
“Zen apa kamu sudah menemukan, apa yang menjadi bahan untuk tugas nanti.”
“Entahlah, sepertinya belum.”
Rak-rak yang berjejer dengan buku-buku padat yang memenuhi di sela-sela lemari kayu yang berjejer. Berjalan kesana-kemari hanya untuk menemukan apa yang mereka cari sekarang ini, entahlah...apa yang membuat kedua remaja itu begitu antusias walau dalam bayang-bayang kerepotan dengan hal ini.
“Hah..Ini benar-benar susah tau” Peter mendesah.
Rupanya dari yang terlihat bukan hanya dua orang saja seperti maling mengendap-endap mencari sesuatu, tapi ada tiga tambahan remaja yang sekiranya sama gender itu nampak juga bergulat dengan kegiatan aneh ini.
“Apakah kalian semua menemukannya” Tanya Leonhart dengan rentetan buku yang ia pegang.
“Sumber-sumbernya benar-benar tak ada satupun..aku juga bingung dengan para wanita itu, bagaimana sih mereka menemukan secepat itu” Tambahnya.
“Bagaimana dengan Lumire, Erwin, Morlex dan Gaznel; Apa yang mereka lakukan sekarang ini?” Ujar Near.
“Entah juga...Sudahlah, yang terpenting sekarang ini adalah menyelesaikan tugas kita ini dulu” Ucap Hendrick.
Tugas yang di berikan oleh Instruktur Anatia adalah hukuman yang di berikan kepadanya itu sendiri, akibat ulah mereka sebelumnya; Dan itu juga termaksud Zen yang tak masuk dalam Konspirasi ini dan itu berlaku berdasarkan benak pribadi bukan benak secara meluas. Entah apa yang akan terjadi, tapi sudah pasti jika semua ini akan berdampak padanya juga bukan.
Tak dapat berkata-kata sekarang ini, Zen hanya mencari-cari berbagai - berbagai buku yang ia lihat, yang di dasarkan pada Intuisinya saja; Bukan berarti jika orang yang berpedoman pada intuisi tidak berpatokan pada Keberuntungannya juga. Jika kalian bertanya kenapa Zen tidak menggunakan Zenos dalam masalah ini dan jawabannya adalah ia hanya malas saja dengan suara sistrem yang begitu datar seperti Tembok, namun...Jika Dewi Fortuna tak berpihak padanya maka mau tak mau pada saat itu lah Zenos beraksi, itu agak lebay.
“Baiklah, akhiri semua ini...ini benar-benar melelahkan tahu..” Ucap Peter kesal.
Mata Zen terhenti ketika melihat buku berdebu dengan sampul luarnya berwarna coklat kasar serta kertasnya berwarna kuning kekuningan, ia menatap dalam keadaan lama, tak sangkal itu membuat ia sedikit penasaran. Refleks tanganya lalu memegang langsung mengeluarkannya dari dempetan buku-buku yang meninggi. Rasanya ada perasaan secara impresif, ketika melihat buku yang termakan umur itu.
Meniup debu yang memenuhi sampul Coklat kusam itu, lalu tertera jelas judul dari sampul luarnya, yakni “ A Compement.” Hal yam membuat seorang Zen mengangkat satu alisnya, seolah-olah Familiar dengan judul buku yang satu ini. Penasaran akan hal itu ia membuka, berlarut dengan pikiranya; Zen lagi-lagi mengangakat alisnya dan juga perasaan Familiar pun sama ia rasakan.
“Judul ini pernah aku lihat di mana yah” Batin Zen.
“Zen apakah kamu menemukanny?” Tanya orang di balik rak buku, yaitu Hendrick.
Zen seakan lupa dengan tujuan sekarang ini, terpaksa ia menyerah akan apa yang di perjuangkan. Ia tak membalas pertanyaan Hendrick kala ini, pikiranya masih terfokus dengan hal penting dan jauh lebih penting menurutnya.
“Zenos bisakah kamu beritahukan informasi mengenai dengan sepuluh orang berpengaruh yang di yakini ras manusia.”
[Di Mengerti].
...
..
.
Zen memutuskan untuk menggunakan Zenos dalam kasus ini, partnernya yang paling setia. Informasi seperti apa yang tidak di ketahui Zenos, walau masih dalam kemungkinan atau praduga saja tapi masih di jamin Keakuratannya.
“Hei Zen, apa yang kamu lakukan sih” Hendrick memegang bahu Zen.
“Ayo, kenapa kamu diam disini...”
“Hmm..”
***
Di satu sisi, ruangan yang terkesan nyaman dan juga damai. Seorang Pria tua yang selalu memakai jubah kebesarannya sedang meminum teh hangat dengan santai, ia seakan tak seperti; Memikirkan sesuatu yang kebanyakan seperti tugasnya terbilang penting bagi kalangan yang ada maupun menurut ia sendiri dan orang terdekatnya.
Tak berlangsung lama, ada orang yang menggerakan pintu yang tertutup di ruangan itu. Seorang perempuan berambut ikal dengan rambutnya berwarna pirang terlihat memandang pria tua yang sedang Relax dengan aktifitasnya.
“Salam Hormatku kepala akademi.”
“Bagaimana kesan pertamamu Anatia.”
“Hah...Ini benar-benar berat kepala Akademi, bisakah anda—”
“Itu tidak boleh, ini sudah menjadi kewajiban kalian sebagai Instruktur Utama” Ucapnya yang memotong apa yang di ujarkan oleh Instruktur Anatia kala ini.
