
Pukul 02.00 dinihari.
Doni mulai merapikan kembali pakaiannya. Tanisha pun terbangun dari tidurnya, dengan balutan selimut yang masih menutupi tubuh polosnya.
"Don, kamu mau kemana?" tanya Tanisha.
"Pulang Sha, dan untuk malam ini aku mohon sama kamu jangan ceritakan sama Diva atau Mickael. Ini semua kesalahan Sha, aku sudah mengkhianati hubunganku dengan Diva," ucap Doni sambil duduk di samping ranjang Tanisha dengan menatap penuh harap pada perempuan yang baru saja ia tiduri itu.
Sejenak Tanisha terdiam, kata kata Doni begitu menyakitkan. Hatinya hancur. Ia kira setelah kejadian malam ini Doni akan kembali bersamanya dan meninggalkan Diva,tapi pikirannya salah. Justru Doni memintanya untuk melupakannya begitu saja.
"Sha, aku mohon," Doni memegang kedua pundak Tanisha, berharap permintaan itu akan dikabulkan.
"Don, semudah itukah? Aku sudah memberikan tubuhku sama kamu, apa kurangnya aku Don! Bukankah dulu kamu mengharapkan aku menjadi kekasih bahkan istrimu?"
"Maaf Sha, itu dulu. Lagi pula ini semua terjadi karna kamu yang sudah menggodaku bukan atas dasar kemauanku. Aku juga tidak mengeluarkan cairan itu ke rahimmu, karna saat aku melakukannya tadi aku sadar jika aku sudah tidak mencintaimu Sha. Dan aku bukan orang pertama yang melakukan ini kan? Jujur lah Sha. Aku dapat merasakannya Sha. Ya walaupun ini pertama bagiku, tapi ini bukan pertama bagimu bukan?" Doni membuat Tanisha benar benar tak bisa berkata lagi.
"Baiklah Don, jika itu mau kamu. Semoga kamu bahagia bersama Diva."
"Terima kasih Sha. Aku pamit pulang Sha, dan jaga diri kamu baik baik serta hargailah tubuhmu sendiri."
Tanisha kembali terdiam. Ucapan Doni seakan menampar keras pipinya. Namun itu tak menghentikan niat Tanisha. Baru saja Doni berdiri, Tanisha kembali menarik tangan Doni hingga jatuh menindih tubuhnya.
Pikiran licik Tanisha kembali terlintas dalam benaknya. Pengakuan Doni akan cairan yang ia keluarkan di luar, membuat ide Tanisha untuk melakukannya sekali lagi.
"Aku harus membuat Doni menjadi milikku seutuhnya. Dia harus menanamkan benihnya di rahimku," batin Tanisha sambil berusaha membuat nafsu Doni kembali membara
Tapi sayangnya akal sehat Doni mulai sejalan dengan hatinya. Dengan cepat Doni mendorong tubuh Tanisha saat tangan nakal Tanisha mulai bergerilya menjelajah barang di balik celannya.
"Sha, hentikan. Jangan kamu buat dirimu seperti wanita murahan," teriak Doni sembari menghempaskan tangan Tanisha.
"Maafkan aku Don, aku hanya ingin melakukannya sekali lagi sebelum aku pulang besok."
"TIDAK!! Sha, aku mohon pengertian kamu.aku mengaku dulu aku memang sangat mencintai kamu. Tapi sekarang aku hanya mencintai Diva Sha, dan masalah kejadian yang barusan kita alami. Ini semua diluar kesadaranku. Aku minta maaf jika aku sudah meniduri kamu, jadi aku mohon Sha jangan paksa aku untuk menambah rasa bersalahku pada Diva."
"Baiklah Don, pergilah dan sekalian aku pamit. Besok pagi aku akan pergi, dan aku janji tidak akan muncul lagi di hadapanmu."
"Terima kasih ya Sha. Aku pulang dulu. Jaga diri kamu baik baik. Kabari aku jika kamu sudah sampai di Jerman."
"Hmmm," jawab Tanisha sambil memalingkan wajahnya.
Doni mengambil kunci mobilnya, dan melangkah keluar dari kamar. Sesaat setelah kepergian Doni, Tanisha meremas kain selimut yang masih menutupi tubuhnya. Diambilnya ponsel yang sedari tadi ia letakkan di atas meja samping ranjangnya.
Ia memutar semua rekaman suara yang sengaja sudah ia persiapkan sebelumnya. Terdengar suara desahan antara dirinya dan Doni. Apalagi sesaat setelah Doni tertidur, ia sengaja mengambil foto mereka berdua.
