
15 menit kemudian...
Doni mulai gelisah. Gimana gak gelisah, Diva bilang sudah sampai di depan kantor tapi sampai sekarang dia belum datang juga.
Baru saja Doni mau menyusul Diva, ternyata Diva sudah datang terlebih dulu.
"Sayang, katanya udah di depan kok baru sampai?" tanya Doni cemas.
"Iya maaf ya kak, jadi pergi sekarang?"
"Hmmm, ya jadilah. Kan udah janjian mau ambil cincinnya sekarang," tambah Doni.
"Tapi bukannya Kak Doni ada meeting ya sehabis jam makan siang. Sudahlah kak, biar Diva aja ya yang ambil," ucap Diva. Sebenarnya dia juga malas untuk pergi, tapi ia masih berpura-pura sebagai pacar yang bodoh di hadapan Doni.
"Enggak, aku gak bakal biarin kamu jalan sendirian. Nanti kalau ada yang mengambil kamu dari aku gimana?" ujar Doni.
"Mengambilku kak? Bukannya kamu yang sudah diambil Tanisha dari aku. Kamu bicara seolah olah aku ini mudah tergoda kak, padahal yang mudah tergoda itu kamu. Cukup kak, berhenti kamu bersikap seperti ini. Aku sudah tahu semuanya," batin Diva.
Diva masih saja diam dalam pikiran kosongnya. Andai saja Doni tidak melakukan kesalahan, dia pasti bahagia melihat kecemburuan Doni dan sikap posesifnya sekarang yang sedari dulu tidak pernah ia tunjukkan.
Tapi semua sudah berbalik. Diva sudah lelah jika harus meneruskan hubungan ini. Apalagi perkataan Tanisha masih terngiang ngiang di benaknya. Bisa jadi kan jika Tanisha hamil anak Doni?
Diva masih saja sibuk dengan lamunan kosongnya, hingga ia tersadar saat Doni menepuk bahunya lalu membuat air mata yang susah payah ia tahan akhirnya jatuh juga.
Tes..
"Div, kamu kenapa nangis? Apa tadi pas kamu belanja, ada yang mengganggumu dan menyakitimu? Bilang sama Kak Doni,ada apa sebenarnya?" Doni mendesak, merasa ada yang sedang di sembunyikan Diva. Karna tak biasanya Diva menjadi pendiam seperti ini.
"Enggak kok kak, siapa yang nangis. Ya mungkin karna aku lagi datang bulan aja jadi perasaanku agak sensitif. Kak Doni gak usah mikir yang macem macem ya, aku gak papa kok," jelas Diva.
Sayang, Doni bukan orang yang mudah percaya. Ia masih menatap Diva tajam. Dan tatapan Doni semakin membuat Diva sulit untuk menghentikan tangisannya.
Tak kuat lagi, Diva berusaha berlari. Namun langkahnya sudah dapat di baca Doni.
"Div, bilang sama aku kamu kenapa? Sebentar lagi kita menikah. Dan aku paling gak suka kamu main rahasia rahasian seperti ini," Doni menggertak. Dia tak sadar jika semua ini karna ulahnya.
Ingin rasanya Diva mencaci lelaki di depannya sekarang. Lelaki yang selama ini ia puja puja. Lelaki yang selama ini ia impikan untuk menjadi pendamping hidupnya. Lelaki yang selalu membuatnya terbang melayang, namun juga lelaki yang menghancurkan hatinya sekarang.
"Kak, aku beneran gak papa. Gak ada yang ganggu aku juga tadi. Kalau kamu pengen tahu kenapa aku nangis, karna aku kesel aja sama kamu kak. Kan aku udah ingetin kamu buat meeting, kenapa kamu malah egois buat nemenin aku pergi ambil cincinnya. Sekali kali bisa gak Kak Doni ikuti apa mau aku. Jangan cuma aku yang terus ikuti mau kamu kak," Diva membuat Doni merasa bingung dengan sikapnya sekarang.
"Hei," Doni memegang kedua pundak Diva, memandang wajahnya dan menaikkan sedikit dagunya.
"Bukannya aku gak mau ikutin mau kamu yank, cuma apa salahnya kita pergi bersama. Apa aku salah kalau aku khawatir sama pacar dan calon istriku yang cantik ini. Tapi jika kamu tetap ingin pergi sendiri, yaudah gak papa. Tapi berangkatnya aku anter ya," Doni akhirnya menyetujui permintaan Diva.
"Gak usah kak, waktunya nanti gak cukup. Tau sendiri kan kalau siang gini jalannya pasti macet," Diva masih berusaha mencari alasan untuk tidak pergi dengan Doni.
"Hmmm, ya udah. Aku gak maksa tapi bener kamu gak papa berangkat sendiri?"
"Gak papa kak, udah sana Kak Doni masuk. Bentar lagi meeting mau mulai kan?"