“Huh...baiklah, walau begitu aku kan baru menjadi instruktur utama, kenapa coba tanggung jawabku akan seberat ini”
“Nanti kau akan terbiasa.”
“Apa yang ingin anda tanyakan Instruktur Anatia, sepertinya ini benar-benar penting sampai-sampai kau yang secara langsung bertanya kepadaku” Ia Tersenyum menanggapi semua itu.
“Yah, aku tak tau Pertanyaan ini akan anda Jawab dengan Jujur atau tidak, tapi....Langsung saja Keintinya”
“Aku benar-benar penasaran dengan Identitas dari anak bernama Zen yang anda Istimewa kan itu, kepala akademi”
“Masa sih...aku mengistimewakan anak itu, Instruktur Anatia” Tanyanya balik sembari menyesap teh yang sudah lama ia pegang.
“Tapi, apa yang anda ucapkan juga tidak salah juga...walau terkadang hanya di satu sisi, entah bagaimana, tapi tak dapat di jelaskan dengan kata-kata” Tambahnya.
“Aku benar-benar tidak mengerti dengan ucapan maupun makna kata-kata anda kepala Akademi.”
Esnet De Phyterus atau kepala akademi menaruh gelas yang berisi teh yang di pegang lalu beranjak dari tempat duduk, ia menatap sekilas orang yang di depannya. Menatap Jendela berbentuk segi lima yang ada di belakangnya, Eksperesi yang mendalam terlukis di wajah sang pria tua itu.
“Entahlah, aku tak bisa menjelaskannya sekarang ini”
“Tapi...Nanti anda akan tau sendiri dan itu semua akan bermula dari sekarang” Tambahnya
***
Lorong yang panjang, dengan sinar lampu yang terbilang cukup memenuhi. Dua remaja yang berjalan seolah-olah sudah terbiasa dengan lorong yang di lewati, tak terlewat dengan banyak hal yang mereka alami selama sejam yang lalu.
“Ini sangat melelahkan...Aku ingin membalas semua ini di tempat tidurku tau” Ujarnya.
“Terserahlah...padamu, tapi aku cukup penasaran dengan—” Zen memandang yang Lurus.
“Apa yang kamu pikirkan sih, benar-benar aku tak dapat mengerti pemikiranmu” Ujarnya yang langsung memotong perkataan Zen.
“Janga sekali-sekali kamu membaca pemikiranku dan lagi jangan memotong pembicaraan orang lain, itu benar-benar tak sopan” Ancam Zen.
“Ya..ya, aku kan hanya menebak saja.”
“Huh..tapi apakah kau tau Hendrick ada rasa yang tak dapat ku jelaskan waktu tes kedua ku kala itu”
“Seakan ada yang mengontrolku” Guman Zen tanpa sadar.
“Mengontrol...apa yang mengontrolmu, apakah ada hubungannya dengan sesuatu ya—”
“Jangan berpikir yang aneh-aneh, aku hanya ingin bilang kepadamu saja, jadi...jangan menambah beban di pikiranku ini dengan kata-kata aneh yang keluar dari mulutmu” Memegang mulut Hendrick.
“Boleh tidak lepaskan tanganmu dulu” Hendrick terlihat kesal, masih dalam mode yang sama.
“Hmmm”
“Tidak usah pikirkan itu Zen, yang berlalu biarkan berlalu; Que Sera Sera Yo....” Sembari menepuk punggung Zen lalu kedua jarinya yakni telunjuk dan juga ibu jari membentuk lengkungan seperti Huruf “O” dan tak luput dengan Eksperesinya mengikuti gayanya seperti itu.
Tak berlangsung lama terlihat perempatan Lorong yang sama seperti sebelumnya, empat jalur berbeda, jalur yang menghubungkan satu sama lain. Kalian pasti bertanya di mana ketiga teman lainya yaitu Leonhart, Near dan juga peter—Mereka lebih dulu meninggalkan kedua orang itu, walau Hendrick Menghentikan mereka bertiga tapi Peter mengucapkan hal yang membuat Hendrick menyerah untuk berdebat, “Siapa yang bilang jika perempuan itu menyusahkan, bukankah kata-kata tersebut yang membuat kita semua seperti ini.”
Yah, ini semua tak akan terjadi jika kata-kata sebelumnya yang di ucapkan Hendirck tak ia keluarkan, hal yang membuat mereka susah mendapatkan Sumber-sumber yang lebih rinci untuk tugas kali ini, mungkin Sumber-sumber yang ada sudah di manipulasi Keberadaannya oleh para perempuan untuk mengerjai mereka sendiri dan itu sudah pasti. Tapi ini semua kan tak hanya untuk di sematkan pada Hendrick seorang, tapi itu semua, nasib berkata lain. Huh.. benar-benar melelahkan, namun demikian hal yang membuat Hendrick terharu di buat-buat adalah ketika Zen yang menemaninya ketika mencari semua itu, sungguh bagaikan
“....Aku mau pergi tidur dulu, lihatlah Asramku sudah dekat, jadi sampai jumpa saudaraku, sampai bertemu besok” Menunjuk lalu melambaikan tangannya.
“Sampai jumpa juga” balas Zen.
Berjalan di lorong-lorong yang sunyi, tak di pungkiri hanya Hening yang memenuhi seluruh Indra pendengaran, rasa pengap yang di rasakan Indra peraba seakan di Hybrid.
”Tak kusangkan, jika buku itu ada seperti yang aku lihat”
“Compement yah....” tersenyum di balik keheningan ruangan.
“Benar-benar tak terduga...” Ujarnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa dong di kasi like, tip maupun votenya🙏🙏🙏