My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Belajar Ikhlas



Sesampainya di kantor, Doni segera mengambil ponselnya. Beberapa kali ia mencoba menelpon Diva, tapi nomor Diva masih saja belum aktif.


"Diva dari semalam kenapa aneh ya? Bahkan seakan menghindar. Kalau pun dia sakit, biasanya kan seneng banget kalau aku temenin dia dirumah. Tapi kemarin enggak, aku yakin banget Diva sedikit jaga jarak sama aku. Dan sekarang handphonenya juga mati. Apa sebaiknya aku ke rumah dia aja ya sekarang," batin Doni.


Doni mulai berdiri dari kursi. Ia segera menyambar jas yang ia taruh di kursi kerjanya. Namun tiba tiba Mickael masuk ke ruang kerjanya dengan langkah tergesa gesa.


"Don.. Don..," ujar Mickael dengan nafas sedikit tersengal-sengal.


"Apa sih Mic, kayak habis lihat setan aja. Berapa kali gue harus bilang, kalau mau masuk itu...," belum selesai bicara, perkataan Doni langsung di potong oleh Mickael.


"Diva resign ya Don?" tanya Mickael sambil mengatur kembali nafasnya.


Doni terdiam sejenak, namun ia kembali melengkungkan bibirnya.


"Haha, loe denger kabar burung ini dari mana. Siapa bilang Diva resign. Dia itu lagi sakit di rumah, makanya dia gak masuk hari ini. Semalam dia pamit sama gue, Mic. Loe kalau bicara jangan ngawur. Mending loe cuci muka sana, biar loe itu bangun dari mimpi loe,"×ujar Doni.


"Tapi ini serius Don. Bahkan yang bilang itu Pak Aditya, kepala HRD. Tadi gue satu lift sama dia. Dan dia bilang kemarin siang Diva mengundurkan diri dari perusahaan. Bahkan Diva bilang dia udah dapat persetujuan dari elo. Itu bener Don?"


Wajah Doni seketika menegang. Menyangkut pautkan dengan setiap perubahan sikap Diva pada dirinya.


"Enggak Mic, Diva gak pernah bilang ke gue. Kenapa dia resign tanpa ijin gue?"


"Ya mana gue tahu. Kata Pak Aditya, dia mau fokus kuliah karna gak bisa bagi waktu. Sama dia juga bilang katanya surat pengunduran dirinya ada di meja elo," ujar Mickael kembali.


"WHAT? gue gak pernah nerima surat apapun dari Diva. Sebentar sebentar," ucapan Doni terputus saat ekor matanya melirik ke ujung meja kerjanya diatas tumpukan map map.


Doni segera mengambil amplop itu. Saat ia buka matanya membulat membaca surat pengunduran diri dari Diva.


"Diva kenapa kamu resign dari perusahaan dan gak bilang dulu sama aku? Apa yang sebenarnya membuat kamu bersikap seperti ini," batin Doni sembari meremas kertas pengunduran diri Diva.


"Gimana Don? Beneran Diva resign dari perusahaan? Loe lagi ada masalah ya sama dia?" tanya Mickael.


Doni menggeleng, ia merasa hubungan dirinya Dengan Diva baik baik saja. Bahkan saat berangkat kerja bersama kemarin, mereka masih saja bergurau.


"Enggak ada Mic, gue sama Diva baik baik aja. Gue titip kantor ya, gue mau ke rumah Diva sebentar."


"Gak bisa Don, kita ada meeting dengan tuan Alexander. Dia sudah menyempatkan waktunya untuk bertemu dengan perusahaan kita. 15 menit lagi meeting di mulai."


"Kalau gitu gue bisa minta loe keluar sebentar. Gue mau telpon Diva dulu, mau tanya apa maksud semua ini," titah Doni.


"Iya, gue keluar dulu ya. Semoga aja loe bisa bujuk Diva buat kembali kerja lagi."


"Hmmm."


Selepas kepergian Mickael, Doni berusaha kembali menghubungi nomor Diva tapi sayangnya nomornya masih tidak aktif. Beberapa kali juga Doni menghubungi Disa dan Deva, tapi panggilannya tidak diangkat.


Perasaan gusar dan penuh tanya menyelimuti hati Doni saat ini. Ada apa sama Diva sebenarnya?


Saat perasaan galau menyelimuti hatinya, yiba tiba matanya kembali tertuju pada amplop berwarna putih dengan sebuah bingkisan diatasnya.


"Apa ini?" gumam Doni.


Dengan cepat ia membuka bingkisan tersebut, matanya membulat melihat cincin pernikahan dirinya dan Diva berada disana.


Satu lagi, amplop putih. Doni segera membuka amplop putih dan..


Jueedaaar..


Untuk kedua kalinya Doni di buat terkejut. Ternyata disana ada foto dirinya bersama Tanisha sedang tidur bersama. Di balik foto tersebut, terdapat tulisan Diva.


