My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 65. Inspiration



“Ya, ya, ini bisa saja terjadi, jika ini di satu mekanismekan.”


“Hnmm, tetap saja bukan, apakah konsep ini dapat digunakan.”


Saat ini Akademi Phyterus sedang memberikan cuti bebas para muridnya – bukan meliburkan, akibat event yang akan di gelar. Walaupun diberikan cuti bebas, tapi tak satupun murid yang ada di biarkan keluar dari wilayah akademi tanpa ada izin, dan itu pun di informasikan secara resmi kemarin lewat proyeksi di tempat papan informasi, secara langsung oleh pihak akademi.


Zen yang lagi sibuk akan kegiatannya, mengawali dengan petunjuk beberapa bahan yang akan ia gunakan, termaksud dari beberapa core dan juga stone magic yang nanti diperlukan. Dan itu pun bahan-bahannya sendiri nanti akan ia kumpulkan sehari setelah menyusun protokol dalam panduan-panduan yang dikerjakan nanti.


Zen akui jika ini adalah tesis yang ia pikirkan selama ini, sekedar asumsi yang tak tahu apakah ini benar atau tidak. Namun pada dasarnya hal ini pun cenderung, terbilang pasti, karena ia sering lakukan dari berbagai aktivitas sehari ia di jalankan; beranggapan jika [Mana] yang kita punya dapat di ubah kedalam bentuk Energi, walau ia tak tahu demikian jika [Mana] apakah termaksud dalam Energi juga, entah apakah ada yang membedakan.


Walaupun sains di Etherna World dijadikan indikator kehidupan juga, namun tak terlalu masif gencar-gencarnya berlomba-lomba siapa yang paling teratas, dan hal itupun tergantikan akan supermasifnya sihir anggapan banyak orang berlomba-lomba menjadi super power, itu pun dibuktikan jika didunia ini orang yang mempunyai kekuatan adalah orang yang seharusnya dihormati.


“Apakah ini mungkin???” Mengernyitkan dahinya. “Buku yang satu ini menjelaskan jika [Mana] adalah unsur alam, dengan kata lain jika mana sendiri adalah Energi bukan yang dilakukan dipengaruhi maupun termanifestasi oleh alam sendiri” celoteh Zen.


“Walaupun hal ini dapat dibuktikan, hukum fisika yaitu Hukum Kekekalan Energi semestinya bisa di pakai juga,” guman Zen.


Yang terpikirkan dari remaja berambut putih itu adalah jika [Mana] bagaikan kekekalan energi yang tak dapat di hancurkan ataupun di musnahkan. Namun demikian ia masih sulit untuk menarik deduksinya atas ini semua—hal yang pernah ia lakukan terhadap teknik Assassin Art yang dapat menghancurkan semua sihir maupun komponennya sendiri, pernah ia baca dan itu pun di konfirmasi kebenarannya Jendral Lukas Masternya sendiri; apakah itu sihir berkomponen [Mana] dapat di hancurkan disebabkan karena adanya [Mana] sendiri? Tidak, tidak, tidak!!!! Zen menepis jauh-jauh anggapan tersebut, walaupun sihir yang berkomponen [Mana] — tak ada sihir yang tidak berkomponen [Mana], dapat dihancurkan karena mengandung [Mana], namun [Mana] sendiri hanya kembali semula pada alirannya beredar saja sebelum ditergantikan—tak hancur atau hilang secara semestinya.


Zen meyakini menggunakan Hukum Kekekalan Energi; “Energi tidak dapat diciptakan atau di musnahkan tetapi hanya dapat di ubah dari bentuk yang satu menjadi energi yang lain,” inpirasi yang ia dapat, sama halnya dengan [Mana]. Pada intinya jika Zen dalam karya ilmiahnya, ia menggunakan [Mana] sebagai bahan utamanya dalam proyek; sangat terbukti jika Hukum Kekekalan Energi sangat tepat dengan [Mana], yang dapat di ubah secara semestinya kebentuk energi yang lain, misal dalam implementasi sihir, baik itu tipikal apapun.


“Bagaimana anggapanmu Zenos?”


[Menjawab; Saya hanya dapat memastikan jika teori anda terbukti secara ilmiah]


“Hmmm...Program mekanismenya cukup baik....Lumayan.”