"Gak usah kak, naik taksi online aja," Diva terus menolak semua pemberian Doni. Hatinya benar benar sudah sakit,bahkan hancur berkeping keping.
"Okelah kalau itu mau kamu yank. Aku masuk dulu ya. Jangan mampir kemana mana. Langsung balik ke kantor sehabis ambil cincinnya."
"Iya iya kak. Yaudah buruan masuk sana," Diva mendorong tubuh Doni untuk masuk kembali ke kantor.
"Iya sayang," jawab Doni sambil mengacak lembut rambut Diva.
Sungguh Doni pantas mendapat julukan raja drama. Semalam dia baru saja tidur dengan Tanisha, sekarang ia bersikap manis dan romantis dengan Diva. Tapi sikap yang ia tunjukkan justru semakin membuat Diva membenci dirinya.
"Kak, gue benci elo. Gue benci kak. Loe buat gue terbang, tapi pas diatas loe patahin sayap gue gitu aja. Sampai gue jatuh hingga merasakan sakit itu. Selama ini gue bodoh, gue percaya sama cinta palsu loe kak," batin Diva sambil melihat punggung Doni yang semakin jauh meninggalkan dirinya.
Bukannya segera memesan taksi, Diva juga malah ikut masuk ke kantor kembali setelah memastikan Doni sudah pergi ke ruang meeting. Dan dengan langkah cepat, ia pergi ke ruang HRD.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk," ujar Pak Aditya, kepala HRD di perusahaan Doni.
"Permisi pak," ujar Diva.
"Eh mbak Diva. Masuk masuk mbak," Pak Aditya menyambut Diva secara spesial. Ya itu karna gosip hubungan Diva dan Doni sudah menyebar ke kantor.
Setelah duduk, Diva mulai menyampaikan keinginannya untuk mengundurkan diri. Sempat Pak Aditya menolak, takut jika Doni akan marah. Tapi Diva terus meyakinkan Pak Aditya jika ia sudah mendapat persetujuan dari Doni sebelumnya, meski itu hanya sebuah kebohongan.
"Hmmm, baiklah mbak. Kalau Pak Doni sudah tahu, saya pasti merealisasikan keinginan mbak Diva. Semoga kuliah mbak Diva lancar ya. Dan saya doakan semoga segera menikah dengan Pak Doni," ujar Pak Aditya yang sedikit mencari muka di depan Diva.
"Terima kasih pak. Kalau begitu saya permisi pak, dan untuk surat pengunduran diri sudah ada di tangan Pak Doni ya pak."
"Iya mbak," jawab Pak Aditya.
Setelah keluar dari ruangan HRD, Diva baru pergi ke toko mas untuk mengambil pesanan cincin pernikahannya. Hingga akhirnya sebuah kotak berwarna abu abu, dengan dua cincin berkata satu terus saja ia pandangi.
Rasanya dulu ia berharap, cincin dengan nama Doni akan melingkar di jari manis kanannya. Tapi semua berubah, ketika Diva mengetahui kenyataan jika Doni tak pernah mencintai dirinya. Bahkan Doni sudah melakukan hal yang sudah menodai hubungan mereka.
"Cincin ini, semua hanya mimpi. Satu langkah lagi aku akan menjadi istri sah Kak Doni, tapi buat apa kalau cuma itu hanya akan merubah status di KTP. Aku ini bukan mama yang rela menikah dengan laki laki yang mencintai wanita lain. Aku bukan mama yang panjang sabar, menanti papa untuk mencintai dirinya. Aku ini Diva, wanita rapuh dan bodoh," Batin Diva yang terus saja merutuki kebodohannya.
Sesampainya di kantor, Diva segera menyelesaikan semua pekerjaannya. Bahkan surat pengunduran diri juga sudah ia masukkan ke dalam amplop coklat beserta kotak cincin pernikahannya.
Diva masuk keruangan Doni yang sepi dan ia meletakkan semua berkas berkas pekerjaan yang sudah ia selesaikan sebelum ia keluar dari perusahaan itu.
Sebelum pergi, matanya beralih ke sebuah figur kecil dimana disana terdapat foto dirinya dan Doni. "Makasih ya kak buat kebahagiaan yang singkat ini, maafin aku jika aku sudah tidak bisa melanjutkan hubungan kita. Dan aku akan pergi jauh untuk melupakan kamu kak. Semoga kamu bahagia dengan wanita yang kamu cintai." ucap Diva sembari menutup figura itu dan berjalan keluar dari ruangan Doni.
Tak mau membuat Doni khawatir dan mencarinya nanti, Diva mengirim pesan pada Doni sebelum pulang.
"Kak, aku ijin pulang ya. Migrenku kambuh. Sepulang kerja Kak Doni gak usah kerumahku, soalnya aku mau istirahat. Gak papa ya kak? Kak Doni jangan lupa makan, jaga kesehatan kakak. Diva pulang ya kak," tulis Diva dalam pesannya.