My Beloved, My Brother, My Husband

My Beloved, My Brother, My Husband
Balas dendam



Selesai mendengar cerita doni, senyuman papa aldo semakin lebar. Ia tak menyangka, seorang gadis kecil seperti diva mampu membuat doni berubah kembali. Papa aldo merangkul pundak doni, sambil memberikan beberapa nasehat untuk putranya itu.


"Don, diva itu wanita baik. Jangan pernah sakiti dia ya." pesan papa aldo.


"Iya pah, doni rasa keputusan doni untuk mencoba menjalani hubungan dengan diva itu keputusan yang tepat. Karna hanya lelaki bodoh yang menolak cinta wanita seperti diva." kata doni yang mendapat balasan tawa dari papanya.


"Hahahaha, sejak kapan doni anak papa ini menjadi doni yang pintar merayu."


"Sejak doni dekat lagi dengan papa. Bukankah dulu papa juga pandai merayu mama, hingga akhirnya mama jatuh cinta sama papa?" ucap doni yang berusaha membalas ucapan papa nya.


Papa aldo hanya tersenyum sembari mengingat kenangannya dulu bersama mama andini.


"Kamu sekarang pintar memutar balikan fakta ya. Tapi benar kata kamu doni, papa jadi ingat setiap mama kamu marah, atau kesal dengan papa, papa selalu membuat gombalan gombalan yang membuat mama kamu gak bisa marah sama papa."


"Andai mama masih disini, kita pasti jadi keluarga yang sangat bahagia ya pah."


"Iya doni. Walau sudah 18 tahun mama andini pergi meninggalkan kita. Semua kenangan dan ceritanya dengan papa gak akan pernah bisa papa lupakan. Karna apa? Karna selama hidup papa, tak ada satupun wanita yang baik, cantik, lembut dan tulus seperti mama kamu." kata papa aldo, dengan tangisannya yang dari tadi sudah ia tahan.


"Pah, besok doni mau ajak diva dan keluarganya ke Villa papa di puncak. Doni juga pengen papa, nenek, kakek, opa dan omah ikut. Gimana pah?"tanya doni namun papa hanya diam dan terlihat seperti memikirkan sesuatu.


Semenjak kematian mama andini, papa aldo sudah tidak pernah menginjakkan kakinya di villa itu. Bahkan saat acara keluarga besar, papa lebih memilih untuk tidak ikut karna kenangannya bersama mama andini sangatlah banyak disana.


"Pah, doni tahu papa trauma untuk kesana. Tapi doni yakin papa pasti bisa. Bukannya kalau kita kesana, papa bisa mengingat semua kenangan papa bersama mama?Doni aja bisa pagi sembuh dari rasa kehilangan ini, masak papa enggak?" tanya doni.


Hembusan nafas papa aldo akhirnya keluar, sambil memejamkan matanya papa aldo berusaha mengiyakan permintaan doni walau harus melawan kata hatinya sendiri.


"Iya doni, papa ikut. Karna selama ini kamu tidak pernah minta apapun sama papa. Makanya papa akan berusaha melawan rasa trauma papa demi kamu."


"Terima kasih pah." jawab doni sembari memeluk papanya.


"Iya sama sama doni. Oh iya sepertinya opa wawan dan oma bella gak bisa ikut kita. Karna mereka mau ke Paris untuk menemani aunty kamu, sebentar lagi dia akan melahirkan."


"Oh yaudah deh pah, terus nenek dan kakek bisa kan?" tanya doni.


"Mending besok pagi kamu tanya sendiri aja ya sama mereka."


"Oke pah."


"Ini sudah malam, papa kembali ke kamar papa dulu ya doni. Ada beberapa dokumen kantor yang belum papa check. Dan rasanya papa ingin segera pensiun dan jabatan papa akan segera papa serahkan sama kamu. "


" Iya pah." jawab doni.


Tak lama setelah pamit pada doni, papa aldo keluar dari kamar doni. Namun ia kembali menengok ke pintu kamar dini yang masih terbuka.


"Andini, kamu lihat aku dan doni akhirnya kami bisa bersatu kembali,tanpa ada kebencian di hati doni. Dia sudah bisa memaafkan aku andini, dan kamu tahu aku rasa doni sudah mulai mencintai diva. Dan sebentar lagi doni akan segera aku nikahkan dengan diva sebelum tanisha dan mama tirinya kembali ke Indonesia lalu mereka menjadikan doni alat untuk balas dendam mereka padaku, deva dan cindy." batin papa aldo sembari berjalan ke arah pintu doni lalu menutupnya.


Flashback on...


Papa aldo meminta beberapa orang menyelidiki perempuan bernama tanisha, wanita yang saat ini membuat doni benar benar jatuh cinta. Hingga merubah doni menjadi anak yang suka minum.


