali tak percaya itu dan tersadar oleh ucapan Zen, tak pernah ia rasakan bagaimana artinya pahit sebenarnya. Ia buka orang yang akan mempercayai kata-kata seseorang dan tampang yang meyakinkan, namun, ia sama sekali dapat menepis pantangan tersebut – kemampuan sebenarnya dari keluarga Charlotte.
“Jadi Terima kasih yah ini Hendrick.” Senyum Zen yang menggantikan raut wajah kesediannya tadi.
Sama-sama menatap. “Hmm...” Senyum Hendrick membalas senyum Zen.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=