
Malam pun tiba, dan acara resepsi pernikahan Doni dan Diva sebentar lagi akan dimulai. Tak hanya dari kalangan pengusaha,dokter dan kerabat terdekat tapi juga beberapa pejabat dan petinggi negara hadir dalam acara salah satu anak pengusaha terkaya di negeri ini berlangsung
Dua jam berlalu, dan kini acara sudah memasuki segment terakhir. Para tamu undangan rela mengantri panjang hanya untuk memberikan selamat untung pasangan pengantin yang sangat serasi bahi mereka. Yang wanita sangat cantik begitu juga dengan yang pria sangat tampan dan siapapun kamu hawa yang melihatnya akan di buat terpesona oleh ketampanan Doni.
Acara panjang itu kini telah usai. Hanya tinggal keluarga dari Doni dan Diva serta sahabat sahabat kedua orang tuanya.
Untuk pertama kalinya, setelah pertengkarannya dengan Andini, Cindy menampakan batang hidungnya lalu memberikan selamat pada Doni dan Diva. Andini masih memperlihatkan wajah kesalnya begitu juga Aldo.
Cindy mulai melangkah, memberanikan diri untuk meminta maaf entah untuk yang ke berapa.
"Dini," lirih Cindy.
Andini hanya sedikit melengkungkan bibirnya, namun tiba tiba diluar dugaan ia langsung memeluk Cindy begitu erat.
"Cindy," isak Andini.
"Dini aku minta maaf atas kesalahanku di masa lalu. Maafin aku Andini."
Andini mengangguk. Ia sudah memutuskan mengubur segala masa kelamnya selama ini. Anez dan Dita yang menyaksikan pertunjukan haru kedua sahabatnya ikut berpelukan disana.
"Arghh ikut pelukan dong," ucap mereka kompak.
Kesedihan itu sudah berlalu. Semua sudah bisa tertawa lepas, hanya tinggal Aldo yang masih merasa ada hal yang mengganjal di dadanya. Kejadiannya bersama Disa masih ia rahasiakan dari istrinya. Apa dia sanggup untuk kehilangan Andini lagi, jika sampai Andini tahu?
Deva berjalan mendekat, menepuk pundak Aldo pelan. "Jangan ambil keputusan bodoh besan. Jangan beritahu Andini. Karna aku tahu dia akan hancur jika mendengar pengakuanmu. Anggap semua gak pernah terjadi dan simpan rahasia ini sampai mat," pesan Deva.
"Terima kasih besan Deva," jawab Aldo singkat dan keduanya lalu sama sama tertawa bersama.
Diva dan Doni tak mau kalah ramai dari kedua orang tua mereka dan para sahabatnya.
Mickael dan Istrinya. Begitu juga Tanisha dan Justin serta Rangga dan pacar barunya datang dan menciptakan suasan canda tawa yang tak kalah riuh dari para lansia di depanya.
Tak terasa waktu sudah semakin malam. Semua sudah berpamitan pulang. Kedua orang tua mereka juga bergegas untuk ke kamar mereka masing masing.
Doni sengaja menggendong tubuh Diva dan membaringkannya di ranjang panas mereka. Doni mulai membantu Diva melepas aksesoris di kepalanya.
Setelah selesai membantu istrinya, Doni mengambil handuk dan bersiap untuk mandi. Sambil menunggu giliran jatah mandi, Diva membersihkan sisa sisa make up yang menempel di wajahnya.
Ceklek..
Terdengar suara pintu terbuka. Dan Doni hanya keliar menggunakan handuk kecil yang melilit di pinggangnya.
Diva menutup mulutnya. Bukan hanya tampan, tapi tubuh Doni begitu ideal bagi seorang pria.
Melihat tingkah istrinya, Doni tersenyum geli. Eksprrsi wajah Diva saat melihat tubuhnya sangat lucu bagi Doni.
"Badan kakak jangan di liatin terus, nanti kamu hak hanya akan melihat tapi juga memegang dan merasakan kehangatannya," bisik Doni sambil memberika sedikit tiupan kecil di belakang teling Diva.
Jantung Diva berdesir kencang. Wajahnya juga langsung memerah. Dengan cepat ia mengambil handuknya lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Satu jam kemudian, Diva keluar dari kamar mandi.
"Kamu mandi apa tidur sih yank?" tanya Doni kesal. Hampir saja ia ketiduran dan melewatkan malam pertama mereka gara gara Diva mandi terlalu lama.
"Ya maaf kak. Badan aku lengket semua jadi risih aja kalau mandinya gak bersih."
Doni lalu berjalan menghampiri istrinya. Tak butuh ijin ataupun persetujuan, Doni langsung menggendong tubuh Diva dan dibaringkan di atas ranjang panas mereka.
Rambut Diva yang masih basah, malah semakin membangkitkan nafsu birahinya.
"Gombal kak."
"Beneran. Apa kamu sudah siap melakukannya?" Kali ini Doni meminta persetujuan dari Diva.