"Sudah pak. Dia teman satu kuliah putra bapak. Dan memang wanita yang dicintai putra bapak itu idola di Kampusnya. Dan dari info yang saya dapat, tanisha memiliki hubungan dengan justin, teman satu jurusannya."


"Tapi kenapa jika dia sudah memiliki kekasih, dia masih berusaha mendekati putra i. Bu ketua, namun denzsaya?" tanya papa aldo pada seseorang yang ia bayar.


"Kemungkinannya dia hanya mengincar harta keluarga bapak, tapi aneh juga sih pak." ucap preman suruh pala.


"Aneh kenapa?" tanya papa aldo dengan suara keras.


"Cepat jawab." teriak papa aldo kembali.


Para orang suruhan papa bercerita jika tanisha termasuk anak orang berada. Jadi impoibble jika tanisha mendekati doni karna harta doni.


"Memang siapa nama kedua orang tua tanisha?" tanya papa aldo.


"Papanya bernama Bima aji, dan ibu kandungnya bernama Velerie. Hanya saja ibunya meninggal karna sakit saat tanisha berumur 8 tahun. Tapi baru dua tahun ini, papanya menikah lagi dengan wanita bernama rindyta. Bahkan tanisha dan mama tirinya juga dekat pak. Karna sebelum menjadi mama tiri nona tanisha, ia bekerja sebagai sekretaris di kantor papanya." ucap salah seorang suruhan papa aldo.


Tak asing dengan nama yang di sebut mereka sebut, papa aldo memijat mijat darinya sambil berusaha mengingat.


"Ya sudah kalian keluar dari ruangan saya, dan tetap awasi apa yang di lakukan doni di Jerman.Jangan biarkan anak saya dekat dengan wanita yang dicintainya itu, tunggu sampai saya bawa kembali putra saya ke Indonesia. Entah kenapa perasaan saya mengatakan dia bukan wanita baik baik."


"Baik pak, nanti saya minta anak buah saya disana untuk mengawasi semua gerak gerik putra bapak." ucap salah seorang preman sambil berjalan keluar ruang kantor papa aldo.


Papa aldo masih berusaha mengingat nama yang tak asing dari ingatannya. Hingga ia kini sudah mulai ingat dengan seseorang yang sudah membuat dirinya dan andini bermasalah.


"Rindyta? Itu ririn kan? Apa bener ririn mantanku dulu yang hampir menabrak cindy dan andini sepulang acara wisuda. Jika benar, aku tau maksud tanisha mendekati doni. Ya pasti ririn sudah menyuruh tanisha untuk balas dendam dan mereka melakukan itu lewat doni. Aku harus segera bawa doni kembali ke Indonesia, sebelum semua terlambat. Dan aku akan minta orang suruhanku untuk mengambil foto mamanya tanisha. Aku ingin tahu apa benar rindyta yang mereka bilang itu ririn, mantanku yang gila dam hampir membunuh andini." papa aldo berkata sambil melihat foto doni yang berada di figura meja kantornya.


Keesokan harinya ,papa aldo mendapat kiriman foto dari orang suruhannya. Handphone nya seketika jatuh, saat melihat gambar di ponselnya.


"Ternyata benar dugaanku itu kamu. Itu tandanya kamu masih menyimpan dendam pada keluargaku rin. Apa hukuman selama dipenjara belum membuat kamu jera? Apa mau kamu sebenarnya rin?" lirih papa aldo.


Flashback off.....


*******


Doni mengecek ponsel diva di dalam kamarnya. Rasa penasarannya dengan semua isi sosme diva, membuat doni membuka semua akun sosmed diva.


Ternyata semua ucapan diva benar, diva tak pernah memperdulikan semua rayuan dan pernyataan cinta para teman laki lakinya. Bahkan ia tak membalas semua chat para lelaki.


Entah kenapa hati doni merasa lega dan bahagia. Ia selalu tersenyum sendiri melihat foto foto di galeri ponsel diva.


"Kamu itu lucu ya div, kayak gak pernah merasa sakit hati. Padahal kakak selalu mengucapkan kata kata yang menyakiti hati kamu, tapi cinta kamu sama kakak gak pernah berubah. Harusnya kakak bersyukur bisa mendapat cinta dari perempuan seperti kamu." gumam doni dalam hatinya.


Saat doni sedang asyik memandangi foto diva, ada panggilan dari reyhan masuk di handphone diva. Seketika senyuman doni hilang, dan rasa kekesalannya mulai terlihat.


"Ngapain reyhan telpon diva malam malam gini. Atau jangan jangan mereka emang tiap malam sering telpon telponan? Lebih baik aku gak usah angkat, dan besok aku akan minta penjelasan dari diva." gumam doni.