Dalam sistem mekanisme yang nanti ia rancang oleh Zen, sangat begitu di kenal dalam dunia sains di kehidupannya dulu, dua konsep dalam kehidupan yang yakini maupun sangat melekat dalam aspek kehidupan. Konsep timbal-balik dan konsep bolak-balik, ini nanti yang akan ia gunakan dalam mekanismenya, walau sebenarnya Zen masih mempertimbangkan hal demikian, namun tidak ada konsep yang cocok dengan anggapanya sekarang ini, kendati itu cukup meyakinkan.


Memang apa yang di lakukan Zen bukan sekedar membual, ia memikirkan secara cermat dan sistematis dalam bentuk alat yang ia ciptakan nanti. Proses timbal-balik dan juga bolak-balik sangat di kenal di gunakan dalam dunia sains, misal bukti nyata proses Ekosistem dan juga Fotosintesis maupun rantai makanan; apalagi lagi konsep bolak-balik sangat dikenal di gunakan aspek kehidupan, misalnya arus listrik yang di konversi dari bertegangan tinggi ke bertegangan rendah atau pun konsep gelombang radio, itu Zen memikirkan secara detail di dalam pikirannya. Dan semua itu kemudian hari nanti apa yang di ciptakan olehnya akan di kenal di seluruh Etherna World.


“Mungkin ini sudah cukup, aku sudah menggambar rancangannya dan beberapa prosedurnya.”


“Waktunya cari bahan-bahannya bukan.”


Di kamar Asramanya sendiri Zen mengurung dirinya di temani beberapa buku yang ia pinjam dari perpustakaan Anion, di tambah adanya Zenos, yang menduplikat semua catatan yang ada dalam perpustakaan Anion maupun toko dulu yang ia kunjungi di distrik pertama menambah beberapa hal yang sangat mendukung ini semua. Ia membaca semua bahan yang sering di gunakan oleh Blacksmith, namun ada beberapa Logam yang cukup cocok dan terbilang simpel untuk di temukan


“Dan setidaknya ini cocok dengan rancangan yang aku gunakan.”


“Ini seharusnya cukup, walaupun Stone Magic bisa di dapatkan juga, apakah kepala akademi mengijinkan.”


Walaupun konsep yang di gunakan Zen pada mekanisme sangat efektif dalam keadaan penampungan [Mana] seperti halnya apa yang di lakukan Stone Magic. Ini pun tak di pungkiri akan berdampak pada durabilitas mekanisme yang ia buat, dan hal itu tak memungkinkan jika Logam nanti ia gunakan dapat terjamin akan ketahanannya sendiri, kecuali Zen menggunakan salah satu dari lima logam langka yang ada.


Masih bergumam dengan aktivitasnya saat ini, ia seakan tak sadar waktu yang di lewatkan hanya untuk memikirkan karya Ilmiahnya ini. Zen terbilang senang, jika karya yang nanti ia pamerkan akan menguntungkan banyak baginya, namun Zen bukan menganggap jika dirinya seseorang di labelkan sebagai mata duitan atau gila harta atau selebihnya lagi yang lebih ekstrim–lebih memungkinkan jika ia orang suka memanfaatkan keadaan.


“Kita sudahi saja, ini tebilang sudah cukup jelas nanti untuk kutunjukan,” ucap Zen menyudahi.


“Aku hanya sisa mencari bahan-bahannya bukan..”


“Ahhhhh...aku baru ingat, mereka sepertinya masih menunggu.” Mengucapkan lekas mngemasi balik hal yang cukup berantakan ini.


***


“Apa yang kamu lakukan seharian penuh ini Zen..” tanya Hendrick.


“Lihatlah kulitmu tambah pucat...” Mencubit pipi Zen.


Zen menepis cubitan yang di lakukan Hendrick padanya. “Aku hampir seharian penuh memikirkan alat yang akan aku tunjukan, huhhh.....itu sangat membuatku lelah...” ucap Zen hembusan nafas berat yang ia keluarkan.


“Lihat juga mata pandamu itu Zen, cukup aneh untuk di lihat, walaupun tak menutup wajah feminimmu itu.”