"Doni kita lihat apa yang terjadi besok. Jika aku tidak bisa memiliki kamu itu tandanya Diva juga tidak akan bisa bersama kamu. Akan aku balas ucapan kamu tadi Don. Agar kamu tahu gimana rasanya direndahkan oleh seseorang," Tanisha hanya bergeming sembari melihat galeri foto antara dirinya dan Doni.
Sesampainya di rumah, Doni segera mencharge ponselnya dan menyalakannya kembali. Dilihatnya banyak panggilan dan pesan dari Diva yang begitu mengkhawatirkan dirinya. Namun matanya seketika melebar, ketika ia membaca satu pesan yang membuat dirinya merasa menyesal.
Mickael: "Don, loe bener bener gila. Gara gara loe, Diva hampir aja gak bisa pulang. Handphonenya mati, dia gak bisa telpon taksi dan cuma dia yang tinggal sendirian dikampus. Untung aja gue jemput dia tadi. Kalau gak gue gak tahu lagi apa yang terjadi sama Diva. Loe itu kemana aja sama Tanisha? Kenapa handphone sampai loe matiin segala? Kali ini loe udah kelewatan Don," tulis Mickael di pesan keduanya.
Mickael : "Kak Doni makasih ya udah suruh kak Mickael jemput aku. Walaupun kakak sibuk, tapi kak Doni selalu aja mikirin aku. Sekali lagi makasih ya kak. Ini aku udah diantar pulang sama kak Mickael, dan aku nulis pesan pakai handphone kak Mickael soalnya handphoneku mati kak. Jangan marah dan cemburu ya kak. Hati aku udah mentok kok di kakak. Kak Doni jangan lupa makan ya, dan jangan pulang malam malam. Aku sayang sama kakak."
Tangis Doni pun pecah. Rasa bersalah didalam hatinya semakin besar pada Diva. Seharusnya ia mendengarkan saran sahabatnya untuk tidak bermain api. Wanita sebaik Diva, masih saja ia khianati.
"Maafin Kak Doni Diva, kakak minta maaf," gumam Doni.
Tak lama setelah itu, Doni mulai menghubungi Diva.
Kriiiingg.. Kriiiingg..
Suara ponsel Diva berbunyi tepat di samping bantalnya. Diva yang sudah tertidur pulas, matanya langsung terbelalak melihat layar ponsel saat nama seseorang yang sudah dari tadi ia tunggu menelpon dirinya.
"Halo kak, kamu dimana kak? Baik baik aja kan? Kenapa baru telpon Diva sih kak?" Diva melempar banyak pertanyaan yang membuat air mata Doni kembali mengalir.
"Kak, kak Doni kenapa diam? Sekarang kakak dimana? Baik baik aja kan?" tanya Diva kembali.
"Iya Div, kak Doni baik baik aja. Maafin aku ya Div, maafin kakak." jawab Doni sambil menangis dalam telponnya.
"Kak Doni kenapa nangis? Kenapa minta maaf? Emang Kak Doni bikin salah apa?"
"Maaf karna Kak Doni gak bisa jemput kamu dan maaf karna aku sudah membuat kamu khawatir sayang."
"Oh itu, gak papa kak. Memang dari tadi kakak kemana? Kenapa baru telpon aku sekarang?! "
" Iya sayang, tadi handphone kakak mati. Terus tadi kakak pulang jam 12 terus tidur jadi gak sempat charge handphone. Dan saat kebangun aku inget sama kamu sayang. Maaf ya kalau aku ganggu tidur kamu."
"Enggak ganggu kok kak. Ya alhamdulillah kalau Kak Doni baik baik aja. Aku tadi khawatir banget sama kamu kak. Apalagi aku gak bisa hubungi kamu. Aku kira kamu kenapa napa kak."
"Enggak diva, kakak baik baik aja. Yaudah lanjut lagi gih boboknya, besok kakak jemput agak pagi ya. Kita cari sarapan bareng."
"Iya kak, yaudah met bobok ya kak. Jangan lupa mimpiin Diva."
"Pasti sayang. Love you."
"Love you too kak."
Diva memeluk erat ponselnya sambil berusaha memejamkan matanya kembali dan segera terbangun esok hari untuk segera bertemu dengan sang kekasih hati.
Sedangkan di dalam kamarnya, Doni kembali meratapi kesalahan dan kebodohannya. Sambil melihat foto Diva, Doni kembali menangis dalam penyesalannya.
"Diva sekali lagi maafin aku. Aku sudah mengkhianati kamu dengan tidur dengan Tanisha. Tapi aku janji Div, kesalahan itu tak kan terulang kembali. Dan aku gak akan melewati sedetik pun waktu kebersamaan kita," ucap Doni dalam hati.