Diva mengangguk. Karna sudah setuju, Doni mulai melancarkan aksinya. Ia mencium kening Diva, turun ke mata, hidung dan akhirnya mendarat di bibir merahnya.
Ciuman mereka mulai panas. Sesekali Doni melepaskan tautan bibir mereka dan memberikan ruang untuk Diva bernafas. Doni mulai melepas kaos putihnya, dan dada bidang itu kini sudah menindihi tubuh Diva.
Tangan Diva mencoba meraba, apa yang kini sudah menjadi miliknya juga. Doni kembali memberikan ciumannya. Tapi ciuman itu kini sudah beralih ke leher jenjang putih dan mulus milik Diva. Tak lupa Doni meninggalkan beberapa tanda merah disekitar sana, supaya semua orang tahu jika Diva sudah menjadi miliknya.
Tangan Doni mulai melepas tali piyama yang menempel di tubuh Diva. Dua barang kenyal dan berisi itu kini nampak jelas di depan matanya. Hanya saja barang itu masih tertutup. Doni bergegas melepas pengaitnya lalu tangannya mulai meremas kedua polisi tidur di dada Diva.
"Arghhh.. Kak," suara desahan akhirnya keluar dari mulut Diva.
Suara itu semakin terdengar lebih keras, saat Doni mulai memainkan lidahnya di puncak polisi tidur itu.
"Teruslah bersuara yank. Aku sangat ingin mendengar suara desahan dari bibir manismu itu," ucap Doni yang mulai kembali melancarkan aksinya.
Tubuh Doni dan Diva sekarang sudah polos tanpa tertutup sehelai kain apapun. Sayangnya Doni masih ingin bermain main. Ia menelentangkan kedua kaki Diva dan mulai menciumi dari jari naik ke betis,paha dan berakhir di bagian intimnya.
Lidah Doni terus bermain disana. Ia menyesap setiap cairan yang terus menyembur disana. Melihat istrinya hampir klimaks, Doni segera menindih kembali tubuh Diva.
"Kamu sudah siap sayang?" tanya Doni.
Diva menangguk sambil memejamkan kedua matanya. "Kak,aku mohon jangan kecewa ya," lirih Diva.
"Sstt," jari telunjuk Doni menempel dibibir istrinya.
"Berapa kali aku bilang. Berhenti membahas itu. Aku masukkan sekarang ya sayang."
Diva kembali mengangguk. Dan kini perlahan pedang Doni mulai masuk.
Jleb...
Diva menggigit bibir bawahnya. Sungguh sakit yang sangat luar biasa ia rasakan di bagian intimnya. Doni yang mengira Diva sudah tidak perawan, langsung menancapkan dengan satu hentakan saja. Tapi kini, ia semakin bingung. Ternyata...
"Diva," lirih Doni yang langsung mencabut pedangnya dan melihat ada darah segar mengalir diantara kedua kaki istrinya.
"Iya kak. Aku bohong. Aku belum pernah melakukannya. Dan ini yang pertama bagiku. Aku hanya ingin tahu seberapa besar rasa cinta kak Doni sama aku. Sekali lagi maafin aku ya kak," jawab Diva sambil menggigit bibir bawahnya lagi karna barang Doni yang begitu besar langsung masuk tanpa aba aba dan merobek miliknya.
Nampak senyum bahagia di wajah Doni. Doni kenbali mencium kening Diva.
"Terima kasih istriku. Kamu memang wanita yang bisa menjaga kehormatan kamu. Terima kasih sudah menjaganya untuk aku. Sedangkan aku..." ucapan Doni langsung di putus oleh jari Diva yang menempel di bibirnya.
"Husst..Aku gak mau dengar kata kata itu keluar lagi dari mulut kakak. Semua orang punya masa lalu dan aku bisa menerima masa lalu Kak Doni. Karna kak Doni juga akan menerima aku seandainya aku sudah todak perawan bukan?" Diva menyeka air yang hampir menetes di ekor mata Doni.
"Mau lanjutin lagi gak? Kalau engga..."
"Mau dong sayang. Pokoknya malam ini aku akan banyak menanam benih di rahim kamu. Agar Doni junior hadir di tengah tengah kita," ucap Doni.
Malam itu Doni dan Diva terus berolahraga di ranjang sampai waktu hampir subuh. Dan di semburan terakhirnya, Doni terjatuh di pelukan Diva.
"Terima kasih Tuhan. Kau jodohkan aku dengan orang yang sangat aku cintai. Dan masa lalu kedua orang tua ku tidak harus terulang padaku. Disini aku percaya pernikahan tanpa didasari rasa cinta itu hanya akan menyiksa batin kita sendiri. Ucapan orang tentang cinta yang akan hadir seiring waktu hanya sekedar kata penghibur. Karna sesungguhnya cinta itulah kunci kebahagiaan kita dan sepantasnya kita mengejar kebahagian kita bukan malah merelakannya," batin Diva sambil memejamkan kedua matanya dan ikut terlelap bersama kunci kebahagiannya.
...End...