My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 49. Spirit Cave



Keanehan terjadi apa yang di alami Zen, tapi sebelum ia berpikir secara cermat, tak di pungkiri jika ekspetasi yang ia pikirkan di luar pemikarannya. Pertama sih ia beranggapan jika ada beberapa protokol atau Panduan-panduan yang membuat ia sedikit keluar obsesi penasaran ini, namun lagi-lagi di luar pemikarannya.


“Apa-apaan sih,” batinya; Alisnya mengernyit.


“Istruktur Hagrid, kamu mau membawaku kemana,” tanya Zen sedikit menatap intens sosok di pinggir nya ini.


“Diam dan ikutilah!!” tegasnya.


Zen saat ini sedikit menyesali atas tindakan yang ia lakukan, walau tadi sedikit berpikir secara kritis menimbang-nimbang kemungkinan, tapi sikap ceroboh benar-benar melekat lagi, akibat rasa penasarannya ini. Tapi, hal dasar tak memungkinkan terjadi, itu lah yang ia pikirkan.


Di iris Zen sendiri terlihat sebuah dinding aneh namun pengap tapi banyak sekali hal berbeda yang ia tangkap yang di lihat. Fluktuasi [Mana] terbilang sangat besar berjalan maupun hidup beriringan secara natural di sela-sela yang ada. Walau [Mana] adalah energi alam tersebar di seluruh tanah Etherna–namun kerapatan jumlah [Mana] sendiri hanya sebatas seper empat dari total jumlah yang ada. Dan itu pun bisa di rasakan akan hal ganjil dan perbedaan signifikan dari lingkungan yang ada–contoh nyatanya sekarang ini.


Tapi berbeda hal lain dengan Hutan di diami bangsa Elf, yakni Alfheimr; Salah satu Hutan besar dari tujuh hutan di seluruh Etherna Land—tentu saja teritori tersebut tak sebesar dengan hutan Tarkas di miliki oleh Werebeast Kingdom–sebelah selatan. Namun hal yang paling mencolok dari Hutan Alfheimr adalah terdapat pohon yang di sebut sebagai Eksistensi penguasa alam atau pohon kehidupan–Yggrasial; Yang selalu di jaga oleh bangsa suci yakni, ras peri dan orang-orang terpilih bangsa Elf–telah menjalani tiga tantangan Gaia. Pohon yang sangat mencolok terlihat menjulang tinggi, bisa di rasakan secara jelas energi alam tersebar–menyebar di hutan bangsa elf itu.


“Sungguh menakjubkan...”


Kembali pada saat ini; Zen masih melongo tak percaya, kebingungan membuat otaknya tanpa sadar offline atas kejadian tak pernah ia lihat di hidupnya. Demikian pun begitu ketika ia menyadari sihir, sebagai hal yang abnormal bersifat abstrak. Dengan pemikiran rasional yang ia miliki membuat ia meyakini agar tak percaya secara pasti, namun hal tersebut bukan menjadi masalah yang di pikiran atau harus di atasi Zen kejadian berlalu itu.


“Ini adalah salah satu fasilitas yang di miliki akademi,” ucap Instruktur Hagrid.


Sekali lagi, pemikiran Zen tak sinkron secara semestinya, ucapan-ucapan yang ia dengar dari begitu cukup mengejutkan. Walau hal tersebut seakan bergulat di pikirannya, tak seperti tampang datar di luar nya sendiri.


Pertanyaan! di benak masing-masing. Kenapa Zen ingin mengikuti pria yang tak dapat Zen menebak secara semestinya, walau memakai Zenos dalam sistem Analisisnya. Hal membuat ia sedikit terkejut, tapi iris matanya sekiranya cukup menebak sosok Hagrid sebenarnya.


“Kenapa kamu membawa ku kesini, aku mau kembali!” ucap Zen, dengan nada seolah-olah titah yang harus di patuhi.


“Maaf saja, jika kamu beranggapan seperti itu, namun hal yang kamu anggap adalah salah besar” katanya membuat Zen tambah bingung.


“Instruktur Etnest menunggumu!!!” tambahnya.


Terlihat di ujung sana, seorang pria paruh baya tersenyum di buat-buat. Senyumnya sendiri sedikit aneh untuk di artikan, tapi...apakah senyum sebenarnya dari pria tua itu seperti ini? Instruktur Etnest menatap penuh makna kedatangan Zen, entah bagaimana mengartikan hal tersebut, tapi Zen menganggap jika itu adalah tatapan sangat aneh untuk di lihat.


“Apa yang membuat kepala akademi memanggil ku kesini,” tanya Zen.


“Loh...Kamu lupa yah,” jawabnya dengan nada tak percaya.


“Lupa??” guman pelan Zen sembari mengangkat satu alisnya.


“Baiklah, aku tidak tahu kalo kamu sampai bingung seperti itu Zen, namun aku memanggil kesini...ada sesuatu penting yang harus di jelaskan.”