"Kak aku sudah tahu semuanya. Maaf ya kak, aku udah gak bisa melanjutkan rencana pernikahan kita. Dan cincin ini, simpan aja kak. Sebaiknya Kak Doni mulai sekarang kembali sama Kak Tanisha. Aku udah tahu kalau selama ini kakak begitu mencintai Kak Tanisha. Mungkin aku aja yang terlalu percaya diri, mengira mimpi kecil seorang Diva bisa bersanding dengan Kak Doni menjadi nyata. Tapi kembali lagi, itu hanya mimpi kak. Maaf juga kalau Diva pamit dengan cara seperti ini. Kasih waktu buat Diva sendiri ya kak. Kak Doni gak perlu merasa bersalah. Diva baik baik aja kok. Jadilah lelaki yang bertanggung jawab ya kak. Diva akan belajar mengikhlaskan Kak Doni bersama Kak Tanisha," tulis Diva.


Doni membuang semua barang yang ada di mejanya. Ia meremas remas foto saat ia tidur bersama Tanisha.


"Diva maafin Kak Doni Div. Kak Doni khilaf. Kak Doni gak mau kehilangan kamu Diva. Brengsek loe Sha, loe udah buat Diva meninggalkan gue. Sekarang juga gue harus ke rumah Diva. Gue harus jelasin semua sama Diva. Gue harus minta maaf sama Diva. Dan pernikahan gue sama Diva gak boleh batal. Ya gue harus kesana sekarang," batin Doni.


Secepatnya ia mengambil jas dan kunci mobilnya. Dengan langkah cepat, ia berlari meninggalkan ruang kerjanya menuju basemen kantornya.


"Don, don, loe mau kemana? Meeting lima menit lagi," teriak Mickael saat melihat Doni berlari melewati ruangannya.


Tak mau meeting bersama klien penting akan gagal, Mickael ikut berlari mengejar Doni.


"Don, loe mau kemana? Inget Don, bentar lagi meeting," teriak Mickael.


"Loe urus semua dulu. Gue ada urusan penting. Ini soal hidup dan mati gue. Gue percayain urusan perusahaan sama loe. Gue yakin loe bisa, gue mau kerumah Diva dulu."


"Tapi Don..."


Belum selesai bicara, Doni sudah masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kencang.


"Ada apa sih sebenarnya. Baru sekali ini aku melihat Doni sepanik tadi. Nanti coba aku tanya dia saat kembali ke kantor," batin Mickael.


Didalam mobil, Doni terus berusaha menghubungi nomor Diva. Namun semua sia sia, nomornya masih tidak aktif.


"Ayo Div, nyalain ponselnya. Aku mau bicara. Ini gak seperti yang kamu kira. Tanisha memang dulu sempat mengisi hatiku, tapi sekarang cuma kamu yang ada di hatiku sayang," Doni meracau sendiri di dalam mobil.


Beberapa menit kemudian, sampailah ia di kediaman keluarga Devano.


Ting Tong...


Doni menekan bel di rumah Diva. Secepatnya dia harus bisa meyakinkan Diva jika semuanya hal bersama Tanisha malam itu adalah sebuah kesalahan.


Ceklek..


"Bi, Diva ada?" tanya Doni pada pembantu di rumah Diva.


"Eh mas Doni. Mbak Diva gak ada mas," jawab Bi Ety.


"Jangan bohong bi, saya tahu Diva di dalam kan. Biarin saya masuk bi," ujar Doni. Tanpa permisi ia langsung masuk ke rumah Diva.


"Eh mas Doni kok gak percaya sih. Dari subuh tadi Mbak Diva pergi sama nyonya, tuan dan mbak Vida mas. Bawa beberapa koper besar juga," jawab bibi.


"APA??" teriak Doni.


"Mereka semua pergi kemana bi?" Doni berusaha mencari informasi dari bibi.


"Wah bibi gak tahu mas. Tapi bilangnya sih mau liburan gitu aja. Dan pas bibi tanya balik kapan kemungkinan 2 minggu lagi. Bilangnya gitu sih mas. Memang mbak Diva gak bilang sama mas Doni?"


"Enggak bi. Yaudah bi, aku balik dulu ya."


"Iya mas," jawab bibi.


Di dalam mobilnya, Doni memukul keras setir kemudinya. Ia masih saja mencoba menghubungi Diva, tadi tetap saja nomor itu masih tidak aktif.


"Vida, iya Vida. Pasti dia mau kasih tahu kemana mereka pergi," lirih Doni.


Doni lalu mengirim pesan pada Vida, namun hingga beberapa menit tak ada balasan pesan dari Vida padahal jelas jelas pesan itu sudah terbaca oleh Vida.


Tak mau menyerah begitu saja, Doni mencoba menelpon Vida tapi sayangnya nomor Vida sudah tidak aktif.


"Diva kemana kamu. Aku tahu aku salah, tapi jangan bersikap seperti ini. Jangan main pergi begini. Aku mau kamu dengerin dulu penjelasan aku. argghh......," Doni berteriak sembari menangis dan mengusap kasar wajahnya.