My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Wanita Pendendam



Dua hari sudah berlalu, dan hari ini adalah hari yang sudah dinantikan oleh Doni. Perjuangannya selama 4 tahun untuk membuktikan rasa cintanya pada Diva telah usai, dan sebentar lagi ia akan bertemu wanita yang sudah lama ia rindukan. Rencananya sepulang kerja, ia akan menemui Diva dirumahnya.


Siang hari, Diva datang ke kantor Doni. Beberapa karyawan lama menyambutnya dengan pelukan dan pujian pujian tentang perubahan Diva sekarang.


Diva remaja kini berubah menjadi sesosok gadis dewasa. Penasaran dengan kerumunan para karyawan, Mickael menghampiri mereka.


"Diva," sapa Mickael dengan penuh rasa kagum melihat penampilan Diva yang berubah 180° dari empat tahun yang lalu.


"Hai kak, masih inget aja sama gue."


"Ya masihlah. Gila, cantik banget loe sekarang. Gak sia sia deh penantian Doni nungguin loe selama ini," ucap Mickael.


Diva tak menjawab, ia hanya tersenyum getir membalas ucapan Mickael. Masih teringat jelas dalam pikirannya, tentang kebohongan Mickael dan Doni padanya dulu.


"Loe nyari Doni ya Div?" tanya Mickael.


"Iya, dimana dia kak?"


"Dia masih ada meeting. Paling sebentar lagi balik. Mending loe nunggu diruangannya. Pasti dia seneng banget lihat loe sekarang."


"Kayaknya gak usah deh kak. Gue kesini cuma mau kasih ini," ucap Diva sambil menyerahkan 2 kartu undangan pertunangannya. Satu untuk Doni dan satu lagi untuk Mickael.


Mickael segera mengambil benda yang diberikan Diva. Dan ia sungguh tak percaya. "Undangan pertunangan loe besok? Maksudnya apa ini Div? Loe gak lagi bercanda kan?" tanya Mickael menyelidik.


"Enggak kak. Yaudah gue pamit ya kak, kasihan calon tunangan gue kalau nungguin gue kelamaan di dalam mobil. Salam ya kak buat Kak Doni. Dan gue tunggu kedatangan kalian berdua besok malam ya," ujar Diva.


Masih tak percaya di campur rasa kesal, Mickael menghadang Diva.


"Div, maksud loe apa? Loe nyuruh Doni buat nungguin loe sampai lulus kuliah tanpa ada komunikasi. Loe juga minta bukti kesetiaan Doni, dan dia udah buktikan semuanya. Dia gak pernah berhubungan dengan wanita manapun, karna dia pengen buktiin ke elo kalau cuma loe wanita satu satunya yang dia cinta. Kenapa loe jadi jahat gini sih Div. Gue gak nyangka, selama ini gue salah menilai elo. Asal loe tahu, Tanisha juga udah menikah. Dan Doni juta udah lama gak berhubungan lagi sama Tanisha dan Justin. Apa loe gak kasihan sama Doni, Div?" tanya Mickael dengan sorot mata penuh amarah.


Saat Diva dan Mickael saling beradu tetap, Rangka datang membuyarkan semuanya.


"Honey, katanya cuma sebentar. Kok lama sih?" ucap Rangga.


"Eh maaf honey, maklum lagu reunian sama bekas teman lama. Udah yuk kita pergi, kan masih banyak yang perlu kita persiapkan buat acara besok," ucap Diva sembari melirik mata Mickael.


"Iya honey."


"Oh iya hon, kenalin ini Kak Mickael sahabat Kak Doni, mantan pacarku. Dan Kak Mickael, kenalin dia Tangga calon suamiku."


Rangga mengulurkan tangannya sambil tersenyum. "Rangga, calon suami Diva," ujarnya.


"Mickael. Semoga besok acara kalian berjalan lancar ya. Dan nanti undangan ini akan aku sampaikan sama Doni, Div. Kamu tenang aja, aku pasti datang besok."


"Oke kak, aku tunggu. Aku permisi dulu ya kak. Ayo honey kita pergi."


"Iya hon. Kami permisi ya," pamit Rangga.


"Silahkan," jawab Mickael sambil memaksakan senyumannya di depan Diva dan Rangga.


Setelah kepergian Diva dan Rangga, Mickael kembali ke ruang kerjanya. Apa yang harus ia katakan pada Doni. Pasti hatinya akan hancur melihat undangan ini.


Mickael mengusap wajahnya kasar. Sungguh, Diva yang ia kenal sudah berubah. Kemarahannya pada Doni selama empat tahun ini ternyata masih ada. Diva pasti sengaja menyuruh Doni menunggunya lalu meninggalkan Doni begitu saja.


"Don, gue harap loe ikhlas terima semua ini ya. Gue percaya loe akan dapat wanita yang jauh lebih baik buat Diva. Gue kira, loe beruntung bisa dapat cintanya Diva. Tapi sekarang gue sadar, kalau pikiran gue salah. Loe terlalu baik buat wanita pendendam seperti Diva," batin Mickael sambil meremas undangan pertunangan Diva di tangannya.