“Apakah kamu masih lupa, akan kesepakatan kita.”


“Sudahlah kesepakatan memang, tak dapat menjerat kamu Zen,” ucapnya dengan nada acuh di buat-buat sehingga membuat Zen tambah bingung.


“Karna kamu adalah aset yang tak harus di ketahui oleh banyak orang, maka untuk menutupi sebagian mana khusus kamu, kamu harus menggunakan sihir Summoning Untuk mengontrol mana yang kamu miliki atau pun mentranparan hawa sendiri agar tak mencolok ketika di lihat.”


Wajah Zen mengerut, walau ia mengerti secara jelas apa makna di sampaikan Instruktur Etnest, tapi masih belum tentu percaya sepenuhnya atas hal-hal aneh menurutnya.


[Menjawab; Hal ini tak patut anda curigai, saya sama sekali tak mendeteksi ada kelakuan di baliknya, kemungkinan 87% untuk presentase—tidak terjadinya atas tindakan-tindakan di luar pemikiran].


“87%.... Presentase kemungkinannya lumayan tinggi” batin Zen.


“Apakah semua ini dapat di percaya Zenos,” tanya Zen.


[Ya, saya yakin].


“Apakah hanya Noir saja, tak dapat menutupi hawa keberadaan yang mencolok dari diriku ini.”


“Ya, tapi hanya sebagian, walau pada dasarnya kamu dapat meminum berbagai ramuan atau menggunakan Artefak-artefak sihir lainya, tapi itu sangat tidak efektif maupun efesien—tidak sama halnya menggunakan Sihir Summoning.”


Hal dasar tak di ketahui banyak orang di tanah Etherna land adalah; Fungsi sebenarnya dari Tipikal Magic Summoning ini— menyamakan energi mana seperti pengguna agar sama dengan mana pengguna lain—tentu saja ini di sebabkan adanya hewan Summoning mereka sendiri. Kendati demikian, hal tersebut harus di ingat–hewan bagaimana kah atau setingkat seperti apa agar dapat secara pasti melakukan fungsi sebenarnya tersebut. Tinggi maupun rendahnya hewan Summoning Tak terlewat akan halnya keberuntungan atau bakat terpendam, dua hal cukup sulit di dapatkan banyak orang bahkan sangat sulit.


“Tapi sebelum itu, bisakah aku bertanya, tempat apakah ini?”


“Spirit Cave, ruangan paling bawah di miliki akademi Phyterus” jawab Instruktur Hagrid.


“Cave? Goa bukan, nama yang aneh” batinya.


“Tunggu, tunggu dulu, bukanya ruangan paling bawah di miliki akademi itu The Salivon Of Arena?” tanya Zen.


“Tentu saja bukan,” jawab Instruktur Etnest.


“Dan lagi, jika kamu beranggapan the Salivon Of Arena adalah tempat yang paling bawah di miliki akademi itu salah besar. Kalau di urutkan sih, The Salivon Of Arena berada pada tingkatan ketiga di atas ruang aula pertemuan dari struktur bangunan paling bawah,” ucapnya.


Tentu saja Zen cukup terkejut dengan informasi yang ia dapat, selama banyak orang berasumsi dan di yakini jika The Salivon Of Arena adalah tempat paling bawah di miliki akademi Phyterus. Hal tersebut terpicu akan pemikiran sempit tak meluas dan itu pun terjadi pada Zen.


“Baikalah Zen, kita lihat bagaimana Sihir Summoning Kedua kamu.”


“Apa! Aku?” Sembari menunjuk dirinya bingung.


“Ya, kamu, apakah belum mengerti juga. Kan sudah di jelaskan jika naga kamu sendiri hanya bisa menyamarkan 50% total yang ada.”


“Jadi, untuk menutupi hal itu, pergilah ke arah sana” Menunjuk kristal besar berkilau, menjadi sentral dari ruangan sebutan Spirit Cave ini.


“Baiklah....” ucapnya pasrah.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Note;


Hutan Alfheimr, salah satu hutan terbesar ketiga setelah hutan Abby's di diami bangsa Demon. Hutan dengan Jumlah mana terbesar dengan total 20% dari mana yang ada—jangan berpikir jika anggapan nilai seperempat itu tak sebesar yang di kira, bahkan mana sebesar 20% persen ukuran hutan Alfheimr bisa menghancurkan seperlimanya wilayah ras manusia.


7 Hutan di benua Etherna World :


- Hutan Tarkas (Wilayah Werebeast)


- Hutan Abby's (Wilayah Demon)


- Hutan Alfheimr (Wilayah Elf)


- Hutan Anddora (Di diami Moster)


- Hutan Nordes (Bangsa Dragon)


- Hutan Nours (Bangsa Manusia)


- Hutan Farzen (Kaum Witch)