“Jangan bilang aku feminim sialan,” ucap Zen membalas.


“Hahaha...itu memang faktanya, kamu itu di ibaratkan mempunyai semuanya Zen, walaupun tak menutup kemungkinan jika wajah tampanmu itu berbeda dari yang lain.” Hendrick yang kali seolah-olah terlihat menilai.


“Ia bilang pertemuannya di perpustakaan Anion..”


“Apakah begitu,” ucap Zen memastikan.


“Ya...”


Mereka berdua berjalan disela-sela dinding kokoh penopang yang jalanya langsung terhubung dengan Perpustakaan Anion – bukan lorong. Meskipun hal demikian tak menyurut indikasi melihat sekitarnya bagi Zen, ketika aktivitas kesibukan para murid yang ada berbanding lurus dengan tujuan mereka saat ini – Perpustakaan Anion. Zen terlihat berpikir, di luarnya nampak melamun di bawah kulminasi matahari yang meninggi ini, di atas beberapa derajat yang terbilang terik, dengan jalan penghubung di out door.


“....Apa Konsep mekanisme yang kamu buat sudah kamu rancang,” ucap Hendrick yang menutupi keheningan di antara mereka.


“Hmmm...aku baru selesai tadi,” balas Zen menatap lurus


“Jika begitu, jika kamu perlu bantuan, kamu bisa meminta bantuanku.”


Zen mengarah pandangnya kearah Hendrick yang ia anggap saudaranya ini; mengangkat satu alisnya. “Benar kamu bisa membantuku, tunggu, tunggu... jangan bilang,” ucap Zen agak sedikit melambat pada kata akhirnya.


“Kamu membaca pikiranku sialan,” teriak Zen.


“Maaf, soalnya kamu melamun,” balas Hendrick menggaruk kepalanya.


“Huh..kamu itu....sudah selalu menjadi kebiasaamu Hendrick, sangat K-E-P-O,” dengan nada yang sedikit ia tandai kata akhirnya “Kepo.”


“Aku tidak kepo kok, aku hanya membaca pikiranmu itu, walau sedikit samar saja, bisa di katakan aku hanya menebak apa yang kamu pikirkan,” ucap Hendrick membantah dengan seruan mulut yang ia buat sekecil pipih – bersiul.


“Namun...sama saja tahu, kamu itu membaca pikiranku,” jawab Zen.


Obrolan ringan mereka terhenti ketika melihat seseorang yang memanggil mereka berdua dari arah kejauhan didengar di Indra pendengaran masing-masing, di depan sana saat ini. Remaja berambut biru tua dengan pola hair colour agak berbeda dengan apa yang di miliki remaja pengguna Element dimensi itu, berlari dengan langkah energiknya dan sudah pasti sifat ekstrovernya sudah melekat kian kembali muncul.


“Hei...Zen...Hendrick,” teriak Peter menerjang memeluk mereka berdua.


“Ahhhh...aku tidak bisa bernafas,” batin Zen.


“Peter lepaskan kami, tenaga pelukanmu itu sangatlah kuat tahu...” Hendrick berucap.


Ia melepaskan pelukannya saat ini, menatap dengan tatapan polos, dengan menggaruk pipinya yang tidak gatal. “Hehehehe, maaf, maf, aku hanya senang saja,” ucapnya.


“Huh...sudahlah, tapi----” ucapnya terhenti.


“Kenapa mereka ada disini.”


Nampak Lumire, Gaznel, Erwin, dan Morlex menatap mereka berdua yang kebingungan.


“Halo Zen bagaimana kabarmu....sudah dua hari aku tidak melihatmu lagi,” ucap Erwin.


“Y-y-ya kabarku baik..”


“Aku tahu kalian berdua ingin pergi ke perpustakaan Anion bukan, kita juga mempunyai tujuan yang sama dan lagi arah yang sama juga, bagaimana kalo kita sama-sama saja,” ujar Gaznel.


“Itu ide yang terlihat menarik...” ucap Morlex.


“Bagimana? apakah kamu setuju dengan tawaranku ini.”


“Mereka berdua sudah pasti setuju, benarkan?”


“Hmmm ya, aku setuju saja.”


To be continued


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=